The Garabagan

The Garabagan
Epesode 105 : Kejutan


__ADS_3

Darma kini telah kembali ke ruangan Olivia, setelah melaksanakan ritual ibadahnya. Seharian ini dirinya berada di mejanya karena sakit yang luar biasa di perutnya. Bahkan sekarangpun, ia masih merasakan sakitnya, walaupun tidak sesakit siang tadi.


Darma menatap ke sekeliling ruangan. Ternyata Olivia belum kembali keruangannya kembali setelah kejadian tadi istirahat. Bahkan makanannya juga sudah habis di makan Darma. Yah daripada mubazir kan? Dari tadi belum di makan.


"hussshhh" Darma menghembuskan napasnya sambil memecak pinggang.


"si Boss kemana yah?" bingung Darma.


Darmapun kemudian duduk di kursi kembali. Dia merasa Bossnya itu sulit di mengerti, kadang - kadang dia galak, namun kadang pula juga dirinya baik, kadang juga sikapnya hangat, kadang juga sikapnya dingin. Darmapun menggaruk kepalanya, Ah benar - benar sulit di mengerti.


Darmapun melihat ke bawah, tepatnya bawah meja. Diapun kemudian membawa barang di bawah mejanya, kemudian membukanya. Ternyata itu adalah sebuah bingkisan kado untuk Olivia.


"pokoknya aku harus memberikan ini. Akhir - akhir ini Boss sudah baik padaku" ucap Darma. Diapun mengingat kebaikan - kebaikan Olivia kepadanya, mulai dari menyelamatkannya dari penjahat, menemaninya di rumah sakit, memberikannya jas biru yang dipakainya sekarang ini, dan juga membantunya mencari ayah dari Ucup dan adik - adiknya.


Darma menoleh ke meja Olivia. Kini Darma tidak tahu kemana Bossnya itu? Kenapa dirinya tidak mengajak Darma kalau pergi? Bukankah Darma adalah asisten Olivia? Kenapa Olivia Menjadikan Darma sebagai asistennya, kalau tugas - tugasnya ia lakukan sendiri? Itulah yang Darma pikirkan.


"Apa si Boss pulang yah?" tanya Darma.


"tapi tasnya masih ada" lanjut Darma.


"hahhh" Darma membuang napasnya, bingung memikirkan Bossnya itu.


*****


Waktu pulangpun tiba, kini Darma memegangi kado untuk Olivia itu. Dirinya bingung, harus melakukan apa? Olivia belum kembali juga.


"apa aku simpan saja di mejanya yah?" tanya Darma menatap meja Olivia.


Iapun kemudian menggelengkan kepalanya.


"tidak aku harus memberikannya melalui tanganku" ucap Darma tersenyum. Diapun menghembuskan napasnya, kemudian memasukkan kado itu pada tas punggungnya. Diapun menggeondong tas itu, dan siap untuk pulang.


Darmapun berjalan menuju pintu. Darma pun sudah berada di depan pintu, dan hendak memegang gagang pintu. Akan tetapi gagang pintupun terbuka. Darmapun terkejut ternyata itu pak Handoko yang membawa beberapa lampiran penting.


"Misi" ucap pak Handoko. Kemudian berjalan ke meja Olivia dan menaruh lampiran itu.


"bilangin sama Boss, itu jangan lupa di tanda tangani yah" ucap pak Handoko pada Darma.


"Oh iya pak" jawab Darma.


Pak Handokopun menganggukkan kepalanya, kemudian pergi keluar. Darma menatap kepergian pak Handoko.


Darma memainkan bibirnya bingung, diapun menghadap ke meja Olivia, terutama pada tas milik Olivia.


"si Boss kemana yah?" herannya memecak pinggang.


"apakah tasnya ku bawa saja yah" Pikirnya.


"baiklah!" Darmapun melangkahkan kakinya menuju meja Olivia. Namun baru juga dua langkah, Darma mendengar pintu terbuka kembali. Darmapun menoleh, dan akhirnya itu, orang yang di carinya. Olivia.


"BOSS" senang Darma terkejut.


Olivia mengabaikan Darma, dan melewatinya begitu saja.


"Boss kemana saja?" tanya Darma dengan senyumnya.


Olivia masih mengacuhkan Darma, ia pun mengambil tas di mejanya kemudian berjalan melewati Darma.


"tunggu Boss" Darma mengejar walaupun perutnya itu terasa sakit sekali.


Merekapun akhirnya berjalan sejajar. Olivia Menatapnya, kemudian berjalan terus menghadap ke depan. Darmapun mendahului Olivia, lalu menghentikan Olivia dari depan. Oliviapun berhenti dan menatap Darma dengan dinginnya.


"Hey Boss... Tunggu! Kumohon!" ucap Darma menempalkan tangannya.


"minggir!" ucap Olivia.


Darmapun membentangkan tangannya, kemudian tersenyum. Olivia memalingkan pandangannya, tak mau melihat senyuman manis Darma itu lagi.

__ADS_1


"tidak Bisa!" ucap Darma.


"kenapa kamu ini?" bingung Olivia.


"urus Diana sana! Dia pasti ingin bertemu lagi denganmu" lanjut Olivia.


Darma mengkerutkan alisnya di sertai memicingkan mata. Dia bingung bukan main, kenapa Olivia jadi bawa - bawa Diana?


"Diana?" ucap Darma dengan nada bertanya.


Olivia menatap Darma dengan kesalnya. Kenapa juga Darma pura-pura tak tahu.


"iya..." Olivia melangkahkan kakinya.


"minggir ah!" lanjutnya mencoba melewati Darma. Akan tetapi Darma semakin menghalanginya.


"Apa maksudnya dengan Diana?" bingung Darma.


Olivia terus mencoba melewati hadangan Darma itu. Akan tetapi sangat sulit. Darmapun kemudian memegangi kedua bahu Olivia. Oliviapun kaget dan menjadi terdiam.


"apa maksudnya dengan Diana?" tanya Darma dengan wajah serius nan polosnya. Olivia menatap wajah Darma. Begitu dekatnya wajah Mereka sekarang.


"tadi siang..." ucap Olivia menelan salivanya. Alangkah begitu mempesonanya wajah dari Darma ini, ya ampun.


"...kamu... Kemana?" lanjut Olivia.


"tadi siang?" bingung Darma. Kenapa jadi pembahasannya ke siang tadi? Bukankah Olivia yang pergi entag kemana?


"iya. Tadi siang kamu kemana?" tanya Olivi memperjelas. Dia ingin mengetahui jawaban Darma seperti apa? Seandainya benar pergi bersama Diana, dia ingin mendengar langsung dari mulut Darma.


"Oh tadi siang" Darma mengerti. Darmapun kemudian menurunkan tangannya.


"Bisakah Boss ikut aku" pinta Darma.


"hah?" bingung Olivia, kenapa Darma mau mengajaknya? Apakah dia mengalihkan pembicaraan.


"ke atap kantor" jawab Darma tersenyum.


"gak mau" jawab Olivia.


"uhuhuhu..." Darma menjatuhkan lututnya ke lantai, memohon pada Olivia di sertai menangis di buat - buat.


"ku mohon Boss" pinta Darma dengan wajah memelas.


Oliviapun menggelengkan kepalanya, kemudian mencoba melangkahkan kakinya. Darmapun segera bangun dan memohon di depan Olivia kembali. Olivia tetap tak peduli, dia melewati Darma. Darma tidak menyerah, diapun memegang tangan Olivia.


"kumohon Boss" pinta Darma.


"Isshhhh... Lepasin" ucap Olivia.


"memangnya mau apa sih?" tanya Olivia. Darmapun berdiri, kemudian menarik tangan Olivia, dan menyuruhnya untuk mengikuti Darma.


"Ayo kita naik" teriak Darma.


"ishhh lepasin..." kesal Olivia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Darma. Akan tetapi genggaman Darma terlalu kuat.


"mau apa sih?" tanya Olivia, kemudian pasrah ikut dengan Darma.


"ikut saja" ucap Darma tersenyum.


Olivia hanya terdiam, dan mengikuti kemana pun Darma membawanya. Senyumnya membuat jantungnya berdebar dengan cepat kembali.


Merekapun akhirnya sampai di atap gedung. Olivia menatap Darma.


"mungkinkah Darma mau buat kejutan?" batin Olivia. Segera Oliviapun menggelengkan kepalanya.


"jangan terlalu berharap lagi Olivia" batinnya mencoba menyadarkan dirinya.

__ADS_1


"nah sekarang apa?" tanya Olivia.


Darmapun membuka tasnya, kemudian membawa kotak kadonya. Diapun menyodorkannya pada Olivia.


Olivia terkejut menatap Darma. Ini bukan mimpinya kan? Darma benar - benar memberinya hadiah.


"selamat ulang tahun, Boss" ucap Darma.


Olivia terdiam membisu, dia kehabisan kata-kata untuk melihat kejadian menakjubkan ini, dirinya hanya bisa tersenyum. Kini dirinya merasa bahagia, sampai - sampai tak bisa berkata - kata lagi. Darma tidak melupakan hari pentingnya.


Oliviapun menatap kado yang di berikan Darma. Darmapun menggerakkan kepalanya, seolah menyuruh Olivia mengambilnya. Perlahan tangan Oliviapun mengambilnya.


"ini untukku?" tanya Olivia memastikan.


"bukan, Boss" jawab Darma dengan candaan. Sontak mata Olivia jadi layu, karena kaget.


"itu buat bang Bima, dia ulang tahun dua bulan lagi. Boss kasih ke dia yah?"


"ah begitu yah?" Olivia menundukkan kepalanya kecewa.


AAAAHHHH... Teriak hati Darma. Tidak di sangka si Boss percaya.


"itu buatmu lah Boss, masa ke bang Bima. Ulang tahun dia kan masih lama lah"


"hah?" Olivia kembali menatap Darma dengan senangnya.


"ma..."


"tunggu sebentar" Darmapun berlari ke dekat pagar pembatas.


"Hey mau apa?" teriak Olivia, menatap Darma. Dirinya tidak tahu apa yang tengah di lakukan Darma.


Darmapun kemudian menyalakan sebuah korek api, dan menyulut sebuah tali. Tali itupun menyala kemudian Darma berlari segera menghampiri Olivia. Olivia menatap Darma bingung. Darma tersenyum menatap Olivia.


"satu, dua..."


Syiuuuutttt... Duarrrr... Sebuah kembang api meledak di langit yang gelap. Menerangi malam di kantor kala itu. Mata Olivia terkejut kagum melihat kembang api yang meledak menghiasi langit malam.


"BELUM HITUNGAN TIGA WOOOYYYY!!!" teriak Darma kesal.


Duarrrr... Duarrr.... Kembang api silir berganti meledak - ledak menerangi angkasa. Mata Olivia bersinar menatap pemandangan itu. Apa ini? Darma yang membuatnya?


Olivia menatap kagum Darma, ternyata ini semua telah di rencanakan Darma. Dirinya sampai memasang kembang api di pagar - pagar pembatas segala.


Tak pernah di bayangkan, Olivia bisa melihat ini semua, kembang api yang menghiasi malam di ulang tahunnya, dan juga, Darma yang memberikannya hadiah. Darma memang penuh kejutan.


Darma melihati ke langit yang ditembaki oleh kembang api. Rencananya akhirnya terlaksanakan. Soalnya kalau enggak, mubazir nanti uang yang di kasih Daniel.


"hahaha" Olivia terkekeh melihat semua kejutan Darma.


"kamu merencanakan ini semua?" tanya Olivia.


"iya" jawab Darma tersenyum.


Olivia tersenyum menatap Darma, begitu mempesonanya pria di depannya ini. Jantung Olivia kembali berdebar di buatnya.


"buka Kadonya" ucap Darma.


"oh?" Olivia menatap kado dari Darma, "iya" iapun segera membuka kadonya. Olivia kembali terdiam menatap hadiah pemberian Darma itu. Ternyata itu adalah sebuah kebaya.


Syyyiiiuuuuttt... Duarrr!!! Kembang api terakhir meledak di langit. Langitpun jadi gelap kembali.


Oliviapun membawa kebaya itu dari wadah kado tersebut. Diapun membeberkan kebaya itu, untuk dilihatnya dengan jelas.


"tadi siang aku ke Destiny Mall, untuk beli itu" ucap Darma.


Olivia menurunkan kebaya itu lalu menatap Darma. Ternyata Darma tidak pergi berkencan dengan Diana. Tadi siang Darma hanya membeli ini semua dari Destiny mall.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2