The Garabagan

The Garabagan
Epesode 106 : Jawaban


__ADS_3

"tadi siang aku ke Destiny Mall, untuk beli itu semua" ucap Darma.


Olivia menurunkan kebaya itu lalu menatap Darma. Ternyata Darma tidak pergi berkencan dengan Diana. Tadi siang Darma hanya membeli ini semua dari Destiny mall.


"Darma melakukan semuanya untukku?" batin Olivia masih tak percaya, Darma melakukan semua ini.


"Boss ingat ingin kebaya itu kan?" tanya Darma.


Olivia menatap kebaya itu, kemudian menatap Darma kembali. Oliviapun mengingat ketika Dirinya dan Darma setelah makan dari Destiny Restaurant.


"kenapa melihatiku?" heran Darma.


"hah?" kaget Olivia, tersadar dari tatapannya.


"Hehhhhhh!?" Teriak Darma.


"mungkinkah..." Darma mencoba menerka.


"enggak" sangkalnya "geer banget sih"


"Oh kupikir ada upil dihidungku. terus lihat apa?"


"hehe... Lihat itu..." Olivia menunjuk sebuah kebaya cantik. Darmapun melihat kebaya itu juga.


"indah sekali" lanjut Olivia.


"ohhhh..." Darma beroh ria.


Mengingat itu semua, Olivia langsung memegangi kepalanya kemudian tersenyum geli.


"tak di sangka dia membelinya. Padahal aku Hanya cari alasan saja" batin Olivia.


Oliviapun kembali menatap Darma. Darma bahkan ingat akan alasannya itu. Padahal Olivia sendiri hampir lupa akan hal itu.


"ternyata, aku memang mencintainya" batin Olivia.


"tidak. Aku sangat mencintainya"


"Ah!" Darma melongo menatap langit. Bukan apa - apa, perutnya kembali sakit.


"ke-kenapa?" tanya Olivia memegangi bahu Darma.


"ah tidak apa - apa" jawab Darma tersenyum pura - pura sehat. Dia berbohong, Darma tidak ingin merusak kebahagiaan Olivia saja. Dirinya harus terlihat baik - baik saja di depan Olivia.


Olivia menatap wajah Darma. Wajah Darma yang nampak begitu tampan ketika dari dekat. Tangan yang berada pada bahu Darma, perlahan pindah pada wajah Darma. Darma menatap tangan Olivia yang menempel di wajahnya dengan bingung.


Tangan Olivia rasanya hangat hanya karena menyentuh pipi Darma. Jantungnya kembali berdebar tidak karuan. Pipinya memerah.


Zelegurrr!!! Perut Darma rasanya terasa meledak. Dia sangat kesakitan, hingga wajahnya memerah.


"Ah Boss... Kembang apinya sudah selesai" ucap Darma kemudian melepaskan tangan Olivia dari wajahnya. Darma rasanya ingin segera pulang karena sakit perutnya itu.


"ayo kita pulang!" ucap Darma tersenyum, kemudian membalikkan badannya. Diapun lalu memegangi perutnya.


Olivia menatap Darma. Kenapa sebentar sekali rasanya, dia menyaksikkan pertunjukan ini. Padahal dirinya ingin terus dekat Darma. Kenapa hanya sekejap saja?


Darmapun melangkahkan kakinya berjalan pergi. Olivia menatap Darma yang berjalan pergi.

__ADS_1


"tidak" batin Olivia.


"jangan pergi!" batin Olivia berteriak.


Darma terus berjalan dengan perut sakitnya. Diapun akhirnya berhenti, lalu menoleh pada Olivia.


"ah soal Diana" Darma teringat tadi Olivia berbicara soal Diana.


"aku lupa meneleponnya"


Deg... Jantung Olivia bergetar mendengar hal itu. Tak pernah ia sangka, Darma bahkan lupa untuk menelepon Diana.


"tapi tenang saja. Berkat Boss, aku jadi ingat" Darma kemudian tersenyum.


"hah?" bingung Olivia memiringkan kepalanya.


"nanti malam aku akan segera meneleponnya" Darma mengira Olivia menyuruh Darma untuk segera menelepon Diana.


"BUKAN ITU MAKSUDKU, BODOH!" amuk batin Olivia.


Darma pun kembali melangkahkan kakinya berjalan kembali. Olivia menatap kembali kaki Darma melangkah.


"tidak..." ucap Olivia pelan.


"aku tak mau itu terjadi" lanjutnya.


Dengan segera Oliviapun mengejar Darma. Darma pun menoleh heran, mengapa Olivia masih diam saja.


"Boss kena... Aaaaaaahhhhh!!!" mata Darma membulat kaget menatap Olivia tengah lari ke arahnya.


Oliviapun kemudian sengaja berlari kemudian memeluk Darma sampai merekapun terjatuh. Olivia pun bertumpang tindih pada Dada Darma. Perut Darma semakin meledak - ledak di tabrak oleh Olivia itu.


Oliviapun menyembunyikan wajahnya pada dada Darma.


"DASAR BODOOOOHHHH!!!" teriak Olivia dengan mata terpejam. Iapun kemudian menidurkan kepalanya menghadap ke samping di dada Darma. Iapun membuka matanya.


"siapa yang menyuruhmu untuk menelepon Diana?"


"aku tak mau kamu melakukan hal itu!"


"aku tak mau" Olivia kemudian memegang erat jas dari Darma dan juga kebaya yang di berikan Darma.


"aku tak mau Darma!" lanjutnya.


"kamu tahu..." Olivipun semakin erat menggenggam jas dari Darma. Dia rasanya sudah tak kuat membendung semua perasaannya pada Darma.


"aku mencintaimu" ucap Olivia dengan mata terpejam.


Krik... Krikk... Olivia tak mendengar apapun dari Darma. Dia bahkan tak mendengar Darma terkaget. Oliviapun kemudian menatap ke arah wajah Darma. Ternyata Darma sedang terpejam menutup matanya.


"Wuahaakkk!?" kaget Olivia. Dirinya tidak percaya, setelah semua yang di ucapkannya pada Darma. Darma malah menutup matanya tertidur.


"dasar bodoh... Bodoh... Bodoh..." kesal Olivia memukuli dada dari Darma.


"setelah apa yang aku ucapkan, kamu malah tidur!"


Buk... Olivia mulai menghentikan pukulannya. Olivia jadi khawatir, Darma masih menutup matanya. Apakah dia mati?

__ADS_1


"Darma!" ucap Olivia menggoyangkan kepal Darma. Namun Darma tidak merespon juga.


"Darma kamu kenapa Darma?" Olivia semakin khawatir kemudian bangun.


"Darma!" Olivia menggoyangkan tubuh Darma. Tanpa di rasa, air mata Oliviapun jatuh pada dada Darma.


Oliviapun segera membuka ponselnya kemudian memanggil rumah sakit.


"Hallo!" ucap Olivia panik.


"iya, ada yang bisa di bantu?" jawab pihak rumah sakit.


"tolong! Ini temanku tak bangun - bangun."


"lokasi anda dimana bu?"


"kantor Destiny Media di lantai atap"


"ouh baiklah, kami akan segera kesana"


"CEPAT!" teriak Olivia. Oliviapun kemudian mematikan panggilannya, kemudian menyimpan ponselnya kembali di tasnya.


"Darma!" Oliviapun memeluk Darma.


Olivia kemudian menelepon satpam untuk membantu membawa Darma. Darmapun di tidurkan dilantai satu.


Dua puluh menit kemudian, ambulan pun tiba. Darmapun di angkat di temani Olivia. Sepanjang jalan Olivia terus memegangi tangan dari Darma.


Setelah sampai di rumah sakit, dokterpun langsung memeriksa Darma. Sepuluh menit kemudian dokterpun keluar untuk memberitahu Olivia tentang keadaan Darma.


"bagaimana dok?" tanya Olivia.


"dia mengalami Gastroenteritis atau keracunan makanan, hanya saja masih ringan"


"terus gimana dok?" tanya Olivia khawatir.


"tenang saja dia pasti akan pulih selama tiga hari"


"hah..." Olivia menghembuskan napasnya lega.


"Oh! Makasih dok" Olivia menganggukkan kepalanya. Dokterpun pamit, kemudian pergi dari sana.


Oliviapun menatap Darma dari luar, kemudian dengan segera bergegas masuk melihat kondisi dari Darma. Darmapun kini tengah menutup matanya di sertai infusan di tangannya.


Oliviapun perlahan mendekati Darma, kemudian duduk di dekat Nya. Oliviapun menatap wajah yang tengah menutup matanya itu. Olivia jadi teringat, akhir - akhir ini Darma sering memegangi perutnya. Juga wajahnya yang memerah dan menangis di saat Darma mendapat nomor Diana.


"jadi saat itu, kamu menangis bukan karena sangat bahagia. Tapi karena kesakitan" ucap Olivia tersadar. Oliviapun memegangi kepalanya.


"Dasar bodoh aku ini!" Oliviapun menitikkan air matanya.


"aku terlalu egois!"


"maafkan aku Darma!" Oliviapun memegangi tangan Darma lalu menempelkan pada pipinya.


"andai saat itu aku sadar! Kamu pasti tidak akan begini"


Hidup ini memang sukar untuk di tebak. Bahagia datang secara tiba - tiba, namun kesedihan juga datangnya tiba - tiba. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kebahagiaan dan kesedihan hanya akan datang silir berganti.

__ADS_1


*****


__ADS_2