
"kamu mau dengar? Baiklah aku ceritakan"
Ketika setelah aku lulus SMK, saat itu aku mengikuti jejak kakakku untuk membuat bisnis. Kakakku, dia bernama Arina Jelita. Dia membangun bisnis setelah lulus kuliah. Dia di modali oleh kedua orang tuaku dari hasil bisnis mereka. Memang saat itu, Bisnis ayah dan ibuku sedang di ujung jurang, mereka hampir bangkrut. Merekapun memberikan semua asetnya pada kakakku. Mereka memercayai semuanya pada kakakku, karena dari dulu kakakku emang pintar.
Kakakku pun, menciptakan toko untuk menjual alat - alat media. Dia menamai perusahaannya dengan Intan Media. Singkat cerita, kakakku berhasil mengembangkan bisnisnya itu. Bahkan sampai bisa punya cabangnya tiga. Ayah dan Ibu semakin mencintai kakakku lewat prestasinya itu.
Aku pun yang jarang di puji oleh ayah dan Ibuku. Aku ingin merasakan
seperti kakakku. Aku ingin membuat bisnis juga. Tapi jalanku tak mulus, ayahku melarangku.
"untuk apa kamu membangun bisnis? Nilai ujian kamu aja jelek - jelek semua" ucap ayahku meremehkan.
"heh?" aku terkekeh mendengar ayahku itu.
"apa nilai ujian menentukan hidupku?" lanjutku.
"iyalah" jawab ayahku.
"kamu itu mendingan kerja di kakakmu saja. Perusahaannya sedang naik daun"
"aku ingin seperti kakakku yah" ujarku.
"ppffttt..." ayahku menahan tawanya.
"hahaha apa?"
"aku ingin buat bisnis seperti kakakku" ucap ku.
"mana mungkin bisa! Kakakmu itu nilai nya semua bagus, sedangkan kamu..." ayah menunjukku.
"sudah! Kerja saja di kakakmu"
Dalam hidupku, aku belum pernah di dukung oleh ayahku. Mungkin harapan terakhir adalah ibu. Akupun berbicara sama ibu, tentang rencanaku.
"benar kata ayah kamu, kebih baik kamu bekerja saja di kakakmu. Bantu kakakmu itu" jawab ibu.
Ternyata semua sama saja. Tidak ada yang pernah mendukungku. Kecuali...
"kamu mau buat bisnis lagi?" kaget kakakku, Arina.
"iya kak" anggukku.
"bagus itu!" ucap kakakku tersenyum.
"semakin banyak bisnis. Semakin kaya keluarga kita" lanjutnya.
Sepertinya hanya kakakku saja yang mengerti diriku. Dia yan mg selalu menyemangati diriku ketika dunia menolakku. Dia juga yang sering membantuku.
"di bidang digital juga?" tanya kakakku.
"iya media digital" jawabku.
"wuahhh berarti kita jadi rival dong"
"iya tapi sedikit berbeda" jawabku dengan semangat. Memang itulah tujuanku, menjadi rival kakakku, dan mengalahkannya. Agar ayah dan Ibuku tidak meremehkanku dan akhirnya melihatku bukan anak bodoh lagi.
"baiklah. Mau kakak modali?" tanya kakakku.
__ADS_1
"gak perlu kak. Aku ada sedikit tabungan" jawabku.
"baiklah. Tapi nanti tetap ku beri 10 juta sebagai pemberian kakakmu"
"enggak usah"
"terima kakak bilang" kakakku melotot.
"ba... Baiklah" anggukku.
Akhirnya, aku dan kakakku bersaing untuk berbisnis. Kita diliputi rasa juang yang besar sebagai rival. Awal - awalnya nama perusahaanku Olivia Corp. Kumudian ku rekrut Renita, dan akhirnya ku ganti namanya jadi Destiny Media.
Aku mulai pindah ke rumah Renita, dan menjadikan rumahnya sebagai kantor kita.
Sebulan berlalu, Kakakku sangat hebat dalam mengembangkan bisnisnys. Aku sangat tertinggal olehnya. Benar - benar lawan yang sulit.
Tapi aku tak menyerah, sedikit demi sedikit bisnisku jadi berkembang. Namun orang - orang lebih tertarik pada produk kakakku. Sangat sulit memang untuk mengalahkan kakakku, tim marketing mereka benar - benar kuat.
Tapi aku tak mau kalah, Di saat itu aku butuh agar produk - produk kita butuh dikenali oleh banyak orang lagi. Saat itu juga ku menyuruh Renita sebagai konten kreator di Kutub. Agar mempunyai pendapatan tambahan. Akupun jadi manajernya dan menyajikkan Renita skrip yang menarik menurutku.
Akhirnya, Dalam dua bulan channelnya berkembang, dan inilah saatnya kita mengenalkan produk kami. Usaha kami akhirnya berkembang akan tetapi belum cukup untuk mengalahkan Intan Media. Parahnya kakakku, malah meniru cara itu, hanya saja cara kakakku berbeda, ia merekrut seorang Kutuber agar jadi tim mereka. Alhasil, kakakku semakin berkembang pesat, dan aku sangat tertinggal.
Tidak bisa terus seperti ini, Aku mulai memahami cara membuat sebuah kamera. Akhirnya setelah mempelajari dan mempelajari, dua minggu kemudian, Akupun berhasil membuat ciptaan kameraku sendiri. Kunamai itu Destiny kamera.
Setelah membuat hal itu, aku mengenalkannya di channel Renita. Syukurlah, konten itu menjadi trending ke 5 di Kutub.
Seminggu berlalu, Mr. Martin, seorang investor kaya raya dari Martin Corp akhirnya tertarik untuk bekerja sama dengan kami. Dia menginginkan agar Destiny kamera di kembangkan. Kamipun menyutujuinya.
Kamipun mulai merekrut orang - orang untuk masuk di perusahaan kami. Dan kami dengan Martin Corp membuat sebuah pabrik Media.
"ayah bangga sama kamu nak" ucap ayahku memeluk kakakku.
"hmmm... Anak ibu ini. Udah cantik, pintar pula" puji ibuku mengusap rambutnya.
Saat itu ku sadari, mereka bahagia tanpaku. Mereka nampak bahagia, walaupun aku tidak ada. Kenapa mereka tidak sedikitpun merindukanku?
Akupun mulai menitikkan air mataku kala melihat kakakku di beri kasih sayang sama mereka. Jujur. Aku Iri. Aku Iri.
Kakakku Arinapun melihatku, kemudian terdiam melihatku menangis. Diapun terkaget sambil memanggil namaku.
"Oliv?" kagetnya. Kedua orang tuakupun langsung meliha ke arahku.
"aku pulang" ucapku sambil menangis.
Ayahku menatapku dengan sinis, sedangkan ibuku dia diam membuang muka. Aku tak tahu apa salahku? Kenapa mereka terlihat acuh seperti itu? Apa yang kulakukan.
"ayah, Ibu ayo kita sambut Oliv" ujar Arina. Ibu dan ayahku langsung menuruti kakakku untuk mendekatiku.
Namun aku tahu, itu semua tak tulus dari hati mereka. Akupun langsung pergi berlari ke kamar. Kemudian menangis meluapkan segalanya.
"Oliv" kakakku memanggil sambil mengetuk pintu kamar. Dia terus memanggil dan mengetuk, namun aku tetap diam tak menjawab.
Hingga malam hari, aku pergi ke dapur untuk makan sesuatu. Di saat itu akupun berpapasan ayahku.
"ayah" panggilku menyapa.
"ada yang ayah ingin bicarakan" ucapnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Akupun di ajak keruang tamu untuk berbincang - bincang.
"A-ada apa yah?" tanyaku.
"jadikan perusahaanmu berada di bawah pimpinan kakakmu" pinta ayahku.
"dengar lebih baik kamu kerja sama saja dengan perusahaan keluarga kita, nak. Tak perlu saling bersaing seperti ini"
Aku tak percaya dengan apa yang di katakan ayahku saat itu. Dia tak pernah sekalipun memujiku. Dia bahkan menyuruhku untuk berada di bawah pimpinan kakakku.
"tidak, yah" jawab ku.
"kenapa? Aku yakin dengan berada di bawah pimpinan kakakmu, perusaanmu akan berkembang pesat"
"itu mungkin benar, tapi aku tak mau" jawabku.
"dengar nak..."
"cukup ayah! Aku tidak mau" akupun berdiri kemudian pergi ke kamar kembali.
"tunggu! Oliv"
Tak ku pedulikan. Perkataan ayahku seperti, dia masih meremehkan kekuatanku. Padahal aku sudah menunjukkan kalau aku sudah berada di tingkat kejayaan. Ayahku malah menyuruh agar perusahaan yang ku buat agar menjadi anak perusahaan dari Intan Media. Menyebalkan sekali.
Di depan kamar, akupun berpapasan dengan kakakku. Dia tengah membawa makanan yang nampaknya untukku. Oh yah kakakku saat itu berusia 29 tahun, namun belum menikah. Dia terlalu sibuk mengurus bisnisnya.
"kakak" sapaku.
"aku bawakan makanan untukmu" Kakakku menyodorkan makanannya. Akupun menerimanya, walaupun aku sudah makan tadi.
"makasih" ucapku.
"kalau begitu aku ke kamar lagi" pamit kakakku. Dengan gugup kakakku pun melangkahkan kaki pergi.
"kak, aku akan pergi lagi besok" ucapku pada kakakku yang tengah berjalan pergi ke kamarnya.
Langkah kaki kakak pun berhenti, kemudian memutarkan badannya, menatap ke arahku.
"kenapa?" tanya kakakku.
"besok ada rapat" jawab ku mengada - ada. Sebenarnya, aku sudah tak tahan tinggal di rumah itu.
"rapatnya bisa di tunda?"
"hah?"
"kakak ingin menghabiskan waktu denganmu besok"
"tapi..."
"kakak memohon" kakakku meohon dengan wajah yang memelas.
"baiklah" jawab ku setuju.
Kakakkupun terseyum kemudian pamit, dan pergi ke kamarnya. Akupun masuk membawa makanan yang kakakku bawa.
Bersambung...
__ADS_1