The Garabagan

The Garabagan
Epesode 62 : Rasa apakah ini?


__ADS_3

"ikut test juga?" Akhirnya Diana berbicara pada Darma, setelah sekian lama kerongkongannya seperti tersedak dahak biyawak kalau bicara sama Darma.


"eh iya mbak" jawab Darma.


"hah mbak?" heran Diana dalam hati. Darma benar-benar tak mengenalinya.


Flashback Off


"hueeeeeekkkkk.... Saat itu Darma tak mengenaliku, Agnes"


"haha" Agnes tertawa mengejek Diana.


"kamu malah ketawa sih"


"ya iya lah dia gak kenal kamu. Kamu kan jarang bertemu dengannya"


"ehhhhhh.... Padahal kita pernah bertabrakkan dan dia ke kelas untuk minta maap"


"cuma segitu?"


"terus tercentang bola waktu di lapang"


"haha... Mungkin dia lupa karena tercentang bola kali"


"Agnes!" kesal Diana.


"haha maaf,,, maaf"


*****


Keesokan harinya, Akhirnya Diana mengunjungi ruangan Olivia untuk mengadakan rapat perihal rencananya menambah cabang toko Destiny. Di ruangan itu sudah ada Darma dan Olivia.


"Aku tolak" ucap Olivia, setelah membaca proposal dari Diana.


"kenapa Boss? Bukankah disini areanya strategis?" tanya Diana.


"kamu ini. Di lokasi ini sudah banyak usaha yang sejenis dengan usaha kita, sebaiknya lokasi ini dihindari. Saya tidak mau merugi."


"Tapi Boss..."


"itulah cara saya memulai bisnis. Pilih lokasi usaha yang tingkat kompetisinya rendah. Dengan begitu peluangnya besar"


"Wooooaahhhhhh... Boss, ternyata hebat" kagum Darma.


"ini adalah dasar berbisnis" jawab Olivia melihat Darma.


"hehe" Darma tersenyum menjawab Olivia.


Diana melihat Darma, kemudian terdiam tidak bisa menjawab. Olivia ternyata orang yang hebat. Diana jadi berpikir, apakah tipe Darma itu yang seperti Olivia?


" Namun..." Olivia mengangkat jari telunjuknya ke atas, "jika kamu yakin karena posisinya yang sangat strategis, kamu harus siap bersaing dengan menciptakan inovasi baru yang dapat membedakan usaha kamu dengan usaha lain yang sejenis"


"Inovasi?"


"iya, Inovasi yang membedakan usahamu plus yang bisa menarik konsumen dengan cepat. Adakah kamu ide untuk membuat inovasi tersebut?"


Diana terdiam menatap lantai. Dirinya belum ada jawaban untuk pertanyaan dari Olivia.


"be-belum Boss"


"kalau begitu sudah!" Olivia mendorong proposal yang di mejanya ke depan "rapat selesai"


"baik Boss" jawab Diana. Diana lalu mengambil proposalnya.


"kalau begitu, makasih Boss"


"iya. Sama-sama" jawab Olivia.


"saya pamit dulu"


"iya"

__ADS_1


Dianapun membalikkan badannya, kemudian menatap Darma. Dengan wajah kecewa diapun pergi keluar. Darma melihat Diana keluar dengan perasaan sedih.


"Boss aku mau keluar dulu" ijin Darma sembari berjalan ke arah pintu.


"untuk apa?" tanya Olivia.


"gak bisa" tolak Olivia.


"eh sebentar saja Boss" Ucap Darma kemudian pergi mengejar Diana.


"hey... Tung..." Olivia mencoba menghentikan Darma, akan tetapi Darma sudah pergi keluar.


Olivia langsung merasa sebal Perintahnya tidak dituruti oleh Darma. Dia terus melotot melihati pintu.


"Kenapa Darma harus mengejar Diana?" penasaran Olivia dalam hatinya.


"Hah!? Kenapa juga gue harus peduli sama hal itu?" ,Oliviapun menyilangkan tangannya. Tapi dada Olivia serasa sakit melihat Darma mengejar Diana. Dirinya lalu teringat kembali perkataan Laila pada Darma,


"pasti yang menjadi istrimu nanti akan senang terus kalau sama kamu"


"a-a-a-Apakah calon istri Darma adalah Di-Diana?" penasaran Olivia.


*****


Sementara itu, Darma tengah mengejar Diana. Untungnya Diana belum jauh dari ruangan Olivia. Darmapun berlari mendekati sembari memanggil Diana. Perempuan itupun menoleh.


"kamu tidak apa-apa?" tanya Darma.


Diana menatap Darma,


"apa ini? Darma mengejarku" senang hati Diana. Diana jadi merasa malu, pipinya memerah. Iapun lalu menurunkan pandangannya ke bawah sembari tersenyum senang.


"tidak apa-apa" jawab Diana.


"yang benar?" tanya Darma meyakinkan.


"i-iya"


"o yah? Benarkah?"


"iya"


"Diana" panggil Darma. Dianapun mengangkat kepalanya menatap Darma.


"benarkah?" tanya Darma kembali.


"i-iya" jawab Diana.


Darma tersenyum kemudian bertanya lagi "benarkah?" Woyy udah napa sih! Tidak ada dialog lagi kah?


"i-iya" angguk Diana.


"begitu. Syukurlah" lega Darma.


"wahah kamu hebat Diana. Dengan cepatnya kamu berkembang"


Diana menatap Darma. Begitu senang rasanya, dirinya bisa di puji oleh Darma. Dirinya juga bisa begitu dekat dengan Darma, dan menatap wajahnya dengan jelas.


"ah ti-tidak juga" jawab Diana tergagap kemudian menundukkan kepalanya.


"aku gagal meyakinkan Boss"


"yahah... Jangan begitu. Kamu sudah dijadikan manajer oleh Boss. Berarti Boss sudah yakin padamu" jawab Darma kemudian tersenyum pada Diana.


"jadi jangan merasa rendah diri. Tetap semangat!" Darma mengacungkan tangan mengepalnya menyemangati Diana.


"Fighting!" ucap Darma kembali mengepalkan tangan mengepalnya.


Diana tersentuh dengan ucapan Darma. Darma begitu perhatian padanya, dia sampai berlari mengejar hanya untuk menyemangatinya.


"Darma" ucap Diana menatap meresapi Darma. Darma lalu tersenyum kepadanya.

__ADS_1


Diana semakin meratap Darma, dirinya sampai berkedip lambat melihat Darma.


"Darma, elus rambutku seperti di film-film" yahah ingin Diana berkata seperti itu. Tapi tidak bisa rasanya. Sekarang Dia bisa melihat Darma dari dekat saja, dia sudah bersyukur.


Namun dirinya juga semakin kecewa, rencananya menambah cabang di dekat sini untuk dekat dengan Darma gagal.


*****


Di tengah mereka yang sedang berpandangan, Olivia melihat mereka dari ruangan CCTV. Dia tertegun menatap monitor, sembari memegangi dadanya.


"iya juga ya. Lelaki mana yang tak akan menyukai Diana. Dia sangat cantik" batin Olivia.


"kenapa dadaku jadi sakit?" tanya Olivia dalam hati. Dia merasa tak senang dengan kedekatan Diana dan Darma.


Olivia lalu menaruh kedua tangannya, bersidekap di meja, lalu menaruh dagunya di punggung lengannya, merana menatap monitor. Olivia merasa khawatir dan juga takut. Tapi tak tahu takut kenapa?


"Darma" panggil Olivia menatap monitor.


Olivia tidak kuat rasanya, hatinya serasa mau pecah. Dirinya kembali mengingat, kenangan-kenangan indah bersama Darma. Benarkah Diana itu calon istrinya Darma?


*****


"kalau begitu Diana aku ke dalam lagi yah" pamit Darma.


"oh i-iya" jawab Diana tergagap.


Darma membalikkan badannya, setelah itu melangkahkan kakinya menuju ruangan Olivia.


Diana masih menatap Darma, lalu diapun tersenyum. Rasanya bahagia sekali hatinya. Diapun lalu membalikkan badan dan melangkahkan kakinya pergi. Namun selang beberapa langkah, Diana menoleh ke arah Darma kembali.


***


Olivia yang melihat Darma segera masuk ke dalam ruangannya, langsung panik dan segera menuju meja tempatnya semula.


Darmapun masuk. Untung saja Olivia kembali dengan tepat waktu. Pas sekali Darma membuka pintu, Olivia sudah duduk pura-pura memainkan ponselnya.


"bagus sekali" ucap Olivia.


"maaf boss" ucap Darma menghampiri Olivia.


"dah lah!" Olivia berdiri kemudian berjalan melewati Darma. Dirinya seakansangat kesal pada Darma.


Darma menatap Olivia bingung. Dirinya memang bersalah, tapi kenapa Olivia malah pergi, biasanya Dia selalu menghukum Darma.


Oliviapun menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada Darma.


"kerjakan tugasmu!" ucap Olivia dengan dinginnya.


"baiklah, Boss" jawab Darma.


Olivia kembali melanjutkan langkahnya Pergi keluar. Setelah di luar ruangan diapun terpikiran untuk pergi jalan-jalan. Diapun lalu turun naik lift, menuju parkiran, dan menaiki mobilnya.


Olivia lalu menjalankan mobilnya pergi ke luar. Olivia rasa dirinya harus mendinginkan kepalanya dengan pergi ke luar.


*****


Disaat Darma tengah menuju ke mejanya. Dia lalu balik lagi menuju meja Olivia untuk membawa flashdisk miliknya. Setelah dia mengambil Flashdisk miliknya, ia seperti melihat sesuatu yang penting di meja Olivia. Darma melihat tas Olivia.


"hahhhhhh!? Itukan tas si Boss?" kaget Darma.


"dasar si Boss, dia pasti lupa"


Darmapun segera mengambil tas milik Olivia itu lalu segera pergi mengejar Olivia.


Bersambung...


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Thanks for reading


Jangan lupa like ๐Ÿ‘

__ADS_1


Comment๐Ÿ’ฌ


Dan Rate 5 nya โญโญโญโญโญ


__ADS_2