The Garabagan

The Garabagan
Epesode 115 : Gajihan 2


__ADS_3

Keesokkan harinya di kantor, Darma tengah terdiam mematung lantaran melihati jumlah nominal uangnya yang ada di ATM miliknya. Dirinya benar - benar tidak menyangka, bisa mendapatkan semua ini. Uang yang ada di ATM nya berjumlah 20 juta lebih.


"AAAAAAAAAAHHHHH....!?!?" teriak Darma kaget.


"Apa ini Woy? kenapa segini? Ini bukan mimpikan?" heran Darma menggila.


Darmapun dengan segera mengambil ATM nya kemudian berlari menuju ruangan Olivia.


Sesampainya di ruangan Olivia, Darmapun berjalan dengan ngos - ngosan karena kecapekan.


"Boss..." panggil Darma.


"A.. Ah" Olivia mengacungkan dan menggoyangkan jari telunjuknya pertanda melarang Darma memanggilnya Boss.


"Oliv ini beneran?" tanya Darma dengan wajah senang.


"apanya yang beneran?" tanya Olivia seolah tak tahu.


"gajiku 20 juta?" tanya Darma.


"Ohh..." Olivia menundukkan kepalanya kemudian menatap laptopnya.


"iya" lanjut Olivia kemudian tersenyum.


"eh?" kaget Darma. Ini bukan mimpikan? Ini bukan halusinasinya kan? Seketika Darma pun menampar dirinya sendiri untuk memastikan apakah semua ini nyata atau tidak.


Plaaaaakkkkk...!!!


"AHAAAKKK!!!" Darma merasakan sakit, yang berarti ini semua bukan mimpi.


"Wuuuahhhhh Ini bukan mimpi" teriak Darma.


"hehe" Olivia terkekeh melihat tingkah Darma.


"tapi kenapa?" heran Darma.


"aku tidak pernah dengar ada gajinya dua puluh juta perbulan? Dan kata Boss dulu gaji ku kurang dari segitu"


Olivia menarik nafas kemudian menghembuskannya.


"kamu gak mau di gaji segitu?" tanya Olivia.


"ya mau" sahut Darma "mau banget. Siapa coba yang tidak senang dengan gaji yang besar seperti ini"


"ma... Makasih Oliv" senyum Darma.


Olivia tersenyum senang melihat Darma bahagia, hatinya berdegup kencang melihat senyumnya itu.


"sama - sama" jawab Olivia.


"wahhhhhaaa... Aku akan segera mengirim emak" Darma mengacungkan kartu ATM-nya.


"aku permisi dulu Boss"


"Olivia" Olivia membenarkan.


"iya Oliv" Darmapun dengan secepat kilat kembali menuju tempat ATM di bawah. Olivia tersenyum senang tiada henti, Dirinya benar - benar senang melihat Darma sebahagia itu.


Sesampainya di tempat ATM, Darma mengantri untuk menunggu gilirannya. Sampai akhirnya gilirannyapun tiba, iapun dengan segera mengirimkan setengah uangnya pada no rekening ATM keluarganya di kampung. Setelah selesai Darmapun keluar dan tersenyum menatap langit. Kesabarannya ternyata membuahkan hasil. Walaupun dirinya dulu sering menderita di perusahaan ini, bahkan mendapatkan gaji yang tidak sesuai tapi syukurlah dirinya telah mendapatkan kebahagiaannya hari ini.


"terima kasih Ya Allah" ucap Darma.


*****


Di samping itu, Diana kini telah datang di toko Destiny barunya yang tengah di bangun guna melihat perkembangannya. Dirinya juga berniat untuk bertemu Darma jam istirahat nanti. Dirinya menginginkan penjelasan terkait kenapa dirinya tak menghubunginya. Hatinya selalu gelisah. Diana juga penasaran apakah Darma dan Olivia mempunyai hubungan khusus.

__ADS_1


"hati ini terus saja gelisah" batin Diana. Diapun kemudian membuka ponselnya kemudian melihat postingan dari Olivia kembali. Uh hatinya kembali merasakan sakit tak berdarah.


"hahhh..." Diana menghembuskan napasnya, mencoba menenangkan hatinya.


"aku harus bicara pada Darma" ucap Diana kemudian.


"Nona Diana" panggil mandor bangunan di sana.


"Ouh iya" Diana pun menghampiri mandor di sana untuk diskusi tentang proyeknya.


*****


Pada siang hari, Darma bersama Olivia berangkat ke kantin bersama. Mereka berniat menemui Laila dan ingin mendengar penjelasan dari Laila terkait kenapa Laila membuat makanan yang membuat Darma sampai ke rumah sakit.


Tadinya Darma ingin membicarakannya di waktu yang tepat, di tempat yang sepi akan tetapi Olivia mendesak Darma agar segera berbicara dengan Laila. Kini merekapun sudah duduk di kantin. Semua mata melihat ke arah mereka, karena semua orang heran melihat Olivia ada di kantin. Jarang - Jarang seorang Olivia ada di kantin.


"Laila!" panggil Olivia.


"Boss, nanti saja setelah makan"


"ah Biar cepat!"


"udah nanti aja, sekarang masih banyak orang" Darma melihat ke sekitar.


"Kenapa emangnya?" tanya Olivia "Justru bagus. Biar orang lain tahu kelakuannya seperti apa?"


Darma menatap Olivia. Padahal yang di lakukan Olivia padanya jauh lebih parah.


"Jangan Boss, nanti saja. Kita makan dulu aja yah" Darma mencoba menenangkan Olivia.


"Ah baiklah" Hih Olivia tak sabar rasanya ingin segera memarahi Laila. Kalau bisa menggaruk wajahnya menggunakan kuku - kukunya.


Merekapun akhirnya memesan makanan yang sama yakni Nasi dengan BBQ di atasnya. Cuman sayang yang melayani mereka bukan Laila. Merekapun melahap dengan asiknya. Setelah selesai jamu makan Oliviapun berdesit memanggil Darma.


"Hey Darma"


"kita panggil sekarang?" tanya Olivia.


"jangan deh! Masih banyak orang" jawab Darma setelah melihat ke sekitar.


"terus mau sampai kapan?" heran Olivia.


"sudah ku bilang Boss biar aku saja yang berbicara pada Laila" jawab Darma.


"gak bisa. Aku harus ikut" tolak Olivia.


Darma menatap Olivia, kemudian tersenyum melihat tingkahnya. Olivia benar - benar baik pada Darma.


Olivia yang di lihati Darma, jantungnya kembali berdebar. Dirinya merasa malu, entah kenapa.


"ke... Kenapa menatapku?" tanya Olivia dengan gugup.


"ah enggak" jawab Darma memalingkan wajahnya.


"kenapa? Aku cantik yah?" Olivia menempelkan kedua tangan pada pipinya, berpose so imut sambil mengedip - ngedipkan matanya.


Darma kemudian tersenyum salah tingkah, dirinya tak tahu harus menanggapi Olivia dengan bagaimana.


"Oh yah Boss, bagaimana kalau kita berbicara dengan Laila di ruangan Boss saja"


"hah?" heran Olivia.


"kita udah jauh - jauh kesini?"


"hmmm tapi lebih aman di ruangan Boss, disana kan tertutup dan gak banyak orang" jawab Darma.

__ADS_1


"hmmm iya juga" jawab Olivia.


"kalau begitu, aku akan menyuruh laila ke ruanganku"


"biar aku saja Boss" sahut Darma.


"udah gak apa - apa" ucap Olivia.


"aku gak enak Boss, ini masalah ku. Tapi Boss yang kerepotan"


"gak apa - apa" jawab Olivia tersenyum.


"gak Boss..."


"eh hey kamu" Olivia memanggil pelayan yang ada di kantin.


"iya Boss" pelayan itu menghampiri.


"bilangin ke Laila, nanti suruh keruangan saya yah"


"oh iya Boss" angguk pelayan itu.


"udah itu aja sih"


"Oh iya" pelayan itu pun pergi.


"Udah biar dia saja" ucap Olivia pada Darma.


"hehe" Darma terkekeh.


"ayo kita ke atas" ajak Olivia sambil berdiri.


"ah iya" Darmapun ikut berdiri.


Merekapun kemudian pergi dan menuju ke ruangan Olivia. Setelah sampai di ruangan, Darmapun duduk di kursinya sementara Olivia berdiri di meja Darma.


"Kenapa berdiri Boss?" tanya Darma.


"panggil Oliv ketika kita berdua" Olivia membenarkan.


"iya lah iya" jawab Darma.


Olivia pun terdiam, dirinya harus segera mencari topik pembicaraan agar mereka saling terus berkomunikasi.


"Oh yah Oliv" panggil Darma. Akhirnya Darma mengajak Olivia berbicara juga.


"iya Darma"


"rabu besok aku mau ke panti asuhan lagi. Apa kamu mau ikut?" tanya Darma.


Olivia terdiam, dirinya bingung mau menjawab apa. Olivia bingung, dirinya sangat ingin terus bersama Darma. Akan tetapi dia juga takut bertemu ibunya.


"biar aku pikirkan" jawab Olivia lesu.


"kenapa harus di pikirkan?" heran Darma "Kamu harus hadapi bu Arini Boss. Mau sampai kapan Boss menghindarinya terus?"


Olivia terdiam. Dia merasa tidak ada jawaban atas pertanyaan Darma.


Tok... Tok... Suara seseorang mengetuk pintu.


"Misi Boss" ucap seseorang kemudian masuk, yang tidak lain tidak bukan adalah Laila.


"Akhirnya..." ucap Olivia senang. Darma dan Olivia pun kini menatap Laila. Sementara Laila, dia terus menghampiri Olivia dan Darma. Kini merekapun saling beehadapan.


"ada apa Boss panggil saya?" tanya Laila.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2