
Olivia lalu melihat tangan kanan yang tadi menempel pada tangan Darma. Ketika dilihat, tangan Olivia jadi seperti berkilauan. Dia seperti sudah memegang intan permata yang penuh akan kilauan cahaya, dan kiluan itu seakan merebak pada tangannya.
Iapun lalu tersenyum, mengepalkan tangannya lalu menempelkan erat di dadanya, tersenyum hangat merasa senang. Dia berhasil memegang tangan Darma.
Oliviapun melihat kearah depan, ternyata Darma sudah jauh berjalan. Iapun kaget dan langsung mengejarnya.
Merekapun lalu bermain game Kadal Shooter. Dengan riang gembira, Olivia melawan Darma dalam game. Otaknya serasa segar kembali ketika dia bermain.
Menjadi terlalu serius ternyata bisa membuatmu gila! Itulah yang Olivia sadari. Sampai akhirnya Darma berhasil dikalahkan oleh Olivia. Olivia merasa bahagia dapat mengalahkan orang yang berada di dekatnya ini.
"gue menang" ucap Olivia menghadap Darma.
"iya" Darma tersenyum "Boss memang hebat"
Olivia tersenyum, menyilangkan tangannya di dada "tentu saja" ucapnya. Darma tersenyum menatap Olivia.
Suara adzan Ashar pun berkumandang. Darma melihat jam di ponselnya ternyata sudah sore, jam tiga.
"Boss" panggil Darma.
"iya"
"waktunya sholat" ucap Darma.
"terus?"
"ayo sholat bersama-sama"
Olivia terdiam menatap Darma. Hatinya seakan tidak ingin menolak ajakkan Darma, dirinya seperti ingin menuruti semua keinginan Darma. Lagian apa salahnya kan beribadah?
"oh, iya" jawab Olivia tersenyum "ayo"
"haaahhhhhhhh!?" teriak Darma tidak percaya. Tidak, tunggu! Darma harus tenang. Dia tak boleh membuat Olivia kesal terus jadi berubah pikiran lagi. Dia tidak boleh membuat Olivia kesal seperti di rumah sakit.
"apa?" tanya Olivia.
"ayo" ajak Darma kemudian berjalan. Olivia mengikuti Darma. Darma dan Oliviapun akhirnya shalat di mushola yang ada di mall itu.
Olivia sedikit lupa dengan cara berwudlu. Dia pun asal membasuh saja asalkan terlihat basah. Darma menyadari, tapi dia tidak mau memberitahunya sekarang. Olivia ingin shalat saja, Darma sudah merasa bersyukur.
Ketika shalat, Olivia merasa berbeda, hatinya merasa menjadi lebih tenang. Walaupun dia lupa beberapa bacaan shalat. Tubuhnya seakan merasa sejuk.
Dia melihat ke depan. Ada Darma sedang mengimami dirinya dan beberapa orang dibelakang Darma. Olivia tersenyum melihat Darma, kemudian menundukkan kepalanya kembali. Astaga, senyum saat sholat. Ya emang senyum itu ibadah, tapi gak harus dilakukan saat Sholat segala, Olivia.
Setelah shalat selesai, Oliviapun mengangkat tangannya tersenyum menatap Darma.
Darmapun membalikkan badan. Olivia pura-pura bermuka datar khusu berdo'a. Darma lalu menyalami para makmumnya. Kemudian berjalan keluar. Olivia membereskan kembali mukena yang dipakainya dan menyimpannya di tempat yang sudah tersedia. Kemudian dirinya ikut keluar menyusul Darma.
Olivia pun melihat Darma tengah duduk menunggunya di luar.
"nah gitu jadi Asisten" ucap Olivia mendekati Darma. Darma kaget menatap Olivia.
"apa Boss?"
"nungguin gue"
"oh hehe" Darma terkekeh.
"apa boleh aku meminta sesuatu" ucap Darma.
"hah?" Olivia tersenyum sinis "apa? Lo kan kalah tadi, Tapi mau minta sesuatu? Harusnya kan gue yang minta tiga permintaan ke lo"
"aku tahu. Tapi itu kalau boss bolehin. Kalau enggak yah gapapa"
"apa yang lo minta?"
"aku mau ke atap mall ini?"
"hah? Buat apa?"
__ADS_1
"penasaran saja hihi" Darma tersenyum.
"aku mohon nyonya CEO" rayu Darma
Olivia merasa geli di bilang seperti itu. Seperti Renita saja.
"yah nyonya CEO. Aku pernah ingin ke atap tapi tidak di perbolehkan sama Security"
Olivia menatap Darma. Darma memelas menatap Olivia.
"ah baiklah" Olivia mengangguk setuju.
"hah? Yang benar?" Darma tidak percaya permintaannya di setujui.
"iya"
"yahahahaha..." teriak Darma langsung berdiri "makasih Boss"
"apaan sih lebay" Olivia tersenyum.
Merekapun naik ke atap. Tidak ada seorangpun yang bisa naik ke atap gedung mall ini. Tapi karena Olivia mempunyai kewenangan, dia jadi bisa melakukan apapun.
Ketika di atap....
"Wuuuuuuuaaaaaahhhhh indahnyaaaaaaaa" teriak Darma.
"bukankah pemandangan di kantor lebih indah" saut Olivia.
"iya sih" jawab Darma "tapi disini juga indah"
"lihat itu" Darma menunjuk ke depan, terlihat disana banyak gedung-gedung yang tinggi menghiasi kota. Olivia sih sudah biasa melihat itu semua. Tapi bagi Darma ini merupakan pertama kalinya.
"biasa aja" ucap Olivia.
Olivia menatap mata Darma yang begitu terkesan atas pemandangan yang disuguhkan di atap.
"wuuuuaah ini kalau malam pasti lebih indah" ucap Darma.
"kalau begitu. Ayo kita ke kantor lagi" ucap Darma membalikkan badannya.
"sudah?" tanya Olivia.
"iya. Kita harus kerja lagi kan?"
Olivia menatap Darma, "hanya gini?" ucap Olivia. Sejujurnya Olivia merasa ingin semua ini tidak cepat berakhir. Semuanya membuat hati Olivia senang. Dia belum ingin mengakhirinya.
"apanya Boss?"
"lo ngajak jalan-jalan gue. Hanya begini saja"
Darma terdiam menatap Olivia. Menurut Darma ini sudah cukup, Darma sudah merasa senang hari ini. Tapi Darma juga merasa yang bersenang-senang hanya dirinya saja, Olivia tak merasakan hal yang sama dengannya. Alasan Darma mengajak Olivia adalah agar Olivia ikut bersenang-senang bersamanya. Tapi ternyata Darma gagal.
"ya sudahlah ayo" Olivia membalikkan badan kemudian berjalan pergi turun ke bawah.
"eh Boss tunggu" Darmapun mengejar Olivia.
Olivia berjalan sampai ke luar dari mall. Darma mengikuti dari belakang.
"makasih atas hari ini, Boss" ucap Darma.
Olivia menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Darma.
"apa?" tanya Olivia.
"makasih atas hari ini, Boss"
Mendengar Darma mengucapkan terima kasih. Membuat Olivia jadi merasa bangga pada diri sendiri.
"oh i... Iya" gagap Olivia. Kemudian dirinya pergi berjalan kembali. Darma mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri jalan pulang menuju kantor.
__ADS_1
Di tengah jalan, Olivia merasa kakinya pegal. Namun dirinya memaksakan berjalan kembali, biasanya juga dia kuat. Kenapa sekarang terasa pegal?
Di tengah dia memaksakan berjalan, kaki Olivia lalu menginjak tai kucing. Diapun menghentikan langkah kakinya dan mencoba melihat telapak sepatunya. Dan benar tai kucing itu menempel di bawah kakinya.
"kenapa boss?" tanya Darma.
Olivia tidak menjawab. Dia akan meringis merasa malu, kalau Darma sampai tahu.
Darma pun melihat eek kucing di belakang kaki Olivia yang sudah gepeng terinjak sepatu. Darma lalu menatap sepatu Olivia, kemudian setelah dia sadar yang menginjaknya adalah Olivia, iapun lalu tertawa.
Olivia kesal bukan main. Dirinya telah ditertawakan oleh seorang Darma. Harga dirinya seakan terperosok ke bawah. Pipinya memerah karena malu.Benar-benar merasa malu.
"hey berhenti ketawa!" perintah Olivia. Darmapun mengehentikan tawanya. Namun Darma tidak bisa menahan geli di perutnya dan dia tertawa kembali.
"lo sih!" sentak Olivia "udah gue bilang naik mobil"
"haha" Darma tertawa.
"lo ngehina gue heh?"
"enggak"
Oliviapun mengelapkan sepatunya pada trotoar . Akan tetapi baunya masih ada.
"udah" ucap Darma "dekat kantor ada toko sepatu kan?"
Olivia menatap Darma. Memang sih benar, mereka tinggal berjalan 500 meter lagi sudah sampai. Tapi Olivia tidak mau memakai sepatu yang sudah tercemar tai kucing itu.
"Aaaaahhhhhh.... Kenapa sih harus saat bersama Darma! Aku jadi malu" teriak hati Olivia.
"gue pakai sepatu lo. Lo pakai sepatu gue!" perintah Olivia.
"hah!?" kaget sekaligus bingung Darma.
"cepat!"
"masa aku harus pakai sepatu wanita Boss?" Astaga, mau di taruh di mana harga diri Darma kalau memakai sepatu wanita.
"gue aja gak malu pakai sepatu lo"
"yah beda, Laki-laki sama wanita mah. Wanita mah pakai celana pantes. Lah kalau laki pakai rok, dikira bencong"
"lo gak mau lakukan perintah gue?"
"iya deh iya" pasrah Darma.
Darmapun membuka sepatunya dan memakai sepatu Olivia, begitupun Olivia, dia memakai sepatu milik Darma.
Kini Darma merasa melawan hukum alam. Dia telah menggunakan yang seharusnya dipakai wanita. Jangan sampai Olivia menyuruhnya juga memakai bra. Aduh ya ampun.
Merekapun akhirnya sampai di toko sepatu dekat kantor. Olivia lalu memilih dan membeli sepatu yang menurutnya bagus. Syukurlah Darma kembali memakai sepatunya lagi.
"ini Boss" Darma menyodorkan sepatu Olivia yang di pegangnya.
"buang aja" ucap Olivia.
"hah?" Darma menganga.
"sayang Boss" lanjut Darma.
"ya udah buat lo aja"
Darma melihat sepatu yang di pegangnya. Dia berpikir, itu sepatu masih sangat bagus untuk di buang. Olivia memang mubazir, hanya terkena tai kucing saja langsung di buang. Darma aja yang pernah mengalami sendalnya putus, tetap di pakai menggunakan paku di tusukkan pada selangka sendalnya.
Darmapun lalu meminta kantung plastik pada kasir di toko. Olivia melihati Darma, Kemudian Darma memasukkan sepatu Olivia ke dalam keresek dan membawanya.
"ayo" ucap Darma berjalan menuju kantor. Oliviapun kembali melangkahkan kakinya menuju kantor dengan sepatu barunya itu.
Bersambung....
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, VOTE, DAN FOLLOW.