
"kamu suka cewek yang bisa masak?" tanya Laila pada Darma.
"hah!?" kaget Darma. Kenapa Laila selalu memberi pertanyaan yang membuat jantungnya bisa copot.
"jawab" paksa Olivia menyuruh Darma menjawab.
"iya suka atuh" jawab Darma "siapapun pasti suka wanita yang pintar masak"
Olivia diam memegang erat tiang. Kemudian memasang erat telinganya menguping obrolan mereka.
"tapi kalau aku mah tidak bisa masak juga gak apa-apa"
"kok gitu?"
"nanti setelah menikah kita tinggal belajar masak sama-sama saja"
Menikah? Kaget Olivia. Kenapa mereka bicara tentang menikah? Batin Olivia terheran-heran. Apakah mereka... Pa... Pacaran?
"emang kamu bisa masak?" tanya Laila.
"enggak"
"lah, nanti belajar nya gimana? Gak ada yang bisa ngajarin. Terus kalau masakannya gak enak gimana?"
"Kita akan masak bareng-bareng. Belajar bareng. Kemudian setelah makanan terhidang, kita saling tatap, senyam senyum, lalu tertawa renyah saat ternyata, makanan kita keasinan. Hehe. Kelebihan garam"
"haha" Laila tertawa "romantis juga ya!"
"hah? romantis?" heran Darma. Apanya yang romantis. Padahal Darma bicara asal saja.
"iya"
Olivia menyentuh dadanya. Dada Olivia terasa sesak rasanya mendengar percakapan mereka membicarakan soal menikah. Hatinya serasa di sayat oleh golok mang suep.
Begitu, jadi Laila dan Darma akan menikah. Pikir Olivia. Olivia memegang erat dadanya, hatinya berdegup kencang seperti berteriak. Dirinya jadi teringat kembali kenangan saat Darma membantunya di rumah sakit.
"ya udah karena lo udah bantuin gue disini! gue naikin gaji lo"
Darmapun langsung tersenyum mendengarnya. Dia menjerit kemudian memegang tangan Olivia saking senangnya.
Olivia menatap tangan yang di cengkeram Darma. Tangannya yang mungil seperti wanita. Sedikit halus namun agak kasar. Rasanya seperti ada kenyamanan tersendiri saat di pegangnya.
Kenapa dadaku rasanya sakit? Batin Olivia.
Olivia melihat luka di telunjuknya yang di plester. Kemudian teringat saat dia berada di rumah Nek Ratih. Darma rela menutup lukanya dengan tangan jasnya.
Olivia menatap Darma. Jantungnya mulai berdebar kencang. Rasa perih di telunjuknya seakan hilang ketika dia menatap Darma. Kenapa dirinya tak bisa berhenti memandang Darma saat itu? Seperti ada pesona tersendiri pada Darma. Darma yang secara hati-hati menutup luka di telunjuknya terlihat keren di mata Olivia
Ah, Hatinya terasa teriris mengingat semua itu. Kini Olivia baru tahu, kalau Darma pacaran sama Laila. Pantesan saja Laila ngebet banget ingin jadi Asistennya lagi. Rupanya dia ingin dekat dengan Darma terus.
"pasti yang menjadi istrimu nanti akan senang terus kalau sama kamu"
Darma tersenyum "Aamiin" jawabnya.
"iya yah" ucap Olivia pelan tanpa sadar.
Hah!? Kenapa Laila berbicara seperti itu?Siapa calon istrinya Darma? Bukan Laila? Olivia semakin bingung. Terus siapa?
"Betewe,,, kita udah lama disini yah"
"iya Boss Oli pasti lagi nunggu"
"Oli? Haha" Darma tertawa geli.
"kenapa kamu tertawa?"
"Oli! Buat motor atuh haha"
"eh" Laila menahan tawanya "gak sopan ih"
Oliviapun kesal dengan perkataan Darma. Dia pun seketika menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Oh gitu! Ngomongin gue dari belakang yah" ucap Olivia mengagetkan mereka.
Laila mendekap Darma saking kagetnya. Darma kaget kenapa Olivia ada di sini.
Merekapun menahan diri mereka dengan tangannya masing-masing. Jarak mereka begitu dekat. Sampai nafas mereka terdengar di telinga nya masing-masing.
Mata mereka berdua saling tatap. Degupan jantung seirama saling berdetak kencang. Waktu seolah terhenti beriringan dengan tatapan mereka.
Hati Olivia merasa panas. Entah kenapa dia merasa kesal melihat mereka bermesraan seperti itu.
"saking kagetnya jantungku masih berdebar" batin Darma.
"ya ampun. Sangat dekat sekali. Sampai-sampai wajah Darma bisa terlihat jelas olehku" batin Laila.
"mesra-mesraan kalian yah?" sindir Olivia sebal.
Merekapun menjauh dan segera bangkit dari tatapannya. Darma menepuk-nepuk pakaiannya gugup.
"kami kaget Boss" jawab Darma.
Darma menatap Olivia heran.
"kenapa Boss ada di sini?"
"ah.... Ee..." Olivia bingung mau jawab apa. Dia salah tingkah jadinya.
"terserah gue lah... hmmm" Olivia membalikkan badannya kemudian pergi menuju ke dalam kantor.
"eh Boss tunggu" Darma mengejar Olivia.
Olivia berjalan masuk tak menghiraukan Darma.
"maaf bukan maksudku meledekmu Boss" ucap Darma mengejarnya.
Olivia berjalan dengan rasa marah. Kemudian menekan tombol lift, dan menunggu lift itu turun.
"Boss aku minta maaf kalau salah" Darma memohon pada Olivia.
Olivia masuk kedalam lift. Darma berusaha memanggilnya namun Olivia keburu masuk dan naik ke lantai atas. Iapun berlari mengejar lewat tangga.
Darmapun bertemu lagi dengan Olivia diruangan Olivia.
"Boss hah... hah..." ucap Darma terengah-engah "aku.... Hah...minta maaf"
"gue gak suka ada orang yang membicarakan gue di belakang"
"aku tak membicarakan Boss"
"terus tadi apa?"
"aku hanya geli mendengar Laila mengucapkan Boss Oli" Darma terdiam mengingatnya kembali, Olivia menatapnya.
"hahahahah" Darma kembali tertawa.
"lo ngeledek gue heh?" murka Olivia.
"enggak Boss.... Haha" Darma tak bisa menahan tawanya "hanya saja panggilan itu lucu saja"
"lo pikir itu lucu!"
"itu lucu"
"mau lo apa sih! Bikin kesel mulu" geram Olivia.
"ya udah maaf... Maaf" Darma mencoba menghentikan tawanya
"maaf?"
"baiklah" Darma menghela nafasnya kemudian tersenyum "kurasa di hukum lagi kan?" lanjut Darma.
Olivia menatap Darma. Dengan tenangnya Darma menghadapi Olivia. Dengan senyumnya itu. Dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Olivia menundukkan pandangannya. Rasa kesalnya dia melihat Darma bersama Laila, membuat Olivia geram akan Darma.
"yah lo, gue hukum" ucapnya.
Darmapun menaruh belanjaan yang di bawanya ke meja Olivia. Kini posisi Darma dan Olivia jadi dekat, sampai-sampai Aroma Parfumnya yang wangi mengelus hidung Olivia.
Darmapun kembali ke tempat semula.
"baik, aku siap" ucapnya.
Oliviapun menatap Darma tajam berpikir. Hukuman apa yang pas buat Darma?
"Hukuman lo bersihin saja ruangan ini" ucapnya.
Darma mengangguk pasrah dan kemudian segera berlalu pergi mengambil peralatan kebersihan.
Setelah Darma pergi, Olivia mensusutkan tubuhnya di kursi empuk nan ahoynya. Kemudian memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"gue kenapa sih?" ucapnya pelan.
Dia mengingat kembali percakapan mereka di dekat parkiran.
"kamu suka cewek yang bisa masak?" tanya Laila pada Darma.
"hah!?" kaget Darma.
"jawab" paksa Olivia menyuruh Darma menjawab.
"iya suka atuh" jawab Darma "siapapun pasti suka wanita yang pintar masak. Tapi kalau aku mah tidak bisa masak juga gak apa-apa"
"kok gitu?"
"nanti setelah menikah kita tinggal belajar masak sama-sama saja"
"kenapa mereka membicarakan soal menikah? Apa mereka beneran pacaran?" tanya Olivia dalam hatinya.
"Tapi..." Olivia mengingat percakapan mereka lagi.
"pasti yang menjadi istrimu nanti akan senang terus kalau sama kamu"
"Aamiin" jawab Darma tersenyum.
"iya yah" ucap Olivia pelan tanpa sadar.
"tapi kenapa Laila berbicara seperti itu?" Olivia jadi bingung sendiri.
"kenapa gue jadi penasaran sih?" bingung Olivia.
"Kenapa juga tadi sebal melihat mereka berduaan?"
"apa gue benar suka sama Darma?"
PLAAAAAAAAKKKKKKKK!!!
Olivia menampar dirinya sendiri.
"Apa? Gak boleh... Gak boleh" Olivia menggelengkan kepalanya. Kemudian mengusap wajahnya
"Gue harus balas dendam. Dia itu bukan orang yang baik. Dia itu jahat, Olivia" ucapnya meyakinkan pada dirinya sendiri.
"gue harus melakukan sesuatu mulai saat ini juga. Gue harus buat dia celaka"
Oliviapun bergegas mencari alat-alat licin untuk mengerjai Darma.
Hingga akhirnya Darmapun datang kembali membawa peralatan bebersihnya. Namun ketika beberapa langkah dirinya terjatuh karena menginjak sesuatu yang licin.
Darma menatap Olivia, dia tahu pasti Olivia yang melakukan semua ini. Akan tetapi Darma tetap bersabar dan berdiri kembali.
Bersambung....
Jangan hilap like, vote, dan juga follow yah gengs...
__ADS_1
Jangan lupa tambahkan ke favorit juga biar kalau update langsung ada notif...
HATUR THANKS YOU