
Olivia menatap Darma. Kejadian tadi merupakan peringatan bahwa dirinya mempunyai waktu 26 hari lagi untuk bisa balas dendam pada Darma, membuat hidup Darma hancur.
Oliviapun menarik nafasnya. Jangan sampai perasaan aneh yang dia alami menghantui rencananya. Dia harus bisa membuat hidup Darma hancur selama dia berada di perusahaan ini. Tidak, selama-lamanya.
Olivia mengepalkan tangannya. Dia harus membuang rasa kasihannya. Diapun memejamkan matanya. Ingat waktu Darma dan teman - temannya membully nya saat SD, ingatlah itu Olivia.
Yah, dan sekarang rasa bencinya telah kembali.
"Boss" panggil Darma.
"Apa!?" jawab Olivia dengan ketus.
"kenapa Boss tidak memberi tahuku kalau Laila adalah Asistennya Boss juga"
"yah lo gak nanya"
"yah mana aku tahu atuh"
"Dah... Dah... Jangan bahas itu"
"Nah gini Boss" Darma memainkan tangannya dekat dadanya "nanti kalau Laila sudah selesai cutinya... Apakah aku akan diberhentikan?"
Olivia tersenyum sinis mendengar ucapan Darma.
"kan lo umurnya juga tinggal dua bulan lagi"
"oh iya yah haha" Darma tertawa menggaruk kepala belakangnya.
Kenapa dengan orang ini. Dia malah tertawa setelah tahu dirinya tidak akan lama berada di perusahaan ini?
Jantung Olivia kembali berdegup kencang, Melihat wajahnya Darma yang tertawa itu. Kenapa ada rasa senang ketika melihatnya tertawa. Kenapa ini?
Diapun memalingkan wajahnya. Kemudian mengepalkan tangannya lagi.
"Oh iya Boss" Darma menatap tas yang di bawanya. Kemudian mendekati Olivia dan memberikannya.
Oliviapun menerima tas miliknya yang dibawa Darma.
"Oh yah Boss, dalam daftar, minggu depan. Perusahaan Boss akan merayakan ulang tahun Destiny TV"
"iya, tahu. Lo urus semua itu"
"tentu saja. Mungkin aku akan menyumbang lagu"
"jangan deh. Nanti tamu dan Client gue pada kabur"
"tenang Boss suaraku indah. Kan Boss sudah dengar"
"iya kayak kaleng rombeng"
"haha..." Darma tertawa. Olivia memalingkan wajahnya ketika Darma tertawa.
"Boss"
"apa?"
"sekarang kita gak ada pekerjaan kan?"
"hmmm" Olivia berpikir "ada buat lo"
"apa Boss?" tanya Darma. Perasaan kayaknya sudah gak ada deh, udah beres semua.
"tolong ambilin gue cemilan"
"di kantin?"
"jangan, di Destiny Mall" ujar Olivia.
"ada upah buat aku gak?"
"apa?"
"canda Boss" Darma tersenyum terpaksa "tapi kalau Boss mau ngasih saya terima" lanjutnya dengan suara pelan.
Olivia yang mendengar Darma berbicara seperti itu. Mulutnya tak kuasa menahan garis lengkung senyumnya.
"Baiklah. Lo bawa aja dua puluh ribu disana"
"Ok siap Boss" jawab Darma dengan senangnya. Membalikkan badan kemudian pergi keluar ruangan.
*****
Di saat dirinya berjalan melalui tangga. Terdengar suara seseorang memanggilnya. Suaranya tidak asing di telinganya. Darmapun menoleh, dan ternyata itu Laila.
"mau kemana?" tanya Laila.
__ADS_1
"disuruh Boss ambil cemilan"
"hah!? Kenapa Boss gak suruh orang Mall untuk mengantarkannya?"
"iya sih... Tapi itu yang di perintahnya"
Laila diam menatap Darma.
"kalau begitu aku boleh mengantarmu?"
"oh boleh" senang Darma.
"kalau begitu. Ayo" Laila mendahului Darma.
"kemana?"
"ke parkiran"
"heh?" bingung Darma.
"naik motorku. Kamu mau jalan kaki?"
"yah kalau ada motor sih lebih baik naik motor hehe"
Merekapun berjalan menuju parkiran. Setelah sampai, Laila kemudian memakai helm lalu memarkirkan motor matic nya. Darma hanya menatapnya sambil menyemangati Laila memarkirkan motornya. Aduh pria macam apa ini?
"kamu bisa naik motor?"
"kalau matic mah sih bisa. In sya Allah"
Lailapun menggeser posisi duduknya kebelakang. Darmapun naik di depan. Tak lupa dia memakai helm yang ada di parkiran sana. Meminjam enath punya siapa.
"siap?"
"siap"
"berangkat" Darma menarik gasnya, melajukan motor yang di kemudinya. Motorpun keluar dari area kantor. Laila hanya memegangi pundak Darma untuk berpegangan.
"kamu beli motor ini kerja disini?" tanya Darma.
"iya"
"waw..." kagum Darma
"kamu juga bulan ini pasti ke beli. Aku aja kerja dua bulan udah bisa kridit motor"
Darma berpikir apa dia akan bisa? Gajinya aja selalu di potong Olivia. Iapun menarik gasnya menjalankan motornya agak cepat.
Laila memandang pundak yang di pegangnya. Dia bisa sedekat ini dengan Darma. Pundaknya yang kurus sehingga pas di cengkeraman telapak tangannya. Dia bisa bersyukur memegang pundaknya Darma.
Merekapun sampai di Destiny Mall. Laila turun lalu Darma memarkirkan motornya.
"ayo" ajak Darma masuk ke dalam.
"eh tunggu!" Laila menarik tangan Darma.
"kenapa!?" bingung Darma.
"itu helmnya gak di copot?" tunjuk Laila pada helm yang di pakai Darma. Darma meraba ke atas kepalanya, ternyata benar helmnya masih menempel di kepalanya.
"iya yah hehe"
"ya ampun kamu ini"
Darmapun mencopot helm yang ada di kepalanya. Kemudian menaruh helmnya dan helm Laila di motor. Iapun akhirnya masuk ke dalam.
"Shopping time" ucapnya.
Tak lama-lama Darmapun segera mencari ke area makanan dan membeli sesuai yang Olivia suruh. Setelah belanja dengan apa yang Olivia suruh, Darmapun berencana untuk kembali ke kantor.
Namun dari tempat bermain seperti ada tarikan godaan padanya. Dia menatap area bermain yang di penuhi dengan game.
"Ya ampun!" ucapnya.
"kenapa Dar?" heran Laila.
Pistol Analog dan sarung tinju analog merayunya untuk bermain game.
"ayo sini Darma!" rayu pistol Analog pada Darma.
"sinilah pakailah aku, bermainlah" rayu sarung tinju analog.
"ah aku bingung!" ucap Darma. Memegang kepala dengan kedua tangannya.
"bingung kenapa?" heran Laila.
__ADS_1
Diapun menundukkan kepalanya, berpikir. Diapun telah memutuskan, game mana yang akan dia pilih.
"hehahaha" Darma tertawa, Laila mulai takut dengan tingkah Darma "ayo bermain Laila" lanjut Darma bicara dengan nada melotot menantang Laila.
"Hah!?"
Pada akhirnya, merekapun bermain game bulutangkis virtual dengan riang gembiranya.
*****
"Kemana sih? Lama banget" gumam Olivia kesal.
Diapun berdiri melihat jendelanya. Kemudian dari luar terlihat dari sana Darma bersama dengan Laila telah datang menaiki motornya. Olivia lantas kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Laila?" ucapnya. Mengapa dia bersama Darma?
Dia melihat dari kejauhan Laila tengah tertawa bersama Darma dengan senangnya.
Dia menatap lagi dengan seksama. Begitu senang, riang, gembiranya mereka bercanda.
Hati Olivia terasa kesal melihat mereka berduaan seperti itu. Dia tak tahu kesal entah kenapa?
"ah perutku gue rasanya ingin nyemil"
Kaki Olivia membalikkan badannya, melangkah menuju pintu keluar. Rasanya kaki Olivia seperti melangkah dengan sendirinya.
Diapun pergi menaiki lift dan turun ke bawah. Oliviapun lantas bingung, kenapa dirinya turun ke bawah? Kenapa tidak menunggu mereka saja.
"haha apa yang gue lakukan ini?" tanyanya entah pada siapa.
Setelah sampai di lantai satu, pintu liftpun terbuka. Olivia berjalan ke luar kantor, menuju parkiran. Namun ketika dia melihat Darma dan Laila, dia malah sembunyi pada tiang dengan keadaan berdiri. Dia tak mau ada orang curiga melihatnya.
"kenapa gue sembunyi?" tanyanya dalam hati.
"kamu kenapa gak bilang sama aku kalau kamu Asistennya Boss juga?" tanya Darma menghentikan langkah kakinya.
"aku juga baru tahu kemarin kalau kamu asistennya Boss Olivia"
"apa yang mereka bicarakan tentang gue?" Olivia semakin penasaran dengan obrolan mereka. Diapun lantas mendekati mereka.
"aku bingung" Darma menggaruk kepalanya "kenapa Boss gak beritahu aku kalau kamu juga asistennya Boss"
"aku juga gak di kasih tahu kalau kamu juga jadi asistennya Boss"
"tapi Boss tahu kamu selalu ada di kantin?"
"iya tahu"
Darma berdecak pinggang menundukkan kepalanya bingung. Ah, Olivia emang penuh misteri.
"bagaimana rasanya kamu jadi Asistennya Boss?"
"Senang banget. Dia itu baik banget, ya kan?"
"baik?" bingung Darma. Olivia baik darimananya? Heran Darma dalam batinnya, atau Mungkin saja perlakuan pada Laila berbeda.
"iya kan?"
"ohoh... Iya" angguk Darma pura-pura setuju.
"oh yah... kenapa kamu mau belajar masak?" tanya Darma, kembali melangkahkan kakinya.
"biar aku bisa jadi istri yang baik nantinya. Yang bisa masak"
"oh begitu. Bagus" jawab Darma
Laila menatap Darma, Darma menatap kembali Laila. Merekapun menghentikan langkah mereka.
"kamu suka cewek yang bisa masak?" tanya Laila pada Darma.
"hah!?" kaget Darma. Kenapa Laila selalu memberi pertanyaan yang bisa membuat jantungnya copot.
"jawab" paksa Olivia menyuruh Darma menjawab.
"iya suka atuh" jawab Darma "siapapun pasti suka wanita yang pintar masak"
Olivia diam mendengar obrolan mereka.
Laila tersenyum dengan jawaban Darma.
"tapi kalau aku mah tidak bisa masak juga gak apa-apa"
"kok gitu?"
"nanti setelah menikah kita tinggal belajar masak sama-sama saja"
__ADS_1
Menikah? Kaget Olivia. Kenapa mereka bicara tentang menikah? Batin Olivia terheran-heran. Apakah mereka... Pa... Pacaran?