The Garabagan

The Garabagan
Episode 26 : Alasan Membenci 2


__ADS_3

"pergi!" dia melempari gue dengan tanah. Gue kemudian pergi menangis sepanjang jalan.


Keesokan harinya, Alif dan teman-temannya termasuk Darma, menjahili gue lagi.


Pada hari di mana saat kita harus naik ke kelas 5. Hanya Gue seorang yang tidak naik. Lo harus tahu, gue sudah berusaha belajar untuk membaca. Namun hasilnya, nihil.


Gue kemudian di hina oleh mereka yang naik. Gue terus menitikan air mata. Menangis tiada henti.


Namun ketika itu gue seperti di beri hidayah. Gue melihat TV, gue melihat seorang enterprener yang sukses, walaupun dia tak tamat SD.


Mata gue berbinar melihatnya. Jika gue sukses pasti bisa membungkam mulut mereka yang menghina gue. Gue mulai kepikiran gue harus sukses, dan membuat mereka menyesal telah menghina orang yang salah!


Gue akhirnya bisa baca setelah terus berusaha tiada henti. Gue mau sukses, gue harus sukses. Itulah yang ada di benak gue, tak mempedulikan mereka yang ngebacot menghina terus.


Walaupun Alif, Darma dan beberapa temannya beda kelas dengan gue, tapi mereka tetap datang untuk tujuan mereka, menghina dan menjahili.


Gue lihat, Darma tertawa dengan senangnya melihat gue menderita. Mata gue membara, gue harus membuatnya lebih menderita dari yang gue alami! Itu harus.


Hingga pada akhirnya gue selalu di jahili sampai gue tamat SD. Usai sudah neraka yang gue jalani. Gue akan lebih baik lagi dari kemarin, gue harus bisa menjadi hebat di SMP. Gue sekolah di SMP yang jauh dari daerah Bajaraya.


Di SMP, gue mulai melangkahkan kaki di ruangan penuh ilmu, yakni perpustakaan. Saat itulah gue bertemu dengan lo Renita, orang yang selalu ada di perpustakaan. Orang yang Tak mempunyai teman. Tapi memiliki dunia lo sendiri dan lo nampak senang walaupun hidup sendiri. Hanya bukulah yang jadi teman lo.


Gue belajar dari lo. Gue mulai suka baca buku, terlebih lagi buku tentang wirausaha. Gue mulai praktik membuat usaha kecil gue sendiri.


Kemudian kitapun berteman. Wawasan gue semakin bertambah ketika menjadi teman lo. Gue mulai belajar teknologi. Gue mulai suka teknologi, terlebih lagi teknologi media.


Di kelas 2 SMP, gue selalu sakit. Gue sudah di periksa ke dokter oleh nyokap gue, tapi tak kunjung membaik. Karena kepercayaan adat, kalau sakit terus, harus di ganti nama. Akhirnya gue di ganti nama menjadi Olivia Anna Jelita.


Tapi ada untungnya juga gue ganti nama untuk sekarang. Darma jadi gak kenal gue! haha.


Dan kini, gue telah sukses akan gue injak kepala Darma yang telah membuat gue menderita. Dia sendiri yang datang ke neraka gue. Wellcome to the hell Darma!


"Setelah Gue dengar cerita lo, gue akan bantu lo, membuat Darma menderita!" ucap Renita menitikan air matanya mendengar cerita Olivia.


"Gak. Lo gak ada hubungannya dengan ini!" jawab Olivia.


"siapapun Darma itu! Seberapa gantengpun dirinya! Gak akan gue maafin, orang yang sudah membuat teman gue menderita" Ucap Renita menunjukan tangannya ke atas, seperti orang yang sedang ceramah membela tanah air. Olivia hanya tersenyum menanggpinya.


"ya udah gue mau mandi dulu" ucap Olivia.


"oh iya, gue juga belum mandi"


"pantesan bau sampai sini!"


"eh itu mah bau ketek lo"


"haha"


"sudah dulu ya" pamit Olivia.


"iya" jawab Renita. Oliviapun menutup panggilan video itu. Bersiap untuk membersihkan badannya.


Di malam hari Olivia tidur dengan pulas tanpa beban. Setelah menceritakan masa lalunya pada sahabatnya itu.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, Olivia terbangun. Dia bersiap ke kantornya. Sebenarnya Olivia bisa saja diam di rumah. Rebahan dan tidur aja uang selalu mengalir, dia mah. Tapi dia lebih suka ke kantor, entah untuk bermain-main ataupun mengawasi para pegawainya.


Rumahnya agak jauh dari kantor, alasannya sungguh konyol, dia hanya ingin berjalan menggunakan mobil mewahnya ke kantor. Wow!


Di gerbang terlihat Darma sedang berjalan menuju kantornya. Olivia punya ide gila, dia mau menabrak Darma secara pelan, cukup membuatnya lecet sedikit. Diapun melakukannya.


Darma tertabrak pada kakinya dan terjatuh. Semua orang yang melihat Darma, Mereka secepatnya mendekati. Olivia keluar dari mobilnya berpura-pura menyesal akan perbuatannya.


"Ya ampun, maaf! Gak sengaja. Tadinya mau injak rem, tapi malah ke injak gas" ucapnya menghampiri Darma.


"tidak apa-apa Boss" jawab Darma memegangi kakinya.


"bisa bangun?"


"tenang aku kuat!" Darma menopang tangannya mencoba berdiri.


"lihat!" tunjuk Darma berdiri.


"ya udah langsung ke ruanganku yah!" suruh Olivia, kemudian pergi ke mobilnya.


Dia tersenyum melihat ke arah Darma. Berjalan agak pincang.


"Rasakan!" ucapnya. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju ke parkiran.


*****


Di hari ini Darma begitu di sibukan dengan pekerjaannya. Dia hilir mudik tiada henti karena banyak dikumen yang harus dikerjakan. Walaupun dengan kaki yang sedikit sakit, dia tetap Semangat dengan pekerjaannya.


Waktu istirahatpun tiba, Setelah sholat Dzuhur, Darma menuju ruang Controller untuk menemui Diana. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Diana. Diana juga sangat sibuk akan pekerjaannya.


"Hay Diana" sapa Darma.


"Hay" Diana senang bukan main, seorang Darma menemui dirinya. Dia tidak bisa menahan lekuk bibirnya yang ingin tersenyum bahagia.


"ada apa?" tanyanya.


"kita makan bareng?" ajak Darma.


Sayang sekali Diana sedang di sibukkan dengan pekerjaannya jadi tidak bisa makan saat itu juga.


"maaf Darma! Aku sedang sibuk. Makan siangku selalu di antarkan ketika aku banyak kerjaan" sesal Diana.


Darma agak kecewa tapi apa boleh buat, Diana sedang sibuk.


"oh ya sudah! besok lagi saja" ucap Darma tersenyum.


Diana benar-benar kecewa dia tidak bisa makan siang bersama Seperti minggu lalu lagi.


"maaf!" jawab Diana.


"iya." jawab Darma "aku ke kantin dulu ya!"


"iya, hati-hati"


Darma pergi ke kantin dengan sendirian. Diana menatapnya, dia begitu kecewa. Ingin sekali dirinya memberontak bolos dari pekerjaannya demi Darma. Tapi dia tidak bisa. Dia tidak mempunyai keberanian.

__ADS_1


*****


Di kantin-


Setelah selesai memesan, Darma duduk di bangkunya. Kemudian datang tiga Pria mendatanginya. Mereka duduk mendekati Darma.


"Opik" ucapnya memperkenalkan diri.


"bukan!" jawab Darma "namaku Darma"


"bukan lo tol*l! Tapi gue memperkenalkan diri"


"kenapa gak bilang atuh, perkenalkan, namaku teh Opik. Gitu!"


"buat apa gue harus gitu sama lo!"


"buat perkenalan atuh"


"Gue kesini cuma mau memperingatkan lo"


"peringatkan apa?"


"lo gak boleh deketin lagi Diana"


"kenapa?"


"gak sopan dia!" Opik menunjuk Darma, sembari melihat ke arah temannya.


"gue itu dah lama di sini! jadi lo harus hormat!"


"aku tergantung kalian saja, kalau kalian hormat padaku, aku akan hormat pada kalian"


cihhh,,, Opik tersenyum.


"lo mau di sini dengan damai?"


"udah damai aku mah"


Opik kemudian menarik kerah Darma.


"lo bisa jauhin Diana gak heh?" ucapnya pelan mendekati telinga Darma.


Darma memegang tangan Opik, kemudian mengunci tangan Opik, membuatnya meringis kesakitan.


"emang kenapa kalau aku deket sama Diana?" tanyanya. Teman-temannya mencoba menolong Opik. Namun Darma menekan cengkeramannya lebih kuat, sehingga Opik mengisyaratkan mundur kepada temannya.


"Apa yang salahnya?"


Aaaaaa!!! ringis Opik kesakitan. Dia ingin memukul Darma, namun Darma menambah kuat cengkeramannya. Sehingga tidak jadi.


"iya, maaf Ampun!" pinta Opik.


Darma kemudian melepaskan tangannya. Opik memegangi tangannya kesakitan.


"awas lo" Opik menunjuk Darma kemudian pergi darisana bersama temannya. Darma memandang mereka tersenyum.

__ADS_1


"dasar Makhluk Bumi!" ucap Darma.


__ADS_2