
"itu di sana rumah temenku! Aku tinggal disana di Jakarta ini" Diana menunjuk Rumah besar yang ada tidak jauh di depannya
"wah besar yah! Kamu pasti betah disana"
"hehe"
"Katanya kamu ngekos waktu kita makan bakso"
"iya ... Aku gugup, jadi aku jawab cepat aja"
"kenapa gugup?"
"kan... Kita..." Diana bingung mau jawab apa "baru pertama bertemu"
Aduhhhhhh,,, kenapa aku bilang pertama bertemu. Padahal aku sudah bertemu denganmu sedari SMK. Batin Diana.
"tapi sepertinya aku pernah bertemu denganmu deh waktu SMK"
Mata Diana membulat terkaget mendengar perkataan barusan, seolah-olah tak percaya dengan yang di dengarnya.
"mungkin perasaanku saja kali" Darma tertawa kecil.
Ihhhhh... Dasar Darma! Batin Diana kesal.
Akhirnya mereka sampai di rumahnya Agnes, temannya Diana. Darma pelan-pelan menurunkan Diana. Dianapun berdiri dengan Darma yang menopang bahunya.
Diana menatap Darma dari dekat. Dia merasa beruntung bisa sedekat ini dengan Darma. Belum lagi wangi parfum Darma yang membelai hidungnya.
Diana terus memandangi Darma tiada henti, bahkan kalau bisa, Selamanya. Sesekali dia melihat ke arah bahunya dan tersenyum.
Sementara Darma, dia memandangi rumah yang lumayan besar di hadapannya. Dia tak menyangka Diana tinggal di rumah yang lumayan besar ini.
"wah rumah temanmu lumayan besar juga ya!" Ucap Darma menoleh. Terperanjat dia melihat wajah dirinya dan Diana berdekatan saling bertatapan. Jantung Darma, berdegup dengan kencangnya. Diana memalingkan wajahnya malu. Pipinya memerah.
"Darma" panggil Diana di saat membuang mukanya ke kiri.
"i... Iya" balasnya menoleh, Diana tetap membuang mukanya. Takut berhadapan dengan Darma. Namun dia memberanikan diri, dan menoleh ke arah Darma.
"makasih" ucapnya tersenyum.
Deg... Jantung Darma begetar dengan keras.
"ayo ma... Masuk!" lanjut Diana.
"oh... I... Iya" Darma memalingkan wajahnya, sembari mengucap istigfar.
Mereka mendekati pintu dan Dianapun mengucapkan salam. Kemudian datanglah Agnes menemui mereka. Betapa terkejutnya Agnes, mendapati Diana tengah bersama dengan orang yang di cintanya.
Mungkinkah mereka sudah jadian? Benak Agnes.
"Jawab kalau ada yang ngucapkan salam itu" ujar Darma.
"Oh,,, Waalaikumsalam" jawabnya menatap kedepan dengan menganga tak percaya.
"Ini bantu aku menahan Diana, dia tengah lemas"
__ADS_1
Hah lemas? Habis apa mereka? Tanya Agnes dalam hati.
"Ini tadi ada dua orang yang menjahati Diana, menyemprotkan obat bius"
Ouhhh... Agnes ber oh ria, merasa lega.
"ayo cepat bantu Agnes" ujar Diana.
"oh iya" Agnes kemudian membantu menopang di sebelah kiri. Darma melepaskan tangannya yang membentang pada bahu Diana.
"mau masuk dulu" ujar Agnes.
"tidak, aku mau langsung pulang. Udah malam!" jawab Darma.
"ouh ya udah. Makasih ya"
"iya sama-sama" Darma tersenyum "kalau begitu aku pulang ya!"
"iya"
Darma mengangguk pada Diana, pertanda pamit. Diana membalasnya tersenyum. Darma membalikkan badan kemudian pergi dari sana.
Diana memandangi kepergian Darma dengan berandai kalau saja waktu tadi bisa berhenti. Pasti menyenangkan, dirinya tidak akan berpisah dengan Darma.
Di tengah jalan.
"kenapa kamu teh jantung?" Darma melihati dadanya berbicara sendiri.
"nanti juga kita akan makan. Kalau lapar jangan berdetak dengan cepat!" perkataan hebat seorang Jomblo 20 tahun. Mengira bahwa jantung yang berdetak kencang itu pertanda lapar, Bukan cinta. Haha...
Di rumahnya, Agnes dan keluarganya menanyai apa yang terjadi pada Diana. Mereka bertanya tentang kenapa Rok Diana bisa robek dan bisa bertemu Darma. Dianapun menceritakan semua yang dia ingat tentang kejadian penyerangan atas dirinya.
"cieeee.... Yang lagi bahagia!" ejek Agnes menghampiri.
"Aku ingin menikahinya" lantur Diana melamun.
"waduh... Udah berencana mau serius aja. Jadian aja belum!"
"eh Agnes" terkejut Diana tak menyadari.
"bukan ini Darma" kesal Agnes.
"ih maaf sahabatku" Diana menarik Agnes kemudian memeluknya.
"kamu sudah berusaha keras" ucap Agnes melepaskan pelukan Diana.
"Iya" jawab Diana "tapi besok aku tidak akan bertemu dengannya lagi"
"kenapa gak kamu tolak saja sih Na?"
"mana mungkin aku menolak kesempatan itu sih Nes"
"tapi nantinya kamu gak bisa ketemu Darma"
"Aku akan mengunjunginya sekali-kali"
__ADS_1
"katanya gak boleh"
"asal si Olivia gak tahu aja"
"wah berani kamu. Hati-hati ketahuan bisa di pecat"
"biarinlah"
"serahmu lah. Sing penting kamu bahagia"
"haha... Makasih Agnes" Diana memeluk Agnes kembali.
*****
Keesokan harinya, seperti yang Diana bilang, dia telah di pindahkan menjadi manajer di toko Destiny 47 di Jakarta Barat. Darma tak melihatnya selama dia di kantor hari itu. Bahkan sengaja dia mendatangi ruang controller agar berharap bisa bertemu dengan Diana, tapi hasilnya nihil. Mungkin semalam adalah malam terakhir dia melihat Diana. Sebuah malam perpisahan bagi Darma dan Diana.
Waktu menjadi malam, hari ini Darma berniat untuk pulang. Darma sudah berhasil melewati hari yang berat seperti biasanya. Selain dari pekerjaannya yang cukup banyak dia juga mendapatkan bonus perlakuan kejam dari Olivia. Kini, dia bersiap untuk pulang.
"Boss... Boss..." panggil Darma.
"hmmm" Olivia menjawab dengan juteknya.
"Aku sudah melakukan tugasku"
"kalau begitu kamu catat semua jadwal-jadwalku"
"ehhhh.... Tapi ini waktunya pulang"
"ouh silakan pulang kalau begitu! Tapi gaji kamu aku potong"
"iya Boss baik akan saya laksanakan" Darma dalam posisi hormat.
Olivia ingin tersenyum melihat Darma, langsung menerima kalau dia berurusan dengan gajinya.
Darma kembali mengerjakan semua jadwal -jadwal Olivia. Sementara Olivia pulang menuju istananya. Di tengah mengerjakan tugasnya Darma melihat sebuah dompet di meja Olivia. Diapun melihat dompetnya, mungkin saja itu dompet Olivia.
"inikan dompet si Boss. Punya siapa lagi coba di ruangan ini. Kan cuma ada aku dan si Boss"
"ya udah deh. Aku simpen dulu. Nanti pulang aku berikan"
Darma pun merasa penasaran akan isinya. Tapi itu pripasinya Olivia. Namun...
"hey... Bodoh!" panggil Daniel.
Darma terperanjat hingga menjatuhkan dompetnya. Dia lalu menoleh ke arah Daniel.
"gak bisa pulang ya! Kasihan!" ejeknya kemudian pergi.
"kunaon jalma teh, gelo tawa" ucap Darma yang artinya kenapa dengannya, apa dia sudah gila.
Darmapun mencari dompet yang tadi terjatuh dan menemukannya dekat Kursinya. Dompet itu terbuka dan disana Darma melihat sebuah foto Olivia. Diapun mengambilnya. Dia melihat foto Olivia menggunakan background merah terselip di dompetnya. kemudian mencabut foto background merah itu untuk melihat foto di Belakangnya. Foto selanjutnya foto Olivia dengan background warna biru. Kemudian dia melihat foto yang agak kusam di belakang foto Olivia dengan background biru, sepertinya itu foto yang sudah lama.
Darma penasaran, dia lalu memegang foto yang background biru itu kemudian mencabutnya secara perlahan. Perlahan... Perlahan... Dan...
"Heyyyy" teriak Olivia.
__ADS_1
Darma menoleh, dan betapa terkejutnya ia ternyata itu adalah Olivia.
Bersambung...