
"ayo" ucap Darma berjalan menuju kantor. Oliviapun kembali melangkahkan kakinya menuju kantor dengan sepatu barunya itu.
Merekapun masuk kedalam kantor, lalu masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai atas.
Setelah sampai di atas, akhirnya adzan Magrib pun berkumandang. Mereka lalu turun lagi ke bawah menuju mushola dan sholat bersama sampai sholat isya.
Waktu pulangpun tiba. Darma dan Olivia sudah siap segera untuk pulang pada tempatnya masing-masing. Darma menuju mesin check lock untuk absen, kemudian setelah itu dia pergi keluar dari kantor. Diapun menuju jalan pulang.
Olivia menatap kepergian Darma dari mobilnya. Dia tersenyum dengan peristiwa hari ini. Darma yang mengajaknya jalan-jalan hanya untuk menghilangkan stres di kepalanya. Ah rasanya Darma begitu keren hari ini, Batin Olivia.
"hati-hati di jalan, Darma" ucap Olivia tersenyum.
Inginnya Olivia mengantarkan Darma pulang, tapi Olivia terlalu gengsi Bray!
Oliviapun menjalankan mobilnya dan pergi menuju castle nya untuk beristirahat. Olivia hari ini sangat senang, berbeda dengan hari biasanya.
Dan ketika di kamar, Olivia hanya tersenyum sendiri mengingat peristiwa hari ini. Dirinya bisa berjalan dengan Darma.
"bukankah itu kencan?" pikir Olivia.
Dirinya lalu tersenyum kemudian menutup mukanya dengan kedua tangan. Lalu iapun menjatuhkan diri ke kasurnya.
Olivia menatap ke arah langit-langit kamar. Kemudian membuang napasnya senang.
"gue rasa. Gue akan lupakan balas dendam ini" ucap Olivia.
****
Keesokan harinya, Olivia selalu memandangi Darma sembari memutar film di laptopnya. Dia terus memandang Darma, baik ketika Darma mengerjakan tugas-tugasnya, berbicara dengannya, ataupun melakukan hal konyol seperti menaruh pulpen di atas bibirnya terus dimanyunkan. Ah setiap yang dilakukan oleh Darma nampak terlihat keren di mata Olivia.
Dan ketika Darma menoleh ke pada Olivia. Olivia selalu pura-pura tersenyum menyaksikkan film di laptopnya. Padahal dalam filmnya itu adalah adegan sadis, seorang pria di gorok oleh para penjahat.
Di kemudian hari, Olivia melihat film koleksi di web legalnya. Di sana terlihat sebuah film Drama Cinta. Diapun tersenyum lalu streaming menontonnya. Dia yang tidak terlalu suka film cinta-cintaan, kini dia mulai menyukainya. Tidak, bahkan sangat menyukainya.
"andai aku dan Darma seperti ini" ucap Olivia tanpa sadar.
"seperti gimana Boss?" ujar Darma masuk ke ruangan.
Olivia lalu mengalihkan filmnya ke genre Thriller. Dengan cepat, ia langsung memutar pas menit adegan pembunuhan.
"kayak gini!" ucap Olivia menunjuk laptopnya.
Darmapun menghampiri Olivia dan melihat ke arah laptopnya.
Aaaaaaaaaahhhhh!!! Teriak hati Olivia. Darma begitu dekat dengannya. Sampai-sampai wajahnya terlihat jelas di matanya.
Mata Darma membuntang, film yang di tunjuk Olivia. Itu Adegan seorang Pria dibunuh menggunakan shotgun.
"Psikopat" batin Darma. Darmapun menelan salivanya kemudian berjalan kaku menuju tempat duduknya. Takut Olivia akan melakukan hal yang sama dengan yang ada di film itu.
Olivia tersenyum melihat Darma. Darma melihatnya kemudian menundukkan kepalanya.
Lalu Olivia melihat ke layar laptopnya. Ah sial! Kenapa dirinya malah memutar adegan sadis sih? Darma pasti mengira dirinya psikopat.
Olivia menatap Darma. Darma memalingkan pandangannya.
"ternyata benar! Habislah" batin Olivia.
****
Keesokan harinya, Darma libur, karena hari itu hari rabu. Olivia diam menatap layar laptopnya. Kemudian sesekali menatap meja tempat Darma. Dirinya merasa kesepian kala tidak ada Darma. Sangat membosankan.
Diapun menuju ke meja Darma, dan duduk di sana. Olivia lalu mengelus mejanya itu, sembari membayangkan Darma ada di sana. Dia lalu menyandarkan kepalanya di tangan yang berdekap di meja.
"besok harus masuk" ucapnya. Olivia serasa kehilangan sesuatu. Rasanya dia ingin Darma selalu ada di sini.
*****
__ADS_1
Seharian Darma telah mengunjungi panti asuhan Limpah Kasih, untuk bertemu Ucup, Deby, dan Tania.
Di malam hari iapun kembali pulang. Kini dirinya sedang menuju halte bus. Untuk ongkos naik bus, Darma menjual gelang emas pemberian dari Bu Arini. Ia menjualnya pekan lalu. Itu juga ia gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti keperluan mandi, dan biaya makannya. Dan juga tidak lupa dirinya memberi pada Ucup, Deby, dan Tania.
Di tengah perjalanan pulangpun, Hujan di langit tiba-tiba melanda Darma yang tengah berjalan. Segera iapun berlari mencari tempat berteduh.
Darma berlari dan terus berlari sampai akhirnya dia sampai di halte bus. Dia menepuk-nepuk area pakaiannya yang basah.
Darma tertegun setelah melihat seseorang disana. Ternyata disana ada perempuan yang juga sedang duduk berteduh memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Diana?" ucap Darma tak percaya.
Dianapun menoleh ke arah Darma. Diana tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Darma?" ucap Diana.
"kok kamu ada disini?" tanya Diana.
"a-aku t-tadi habis dari panti asuhan Limpah Kasih"
"untuk apa?"
"mengunjungi temanku"
"hah? Teman? Kamu punya teman disini?"
"punya"
"kamu sering kesini?"
"setiap hari rabu"
"haaaaahhhhh!?" teriak Diana tak percaya, Darma sampai kaget mendengarnya.
"jadi selama ini. Setiap rabu, Darma selalu kesini!" batin Diana.
"Dan aku tidak tahu hueeeeekkkk" batin Diana menangis.
"apakah toko yang kamu pimpin ada di dekat sini?"
"I-iya" angguk Diana.
"wooooaahhhhh...." Kagum Darma "kalau aku tahu, mungkin sesekali akan mengunjungi mu"
Diana tersenyum "aku juga kalau tahu kamu selalu kesini mungkin aku akan menemuimu juga"
"haha" mereka tertawa.
"kok kamu ada di halte bus?" tanya Darma.
"Oh tadi aku dari dekat kantor pusat"
"mau apa?"
Dianapun menceritakannya pada Darma. Di sore hari, Diana datang ketempat dekat kantor pusat Destiny Media. Dia sedang berkeliling disana. Dia sudah berencana bahwa Dia akan segera membuka cabang baru dari Toko Destiny. Dan dia lebih memilih tempatnya dekat kantor pusat.
"sebentar lagi. Aku akan membuat cabang baru di sini" ucapnya pada Asistennya, Wati.
"kenapa memilih disini Bu?" tanya Wati.
"Disini lumayan ramai penduduk dan dekat dengan taman kota"
"oh begitu"
"iya"
Yang lebih penting bagi Diana, selain dari tempatnya strategis, dirinya bisa dekat dengan Darma kembali. Itulah alasan Diana teringin menambah cabang dengan cepat.
__ADS_1
Kini Diana bertemu dengan Darma lebih cepat dari yang dia duga. Diana tersenyum menatap Darma.
"Cabang baru?" kaget Darma. Diana sangat cepat berkembang yah!
"iya"
"Wooooaahhhhhh benar-benar hebat kamu Diana" kagum Darma.
Diana tersenyum, dirinya sangat senang mendengar pujian dari Darma.
"iya. Doakan yah agar sukses"
"iya pasti. Seorang teman pasti akan selalu mendoakan temannya" jawab Darma.
"do'akan aku juga" ucap Darma kembali.
"doakan apa?"
"doakan agar aku bisa sepertimu"
"iya Aamiin" Diana tersenyum menatap Darma.
Darma menatap kedepan, ke jalan yang sedang di guyur rintikkan hujan.
"oh yah Diana"
"apa?"
"apakah kamu masih makan kadal?"
"hehe... yehhhh apaan!" ucap Diana terkekeh.
"kamu masih suka makan Taco Crocantes?"
"haha... Masih" jawab Darma terkekeh.
"sekarang aku sudah bisa menyebutkannya"
"haha" Diana tertawa.
"aku ingat kamu dulu sangat susah menyebutkannya"
"iya... Namanya aneh gitu"
"haha"
Diana menghentikan tawanya, kemudian menghembuskan napasnya.
"maaf" ucap Diana kembali. Darma menoleh bingung menatap Diana. Kenapa dia meminta maap?
Dianapun menceritakan dulu dirinya dengan Darma hanya makan siang satu kali saja, Itu semua di sebabkan bukan karena Diana tidak mau. Tapi karena keesokan harinya setelah mereka makan siang bersama, Diana mendengar pembicaraan Opik, Gerrard, dan Daniel merencanakan hal yang jahat. Jadi dia tak ingin bertemu dengan Darma lagi, agar Darma tidak kenapa-kenapa. Jadi Diana malah memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya untuk menjauh dari Darma. Dan dirinya malah jadi manager, dan malah jauh sekali dari Darma.
"iyah tidak apa-apa" jawab Darma tersenyum "makasih yah"
Jantung Diana berdegup kencang kembali, setelah mendengar Darma mengucapkan rasa terima kasihnya. Hah rasanya dirinya tidak merasakan hal itu lagi semenjak hampir sebulan tidak bertemu Darma. Mungkin hanya Darma yang bisa melakukan hal itu.
"kamu tahu waktu pertama kali kita bertemu?" ucap Diana kemudian.
"hehe iya tahu" jawab Darma "waktu test wawan..."
"bukan waktu itu" potong Diana dengan datar menatap Darma.
Darma menatap Diana bingung. Emang kapan lagi, kali pertama mereka bertemu?
Bersambung....
**๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, vote, dan rate limanya yah gengs
MINA DAISUKI๐๐**