
"jadi Darma apa kamu setuju aku membunuh orang itu?" canda Olivia tersenyum.
"ENGGAKLAH!" jawab Darma spontan.
"aku tidak setuju soal itu"
"hehe" Olivia terkekeh.
"tapi Boss, temuilah Bu Arini. Berbicaralah dengannya agar kalian saling mengerti"
*****
Di malam hari, Darma kini sedang melihat ke luar dari jendela kosannya. Tak ia sangka jalan yang Olivia lalui harus seberat itu. Darma jadi merasa kasihan pada Olivia.
Darmapun kembali mengingat, kebaikan - kebaikan Olivia kepadanya akhir - akhir ini. Mulai dari mengajaknya naik lift bersama.
"huhuy indahnya naik lift" senang Darma.
Kemudian iapun berbaring di kasurnya, dan melanjutkan mengingat kebersamaan Olivia dengannya. Mulai dari jalan - jalan dan main game bersama, terus menyuapi Olivia saat dirumah rumah sakit. Mengingat hal itu, Darmapun tersenyum. Pipinya memerah. Dan jantungnya berdebar dengan kencangnya.
"eh aing mah malah lapar" ucapnya memegang perut.
"omong - omong soal perut. Setelah mendengar cerita dari si Boss, jadi gak kerasa lagi ya?" sadar Darma.
Darmapun kemudian memetik jarinya, senang.
"wuuuahhhh hebat ini mah" ucapnya.
Darmapun kemudian memiringkan posisi tidurnya. Kemudian diapun memeluk bantal yang ada di dekatnya. Ketika dia memejamkan matanya, diapun teringat Olivia memeluknya saat di panti asuhan. Darmapun membuka matanya. Jantungnya kembali berdebar kembali, pipinya memerah. Iapun segera menutup wajahnya yang merah itu.
"rasanya aku malu" gumam Darma.
Iapun bangun dari tidurnya, kemudian entah kenapa dia jadi merasa ingin berbicara dengan Olivia. Iapun melihat ponsel di atas lemarinya yang tengah di isi daya.
Darmapun mendekati, dan melihati ponsel itu sampai sepuluh menit. Dia kepikiran terus Olivia, setelah mendengarkan ceritanya tadi.
"aku khawatir ini mah" ucapnya.
Iapun dengan segera mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi pesan. Iapun menekan Boss galak.
Setelah di tekan, Darma pun bingung untuk mengirim pesan pada Olivia. Apa yang harus ia bicarakan? Sementara tak ada alasan penting untuk ia bicarakan. Karena bingung, iapun kemudian menyimpan ponselnya kembali.
Namun setelah di simpan, Darmapun kepikiran tentang Olivia kembali. Ia juga teringat besok adalah ulang tahun Olivia.
"AAAHHHH!!!" teriak Darma lupa.
"Astaga! Besok ulang tahunnya si Boss" ucapnya.
"aku harus memberi hadiah apa yah?" tanyanya kebingungan.
Iapun mengambil ponselnya kembali.
"ah!" kesalnya, kemudian mengetik pesan pada Olivia.
*****
Sementara itu, Olivia tengah melamun tentang Darma. Dirinya sedang di landa gelisah sekarang. Dirinya sangat menyukai bahkan mencintai Darma, akan tetapi Darma malah menyukai Diana.
__ADS_1
"apakah aku harus menyerah yah?" tanyanya dalam hati.
Tapi melihat kepedulian Darma setelah mendengar ceritanya, Oliviapun merasa tersentuh. Darma juga selalu menceramahi soal hal - hal yang baik padanya. Olivia tersenyum mengingat semua yang dilakukan Darma.
Diapun teringat akan dirinya yang lupa bercerita tentang masa lalu dirinya dengan Darma.
"astaga aku lupa soal itu" ucapnya memegangi kepalanya.
Kling... Suara ponsel Olivia bunyi. Oliviapun mendekati ponselnya.
"palingan juga Renita" ucapnya sambil membuka ponsel.
"AAAHHH!!!" Oliviapun kaget melihat itu dari Darma, kemudian membanting ponselnya ke lantai. Ponselnya itu pun terjatuh sangat keras, sampai - sampai layarnya retak sedikit dan mati.
"AAAAAAAHHHHH!!!" teriaknya melihat ponselnya mati.
"ada apa Boss?" tanya Bodyguard 1 masuk ke kamar menodongkan sebuah sendok sayur.
"ada masalah apa Boss?" tanya Bodyguard 2 yang masuk kemudian menodongkan sebuah garpu.
"mati deh" ucap Olivia.
"apanya yang mati Boss?" tanya Bodyguard 3 kemudian masuk kamar.
"ponsel hehehe" Oliviapun memeluk ponsel itu dan menangis di buat - buat.
"CEPAT AMANKAN PONSEL ITUUUU!!!" teriak Bodyguard 4 masuk kamar Olivia.
Ketiga bodyguard itupun kemudian mengambil ponsel itu lalu memeriksa keadaannya. Setelah di teliti selama dua menit, akhirnya ponsel itu hidup kembali, akan tetapi layarnya jadi blur.
"LCDnya harus di ganti Boss" ucap Bodyguard 3.
"layar senyuhnya juga gak terlalu berfungsi Boss" ucap Bodyguard 4.
"iya itu kan dari LCD nya" jawab Bodyguard 1.
"ah? Ah?" Olivia serasa tak kuasa menanggung ini semua. Dirinya tidak kuat. Sebuah pesan dari Darma dia abaikan.
"TIDAAAAAAKKKKKK" teriaknya.
*****
Sementara itu Darma terus menunggu balasan dari Olivia hingga sampai jam 2 subuh.
"mana ini teh, gak di balas - balas?" heran Darma.
*****
Keesokkan harinya, Darmapun datang ke kantor dengan mata yang seperti Panda. Diapun naik menggunakan lift menuju lantai 24. Setelah sampai, Darmapun berjalan menuju ruangan Olivia layaknya zombie.
Di depan pintu, Darmapun melihat Olivia. Jantungnya kembali berdebar mengingat kejadian semalam. Iapun dengan segera bersembunyi di sebuah tembok dekat ruangan Olivia. Disana Darma juga melihat Daniel yang tengah ikut sembunyi juga di satu lain temboknya.
Oliviapun masuk keruangan, Darma dan Danielpun menghela napasnya lega. Namun Olivia pun kembali melihat ke arah luar kembali. Mereka berduapun dengan segera sembunyi kembali di sebuah tembok. Kali ini tembok yang sama.
"apa yang lo lakuin?" heran Daniel.
"ah?" kaget Darma heran.
__ADS_1
"aku juga tidak tahu kenapa aku sembunyi?" tanyanya.
"eh? Orang aneh" ucap Daniel.
Oliviapun kembali masuk ke ruangan. Merekapun keluar dan menghela napas lega kembali.
"mau apa kamu kesini?" tanya Darma pada Daniel.
"serah gue lah? Ngapa gak boleh?" jawab Daniel.
"bukan begitu, ini kan bukan ruanganmu"
"kepo lo" jawab Daniel.
"hah..." Darma membuang napasnya bosan. Diapun kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju ruangan Olivia. Namun, Danielpun menarik kerah jas Darma.
"eh! Gue minta sesuatu sama lo bisa gak?" pinta Daniel.
"pinta apaan?" tanya Darma.
"dokumen gue ketinggalan di tempat gue"
"lah terus?"
"bisa lo ambilin gak?" pinta Daniel.
"lah emangnya kamu gak bisa?" heran Darma.
"gak bisa. Gue harus... Harus..." Daniel berpikir. Kemudian diapun melihat ke arah ruang administrator.
"gue harus ke ruangan ini. Ada file yang harus di revisi. Nah itu dokumen buat di kasih ke si Boss" lanjut Daniel.
"hmmm..." Darma menatap Daniel. Rasanya Daniel sulit untuk di percaya.
"gue kasih 300 ribu deh" Daniel mengacungkan uang 300 ribu nya.
"baiklah" dengan cepat Darmapun mengambil uang itu dan berlari meloncat - loncat menuju ruangan Daniel di lantai bawah.
Danielpun dengan Segera mengambil tasnya yang ia sembunyikan di tembok, dan dengan segera menuju ke ruangan Olivia.
Danielpun akhirnya memasuki ruangan Olivia. Olivia kala itu sedang memasukkan data financial yang sudah di periksa Darma. Sebenarnya itu sih tugas Darma, akan tetapi karena Darma belum datang, jadi Olivia sendiri yang mengerjakannya.
"permisi Boss" salam Daniel.
"Daniel?" heran Olivia.
"kenapa datang sepagi ini?"
"anu Boss..." Danielpun membuka tasnya kemudian mengambil sebuah kado yang dibungkusnya dengan rapih, di tambah pita yang mengikatnya.
"selamat ulang tahun" ucap Daniel.
"ya ampun Daniel..." takjub Olivia mengambil kado dari Daniel.
"makasih loh" lanjut Olivia tersenyum ke arah Daniel.
Clebb... Hati Daniel merasa di tembak oleh tembakan cinta kala melihat senyuman Olivia itu.
__ADS_1
"iya hehe"
Bersambung...