The Garabagan

The Garabagan
Epesode 95 : Ingin Modol


__ADS_3

Irwan kini sedang di tempat tertutup. Tidak seorang pun yang boleh melihatnya. Tempat yang ketika orang bertanya, "apakah ada orang di dalam?" dan ketika dijawab "ada" orang itu akan balik lagi. Yah Irwan sedang berada di toilet. Dirinya sedang duduk membuang emas yang ada di dalam perutnya.


Clung... Suara emas itu jatuh pada toilet.


Di tengah dirinya yang sedang buang emas, Irwan pun menempelkan kedua tangannya berpikir.


"apakah aku yakin akan rencana nya?" tanya Irwan pada dirinya sendiri.


"Biar bagaimanapun, Olivia itu anakku?" Irwan membuang napasnya ragu.


"MMM..." irwan mendorong dengan kuat agar emasnya keluar.


Clung... Suara emasnya jatuh.


"tapi..." Irwan mengingat ketika dirinya meminta untuk memanajemen salah satu cabang Destiny, Olivia menolaknya.


"aku gak bisa percaya ayah!" ucap Olivia.


Mengingat hari itu, urat - urat Irwan pun mulai terlihat pada kulitnya. Dia marah.


Clung... Clung... Clung... Emasnya jatuh dengan banyaknya.


"anakku sendiripun merendahkanku!" Irwan mengepalkan tangannya.


"lihat saja akan ku rebut Destiny dengan paksa!" Irwan pun memukul tembok di sampingnya.


Bukkkk...


"ahahaha" Irwan meringis merasa kesakitan.


"akit" ucapnya dengan wajah memelas.


*****


Setelah selesai makan, Darma dan Dianapun naik lift untuk menuju lantai 24. Diana terus melihati Darma, wajahnya seperti pucat.


"Darma" panggil Diana.


"i... Iya?" Darma menekan tombol menuju lantai 24.


"kamu beneran gak apa - apa?" tanya Diana dengan penuh kekhawatiran.


"gak apa - apa" jawab Darma tersenyum.


Diana menatap Darma. Melihat wajahnya saja, Diana tahu Darma berbohong.


"itu sini biar aku yang bawa" Darma menunjuk dokumen yang dari tadi di bawa Diana.


"ah gak usah" tolak Diana.


"udah gak apa - apa" Darma menarik dokumen - dokumen itu dengan pelan. Diana hanya bisa pasrah, dokumennya di bawakan Diana.


"makasih" Diana tersenyum. Walaupun dengan wajah yang pucat seperti itu, Darma masih saja perhatian padanya.


Pintu lift pun terbuka. Merekapun melangkahkan kakinya keluar dari lift, kemudian berjalan menuju ruangan Olivia. Dan ketika di dekat pintu masuk, Diana pun tak tahan melihat Darma yang wajahnya agak pucat dan jalannya yang agak lemas.


"Darma" Diana memegang tangan Darma, sehingga membuat langkah kaki Darma terhenti.


"ka-kamu beneran gak apa - apa?" tanya Diana dengan gugupnya. Ah jantungnya hampir meledak kala memegang tangan Darma.


"gak apa - apa" senyum Darma.


"Kenapa setelah makan nasi goreng tadi..." Diana menatap mata indah Darma.


"keceriaan mu seperti hilang?" Diana menatap Darma dengan penuh kekhawatiran.


"ah?" kaget Darma. Mau bagaimana lagi? Apakah Darma harus bilang, bahwa masakan Laila tidak enak, rasanya aneh, dan juga perutnya langsung panas setelah memakannya? Darma tak enak sama Laila.

__ADS_1


Darmapun melepaskan tangan yang di genggam oleh Diana. Diana menatap tangannya itu.


"ah maaf" kaget Diana langsung menarik tangannya.


"lihat ini..." ucap Darma. Darmapun kemudian mengambil ponselnya kemudian ke menu musik, diapun memainkan lagu rap. Kemudian menyodorkan ponsel dan dokumen-dokumen pada Diana. Diana menatapnya bingung.


"pegang" ucap Darma dengan wajah yang serius. Tanpa pikir panjang, Diana pun memegangi ponsel Darma, Walaupun dia tak tahu untuk apa semua itu.


Setelah di pegang oleh Diana. Darmapun mulai menggerakkan tubuhnya bak robot. Yah Darma sedang menari.


Setelah gerakan robot, Darmapun berjoget layaknya ayam kesamber petir. Sontak itu membuat perut Diana geli. Dianapun tertawa.


Di sebalik pintu kaca itu, Olivia melihat bayangan Darma yang tengah menari dan membuat Diana tertawa. Dia melihat detail bagaimana Diana tertawa dengan senangnya melihat tingkah laku Darma.


Darma pun merubah gerakannya seperti orang yang lagi cebok. Dan ketika ia melakukan itu untuk yang ketiga kalinya, perutnya merasakan sakit yang menusuk. Itu membuatnya terhenti.


"ah udah... Udah" Darma memegangi perutnya kemudian mengambil ponselnya dan mematikan musiknya.


"lihat aku baik - baik saja kan?" Darma menyilangkan kedua tangannya berlagak di depan Diana.


"haha iya" Diana menghentikkan gelak tawanya.


"pegawai lain melihatimu tadi" lanjut Diana.


"biarin. Biar mereka lihat betapa sexy nya aku kalau dancing"


"haha" Diana kembali terkekeh.


"ayo masuk" Darma berjalan masuk memegangi perutnya yang sakit. Dianapun ikut memasuki ruangan Olivia itu.


Olivia sudah menyambut mereka dengan tatapan dinginnya, terutama pada Darma.


"Boss, ada Diana" ucap Darma mendekati Olivia.


"oh aku tahu, aku punya mata" ucap Olivia dengan juteknya.


"Boss aku mau ke toilet dulu yah" bisik Darma.


"Hah? Untuk apa kamu ke..."


"Syuuutttt" Darma menempelkan telunjuk pada bibirnya pertanda menyuruh Olivia diam.


Olivia kemudian melihat ke arah Diana yang sedang berdiri di belakang Darma.


"kenapa Darma sampai malu pada Diana, kalau dirinya mau ke toilet?" batin Olivia.


"aku ijim yah Boss" Darma kemudian membalikkan badannya.


"iya baiklah" jawab Olivia.


"makasih Boss" Darma tersenyum.


Melihat senyuman Darma itu, mata Olivia seakan menjadi segar. Bahkan hanya melihat senyuman Darma saja bisa membuatnya merasa senang. Darma memang telah berhasil memesona diri Olivia.


Darmapun secara cepat pergi berlari ke luar untuk mencari toilet. Dan sekarang yang ada di ruangan tinggal dua orang gadis yang sedang menyukai orang yang sama. Keduanya saling menatap dengan tajam.


Dianapun menyodorkan dokumen - dokumennya pada Olivia.


"ini dokumen - dokumen yang Bosd minta" ucap Diana.


Olivia menatap dokumen - dokumen itu, kemudian menghembuskan napasnya, menundukan kepala, dan kembali menatap Diana.


"apakah aku benar - benar yakin ingin Diana membuat cabang di sini?" batin Olivia.


"apakah aku sanggup melihat mereka bisa bersama seperti tadi?"


"Boss" panggil Diana.

__ADS_1


"ah... Iya?" Olivia tersadar dari lamunannya.


"terima kasih" ucap Diana.


"ah... Iya" angguk Olivia tersenyum.


"Boss itu memang orang yang professional" puji Diana.


"hehe" Olivia tertawa palsu.


"sudab beres kan?" tanya Olivia.


"iya, cukup tinggal Boss tanda tangani saja" jawab Diana.


"iya, nanti saja"


"boleh duduk Boss?" tanya Diana.


Olivia menatap Diana. Kenapa Diana mau duduk? Apakah dia mau menunggu Darma? Itulah yang Olivia pikirkan.


"ah tentu saja. Silakan" Jawab Olivia dengan nada tidak ikhlas.


"Terima kasih Boss" Dianapun menuju tempat sofa, dan duduk disana.


"kenapa tidak langsung kembali ke tempatmu?" tanya Olivia.


"aku mau menunggu Da-Darma" jawab Diana terus terang.


"kenapa?" tanya Olivia penasaran.


"aku be-belum punya kontak Darma" Diana tersenyum menatap meja. Pipinya memerah merona.


Entah kenapa setelah mendengar jawaban mengejutkan itu rasanya Olivia serasa ingin segera mengusir Diana. Kalau perlu mengirimnya ke antartika, biar hidup sama pinguin.


"tidak apa - apa kah itu?" khawatir batin Olivia.


"ouh begitu" jawab Olivia pura - pura acuh.


"tidak apa - apakan Boss?" tanya Diana.


"itu terserah Darma nya" jawab Olivia kemudian memainkan laptopnya.


Olivia menatap Diana. Bahkan di lihat dari matanya, Diana terlihat seperti bidadari. Olivia mengakui kecantikan Diana melebihi dirinya. Kulitnya yang putih, rambut panjangnya yang terurai, senyum manisnya ketika tersenyum, bahkan baju kemeja putihnya sangat cocok dipakainya. Ah melihat Diana, Olivia jadi merasa rendah diri. Dia jadi insecure.


Olivia menatap dokumen milik Diana. Dirinya jadi makin khawatir.


"kira - kira, bagaimana perasaan Darma terhadap Diana yah?" batin Olivia.


"kira - kira, Darma melihat Boss seperti apa ya?" batin Diana.


"mereka bahkan bekerja di ruangan ini cuma berdua..." Diana memainkan kukunya.


"...Dan bertemu setiap hari"


Diana melihat ke sekeliling ruangan.


"apa aku sudah tertinggal yah?" Diana merasa gundah. Diapun kemudian menatap Olivia dengan penuh kekhawatiran. Ternyata keduanya saling insecure. Haduh.


"Astaga! Seharusnya aku bercerita pada Darma hari ini!" Olivia teringat.


"jangan di tunda lagi Olivia!" Olivia mengepalkan tangannya.


"pokoknya setelah si Diana ini pergi, aku harus bercerita" Olivia menatap Diana denan tajam. Mereka berduapun bertatap muka. Kemudian saling tersenyum dipaksakan.


Bersambung...


Kalian tim mana nih gengs? Menurut Kalian, Siapa yang lebih cocok jadi kekasih Darma?

__ADS_1


Tim Diana atau Tim Olivia?


__ADS_2