
"belum pernah gue dibanting ama cewek" ucapnya tersenyum.
"benar-benar gadis yang luar biasa" kagumnya.
Di hari-hari berikutnya, Daniel terus memandang Olivia saat melihatnya. Selalu mengintip kegiatan Olivia di kantornya. Akan tetapi dia tidak berani untuk berbicara pada Olivia. Dia hanya bisa memandangnya dari jauh. Olivia bagaikan matahari dalam hidup Daniel, menerangi namun hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Daniel selalu melihat akun Instagram Olivia. Yah, walaupun Olivia tidak terlalu aktif di Instagram. Tapi disana, Daniel bisa melihat jelas wajah cantik dari foto Olivia.
Namun ketika, Darma menjadi asisten Olivia. Dirinya kesal. Melihat kedekatan Darma dengan Olivia. Yah walaupun aslinya Darma hanya di jahati Olivia sih, namun berbeda di mata Daniel.
Mata Daniel melihat Darma bisa berbicara dengan Olivia. Itu sudah menunjukkan keakraban mereka, padahal aslinya yah gitu, Darma selalu di amuk oleh Olivia.
Daniel harus berbuat sesuatu agar bisa memisahkan mereka berdua. Olivia hanya harus jadi miliknya seorang.
Akhirnya Daniel melihat kedekatan Darma dengan Diana. Itu kesempatannya, untuk bisa menjauhkannya dari Olivia.
Namun sangat disayangkan, Daniel melihat sahabatnya, Opik yang selalu memandang Diana. Daniel pikir Opik jatuh cinta sama Diana. Dia jadi bingung harus bagaimana. Membantu sahabatnya, atau merelakan orang yang dia sukainya itu.
Darma seperti sudah merebut sesuatu yang berharga dari mereka. Darma harus di beri pelajaran.
Saat Diana dan Darma di kantin, dia merasa ingin mencelakakan Darma akibat kecemburuannya. Iapun memprovokasi Opik. Dan membuat Opik membenci Darma juga.
Dihari berikutnya Daniel mendapat perintah agar Darma di suruh untuk meminta tagihan ke The Skull. Daniel begitu senang mendengar hal itu. Darma di suruh kesana, itu adalah tempat para preman se Jakarta Barat. Tapi untuk apa Olivia menyuruh Darma kesana.
"sepertinya Olivia sangat membencinya" pikir Daniel.
Namun keesokan harinya, Daniel melihat Darma bersama Olivia kembali. Meskipun dalam hatinya yakin bahwa Olivia membenci Darma, tapi Daniel masih ragu.
Dan beberapa hari berikutnya akhirnya Opikpun beraksi melabrak Darma di kantin. Akan tetapi di hari itu Darma berhasil mempermalukan Opik. Benar-benar tidak bisa diharapkan.
Daniel, berpikir "terserahlah Diana jadi milik Darma. Asalkan Olivia milik gue"
Daniel tidak peduli lagi dengan perasaan Opik. Yang penting tujuannya tercapai.
Hari berikutnya, Diana naik jabatan jadi manager di sebuah toko Destiny 47. Itu membuat Daniel berat otak. Karena kalau tidak ada Diana, tidak ada yang dekat lagi dengan Darma. Itu bisa membuat Olivia jadi tambah dekat dengan Darma. Ah, itu menyiksa batin Daniel.
Beberapa hari berikutnya, Daniel mendengar bahwa Olivia telah dibawa oleh Darma ke rumah sakit. Dirinya benar-benar kesal pada dirinya sendiri, kenapa dirinya tidak berguna di saat Olivia membutuhkan bantuan. Namun malah Darma yang membantu Olivia, sangat menyebalkan!
Dan tadi, dia melihat Olivia tengah memandangi Darma yang sedang pingsan. Tapi dirinya yakin Olivia hanya khawatir karena Darma karyawannya saja, tidak lebih. Yah walaupun dirinya belum sepenuhnya yakin.
__ADS_1
Akhirnya di lift dia berhasil menanyakan keraguannya. Dan Olivia akan mempertimbangkan dulu, jika dirinya menyatakan perasaannya. Itu sungguh luar biasa. Yah setidaknya itu yang ada dipikiran Daniel.
Kini Daniel tersenyum senang mengerjakan semua tugas-tugasnya. Hatinya seperti ada taman yang di penuhi dengan bunga yang bermekaran disertai lintangan pelangi.
****
Di kantin semua mata memandang kehadiran Olivia. Benar-benar keajaiban, Olivia bisa turun ke kantin. Biasanya ada suruhan kantin yang mengantarkan makanan ke ruangan. Tapi apa ini? Olivia datang ke kantin, bahkan dengan sendirian. Benar-benar pemandangan yang sulit di dapatkan.
"tolong bungkus kebab satu bungkus beserta minumnya" ucap Olivia.
Orang yang ada di depannya menganga masih tak percaya dengan yang dilihatnya.
"ayo, cepat" ucap Olivia dengan nada datarnya.
"i.. Iya" gagap orang itu. Lalu dia menggelengkan kepalanya, setelah itu menyiapkan apa yang di pesan Olivia.
"oh iya nanti yah" ucap seorang gadis pada temannya datang dari dapur tempat memasak, Laila. Iapun terdiam menatap Olivia kaget.
"Boss?" panggilnya meyakinkan.
"iya" jawab Olivia.
"emmm..." bingung Olivia "mau aja"
"tapi kenapa gak panggil kita lewat bell saja" heran Laila.
"biar sedikit olahraga" tentu saja Olivia tidak mau ada yang melihat kalau disana ada orang pingsan. Bisa kaget nanti yang melihat.
"owhhh" angguk Laila. Namun dirinya tetap tidak percaya dengan jawaban Olivia.
"ini pesanannya Boss" ucap seorang pelayan membawa bungkusan berisi pesanan Olivia.
"terima kasih" jawab Olivia kemudian mengambil pesanannya. Lalu pergi menuju atas kembali.
Sementara Laila masih menatap Olivia terheran. Ada apakah dengan Bossnya itu? Karena Laila tahu betul kalau Olivia itu malas gerak. Dia akan menyuruh seseorang untuk membantu melakukan kegiatannya. Lihat saja kerjaanya cuma rebahan nonton film dan bermain game. Tapi kenapa dia malah turun ke bawah sendiri, tidak menyuruh suruhan kantin ataupun asistennya?
"hmmm.... Mencurigakan" batin Laila.
Di lift Olivia memandang makanan yang di bawanya. Dia sedikit bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia mau membawakan makanan untuk musuhnya itu.
__ADS_1
"untuk apa gue bawakan ini demi dia?" tanya Olivia pada dirinya sendiri. Olivia lalu tersenyum sinis sebelah.
"gue gak mau ada hutang. Jadi gue mau balas perbuatannya" ucap Olivia "yah cuma itu"
Lift-pun terbuka. Pertanda Olivia telah sampai di lantai 24. Iapun berjalan masuk ke ruangannya.
Dia melihat Darma masih belum sadar juga. Oliviapun menyimpan makanan itu di meja Darma, lalu pergi kembali menuju kursinya.
Diapun membuka laptopnya lalu melanjutkan film yang sedari tadi ia tonton. Namun sesekali dia melihat ke arah Darma.
"kenapa gue khawatir sama dia yah?" ucapnya dalam hati.
"ah apa Olivia? Jangan pernah khawatir dengan orang yang sudah menjahatimu" Olivia kembali memalingkan tatapannya pada laptopnya.
Namun Olivia kembali menatap Darma kembali "tapi dia telah bantu gue juga waktu di rumah sakit"
"Dia bahkan menjaga gue" Olivia jadi teringat dirinya waktu di rumah sakit. Darma sampai ketiduran di kursi dekat tembok demi menjaganya.
Oliviapun mengigit bibir bawahnya, sebal. Iapun segera menghentikan filmnya. Lalu berjalan menuju arah Darma yang sedang terbaring pingsan. Namun langkahnya terhenti, menoleh kembali ke arah laptopnya berada. Dia berpikir, menjaganya sambil nonton film saja.
Oliviapun kembali lagi ke mejanya untuk membawa laptopnya. Dan kembali lagi berjalan menuju tempat Darma dibaringkan.
Setelah dekat, tidak Olivia sedikit menjauh tak mau terlalu dekat dengan Darma. Dia tidak mau pikirannya memikirkan yang aneh - aneh lagi. Diapun duduk bersila sambil memangku laptop di bahunya.
Diapun lalu menekan tombol play dan menyaksikkan kembali filmnya. Filmnya bergenre action. Olivia tidak terlalu suka genre romantis. Dia lebih suka film yang menegangkan, mamacu adrenalin, dan yang ada gelud-geludnya tentunya.
Di tengah adegan ledakkan. Olivia yang menghayati filmnya. Tiba-tiba...
"Aaaaaaaaaahhhhh" teriak Darma.
Olivia terkaget sampai-sampai laptopnya terjatuh. Oliviapun menoleh pda si biang keroknya, Darma.
"Dasar anak kadal" Ucapnya pada Darma.
**Bersambung...
Zeng..zeng...zeng
Jangan lupa tinggalkan jejak gengs**
__ADS_1