
Darma mengasongkan tangannya. Olivia membuka mulutnya lalu mengambil makanannya dengan mulutnya.
Darma terus menyuapi Olivia, sesekali ia juga ikut makan.
"dasar si Boss ini. Kenapa dia mau di suapin segala?"
Olivia tersenyum menatap Darma. Diapun lalu mengambil semua bingkisan cemilan itu. Darma melihat tangan yang mengambil bungkusan berisi cemilan itu. Apakah Olivia keenakkan dan mau mengambil semuanya?
Olivia lalu menyodorkan tangan membawa makanan ke mulut Darma. Darma melihat tangan yang menyodor itu.
"aaammm!" kode Olivia menyuruh Darma untuk membuka mulut. Darmapun membuka mulutnya menatap Olivia lalu menyantap makanannya itu.
"sekarang gantian" ucap Olivia.
"apa ini? Kayak anak kecil saja" batin Darma.
Inginya Darma makan dengan sendiri. Tapi rasanya percuma membantah permintaan Olivia. Lagipun ini juga tak merugikan dirinya, bahkan membuatnya senang sedikit.
Olivia terus menyuapi Darma sampai cemilannya itu habis. Setelah habis, Oliviapun memberi Darma minum, agar tenggorokannya tidak kering.
"enak?" tanya Olivia
"apanya yang enak?"
"di suapin"
Darma memalingkan wajahnya malu. Kemudian mengacungkan jempolnya ke hadapan Olivia. Olivia tersenyum senang terhadap jawaban Darma.
"kalau begitu aku mau keluar dulu" pamit Olivia.
"eh? Kemana?" tanya Darma menatap Olivia.
"ke luar. Sarapan dulu" jawab Olivia memegang perutnya.
"oh" Darma beroh ria.
"ya udah. Hati-hati yah"
"iya" jawab Olivia tersenyum.
Oliviapun lalu pergi keluar untuk mencari sarapan. Harusnya dia memanggil Via agar bisa menyuruhnya untuk membeli sarapan. Akan tetapi, Olivia rasa ingin berduaan saja dengan Darma selama tiga hari kedepan. Oliviapun tersenyum mengingat kejadian tadi, Jantungnya terus-terusan berdetak kencang.
*****
Di sore hari, Darma tengah tertidur, sementara Olivia sedang duduk dan bermain game di HPnya. Sesekali dia melihat Darma yang tengah tertidur. Wajah tampannya membuat mata Olivia tidak bisa berpaling. Dirinya bahkan sampai kalah bermain game nya karena tidak fokus. Diapun lalu teringat Darma berbicara pada saat itu di luar rumah sakit kala sedang memesan taxi online.
"ouh lagi bermain facebook ya?" terka Darma. Olivia langsung tersenyum geli mendengarnya. Betapa lugunya Darma.
"iya" jawab Olivia singkat.
"oh iya iya iya. Tambahin pertemanan denganku Boss"
"ogah"
" namaku Darma bledug zledar"
Olivia tersenyum geli mengingatnya. Ada juga orang menamai profilnya dengan nama senorak itu.
Oliviapun lalu membuka aplikasi facebook. Kemudian mengetikkan nama yang Darma sebutkan waktu itu di kolom pencarian. Akhirnya diapun menemukannya di daftar paling atas. Oliviapun menekan ikon profil Darma. Tidak ada foto dirinya sama sekali di akun media sosialnya. Kebanyakan fotonya adalah kartun-kartun lucu, dan juga membagikan postingan tentang dakwah.
"kenapa tak ada fotonya? Padahal dia itu tampan" heran Olivia.
Olivia lalu menatap Darma yang tengah tertidur. Wajah Darma terlihat sangat segar ketika tidur. Walaupun dalam keadaan mangap.
Olivia terus menatap Darma. Halis Darma yang tebal, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang berwarna kemerahan membuat Darma nampak mempesona di mata Olivia. Diapun lalu menempalkan tangan kanannya pada pipi Darma. Lalu dia mengusap pipi sampai dagu Darma.
"selamat sore kawanku!" ucap seorang pria masuk ke kamar Darma, membuat Olivia kaget.
Dirinya langsung melepaskan tangannya dan menariknya. Dia lalu menoleh pada arah suara itu, ternyata itu adalah Ferdian.
Ferdian langsung kaget melihat Olivia yang tengah duduk menatap dirinya.
"HUAAAAAAAHHHHHH!?!?" teriak Ferdian tak percaya.
Darma sampai terperanjat bangun mendengar suara teriakan itu. Diapun lalu menoleh pada si biang kerok, Ferdian.
"ada apa?" tanya Darma.
"Ooo....."
"Ooo...."
"Ooo..."
"Olivia"
Darma menatap datar pada Ferdian. Kenapa sih itu orang?
Ferdianpun lalu mendekati Olivia. Dengan gemetaran yang luar biasa di kakinya dia mencoba mengangkat tangannya menyapa Olivia.
"haiii Olivia" sapa Ferdian.
"hai" jawab Olivia tersenyum.
__ADS_1
"kenapa baru datang?" tanya Darma.
"yah aku habis kerja lah Barakokok" jawab Ferdian sewot.
"hmmm"
Olivia lalu menatap Darma, "kamu memanggilnya?" tanya Olivia.
"iya" jawab Darma.
"mulai sekarang yang menjagaku Ferdi aja. Jadi Boss bisa kembali ke kantor" Darma tersenyum.
Betapa terkejutnya Olivia mendengar hal itu. Rencananya berduaan dengan Darma selama tiga hari gagal.
Emang sih maksud Darma baik, cuman Olivia tidak mau. Yang Olivia inginkan adalah hanya bisa berduaan dengan Darma.
"tidak, kok..."
"aku gak mau merepotkan Boss" ujar Darma memotong perkataan Olivia.
"aku tidak keberatan Darma" tekan Olivia.
"aku yang merasa gak enak. Boss kan pasti banyak pekerjaan di kantor"
Olivia menatap Darma, ucapan Darma benar ada yang harus dilakukannya di kantor. Emang tidak banyak sih, tugasnya hanya menandatangani persetujuan kontrak. Kalau cuma itu dia bisa menyuruh suruhannya untuk mengantarkannya ke rumah sakit, dan di kerjakan disana. Tapi Darma dia sudah ada Ferdian yang menjaganya, tidak ada alasan Olivia untuk tetap di rumah sakit.
"Oh" Olivia beroh kesal "baiklah kalau begitu"
Oliviapun lalu dengan segera mengambil tasnya, kemudian berjalan pergi dengan rasa kesal. Namun ketika di depan pintu keluar, dia kembali lagi menghampiri Darma.
"cepat sembuh yah" ucap Olivia. Kemudian membalikkan badan dengan segera dan berjalan kembali menuju luar.
"Bodoh" ucapnya kesal sembari berjalan.
Darma melongo melihat Olivia.
"Kenapa dengan si Boss?" batin Darma.
"Dar, enak banget yah jadi kamu" ucap Ferdian menatap Darma.
"enak gimana?" tanya Ferdian.
"bisa dekat gitu dengan Olivia"
"Huahhh!?" heran Darma.
"apanya yang enak?"
"apanya yang dekat" Batin Darma.
"apanya yang enak? Kamu tidak tahu aja yang telah aku alami" jawab Darma.
"eh? Emangnya kenapa Dar?" penasaran Ferdian.
"rahasia ah"
"wah pelit" ucap Ferdian menunjuk Darma.
Darma malah menatap ke arah pintu, tak menghiraukan Ferdian.
*****
"Hiiiiihhhhh kenapa sih si ferdian malah datang?" kesal Olivia.
"padahal aku yakin bisa membuat Darma jatuh hati dalam tiga hari"
"terus kita..." Olivia lalu membayangkan dirinya berpacaran dengan Darma. Mereka berlarian saling kejar di pantai, Kemudian saling suap menyuapi makanan, bergandengan tangan melihat indahnya senja. Kemudian menikah dan dikarunia dua anak. Oh indahnya menghalu.
"kenapa tersenyum-senyum begitu?" tanya Renita heran.
"yah karena aku bahagialah" jawab Olivia sembari melamun.
"aku?" heran Renita. Kenapa Olivia menggunakan bahasa "aku", biasanya juga "gue"
"wuanjir... Bahagia kenapa Vi? Cerita dong" kaget sekaligus penasaran Renita.
Oliviapun tersadar dari lamunannya dan manatap ke arah Renita yang ternyata sudah ada di sampingnya membawa beberapa lembar dokumen.
"eh Renita" kaget Olivia.
"sejak kapan berada disini?"
"hehhh dasar! Gue berada disini sampai tak tahu"
"hehe maaf"
"kenapa sih lo?"
"hehe" Olivia tersenyum. Malu mengatakannya.
"Oh gue tahu" Renita menaruh dokumennya di meja Olivia.
Olivia mengernyitkan dahinya. Apakah Renita tahu bahwa, Olivia menyukai Darma.
__ADS_1
"si Darma sudah lo buat habis kan?" tebak Renita.
"gue tadi liat dia di luar rumah sakit cinta asih. Kepalanya di perban"
"di luar?"
"iya. Terus gue lempar dia menggunakan botol air, kena kepalanya deh"
"Huahhhhhh!?" kaget Olivia.
"kepalanya berdarah lagi. Hebatkan sahabatmu ini?"
"Renitaaaa!!!" sentak Olivia.
"ehhh kenapa lo marah?" heran Renita.
"bukankah lo sangat membenci orang itu. Dia itu yang jahatin lo waktu kecil"
Olivia tak harus marah pada Renita. Dia tidak tahu apa-apa. Yang membuatnya melakukan itu juga karena Olivia.
"aku..." ucap Olivia tertahan.
"aku..."
"aku..." Olivia tidak tahu apakah dia akan mengatakan rasa sukanya terhadap Darma kepada sahabatnya ini.
"aku... Suka Darma"
"hah?" kaget Renita. Dia tak menyangka bahwa Olivia akan menyukai Darma. Padahal waktu itu dia sangat membencinya. Emang sih takdir itu tiada yang tahu.
"oh gitu haha" Renitapun tertawa.
"kenapa lo tertawa?" kesal Olivia.
"sudah gue duga" ucap Renita menatap Olivia.
"eh?"
"Darma itu ganteng. Gak mungkin lo gak suka"
"gue gak lihat gantengnya"
"wah jadi pake 'gue' tadi pake 'aku' "
"iya lupa"
"haha..." Renita tertawa, Olivia melihatnya bingung.
"udahlah jadi diri sendiri. Jangan sampai karena cinta lo mengubah siapa diri lo"
Olivia tersenyum.
"aku akan tetap jadi diri sendiri. Apapun yang ku rubah dalam diriku, itu tetaplah diriku"
Renita diam tak bisa menjawab. Olivia memang bijak seperti biasanya.
"iya deh hehe"
"tapi sekarang aku bingung Ren" ucap Olivia melihat ke bawah sembari memainkan telunjuknya di meja.
"bingung kenapa?"
"Darma pasti membenciku"
Renita menatap Olivia merenung.
"aku sudah banyak menjahatinya. Dia masuk rumah sakit juga gara-gara aku"
"makanya jangan terlalu membenci sesorang. Akibatnya jadi ginikan malah jatuh cinta"
Olivia menatap Renita kemudian menundukkan kepalanya kembali. Dirinya jadi tambah sedih.
Renita yang melihat Olivia seperti itu. Diapun panik.
"tapi yah... Darma juga dahulu menjahatimu kan?"
Olivia menatap Renita kembali.
"jadi semuanya impas" lanjut Renita.
Renita benar, semuanya jadi impas. Asalkan Darma tahu siapa sebenarnya Olivia di masa lalu.
"tapi dia tidak tahu kalau aku sebenarnya Ati" jawab Olivia.
"tinggal bilang aja ke dia"
"iya juga yah. Aku tinggal mengatakannya. Darma pasti mengerti kenapa aku berbuat seperti itu" Olivia tersenyum kembali.
Melihat sahabatnya tersenyum, Renita juga ikut tersenyum. Senang rasanya sahabatnya melupakan kebencian dalam hatinya. Tapi tunggu, Renita jadi merasa bersalah telah membanting Darma.
Bersambung...
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1