The Garabagan

The Garabagan
Epesode 93 : Sakit Hati Laila


__ADS_3

Laila tengah sakit hati. Lantaran salah paham Darma sudah jadian dengan Olivia. Pikirannya sekarang kosong. Masakan yang dia buatpun mengeluarkan aura hitam. Bak seperti campuran racun.


"wahak..." seorang pegawai yang memakan masakannya, langsung merasa mual setelah melahap masakan dari Laila.


"apa ini? Asin sekali" ucap pegawai itu.


Ternyata karena perasaan Laila yang tidak enak. Membuat Laila tidak bergairah untuk masak. Diapun masak dengan asal - asalan. Bahkan pada salah satu sup masakannya, dia memberi garam seluruh wadah.


"mmmm bahaya ini!" ucap Aisyah, teman Laila masak di kantin.


"dia menjadi zombie" jawab Indri, teman Laila di kantin juga. Indri melihat memasak Laila seperti tubuh yang hidup tanpa jiwa. Dia layaknya mayat hidup.


"eh itu si Darma yang selalu ngobrol dengan Laila kan?" tunjuk Aisyah melihat Darma berbincang dengan Diana dan juga Darma A.


"mana?" Laila melihat ke arah luar dapur. Diapun akhirnya melihat Darma. Tapi Nampaknya Darma ke kantin dengan wanita lain, yang tidak lain adalah Diana.


Lailapun terheran, kenapa Darma yang sudah resmi pacaran dengan Olivia, malah pergi ke kantin dengan wanita lain.


Lailapun melihat wajah super cantiknya Diana. Diapun sampai terkejut melihat Diana. Wajah Diana nampak mengeluarkan ribuan cahaya bintang.


"dia dengan Diana" ucap Indri.


"kamu kenal?" tanya Aisyah.


"dulu dia di bagian Controller" jawab Indri.


"owhhhh yang jadi manajer di toko itu" ingat Aisyah.


"iya" angguk Indri.


Laila yang melihat Diana nampak bahagia bersama Darmapun. Hatinya semakin sebal pada Darma. Bahkan sendok yang di pegangnya sampai patah di buatnya.


"AAAAAAAHHHHH MENYEBALKAN!" teriak Darma membentangkan kedua tangannya.


"Kenapa kamu itu tidak mengerti - mengerti" Darma melepaskan tangan mereka berdua.


"kenapa emangnya?" tanya Darma A.


Diana menatap Darma, belum pernah dia melihat Darma bertingkah seperti itu. Ada apa dengan Darma?


"Diana kamu mau pesan apa?" tanya Darma mengalihkan pembicaraan.


"aku mau pesan Huevo Crocantes saja" jawab Diana.


Darmapun berdiri dan kemudian pergi menuju meja pelayanan. Diana melihat kepergian Darma menuju meja pelayanan, kemudian duduk dengan santai kembali. Diana pun tersenyum mengingat tingkah Darma tadi.


"mungkinkah Darma cemburu?" terka batin Diana. Dianapun tak kuasa menahan lekuk senyum bibirnya.

__ADS_1


Darma A melihat Diana nampaknya sedang bahagia. Darma A berpikir "mungkinkah Diana senang karena berkenalan denganku? Atau mungkin..." Darma A menatap Darma yang tengah memesan "Diana bahagia karena Darma?"


"kenapa kamu tersenyum bahagia seperti itu?" tanya Darma A secara langsung.


"ah enggak kok" jawab Diana.


Sindi menatap Diana kesal. Darma A terus memperhatikan Diana, sementara dirinya malah di cuekin.


Sementara Darma, akhirnya diapun bertatap muka dengan Laila. Laila menatap kesal pada Darma.


"Laila" panggil Darma tersenyum.


"mau pesan apa?" tanya Laila dengan dinginnya.


Darma menatap heran pada Laila. Mengapa sikap Laila jadi aneh padanya.


"aku mau pesan Huevo Crocanpret satu dan juga nasi goreng saja satu. Tambah minumnya jus mangga dua"


"baiklah" Laila dengan segera menuju dapur.


"Oh nasi goreng satu yah!" ucap Indri mendengar pesanan Darma.


"biar aku saja!" sahut Laila dengan tanpa ekspresi.


"ouh baiklah" angguk pasrah Indri.


"ouh baiklah" dengan segera Aisyah pun mulai membuat Huevo Crocantes.


Sementara Laila, dia malah diam menatap penggorengan. Dia kembali teringat Darma yang menembak Laila dengan anehnya. Walaupun begitu, Olivia malah menerimanya. Mengingat semua itu, Laila menatap kesal pada Darma.


"Dasar pemberi harapan palsu" gumamnya menatap tajam Darma.


Darma yang mengetahui dirinya sedang di lihat oleh Laila. Diapun tersenyum. Lailapun memalingkan kepalanya dengan juteknya.


Lailapun mulai membuat nasi gorengnya. Dan karena kesal terhadap Darma, Laila dengan sengaja memberi garam yang banyak agar Darma ke asinan. Di tengah dia memasak, Laila kembali melihat ke arah Diana. Dia semakin sebal, Laila pun mengambil bubuk cabe dengan banyaknya. Itu semua agar Darma kepedasan. Biar Darma merasakan, sakit yang Laila rasakan. Dan pesananpun siap.


"terima kasih Laila" Darma tersenyum.


Bahkan ketika amarahnya membara, Laila masih terpesona akan senyuman Darma. Hatinya jadi makin sakit rasanya.


Darmapun melihat ke arah Laila, dia melihat Laila hari ini agak aneh. Dia seperti tidak bersemangat.


"Laila" panggil Darma menatap Laila yang terdiam melihat ke arah bawah. Lailapun melihat ke arah wajah Darma kembali.


"iya" jawab Laila dengan juteknya.


Tiba-tiba tangan Darma menempel pada dahi Laila. Sontak mata Laila membulat saking terkejutnya. Jnatungnya kembali berdebar dengan kencangnya.

__ADS_1


"apa kamu demam?" tanya Darma. Laila masih terdiam menatap Darma.


"kenapa? Kenapa kamu sepeduli itu Darma?" batin Laila heran.


"kalau kamu begini...." Lailapun menepis tangan Darma yang menempel di dahinya, "...aku akan semakin menyukaimu" Laila menatap Darma dengan pancaran pesona.


"aku gak apa - apa" jawab Laila kemudian membalikkan badan dan kembali ke dapur.


"yakin?" tanya Darma memastikan. Tapi Laila tak menjawab.


"KALAU KAMU SAKIT, ISTIRAHATLAH" teriak Darma. Laila terdiam sebentar, kemudian melanjutkan langkahnya kembali. Semakin Laila mendengar suara dari Darma, semakin membuat hatinya menjadi sedih. Itu sakit sekali.


Darmapun bingung dengan sikap Laila. Darma berpikir, mungkinkah Laial mempunyai masalah. Entahlah, tapi sebagai seorang teman, Darma teringin untuk bisa membantu Laila.


Darmapun mengambil pesanannya kemudian membalikkan badannya menuju tempat Diana. Sesekali Darma berhenti, dan menoleh ke arah dapur. Darma khawatir akan Laila.


Namun dengan berat hati, Darma berjalan menuju arah Diana. Hingga akhirnya diapun sampai dan menaruh pesanan Diana.


"kenapa tidak menunggu saja, dan biarkan pelayan kantin menghantarkannya pada kita?" heran Diana.


"Ouh iya juga yah haha" lupa Darma, menggaruk belakang Kepalanya yang tidak gatal.


"ka-kamu ini yah" Diana tersenyum.


Sedangkan di dapur, Laila tengah bersedih, bersandar sambil memeluk kakinya. Dadanya sakit. Melihat pria pujaannya, malah jadian dengan wanita lain. Bahkan pria itu masih bersikap baik padanya. Laila tak kuasa. Dia mulai menitikkan air matanya. Sakit sekali, sakit sekali. Hatinya seperti di sayat ribuan silet.


"apa kamu demam?" Laila mengingat kembali perkataan Darma tadi. Bahkan Mengingatnya membuat hatinya senang sekaligus sakit secara bersamaan. Diapun menyembunyikan wajahnya pada tangan yang sedang memeluk lutut kakinya.


Namun Laila kembali tersadar, dirinya seharusnya tak perlu membuat sebuah makanan yang akan menyiksa Darma Diapun sadar, kemudian kaget dan berdiri.


"WUUUUUUUAAAAAAHHHHH GAWAAAAATTTT!!!" teriak hatinya. Dengan Segera Laila pun bergerak cepat menuju Darma, berharap Darma tidak memakan masakannya.


"kenapa nasi goreng?" tanya Diana.


"karena aku mau nasi yang di goreng" jawab Darma.


"hmmm" gerem Diana mengiyakan apa yang di jawab Darma.


Darmapun melahap nasi goreng itu menggunakan sendok. Baru juga, dia melahap satu suapan. Lidah nya mulai menggila. Lidahnya tak mengenali rasa yang ada di nasi goreng itu. Ada Asin sekalih, dan Ada pedas yang membakar lidahnya.


"HOOOOAAAAAMMMMMMMM!!!" teriak Darma merasa lidahnya panas.


Laila melihat Darma, dirinya sudah terlambat. Darma telah memakan masakannya.


"Oh tidak..." gumam Laila.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2