The Garabagan

The Garabagan
Episode 36 : Sayat Hati


__ADS_3

Darma menepuk-nepukan tangannya di area pakaiannya yang kotor. Kemudian berjalan masuk ke dalam taksi. Dia duduk di belakang bersama Olivia. Tak lama Kemudian taksipun berjalan.


Darma tak pernah berpikir bahwa dirinya akan naik mobil bersama Olivia lagi. Seakan itu adalah mimpi. Apakah sekarang dia akan menurunkan dirinya lagi? Pikir Darma.


"Boss" panggil Darma.


"hmmmm" Olivia mengangkat wajahnya.


"terima kasih"


Olivia memalingkan wajahnya menghadap jendela.


"sama-sama" jawabnya.


"yahhhhhaha aku jadi gak enak"


Olivia diam tak menjawab.


"boss... " panggil Darma.


"apa!?"


"Apa boss suka makan kadal?"


Olivia langsung jengkel mendengar pertanyaan Darma. Pak supir di depan terkekeh mendengar pertanyaan yang di lontarkan dari mulut Darma tersebut.


"ouh nantang ya! Udah berani sekarang!"


"lah kan aku cari topik pembicaraan"


"gak gitu juga kali"


"haha" Darma tertawa.


Olivia takmenghiraukan Darma yang sedang tertawa, Olivia kembali menyibukkan dirinya dengan ponselnya.


"pak udah lama jadi supir taxi?" tanya Darma pada supir taxi.


"lama de..." jawab supir taxi "udah empat tahunan"


"wahhh bapak istiqomah juga yah"


"iya haha alhamdulillah dek"


"bapak namanya siapa?"


"nama saya Ade,,,"


"wah udah tua masih di sebut ade pak"


"haha iya de"


"pak pernah gak, ada penumpang bencong naik taksi bapak?"


"wah pernah tuh dek!"


"waduh gimana tuh pak? Ceritain dong"


"haha jadi waktu itu..."


Si supir taksi bercerita tentang pengalamannya membawa penumpang bencong. Olivia hanya diam memainkan ponselnya. Sekali-kali Olivia melihat Darma yang tertawa bercanda dengan supir taxi itu. Ketawanya yang terbahak membuat Olivia tak bisa memalingkan pandangannya.


Darmapun melirik Olivia. Olivia memalingkan pandangannya pada ponsel. Tak terasa akhirnya, merekapun sampai di kantor.


"makasih ya pak" ucap Darma turun dari mobil.


"iya dek... Sampai jumpa dek"

__ADS_1


"iya pak... Hati-hati"


Taxipun melaju menjauh dari mereka.


"asik banget lo" ucap Olivia.


"iya boss" jawab Darma "pak Ade emang seru"


Olivia menatap Darma tajam. Melangkahkan kakinya menuju gerbang.


"Boss..." panggil Darma.


"apa?"


"apa Boss udah mandi?" tanya Darma.


"mulai deh lo! Gak sopan banget nanya begituan!" kesal Olivia.


"aku belum mandi boss!"


"lah terus?"


"apakah boss udah mandi?"


"ih kepo banget sih lo! Sumpah deh!"


"apa tidak apa-apa kita ke kantor tak mandi dulu?"


Cih... Olivia tersenyum "ini perusahaan gue! Aturan gue! Ya terserah gue lah"


Yeh malah sombong... Batin Darma.


"bukan begitu boss... Rasanya gak enak kalau ke banyak orang... Tidak mandi dulu"


"ih lebay banget sih" kesal Olivia "udah kalau lo gak mau ikut... Pergi aja sana!"


Olivia mengacuhkan Darma. Berjalan masuk ke dalam kantor. Kemudian Darma ikut mengekor. Merekapun berjalan masuk ke dalam kantor dan langsung menuju ke ruangan Olivia.


Olivia langsung melihat ke arah mejanya. Syukurlah barang-barangnya masih ada. Sebenarnya Olivia tidak takut karena dia percaya bisa melihat segalanya, karena ada CCTV di ruangannya yang selalu memonitori semua kegiatan di ruangannya.


"Darma beresin barang-barang gue" titah Olivia.


"oh ok Boss" Darma memberi hormat.


Tak tunggu lama, Darma langsung mengerjakan apa yang di suruh oleh Bossnya itu. Setelah dua menitan baru dia telah selesai mengerjakannya.


"Udah Boss" ucap Darma.


"bawa ke mobil gue" suruh Olivia kembali.


"Siap Boss"


Darmapun membawa barang-barang Olivia menuju ke tempat parkiran di bawah. Oliviapun ikut pergi menuju parkiran bawah.


Setelah sampai di parkiran, Oliviapun langsung naik mobilnya.


"Dah, sekarang lo pulang. Tapi besok on time ya" ucap Olivia pada Darma


"siap Boss" hormat Darma.


Oliviapun menancap gasnya menuju tempat tinggalnya, Sementara Darma, dia berencana untuk mengunjungi Ucup, Debby, dan Tania hari ini.


*****


Pada sore hari, Kira-kira sesudah ashar Olivia yang tengah tidur terbangun. Ia terperanjat bangun mendengar suara barang yang jatuh. Nampaknya bunyinya berada di ruang tamu. Diapun menghampiri suara bunyi itu.


Oliviapun tercengang nampak ruang tamunya setengah berantakan. Disana ada Irwan yang sedang di pegangi para Bodyguardnya. Kalau dilihat dari tingkahnya, jelas Irwan sedang mabuk.

__ADS_1


"apa yang Ayah lakukan?" sentak Olivia


"oh..." Irwan menoleh ke arah Olivia.


"Si Anak pembunuh!" ucapnya.


Olivia yang mendengar perkataan ayahnya itu, langsung tak kuasa hatinya serasa ada yang memukul. Begitu sakit rasanya mendengar perkataan ayahnya tersebut.


"hey nak, maukah kamu mencari surat kepemilikan perusahaan Destiny!"


"hah!?" bingung Olivia.


"Agar Aku dapat menjalankan perusahaan hasil anakku, Arina"


Olivia semakin di tusuk hatinya. Perih rasanya. Dirinya sebagai anak kandung Irwan sendiri tidak pernah di akui. Bahkan perusahaan yang dimulainya dari nol, dikira kakaknya Arina-lah yang mendirikan. Padahal Olivia berjuang membangun perusahaan miliknya ini untuk mengangkat derajat keluarganya. Tapi dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah di anggap ada.


Olivia kali ini benar-benar marah. Bahkan kalau bisa dia ingin meruntuhkan langit sekalian saking kesalnya.


"Bodyguard!" ucap Olivia.


Semua Bodyguard yang memegangi Irwanpun menoleh pada Olivia.


"Cepat Bawa keluar orang tua itu! Dan jangan pernah dia bisa kembali ke rumah ini lagi"


Dengan rasa marah Oliviapun pergi ke atas menuju kamarnya. Para Bodyguard itupun langsung membawa Irwan keluar secara paksa.


"Ayo!" Ucap Bodyguard 1 sembari menyeret Irwan keluar.


"Aaaaaaaaaahhhhh tidaaaaaaakkkkk!! Dokumenku belum ketemu"


"Cepat!" Ucap Bodyguard 2


Olivia berjalan menaiki tangga sembari menitikan air matanya. Dia berjalan serasa hampa karena terlalu sakit mentalnya untuk merasakan apapun.


Dirinya mengunci diri dikamarnya, bersedih sembari melihat foto kakaknya Arina.


"Andai kakak masih disini. Pasti kakak yang akan membelaku kak"


Oliviapun memeluk foto itu. Dia mengingat waktu kecilnya dimana dirinya dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena tidak naik kelas.


"Dasar anak bodoh!" sentak Irwan


Sementara Olivia kecil hanya bisa menangis tidak bisa melawan. Kemudian datanglah seorang pahlawan yang datang membelanya. Dia adalah Arina, kakaknya.


"Sudah ayah. Jangan memarahinya terus!" ucap Arina sembari merangkul Olivia.


"kalau dia tidak diginiin dia gak bakalan berubah!"


"Oliv, kamu nanti belajar sama kakak ya!" Arina Tersenyum.


"kakak..." Olivia mengusap air matanya.


Semalaman mereka belajar. Namun hasilnya tetap Olivia kecil masih belum bisa mengerti.


"Maaf kak. Aku gak bisa"


"tidak apa-apa. Lakukan saja terus, kamu pasti bisa" Arina tersenyum kemudian mengelus kepala Olivia.


Hanya Arina-lah yang memperlakukan Olivia kecil dengan kasih sayang. Mengajarkan dengan lembut dan penuh kesabaran sampai Olivia bisa. Sampai dirinya bisa berada di puncak hari ini.


"Kakak.... Aku rindu kakak"


*****


Pada malam hari, Olivia merasa ingin jalan-jalan untuk menghilangkan rasa stresnya karena ayahnya itu. Diapun pergi belanja di mall-nya sendiri, Destiny Mall.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2