
"Dasar Makhluk bumi" ucap Darma.
"waw" Darma melihat tangannya "ternyata banyak main game ada manfaatnya juga!"
Untung saja Darma duduk di meja paling sudut sehingga kejadian tadi tidak terlihat oleh pegawai lain dan CCTV.
"ini pesananya mas" ujar seorang pelayan wanita.
"ouh iya, makasih mbak" jawab Darma. Pelayan wanita itu terus melirik Darma. Sementara Darma, tak sadar dirinya sedang di perhatikan, saking enaknya makan. Mungkin karena dia lapar atau sudah beberapa hari tak merasakan enaknya hidangan di kantin kantor.
Setelah tiga kali suapan, Darma akhirnya tersadar ada seorang wanita di sampingnya. Wanita itu terus melihatnya.
"maaf mbak" ucap Darma membuat wanita itu tersontak sadar akan lirikannya "ada perlu apa ya?"
"ah,,,, haha" wanita itu tertawa salah tingkah "tidak, mas!"
"makanannya enak mbak!" ucap Darma basa-basi.
"iya, mas. Itu teman saya yang masak"
"wahhhh... Hebat mbak!"
"hebat?"
"punya teman kayak dia. Jadi bisa tiap waktu makan masakannya, hehe" Darma tertawa kecil. Wanita itu juga.
"nggak gitu juga! Hehe" Wanita itu tersenyum.
"BTW, Namaku Laila" wanita itu mengulurkan tangannya.
"Darma" jawab Darma membalas lambaian tangannya. Laila tersenyum memandang Darma.
"Hey Laila! Sini cepat kerja!" teriak seorang wanita dari dapur.
"Ouh iyaaaa!" balas Laila berteriak.
"aku kerja dulu yah" Laila melambai.
"ouh iya" jawab Darma. Lailapun berjalan pergi ke dapur, tersenyum mesem-mesem. Darmapun kembali melahap makanannya dengan khusyuk.
*****
Setelah selesai makan siang, seperti biasa Olivia langsung melihat film Drama baru di laptopnya, berjudul "Cintaku kandas kelindes Tronton"
"judulnya kok gini?" heran dia "bodo amat. Tonton aja dulu."
Darmapun kembali dari kantin, kemudian mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Sembari melakukan pekerjaan di laptopnya, dia melirik Olivia.
"nonton apa boss?" tanyanya.
Olivia diam tak menjawab. Bukan karena Olivia tidak mendengarnya. Bukan juga karena Olivia merasa bersalah akan menabrak Darma. Bukan juga karena tempat duduk mereka agak jauh. Bukan juga karena garam rasanya asin. Tapi alasannya karena Olivia tak mau berbicara dengan Darma dan tak peduli padanya. Itu saja!
"kayaknya seru boss" Olivia masih diam tak menjawab Darma.
Darma melirik Olivia. Percuma juga dirinya terus berbicara, Olivia tak akan menanggapinya. Kecuali kalau dia teriak dan mengganggu ketenangan Olivia. Baru Olivia akan berbicara dengannya. Tapi dengan Amarah! Benar-benar sulit untuk bicara dengannya. Darma lebih baik diam memasang earphone di telinganya. Mendengarkan musik sembari mengerjakan tugas-tugasnya.
Tak terasa hari inipun berakhir, Olivia pulang tanpa bicara sedikitpun pada Darma. Darma... Dia belum selesai mengerjakan tugas-tugasnya, dan lebih memilih untuk menyelesaikannya dan pulang larut malam.
"lemburlah kali-kali" ucapnya.
Hingga Darmapun menyelesaikan tugasnya. Kemudian pergi dari kantor pergi menemui ucup dan adik-adiknya. Dia membawa makanan di kantin jatah makan malamnya, yang sengaja tidak dia makan untuk diberikan pada mereka. Dia juga membeli martabak untuk dia dan mereka makan nantinya.
"hey bro!" sapa Darma.
"kak Darmaaa!" teriak Tania berlari kemudian memeluknya.
"hey cantik" Darma melepaskan pelukannya.
"lihat ini" Darma menunjukan kantong plastik berisi makanan.
"waaaaaahhhhh!!!" Tania nampak senang melihat bingkisan yang di bawa Darma.
"Ini martabak rasa menyan, ayo makan!"
"ayooooo!!!" semangat Tania.
__ADS_1
Merekapun berdoa, kemudian makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan Darma menceritakan tentang tujuannya besok yang akan membawa mereka bertiga ke panti asuhan dan membantu mencari ayah mereka, bernama Burhan Aliansyah.
"mau gak kalian?" tanya Darma.
"kalau aku sih mau-mau aja" ucap Ucup
"aku juga" seru Tania.
"tapi kita nanti bisa ketemu kak Darma lagi kan?" tanya Debby menangis.
"In sya allah, kakak akan berkunjung ke panti asuhan. Bertemu kalian" jawab Darma. Merekapun saling berpeluk satu sama lain.
*****
Keesokan harinya, hari rabu, hari liburnya Darma dari pekerjaan. Darma beserta Ucup, Debby, dan Tania sudah menaiki Bus menuju ke tempat panti asuhan berada.
Tania nampak erat memeluk Darma, karena tahu dia akan terpisah sangat jauh dari Darma.
"tenang saja" Darma mengelus rambut Tania "kamu akan baik-baik saja kok"
"nanti aku akan rindu kakak"
"jika rindu kirim saja Al-Fatihah ya!" Tania mengangguk.
"sudah hafal kan?"
"iya" jawab Tania semakin erat memeluk Darma.
Merekapun Akhirnya sampai di sebuah panti asuhan bernama Limpah Kasih. Darma sudah menghubungi Bu Arini, pengelola panti asuhan ini dan sudah memberitahu perihal kedatangannya. Dia di sambut oleh Bu Arini beserta anak-anak panti.
"Assalamualaikum bu"
"Waalaikumsalam Drama"
"Darma, ibu!"
"ouh iya lupa haha"
Bu Arini melihat ketiga anak kecil yang di bawa Darma.
"iya bu" Darma tersenyum.
"manis ya?" Bu Arini mengusap pipi Debby.
"haha iya, mereka lebih imut dari bayi buaya kan?"
"emang bayi buaya imut?"
"nggak"
"lah,,, terus kenapa bandingin mereka sama bayi buaya?"
"aku gak bandingin. Cuman mereka imut bahkan lebih imut dari bayi buaya"
"serah kamu saja haha" Bu Arini kembali tertawa.
"ayo masuk dulu!"
"iya"
Darmapun masuk melihat-lihat panti di sana. Sungguh indah bagaimana dindingnya di penuhi dengan aneka gabar kartun kesukaan anak-anak. Ada taman juga untuk bermain, adupula kebun yang di penuhi dengan aneka tanaman buah dan sayuran.
Hingga sore haripun tiba. Darma harus pamit pulang. Darma melihat ke arah mereka bertiga yang memegangi tangan-tangannya. Kemudian berjongkok menyamai tinggi mereka.
"jaga diri ya!" ucap Darma dengan mata yang berkaca-kaca.
"iya kak" Tania menangis
"jaga kesehatan, jangan lupa nafas"
"haha iya kak" Debby tertawa sembari menangis menjawab perkataan Darma itu.
"jangan lupa ibadah pula" lanjut Darma
"iya kak" jawab Ucup.
__ADS_1
"kalo udah Eek jangan lupa cebok"
"iya kak" jawab mereka bertiga serentak.
Bu Arini hanya senyam-senyum sendiri mendengar setiap perkataan dari mulut Darma.
"entar kalo gak cebok, eeknya bisa kering"
"ihhhhhhhhh" seluruh anak panti ber ih jijik.
"kakak sehat-sehat di sana ya!" ucap Tania
"tentu saja, kakak kan makan sepiteng bekas kalian"
"ihhhhhhhhh" seluruh anak panti ber ih jijik kembali.
"haha kakak ini" ucap Ucup.
"kakak jangan lupa..." ucap Debby.
"lupa apa?" tanya Darma.
"cari kekasih yang baik, yang bisa bikin kakak selalu bahagia"
"wah sudah tahu tentang cinta-cintaan ya kamu" Darma kemudian menggelikitik Debby. Diapun tertawa.
"iya, In sya Allah. Do'ain ya!"
"pasti" ucap mereka bertiga serentak.
"kakak pergi dulu ya! Sampai bertemu kembali" Darmapun memeluk mereka bertiga. Tak terasa air yang berasal dari matapun jatuh kepipinya.
"Kakak" ucap mereka bertiga memeluk erat Darma.
Air mata Darmapun tak sengaja masuk ke dalam mulutnya.
"Asin yah!" ucapnya. Tania melepaskan pelukannya.
"asin kenapa kak?"
"Rasa air mata"
Haha... Mereka bertiga tertawa.
*****
"Jaga mereka ya bu"
"pasti. Insya allah"
"terima kasih bu" Darma pun melangkahkan kakinya menuju jalan.
"tunggu!" ucap Bu Arini yang seketika membuat Darma beehenti dan menoleh.
"ini pemberian dariku" Bu Arini memberikan Darma sebuah gelang dari emas.
"ini... " bingung Darma.
"ini untuk kamu. Semoga Allah memberkati mu, kamu orang baik" Darma tersenyum mendengarnya.
"aku bukan orang baik bu. Percayalah" jawabnya menolak pemberian Bu Arini. Bu Arini menahannya
"Yang kamu lakukan ini baik. Terserah kamu mau bilang apa. Semoga saja ayah mereka bertiga cepat ketemu ya!" Darma memandangi bu Arini dengan perasaan sedih terharu di hatinya.
"Orang baik tak akan mengaku dirinya baik, karena mereka selalu beranggapan bahwa diri Mereka belum baik, sehingga mereka berusaha terus menjadi baik." Darma tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Bu Arini.
"sering lihat Mario Sepuh ya bu?"
"haha, kamu ini"
"makasih bu" Darma tersenyum "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Bu Arini.
Bus datang dari arah Barat, Darma menggupaikan tangannya untuk menghentikan bus itu. Diapun naik kemudian Melambai pada Bu Arini dan mereka bertiga. Dia pergi menaiki bus kembali ke tempat kosannya dan tempat bekerja.
__ADS_1
Bersambung...