
Setelah menyuruh Darma membereskan tugasnya Olivia langsung pulang ke rumah. Kali ini dia pulang lebih awal, yakni sore hari.
Olivia langsung menemui kasur kesayangannya, setelah sampai rumah. Dia merasa ingin menenangkan pikirannya hari ini. Sungguh hari yang bikin stres Terlebih lagi mengingat Darma membantu dirinya ketika rapat. Benar-benar menyebalkan.
Aaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!! Teriak Olivia kesal.
Pintu kamarpun terdobrak dan masuklah 4 bodyguardnya. Dengan posisi sikap tempurnya.
"ada apa boss?" tanya Bodyguard 1.
Olivia memegangi kepalanya bertambah pusing.
"udah gak papa. Sana pergi!" suruh Olivia. Para Bodyguard itu pun pergi dari kamar Olivia.
Para Bodyguard Olivia memang selalu sigap dalam setiap gerak-gerik Olivia. Mereka selalu memonitori dari dalam rumah menggunakan layar yang besar dan gelang Olivia yang menunjukan di radar di mana dia berada. Setiap kegiatan Olivia baik dirumah maupun di luar rumah, kecuali di kantor, mereka pasti tahu. Mereka akan sigap jika keamanan Olivia terancam.
Olivia melarang mereka untuk memonitori kegiatan Olivia di kantor. Alasannya karena dulu waktu 2 Bodyguard sebelumnya pernah memonitori Olivia di kantor dan nyaris di sadap orang tak di kenal, bahkan hampir tercuri data perusahaannya. Untunglah Olivia begitu sigap menanggapinya sehingga pencurian itu dapat di gagalkan. Olivia kemudian memecat 2 Bodyguard itu, dan menggantinya dengan yang sekarang.
Di tengah rebahannya, Tiba-tiba ponsel Olivia berdering, ternyata itu video call dari Renita. Oliviapun mengangkatnya.
"Hallo" sapa Renita.
"Hai Girl!" jawab Olivia.
"gimana rapatnya sukses?"
Kepala Olivia jengkel ketika mendengar kata rapat. karena dia akan terbayang wajah mesem-mesem jeleknya Darma.
"Sukses dong" Olivia tersenyum terpaksa.
"wah baguslah kalau begitu"
"Iya"
"Eh,,,, Bagaimana hubungan lo dengan dia? Lancar gak?"
Hubungan? Mungkin maksud Renita hubungan dengan Mr. Martin. Pikir Olivia.
"ouh baik kok"
"sekarang udah deket gak?"
Dekat? Bisa dibilang sih hubungan perusahaan Mr. Martin dan perusahaan dirinya dekat sekarang.
"dekat. Alhamdulillah"
"wahhhh udah move on dong!"
Move on apaan? Benak Olivia bingung.
"Move On apaan sih?" Olivia tertawa, mungkin Renita sedang bercanda.
"Dari mantan lo dong!"
Mantan? Ini Renita ngebahas apa sih? Olivia semakin bingung.
"Kok malah jadi ngomongin mantan?"
"Emang kenapa kalau ngomong mantan? Lo kangen sama dia ya?"
"Ih apaan. Buat apa gue kangen orang kaya dia! Ih amit-amit!"
__ADS_1
"ya iya lah, sekarang gantinya ganteng kaya gitu! Ya pasti lo lupain dia lah!"
"Ganteng? Maksudnya Mr. Martin ganteng? Muka kaya cireng kelindes tronton gitu, di bilang ganteng?" Olivia tertawa.
"Loh kok jadi Mr. Martin?" Akhirnya Mereka berdua sama-sama bingung.
"loh,,, Lo daritadi ngebahas siapa dong?" tanya Olivia.
"gue ngebahas Asisten ganteng yang akan jadi jodoh lo"
"hah?" bingung Olivia "jodoh?"
"iya, siapa sih namanya? lupa lagi. Damar kalo gak salah."
"Darma?"
"nah iya itu Darma"
"Jadi daritadi lo bahas dia?" tanya Olivia.
"iya, lah elu bahas siapa?"
"gue kira kita lagi ngebahas perusahaan gue dengan Mr. Martin"
"ehhh elu mah gak connect ih haha" Renita tertawa kecil.
"kenapa gue harus berjodoh dengan si bodoh itu. Ih amit-amit"
"eh seminggu lalu, lo bilang dia akan jadi jodoh lo"
"hah? Kapan?"
"Ih amit-amit! Gue mau balas dendam ke dia. Dia orang yang bikin waktu SD gue menderita! Gue pernah cerita ke elu kan?"
"Ouh jadi Darma! Gue kirain lo mau gebet dia!"
"Ihhhh gak lah. Gue itu pokoknya benci sama dia. Gak akan gue lupain yang dia lakukan dulu sama gue!"
"BTW, lo bisa ceritain lagi gak? kenapa lo bisa sebenci itu sama Darma!"
"eh pikun lo!"
"hehe"
"ya udah sini gue ceritain..."
Flashback ON...
Waktu gue kecil, nama gue bernama Ati Syahla. Kemungkinan karena nama gue diganti, membuat Darma tidak kenal siapa gue. Di SD gue orangnya pendiam dan malah sering di jauhi, oleh siswa lain. Gak punya teman sama sekali.
Kelas empat SD, gue pindah ke SD swasta, bernama SD Bajaraya, di karenakan pekerjaan papah gue. Pada hari pertama mungkin normal-normal saja.
Tapi di hari selanjutnya, Karena gue ketahuan siswi yang paling susah baca dan bisa di bilang bodoh di kelas. Gue mulai kesulitan untuk bergaul. Disaat itulah Darma mulai memfitnah gue. Ketika gue mau berteman dengan orang lain. Darma dan temannya malah bilang kalau gue di bilang budukan dan korengan dan bisa menular pada siapa saja. Yah memang gue dulu mempunyai bekas luka di bagian sikut yang susah di sembuhkan. Tapi itu cuma satu saja, gak sampai seluruh tubuh kayak Darma dan temannya bilang. Akibatnya gue tidak mempunyai teman bahkan sampai aku selesai di SD sana.
Di hari berikutnya, Darma dan temannya Alif, Geby, dan Faisal mulai berani menjahili. Dia mencuri buku gue dan merobeknya.
"buat apa kamu punya buku? Kamu kan gak bisa baca!" ucap Darma.
Gue hanya sabar dan mengambil sobekan buku yang dia sobek, kemudian mengumpulkannya. Setelah semua gue kumpulkan dan telah gue satukan dengan lem. Darma dan temannya mengambilnya lagi. Kemudian membakarnya.
Gue menangis selama sekolah, tapi Darma dan temannya tidak di hukum karena baru gue tahu, sekolah itu punya pamannya Alif.
__ADS_1
Semakin hari kejahilan Darma semakin menjadi. Mulai dari mengambil uang jajan, mebuang tas gue ke tong sampah, mengumpetkan sepatu, menaruh duri di sepatu, dan yang lebih parah dia menghancurkan barang pemberian nenek. Disaat itulah kesabaran gue habis. Gue melawan Darma. Gue berantem, walaupun dia dulu tak melawan. Dia berusaha menangkis pukulan saja. Tapi besoknya yang di hukum adalah gue. Seolah dunia menyalahkan gue walaupun gue tidak salah.
Di rumah ketika gue cerita tentang kejadian di sekolah. Tapi papah gue malah marah pada gue, dia kata itu salah gue sendiri karena gue paling bodoh di kelas. Apakah menjadi bodoh itu kesalahanku pada dunia? Sehingga dunia malah memusuhiku.
Ayah dan Ibu lebih menyukai kakak, Arina Jelita. Karena dia paling pintar Sesekolahnya di SMP. Dia selalu dapat rangking pertama, dan selalu pulang dari perlombaan membawa piala ataupun medali.
Gue mulai tak berdaya menghadapi dunia yang kejam saat itu. Gue menangis di lapang. Darma yang tengah sendiri bermain bola di sana, kemudian melempar gue dengan bola.
"hey bodoh! Sedang apa?"
Gue menoleh kepadanya. Dia nampak jijik. Namun siapa sangka, dia malah mendekati gue.
"Mengapa kamu menangis?" tanyanya.
"Ayahku dan ibuku lebih sayang kakakku" jawabku.
"haha pasti itu! Kakakmu pintar, dan kamu sangat bodoh!"
Gue memukul bahu Darma. Darma hanya tertawa.
"sudah ayo bermain bola! Yang kalah harus traktir permen"
Kemudian gue bermain bola bersama Darma. Gue dan dia bersaing mencetak gol sebanyak mungkin. Hingga akhirnya gue kalah, walaupun gue tahu waktu itu Darma curang. Tapi gue tertawa senang, melupakan masalah yang ada di rumah.
"kenapa kamu tertawa bodoh?"
"kamu curang!"
"siapa yang curang?"
"kamu"
"aku tidak curang, dasar bodoh bleeee" dia berlari mengulurkan lidahnya.
Gue kemudian membelikannya permen. Gue tersenyum riang, kali itu gue merasakan pertama kalinya bermain bersama. Bisa dibilang, saat itu adalah momen terbaik sepanjang gue waktu SD.
Dua hari kemudian, Darma dan temannya kembali menjahili. Dia Merampas semua jajanan gue di sekolah. Baru saja gue sudah merasakan indahnya berteman dengan Darma. Gue malah kembali di jahili.
Pada sore hari, Darma tengah sendiri di lapang. Gue mendekatinya.
"Hey Darma" gue panggil dia. Tapi kemudian, Dia melempar gue dengan bolanya.
"pergi sana!" usir dia.
"Darma!?"
"gara-gara kamu temanku jadi mengejekku"
"mengejek kenapa?"
"kita dua orang idiot! Aku di bilang sudah tertular buduk dari mu"
"tapi Darma, aku suka bermain denganmu!"
"Pergi! Siapa yang mau bermain denganmu!"
"Darma!?" gue Mulai menitikan air mata, menangis.
"pergi!" dia melempari gue dengan tanah. Gue kemudian pergi menangis sepanjang jalan.
Bersambung...
__ADS_1