
Olivia menatap Darma tengah tertawa bersama pasien-pasien di sana. Bisa di bilang Dia juga ramah dan mudah tersenyum. Entah kenapa Olivia terus memandangnya. Seperti ada tarikan pesona agar matanya terus memandangnya.
"senyumnya manis" ucap Olivia secara tak sadar terucap di mulutnya
"ih apa Olivia?" Olivia menepak bibirnya "Sudah gila lo ya? Orang kayak dia, di bilang manis? haha mukanya mirip kadal gitu!"
Setelah selesai berpamitan, Darmapun menyusul Olivia. Olivia tengah menunggu di dekat pintu menyilangkan tangannya.
"Lama banget sih lo!" sentak Olivia.
"aku pamitan dulu Boss, seharusnya Boss juga!"
Olivia memalingkan pandangannya. Kemudian menyodorkan tasnya. Dia merasa tak berani menatap Darma karena tadi ucapannya.
"di bawa ya Boss?" tanya Darma.
"enggak... Lo buang ke tong sampah!"
"hah? Yang benar Boss"
"ya bawain lah bodoh!"
"ouh kirain" Darmapun membawa Tas milik Olivia.
"lo itu bisa gak sih... Langsung turutin perintah gue, gak usah banyak tanya"
"kan takutnya salah Boss"
Oliviapun membalikkan badan, kemudian berjalan pergi.
"Boss... Boss..." panggil Darma menyusulnya. Olivia berjalan tak menjawabnya.
"kita sekarang ke mana?"
"ya pulanglah!"
"ouh" Darma beroh ria "kirain ke kantor"
"hari ini libur" ucap Olivia.
"Wahhhhh... Libur?"
Olivia diam tak menjawab. mereka berjalan hingga tepi jalan. Setelah sampai di tepi jalan mereka duduk di sebuah kursi menunggu taksi yang datang.
"Boss..." panggil Darma.
"hmmm" jawab Olivia yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Aku lupa semalam tak mengunci pintu ruangan Boss"
"Hah!?!?" kaget Olivia.
Darma terkaget mendengar teriakan Olivia.
"lo gimana sih? Udah tahu banyak barang penting di sana!" sentak Olivia.
"maaf Boss aku panik semalam"
"ya tapi bisakan kunciin dulu pintunya"
"Iya maaf" Darma menundukkan kepalanya. Menyesal.
Olivia menatap Darma. Seharusnya Olivia berterima kasih pada Darma sudah membantunya semalam. Akan tetapi dia malah Memarahinya.
"ya udah nanti kita ke kantor dulu"
"iya Boss"
Oliviapun memandang HP-nya kembali.
"Boss gimana kalau barang-barang penting hilang?" tanya Darma risau.
"ya lo dapat hukuman"
"Boss,,, gimana kalo barang penting perusahaan dipindahkan ke rumah Boss aja"
Olivia menoleh.
__ADS_1
"so pinter lo! Dari awal berdiri juga dokumen-dokumen penting perusahaan, udah disimpen di tempat rahasia. Tak ada satu orangpun yang tahu"
"termasuk Boss?"
"ya gue tahu lah bodoh!"
"tadi katanya tidak ada orang yang tahu... Gimana sih"
"ya maksudnya kan..." Olivia memelototi Darma seakan bilang jangan main-main.
"tapi tadi kata Boss banyak barang penting di ruangan Boss?"
"iyalah... Kursi, meja, laptop, dan lain-lain. Kalau dokumen perusahaan paling penting mah udah di pindahin ke tempat rahasia"
"emang tidak aman yah Boss? Sampai serahasia itu?"
"ya iya lah... Gue gak percaya siapapun di dunia ini"
"kenapa? Emang sama keluarga sendiri gak percaya?"
Olivia terdiam. Mengingat keluarganya yang gila akan harta, mana mungkin dia percaya. Di dunia ini Olivia hanya percaya pada dua orang yakni nenek dan kakaknya yang sudah meninggalkan dunia ini selamanya. Dan, tidak akan bisa kembali lagi pada bumi ini.
"Ngapain sih lo kepo banget!"
"kalo aku gak kepo. Gak akan ada percakapan"
"mending gak ada percakapan. Jadi lo diam aja!"
"sunyi kalo di bumi ini tidak ada orang kepo Boss. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang berkomunikasi dong"
"serah lo lah" kesal Olivia.
"Boss rasanya jadi Boss itu gimana sih?"
Olivia tersenyum mendengar pernyataan Darma.
"Enak" jawabnya "Seakan dunia ini milik lo. Dunia seakan tunduk pada diri lo. Orang yang membenci lo akan ketakutan dan tunduk di bawah kaki lo. Lo bisa menghukum orang yang lo benci seenak hati lo"
"Benci?" Tanya Darma dalam hati
"Boss kan sering menghukumku? Apakah aku di benci oleh Boss?"
Darma terdiam. Benarkah Olivia membencinya? Tapi atas dasar apa? Perasaan Darma tak pernah membuat masalah sama Olivia. Malahan Olivia yang membuatnya terlibat dalam beberapa masalah. Apakah karena dirinya selalu membantah setiap perintah Olivia? Ataukah karena dirinya selalu menceramahi dan mengajak Olivia untuk beribadah? Apakah itu salah? Darma jadi bingung. Namun dia tetap merasa bahwa hal yang dilakukannya tidak salah.
"aku tak tahu. Aku kan gak punya hati Boss"
Maksud Darma, dia kan bukan Olivia dan tidak mempunyai hati milik Olivia. Jadi dia tidak tahu apa yang Olivia rasakan tentangnya.
"so banget lo!"
"aku berasal dari keluarga yang mencintai sastra Boss."
"gak nanya gue!"
"aku bercerita kok. Jadi tak perlu di tanya"
"bodo amat"
Karena lama, Olivia akhirnya memesan taksi Online saja. Kenapa tidak dari tadi yah?
"sedang apa Boss?" tanya Darma. Olivia diam tak menjawab.
Darma melihat ke ponsel Olivia. Di sana terlihat menu-menu dari pemesanan Taksi Online.
"ouh lagi main facebook ya!"
Dia tersenyum. Olivia geli mendengarnya. Bodoh banget pemuda ini, Ya ampun!
"Iya"
"oh iya iya!" jawab Darma "tambahin pertemanan denganku Boss"
"ogah"
"namanya Darma bledug zedar"
Olivia kembali geli mendengarnya. Nama norak macam apa itu?
__ADS_1
"ih jijik banget sih namanya?"
"ih Boss... Nama itu bagus kata temanku"
"teman lo pasti kayak lo" Olivia menunjuk Darma "Bodoh!"
Sejujurnya Darma sedikit kesal temannya di ejek seperti itu. Namun dia harus sabar.
"dia itu pintar Boss. Jangan samakan dia denganku"
"berarti cuma lo yang bodoh di dunia ini"
"gak apa-apa jadi bodoh. Orang bodoh itu akan terus berusaha dan terus belajar. Sehingga ilmu mereka banyak deh"
"so bijak lo"
"makasih"
"makasih?" bingung Olivia.
"so itu dalam bahasa inggris artinya begitu atau teramat. Jadi so bijak lo, artinya teramat bijak lo" Darma tersenyum.
"cih" Olivia tersenyum sinis. Benar-benar ini orang! Sudah merasa dirinya pintar dari Olivia. Pikir Olivia.
"Boss, bila nanti aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Boss..."
Olivia menatap Darma. wajahnya seperti orang serius.
"tolong katakan pada tukang masak di kantin di sana, bahwa masakannya enak"
"buat apa gue mau di suruh ama lo!"
"yah biar aku senang"
"najis banget!"
"haha" Darma tertawa.
Olivia memandang Darma yang tengah tertawa. Entah kenapa rasa hatinya jadi tenang melihatnya. Seperti ada sihir yang bisa membuat suasana hatinya jadi lebih lega. Perasaan apa itu? Tolong jelaskan!
Kemudian taksi online yang di pesanpun datang. Berhenti di depan pria dan wanita yang tengah duduk itu.
"mbak Olivia?" tanya supir taksi.
Olivia masih memandang Darma. Darmapun menoleh ke Olivia.
"Boss di panggil tuh!"
Oliviapun tersentak sari pandangannya. Kemudian salah tingkah mengusap bahunya. Diapun menoleh pada si supir taksi.
"kenapa mas?" tanyanya.
"ini dengan mbak Olivia?"
"ouh iya" jawab Olivia berdiri.
Oliviapun masuk ke dalam taksi tersebut. Sementara Darma tetap duduk di kursi itu. Darma berpikir, seorang Olivia tak mungkin mau mengajaknya dan naik taksi bersamanya. Kastanya terlalu jauh.
Olivia menatap Darma.
"Hey bodoh! Cepat masuk!" ajak Olivia.
"hah!?" kaget Darma tak percaya.
"cepat!"
"ouh iya Boss" Darma berdiri kemudian di saat dia mau berjalan kakinya tersandung sehingga dirinya jatuh.
Bukkkk!!!
Olivia menahan tawanya. Menutupnya menggunakan tangan kirinya.
"hati-hati jatuh mas!" ucap supir taksi.
"Udah bang!" jawab Darma sembari berdiri.
Darma menepuk-nepukan tangannya di area pakaiannya yang kotor. Kemudian berjalan masuk ke dalam taksi. Darma duduk di belakang bersama Olivia. Taksipun berjalan.
__ADS_1
Darma tak pernah berpikir bahwa dirinya akan naik mobil bersama Olivia lagi. Seakan itu adalah mimpi. Apakah sekarang dia akan menurunkan dirinya lagi? Pikir Darma.
Bersambung...