
Dua jam berlalu, namun Darma tak kunjung datang jua. Diana dan Olivia heran, bingung, plus penasaran apa yang di lakukan Darma sehingga belum kembali.
"kenapa Darma belum kembali lagi ke sini ya?" heran Diana dalam hatinya. Dia sudah duduk di sofa selama dua jam.
"apakah dia sedang ada pekerjaan lain di luar" lanjutnya.
"kenapa Darma beol nya lama yah?" tanya hati Olivia. Dirinya tengah asik bermain ponselnya.
"anu... Boss Darma nya kemana yah?" tanya Diana.
"DIANA BERTANYAAAAAA!!!" teriak hati Olivia. Akhirnya setelah 2 jam, Diana bertanya juga. Olivia harus jawab apa? Olivia harus jawab apa?
"ke luar" jawab Olivia malas. Rasanya dia tidak ingin bicara sama Diana.
"ke luar kemana?" tanya Diana kembali.
"ke luar kantor ini, tugas pekerjaan" jawab Olivia berbohong.
"Haaaaahhhh!?" teriak Diana kaget.
"yang benar Boss?" tanya Diana mendekati Olivia.
"iya" angguk Olivia sambil matanya terus memandang ponselnya.
"lah kenapa tidak bicara dari tadi" kesal Diana. Kalau Olivia bukan Bossnya mungkin Diana sudah memberi bunga pada Olivia. Bunga bangkai maksudnya yang baunya seperti kentut kudanil.
"kamu kan gak nanya" jawab Olivia.
Diana langsung terdiam, kemudian menundukkan kepalanya merasa kecewa. Dirinya gagal mendapatkan nomor Darma.
Olivia melihat Diana yang sedang merenung. Iapun kemudian tersenyum dengan senangnya.
Dianapun kemudian menggelengkan kepalanya. Pertanda dirinya tidak boleh menyerah. Masih ada hari esok.
"baiklah Boss, saya pamit dulu" pamit Diana.
Oliviapun meletakkan ponselnya, kemudian menatap Diana.
"ah iya" jawabnya singkat padat.
Dianapun membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya pergi. Akan tetapi ketika dia mau memegang gagang pintu, pintupun terbuka. Dan tebak siapa yang masuk? Dia adalah Darma, seorang pemuda berusia 22 tahun yang hobinya nyanyi dan ngobrol gak jelas.
"Darma?" kaget Diana senang.
"Oh Diana" Darma tersenyum.
"kamu udah pulang?" tanya Diana masih tak percaya. Orang yang di tunggunya ada disini.
"ouh tentu saja wahai anak muda" jawab Darma dengan nada so kerennya.
"hihi" Diana tersenyum senang.
Sial, Olivia kembali melihat mereka begitu akrabnya. Melihat mereka hangat seperti itu, membuat hati Olivia menjadi tak tenang. Ada rasa gelisah dan juga iri dalam hatinya.
"kenapa emangnya?" tanya Darma heran.
"ah?" kaget Diana. Dirinya malu teringat tujuannya untuk meminta nomor dari Darma.
"aku..." ucap Diana malu - malu. Pipinya kembali memerah kembali. Darma menatap Diana bingung.
"Darma sudah kamu bersihkan?" sahut Olivia bertanya.
"Ah?" bingung Darma. Mungkin maksud Olivia membersihkan toilet yang sudah di pakainya.
"Udah Boss" lanjut Darma.
Diana menatap kesal Olivia. Padahal dirinya sedang berusaha meminta nomornya Darma, tapi Olivia malah mengganggunya.
"Hiiihhh Boss ini apaan sih! Ganggu saja" batin Diana.
"oh yah Diana, apa yang mau kamu kata...kan?" Zelegur... Api di dalam lambung Darma tiba - tiba meledak kembali. Dirinya jadi sakit perut lagi. Diapun langsung memegangi perutnya yang sakit itu.
__ADS_1
"kamu tidak apa - apa?" tanya Diana khawatir memegangi bahu Darma.
Mata Olivia melihat dengan detail tangan Diana yang menyentuh Darma. Hatinya pun mulai terbakar. Hasad dalam dirinya tumbuh seketika. Dia tak terima Darma di sentuh oleh kulit Diana. Diapun kemudian berdiri seketika dan menghampiri Darma.
"aku tidak apa - apa" jawab Darma.
"kenapa kamu?" tanya Olivia dengan nada jutek.
"ah enggak" jawab Darma.
"beneran?" tanya Diana memastikan.
"apa perlu aku joged lagi?" tanya Darma tersenyum.
"hehe" Diana jadi ikut tersenyum geli, Mendengar jawaban Darma itu.
Ahhhhhhh... Melihat mereka saling tersenyum seperti itu membuat hati Olivia semakin panas. Dirinya mulai tak tahan dengan keadaan ini semua.
"so perhatian banget si Diana ini!" batin Olivia.
" kenapa Mereka akrab sekaliii" lanjutnya. Olivia benar - benar kesal. Sampai sampai di hidungnya keluar asap.
"Diana bukankah kamu mau minta Darma" ujar Olivia tersenyum di paksakan pada Diana.
"eh? Aku?" kaget Darma.
"hah?" kaget Diana. Iapun segera melepaskan tangannya yang menempel pada Darma, kemudian menundukkan kepalanya malu.
"i-iya" lanjut Diana.
"nah sudah tersampaikan kan? Sana cepat pulang ke alam mu" kesal Olivia dalam hatinya.
"Oh ..." Darma pun kemudian menyogoh ponsel yang ada di saku celananya.
"bolehkah aku minta nomormu saja" ujar Darma menyodorkan ponselnya. Darma sebenarnya sudah tidak kuat menahan sakitnya, dia ingin segera duduk di mejanya.
Diana terdiam menatap Darma. Melihat Darma yang menyodorkan ponselnya itu, wajahnya nampak berkilauan. Tidak di sangka, malah Darma yang meminta nomornya.
"oh baiklah" jawab Diana mengambil ponsel Darma dengan pelan - pelan. Iapun kemudian dengan secepat kilat mengetikkan nomor ponselnya, kemudian mengembalikkannya kepada Darma. Ah rasanya Diana sangat bahagia.
"makasih ya" ucap Darma.
"ah... Sama - sama" jawab Diana menundukkan kepalanya malu - malu.
Sementara Olivia, dia melihat kesal ke arah mereka. Hatinya rasanya sudah kebakaran.
"ahhhhhh" Perut Darma mulai terasa lagi sakitnya. Iapun segera memegangi perutnya.
"Darma kamu tidak apa - apa?" tanya Diana dan Olivia serentak memegangi bahu Darma. Merekapun saling menatap. Diana yang kaget Olivia bisa serentak bicara sama. Dan, Olivia yang melihat Diana dengan tatapan harimau kesal.
"ah tidak apa - apa" jawab Darma.
"aku hanya nahan kentut saja hahaha" lanjut Darma malah bercanda.
"Ihhhhh... Dasar" kesal Olivia.
"hehe" Diana malah tertawa.
"yah ku rasa aku harus ke mejaku" Darma kemudian berjalan sambil memegangi perutnya.
"Darma, jangan lupa telepon yah" ucap Diana.
"iya" jawab Darma menoleh pada Diana.
"ahhhh" Diana menganga kesenangan. Sementara Olivia, dia semakin kesal melihat Diana.
Darmapun kemudian duduk di mejanya kemudian menundukkan kepalanya di bantali tangan di meja. Dia mulai merasakan sakitnya.
"AHAHAHAHAHAHAHA.... SYAKITTTT!!!" teriak hatinya. Darma mulai menitikkan air matanya, saking sakitnya.
"pedahal aku sudah di toilet selama dua jam tapi gak keluar - keluar" lanjutnya.
__ADS_1
"sekarang apa lagi? Kenapa belum pergi?" tanya Olivia dengan dinginnya.
"Oh i-iya Boss" Diana menundukkan kepalanya.
"kalau begitu aku pamit" lanjutnya berpamitan.
"iya. Hati - hati di jalan" jawab Olivia memalingkan badannya.
"DARMA AKU PAMIT YAH" teriak Diana.
Darma yang mendengar Diana berpamitan, diapun segera menghapus air matanya. Kemudian tersenyum ke arah Diana.
"Ah iya" ucap Darma dengan senyum ceria. Kemudian dengan segera menyembunyikan wajahnya kembali pada tangan yang bersidekap di meja.
"AHAHAHAHA SYAKITTTTT" teriak hatinya kembali.
Dianapun kemudian membalikkan badannya dan pergi ke luar dari ruangan. Olivia melihati kepergian Diana.
"Ah Alhamdulillah" syukur Olivia, akhirnya Diana pulang ke alamnya.
Oliviapun membalikkan badannya menatap Darma yang tengah bersidekap menyembunyikan wajahnya. Oliviapun mulai menghembuskan napasnya. Akhirnya giliran dia untuk bicara tentang masa lalunya bisa di mulai. Oliviapun berjalan menuju tempat Darma.
"Darma" panggil Olivia membongkok.
Mendengar Olivia memanggil namanya, Darmapun segera menghapus air matanya kemudian menatap Olivia.
"ah iya?" jawab Darma.
Olivia sangat kaget melihat wajah Darma yang memerah. Dan alis matanya yang terlihat basah. Olivia tahu Darma pasti tadi sedang menangis?
"kenapa wajahmu merah?" tanya Olivia.
"ah... Eng... Enggak" jawab Darma tergagap. Iapun segera memegangi wajahnya.
"merahkah? Ahahaha"
Olivia terdiam menatap Darma. Kemudian mengingat kembali Darma yang sudah mendapatkan nomor Diana tadi.
Deg... Jantung Olivia serasa di tusuk. Dia merasakan yang namanya sakit tak berdarah. Hatinya terasa mau pecah melihat Darma.
"Apa Darma sangat senang dapat nomor Diana?" batin Olivia.
"sampai - sampai dia menangis seperti ini?"
Olivia menatap Darma. Kini dirinya sadar, ternyata Darma menyukai Diana. Apa yang harus dilakukannya? Hatinya terasa pecah.
"apakah kamu senang mendapatkan nomor Diana?" tanya Olivia.
"hah?" kaget Darma. Perutnya semakin menusuk sakitnya.
"iyaahah" jawab Darma dengan kesakitan.
Oliviapun mulai memundurkan langkah kakinya. Dirinya seperti tak kuasa melihat pemandangan yang dilihatnya ini. Matanya mulai berkaca - kaca, hatinya merasakan sakit, sakit sekali.
"kenapa Boss?" tanya Darma memegangi perutnya.
Lain lagi yang dilihat Olivia, dirinya melihat Darma sedang memegangi dadanya.
"eng... Enggak" Oliviapun kemudian membalikkan badannya dan berlari menuju luar ruangan.
"eh kenapa?" bingung Darma.
"apakah wajahku nampak menyeramkan?"
Perut Darmapun kembali sakit. Dia memegangi perutnya itu.
"AHHHHHHH" desah Darma kesakitan.
Sementara Olivia, dia terus berlari menyusuri tangga turun ke bawah. Kemudian diapun memelankan larinya, dan akhirnya berhenti. Diapun mendudukkan badannya dan bersandar pada tihang tangga. Dia kembali mengingat wajah Darma yang seperti gugup dan tersipu malu setelah memiliki nomor Diana. Olivia juga berpikir Darma sangat senang sampai menangis bahagia.
Olivia terdiam menatap kosong. Dia mengingat kembali kebaikan - kebaikan Darma kepadanya. Dan kenangan indah yang di lakukannya bersama Darma akhir - akhir ini. Dan yang paling teringat adalah ketika Darma di peluk olehnya waktu di panti asuhan. Itu Indah tapi menyakitkan untuk sekarang, kala tahu Darma menyukai orang lain.
__ADS_1
"hik" Olivia menjatuhkan air mata ke pipinya. Kini Olivia tahu, hati bisa hancur. Hatinya merasakannya sekarang. Oliviapun mulai menangis.
Bersambung...