The Garabagan

The Garabagan
Epesode 103 : Ingatkah Kamu?


__ADS_3

Diana sedang di ruangannya, dia tengah duduk di kursinya menatapi ponsel. Dia terus menatap dan terus menatap. Berharap ada seseorang yang mengirim panggilan untuknya. Panggilan dari orang yang di sukainya. Siapa lagi kalau bukan Darma.


"Darma, kenapa belum menelepon ku juga yah?" tanya Diana.


*****


Sementara Darma, dia kini tengah berada di lantai 21, tepatnya di ruangan tempat Daniel bekerja. Dirinya datang untuk mengambil dokumen Daniel yang ketinggalan.


Darma merasa bingung, tidak tahu meja Daniel berada. Juga...


"itu ada Darma" bisik seorang pegawai perempuan.


"dia asistennya Boss kan? Ngapain disini?" bisik teman satunya lagi.


"ya ampun ganteng banget yah"


Para pegawai perempuan terus berbisik dan melihati Darma. Dirinya jadi pusat perhatian hampir semua orang di ruangan itu. Gerard yang melihat Darma jadi pusat perhatian, langsung merasa jengkel.


Darmapun akhirnya melihat Opik, teman sebayanya Daniel. Diapun menghampiri Opik untuk menanyakan lokasi meja Daniel.


Puk... Puk... Darma menepuk bahu dari Opik.


"hey Bro!" ucap Darma tersenyum.


"apa Bro... bro... heh?" amuk Opik.


"wahhh jadi Opik temannya Darma yah?" bisik seorang pegawai.


"wahhh tidak di sangka Darma temenan sama Opik" jawab satu temannya.


Opik pun melihat ke arah mereka. Dirinya harus menahan amarahnya. Dirinya sekarang sedang menjadi pusat perhatian, dirinya harus jaga image.


"ada apa?" tanya Opik.


"hmmm meja Daniel dimana yah?"


"ouh itu tuh dekat Gerard" tunjuk Opik.


"ouh makasih yah" Darma tersenyum.


"kyaaaa!!!" jerit seseorang melihat senyum dari Darma.


"astaga manisnya" ucap salah satu temannya.


"apaan sih kalian lebay banget!" kesal Gerard.


Darmapun berjalan mendekati Gerard. Dia melihati bangku yang kosong dan tersimpan ada dua dokumen dan satu lampiran. Darmapun dengan cepat membawa dokumen itu kemudian membalikkan badannya berjalan kembali menuju arah luar. Akan tetapi ketika dia melangkahkan kakinya, kaki Gerard dengan sengaja meng kait kaki Darma. Alhasil Darmapun terjatuh.


"HUAAA!!!" kaget semua orang yang melihatnya.


"kamu gak papa?" dengan cepat seorang perempuan membantunya berdiri.


"yah... Andai aku yang di sana" keluh salah seorang pegawai.


"makasih" ucap Darma setelah berdiri.


"iya" jawab perempuan itu dengan pipi yang memerah.


"heh" Gerard tersenyum sebelah. Kemudian ia membalikkan wajahnya kembali ke layar komputer. Terlihat di sekitarnya ada yang aneh, iapun melihat ke sekitar ternyata para pegawai wanita nampak melihati dia dengan tatapan harimau.


"Hiiiihhhh..." bulu kuduk Gerard merinding.

__ADS_1


"kalau begitu aku pamit" pamit Darma.


"Assalamualaikum" salamnya.


"Waalaikumsalam" jawab semuanya.


Darmapun kemudian pergi dari ruangan itu, lalu menaiki lift menuju ke atas.


Setelah Darma keluar, empat pegawai perempuan sebut saja Juleha, Andini, Bella, dan Dini, mereka mulai mendekati Opik.


"kamu temenan sama Darma?" tanya Andini.


"eh?" kaget Opik. Apa ini? Kenapa tiba - tiba mereka mendekati nya? Padahal selama ini, kalau Opik suka becanda sama mereka, mereka selalu jutek.


"beneran temenan?" tanya Juleha menekan.


"iya" angguk Opik.


"benarkah?" histeris Dini.


Mereka berempat pun mengelilingi Opik untuk menanyakan tentang Darma. Opik pun hatinya jadi merasa senang.


Sementara Darma, iapun naik lift menuju lantai 24. Dan ketika pintu lift terbuka, ternyata Daniel sudah ada di depan lift.


"ah? Kok disini?" heran Darma.


"iya gue nunggu lo!" jawab Daniel.


"ini" Darma menyodorkan dokumennya. Danielpun menerimanya.


"makasih yah" ucap Daniel.


"ini" Darma menarik tangan Daniel kemudian memberikan uang yang tadi di berikan Daniel. Darmapun mengepalkan tangan Daniel.


Darmapun berjalan pergi. Danielpun membuka tangannya. Matanya membulat, ternyata yang di berikan Darma hanya 100 ribu saja.


"... Nah jadi jangan mahal - mahal! Aku ambil 200k yah" ucap Darma menoleh ke Daniel, kemudian iapun berjalan kembali.


Daniel menatap bingung Darma. Memang aneh itu orang.


"hehe" Daniel terkekeh melihati uangnya.


"dasar aneh!" ucapnya.


Darmapun sudah ada di depan pintu ruangan Olivia. Tapi kenapa rasanya dia merasa takut untuk bertemu Olivia? Apakah karena pesannya tidak di balas Olivia semalam? Setelah di ingat - ingat, setelah satu pesannya tak di balas, dirinya malah mengirim 50 pesan langsung :


Assalamualaikum Boss


Sudah tidur?


Kenapa belum membalas?


Oh mungkin sudah tidur yah?


Oh yah Boss, barang apa yang Boss suka?


Begitu terus, sampai jam 2 subuh.


Setelah mengingat itu semua. Darma jadi menggit jarinya malu.


"Uhuhuhu... Kenapa aku malah mengirim pesan sebanyak itu?" batinnya.

__ADS_1


Darmapun memberanikan diri membuka pintu. Dan terlihat disana Olivia tengah duduk memainkan laptopnya di sertai kopi yang berada di pinggir laptopnya.


"pagi" ucap Darma secara pelan, kemudian berjalan menuju mejanya.


"kenapa baru datang?" tanya Olivia.


"ah... Itu..." Darma menatap Olivia.


"Daniel tadi menyuruhku untuk membawakan dokumennya di lantai 21"


"hah? Daniel?" bingung Olivia.


"iya tadi"


"dia baru aja kesini tadi memberi..."


"HAHHHHH!?" teriak Darma kaget. Diapun melihat ke kanan, ke kiri, kemudian di kolong meja.


"benar! Kenapa dia tak kesini yah?" heran Darma.


"apa maksudmu?" bingung Olivia.


"Daniel! Dia bilang dokumen itu mau di kasih ke Boss"


"hah? Tadi dia baru saja..."


"Aaahhhh" Darma menjatuhkan lututnya, kemudian duduk bersimpuh.


"si Daniel itu!" ucap Darma kecewa. Dia merasa telah di kerjain oleh Daniel.


"tapi tak apalah! Aku sudah di kasih uang hehe" Darmapun tersenyum, kemudian berdiri kembali.


"baiklah Boss, apa yang harus ku kerjakan sekarang?"


"ini edit tiga file ini" Olivia menyodorkan flashdisknya. Darmapun melangkahkan kakinya kemudian mengambil flashdisk itu.


Dengan segera iapun duduk di mejanya, memakai earphone nya dan melakukan pekerjaan dengan serius.


Olivia menatap Darma yang tengah bekerja itu. Olivia merasa sepertinya Darma tadi sedang beralasan saja. Tapi, Darma selama ini tak pernah berbohong padanya. Ini semua membuat Olivia bingung.


Olivia jadi kepikiran, sebenarnya apa yang Darma sampaikan pada pesan semalam. Juga, apakah Darma ingat hari ini hari apa? Apakah dia mengingat kalau hari ini ulang tahun Olivia?


"kenapa dirinya seperti biasa saja? Apakah dia tidak mengingat kalau hari ini adalah ulang tahunku?" batin Olivia.


Oliviapun jadi teringat percakapan Darma saat di Destiny Restaurant.


"Oh yah Boss... Lima hari lagi ulang tahunmu kan?"


"lah... Kok tahu?" kaget Olivia.


Yaha hati Olivia rasanya muncul sebuah pelangi kebahagiaan keluar dari dadanya. Tak di sangka, ternyata Darma tahu ulang tahunnya.


"waktu dompet Boss ketinggalan di kantor dan aku melihat ktp Boss"


"oh begitu yah"


Mengingat percakapan itu, membuat Olivia merasa kecewa. Padahal saat itu Darma mengingatnya, kenapa sekarang dia tidak ingat. Darma benar - benar menyebalkan.


"apakah aku terlalu berharap yah?" batin Olivia.


Darma terus mengerjakan apa yang di suruh Olivia. Namun kini diapun berhenti mengetik, kemudian melihat ke arah Olivia. Ternyata Olivia sudah tidur duduk bersidekap di mejanya. Darma melihat ke arah wajah Olivia yang tengah tertidur itu. Diapun tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2