
"Darma Deriyana" batin Olivia mengingat nama Darma.
"mungkinkah?..."
"kenapa? Apakah kamu juga kenal Geno?" tanya Darma bingung menatap Olivia.
"eng-enggak" jawab Olivia pura-pura tidak tahu.
"teruskan ceritamu" lanjut Olivia.
Di setiap harinya, aku selalu bermain bersama Geno. Geno itu orangnya pendiam. Hanya saja dia memiliki hobi yang sama denganku yakni menggambar. Aku dengan dia sering bercerita tentang hobi kami.
"lihatlah superhero buatanku" ucapku pada Geno.
"namanya Satria Biru"
"kenapa menggambar superhero?" tanya Geno.
"mereka itu pecundang dan lemah"
"kok gitu?" tanyaku.
"lihat aja power rangers. Musuhnya satu tapi dilawan lima orang" jawab Geno.
"hmmm iya sih" angguk ku setuju.
"tapi aku suka superhero. Mereka selalu menolong orang"
"terserahlah" acuh Geno. Geno lebih suka karakter penjahat, seperti thanos dalam komik marvel. Aneh emang. Tapi dia kawan yang ku punya.
Pada suatu hari, di pagi hari sebelum masuk. Akupun melihat ada tiga orang anak yang mengganggu anak perempuan. Anak perempuan itu yang duduk bersidekap melihat ke arahku saat pertama kali aku masuk.
Ketiga anak itu terus meledek dan menjahili anak perempuan itu. Akupun berniat untuk menghentikan mereka, tapi Geno bersikeras menghalangiku.
"jangan ikut campur, Dery" ucap Geno.
"tapi aku merasa kasihan" jawabku.
"mereka adalah anak - anak nakal" ujar Geno.
"aku gak peduli" ucapku menghampiri mereka.
"hey hentikkan!" ucapku pada ketiga orang itu.
"huah?" nganga anak itu kemudian menatapku sinis. Mereka bertigapun menghentikan menjahili anak perempuan itu. Kemudian menatap ku dengan tajamnya.
"apa? Mau ikut campur?" tanya anak itu.
"berbuat jahat seperti itu dosa loh. Nanti masuk neraka" ucapku.
Buakkk... Akupun dipukuli oleh tiga orang itu. Anak perempuan itu melihatku, namun dia hanya bisa berdiam diri. Geno diam sangat takut untuk ikut campur.
Setelah dipukuli beberapa kali. Anak itupun menghentikan pukulannya.
"jangan belaga makanya" ucap anak itu kemudian pergi. Temannya mengikutinya.
Anak perempuan itu menatapku sinis, kemudian duduk ke bangkunya kembali tak mempedulikanku.
__ADS_1
Sementara Geno diapun menghampiriku dengan khawatirnya.
"hey kamu gak apa - apa?" tanya Geno membantuku berdiri. Akupun berdiri, dan kemudian mendekati anak perempuan itu.
"hey seharusnya kamu lapor guru" ucapku pada perempuan itu.
"gak usah ikut campur" jawabnya.
"eh?" bingungku.
"nah sudah lihat kan? Dia itu orangnya emang seperti itu" ucap Geno melihat sinis ke anak perempuan itu.
"sudah ayo pergi!" ajak Geno menarik tanganku.
"DENGAR! KALAU KAMU TIDAK MELAWAN MEREKA AKAN TERUS SEPERTI ITU" teriakku pada anak itu.
"ka-kamu..." ucap Olivia menatap binar Darma. Membuat Darma menghentikan ceritanya.
Olivia mengingat semua itu, ternyata Darma yang ia tatap ini adalah anak yang pernah membantunya waktu SD nya dulu.
Hati Olivia jadi bergetar. Dirinya merasa tak kuat menatap Darma. Iapun menundukkan kepalanya ke bawah.
"a-apa kamu tahu siapa anak perempuan yang selalu di ganggu itu?" tanya Olivia dengan bibir bergetar.
"hmmm... Aku agak lupa" jawab Darma, ingatannya sedikit samar - samar.
"ah... Aku ingat..."
Saat itu aku penasaran, kenapa anak perempuan itu selalu di ganggu oleh ketiga anak itu. Aku pun bertanya pada Geno.
"Dia itu anak yang bodoh. Dia bahkan tak naik kelas" jawab Geno sembari menggambar di bukunya.
"dia juga punya koreng yang bisa nular kalau kamu dekat dengannya" lanjut Geno.
"hahahahahaha" aku tertawa terbahak - bahak.
"kenapa tertawa?" tanya Geno heran.
"enggak! lucu aja haha..." aku menghapus air mata ketawa ku.
"... Ada juga yang seperti itu! Aneh" lanjutku.
"hmmm Terkena buduknya baru tahu" balas Geno.
"By the way, Siapa nama anak itu?" tanyaku.
"bukankah sering di sebut waktu absen"
"akunya kan suka fokus ngegambar" jawabku.
"namanya Ati..."
"Ati..." Darma lupa akan nama anak perempuan itu.
"Ati siapa yah? Lupa lagi. Syahrul mungkin" ucap Darma lupa.
"Syahla" sambung Olivia.
__ADS_1
"wuuuuaahhhhhh iya itu" Darma menunjuk Olivia.
Olivia terdiam menatap Darma. Selama ini, dirinya telah menghukum orang yang salah. Dulu dia sangat yakin kalau pria yang di depannya adalah Darma yang menjahatinya, karena dalam resume-Nya dia memiliki riwayat pendidikan di SD Bajaraya.
"bagaimana kamu tahu?" tanya Darma bingung. Bagaimana Olivia bisa tahu anak perempuan itu?
"mungkinkah..." Darma memicingkan matanya. Olivia berkeringat dingin menatap Darma. Apakah Darma mengenali anak perempuan yang di ceritakannya, adalah Olivia?
"mungkinkah kamu temannya?" tebak Darma.
Sudah Olivia duga. Mana mungkin Darma peka. Entah kenapa Olivia merasa lega Darma tak mengetahuinya.
Olivia jadi bingung apa yang harus dilakukannya. Dirinya merasa malu, bersalah, dan juga bodoh. Bagaimana bisa dirinya berbuat jahat pada orang yang dulu pernah menolongnya.
"aku keluar dulu yah..." pamit Olivia. Dirinya merasa tak kuat melihat Darma.
"eh? Tapikan ceritaku belum selesai" ucap Darma.
Tanpa pikir panjang Oliviapun berdiri kemudian pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya. Dirinya sangat malu dan juga merasa bodoh.
Darma bingung menatap kepergian Olivia. Kenapa tiba - tiba Olivia pergi? Cerita Darma bahkan belum selesai. Hah Darma tidak mengerti.
Oliviapun berlari pergi ke kamar mandi khusus wanita. Dengan cepat ia membuka pintu dengan kerasnya. Disana ada perempuan yang kaget kemudian melihat Olivia. Segera kedua perempuan itu keluar dari kamar mandi. Oliviapun mengunci pintu.
Olivia merasa tertekan, kenapa jadi seperti ini? Kenapa bisa salah orang? Lantas Darma yang seharusnya ia hukum kemana?
Kini dirinya menatap sebuah cermin yang ada di kamar mandi itu. Olivia melihat bayangan dirinya sendiri. Bayangan Orang yang telah menyakiti Darma, padahal Darma tidak pernah melakukan kejahatan apapun kepadanya.
"Ah seharusnya aku sadar!" ucap Olivia melihat ke atap.
"pantas saja waktu interview, dia bingung"
Olivia kembali mengingat waktu pertemuan Darma dengan dirinya saat Interview.
"kamu tak kenal saya siapa?" tanya Olivia merapatkan jari - jarinya menatap Darma.
"tentu saja. Anda CEO perusahaan ini" jawab Darm tersenyum.
"bukan itu!" Olivia menggelengkan kepalanya.
"apa kau kenal saya?" tanya Olivia kembali.
Darma menatap Olivia dengan penuh kebingungan.
"anda CEO perusahaan ini kan?" jawab Darma kembali.
"bukan itu! Apakah kamu mengenal saya dulu?" tanya Olivia kembali.
"hah?" Darma semakin bingung.
"e... Ti... Tidak bu" jawab Darma.
Mengingat hal itu, tak terasa Air mata Olivia pun jatuh pada pipinya. Olivia merasa bersalah. Dirinya sungguh menyesal. Dendam memang membutakan hatinya, sehingga dirinya menghukum orang yang salah.
Oliviapun mengingat saat dirinya SD kembali, seorang anak laki - laki pernah membantunya menghentikan kejahatan dari Darma, Alif, Geby dan Faisal. Olivia dulu belum mengetahui nama anak laki - laki itu karena dirinya tidak suka bergaul. Yang ia tahu waktu itu, anak laki - laki itu bernama Feri karena mendengar obrolan dari siswa lain. Tapi sekarang dirinya sadar, kupingnya telah salah dengar, yang mereka maksud adalah Dery, panggilan Darma waktu SD. Lagipun kepanjangan Darma kan Deriyana.
Setelah kejadian dirinya di tolong oleh Darma Deriyana waktu itu. Darmapun tak lagi berbicara dengan Olivia. Dirinya asik bermain ke belakang sekolah bersama kawannya Geno. Bahkan Saat Olivia di ganggu oleh Darma satunya, beserta Alif, Geby, dan Faisal. Darma Deriyana selalu tidak ada untuk membantunya lagi. Darma terlalu sibuk bergaul dengan Geno di belakang sekolah. Olivia kecil berfikir itu bagus. Dirinya jadi tak menyusahkan orang lain lagi. Olivia kecilpun mulai tak mempedulikan anak laki - laki yang bernama Darma deriyana itu. Dirinya lebih memilih sabar menghadapi gangguan dari Darma, Geby, Alif, dan faisal hingga mereka lulus sekolah duluan. Dan sampai lulus sekolah juga, Darma Deriyana dan Olivia kecil tak lagi berbicara sampai mereka lulus SD.
__ADS_1
Bersambung...
Nah Lier (pusing) kan?