The Garabagan

The Garabagan
Epesode 73 : Rival


__ADS_3

Setelah Olivia menyelesaikan sesi wawancaranya, merekapun lalu berjalan pergi menuju studio 2 epicentrum, tempat di selenggarakannya pesta ulang tahun Destiny TV. Dan Ketika di jalan Mereka pun lalu berpapasan dengan Renita. Renita yang memakai gaun galmor mirip yang dikenakan Olivia sebelumnya, cuman beda warna saja. Warna yang di pakai Renita berwarna kuning.


"oh Renita" Olivia tersenyum menatap Renita.


"wahhh... Formal sekali pakaianmu?"


"ahaha... Bagus kan?"


"iya sih. Lo mah pakai apapun juga pantas"


"hehe"


Renitapun kemudian menatap Darma yang tengah melihati lampu-lampu di langit-langit.


"hey... Darma kan?"


Darmapun menatap Renita.


"yo salam kenal. Aku Dar-ma" ucap Darma bergaya dengan dua jari di matanya.


"haha..." Renita tertawa.


"oh yah Darma"


"iya"


"maafkan aku yah empat hari yang lalu. Akulah yang melempar kepalamu dengan botol"


"HUAAAAAAAHHHHHH??" teriak Darma kaget.


"kenapa? Apa salahku?"


"hehe" Renita menatap Olivia. Olivia hanya terdiam menatap Renita, dirinya tidak percaya dengan yang di dengarnya, hebat sekali Renita bisa langsung mengaku begitu saja.


"tapi apakah Renita akan mengatakan kalau itu semua karena aku membenci Darma" batin Olivia.


"tidak. Saya hanya kesal saja waktu itu, jadi dilampiaskannya padamu" jawab Renita


"alasan macam apa itu?" batin Darma. Satu kelopak matanya bergetar menatap Renita.


"yah tolong di maafkan yah?" Renita menempelkan kedua tangannya.


"huh" Darma menghembuskan napasnya.


"hehe" Darma tersenyum "tenang saja, aku maafkan"


"eh beneran?" heran Renita. Kenapa dengan mudahnya dia memaafkannya.


"iya" jawab Darma tersenyum.


"kamu gak dendam kan?"


"haha untuk apa? Bu Renita kan telah minta maaf juga, lagian untuk apa dendam? Itu penyakit hati yang bikin gak tenang hidup" jawab Darma.


Olivia menatap Darma, begitu mudahnya ia memaafkan orang lain. Padahal Renita melemparnya sampai dirinya berdarah kembali.


"aku benar-benar menemukan orang yang hebat" batin Olivia. Olivia tersenyum menatap Darma.


"kalau begitu saya ke toilet dulu yah" pamit Renita.


"oh iya" jawab Darma.


Renitapun berjalan sembari menatap Olivia, kemudian tersenyum ke arahnya.


"Apa maksudnya?" batin Olivia.

__ADS_1


"ayo" ajak Olivia pada Darma. Oliviapun berjalan kembali menuju pintu studio tempat acaranya di gelar. Darmapun mengekor.


Ketika sampai dipintu Olivia dan Darmapun berpapasan dengan Diana. Mereka terkejut dan saling bertatapan. Olivia melihat pakaian yang di kenakan Diana, sebuah gaun biru berlengan panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.


"wohoh Diana?" tunjuk Darma.


"ha-hallo Darma" sapa Diana menundukkan kepalanya.


"kamu juga datang yah?"


"iya"


Olivia menatap mereka. Entah kenapa dalam hatinya ada perasaan tidak tenang ketika melihat mereka berbicara seperti itu. Olivia merasa, rencana bisa berduaan dengan Darma gagal.


"Wuahhhh warna pakaian kita sama"


"hehe iya"


Olivia sudah tak tahan rasanya. Melihat mereka saling berbicara, membuat hatinya merasa tidak enak.


"Ayo masuk" ucap Olivia memotong pembicaraan mereka.


"acaranya udah mau di mulai"


"oh baiklah" jawab Darma.


"hey Diana, duduknya dekat kita saja"


"oh boleh"


Olivia semakin merasa kesal rasanya. Darma malah menyuruhnya duduk dekat dengan Darma. Oliviapun masuk, sembari menabrak bahu dari Darma.


Darmapun menatapnya bingung. Kemudian menatap Diana kembali.


"ayo" ajak Darma.


Merekapun berjalan bersama mengekor pada Olivia. Oliviapun lalu duduk di bangku depan, begitupun dengan Darma dan Diana.


Acarapun dimulai, kedua pembawa acara mulai membuka acara tersebut. Pembawa acara itu merupakan seorang artis papan atas indonesia.


Mata Darma berbinar menatap mereka. Dirinya tidak percaya bisa melihat seorang artis secara langsung, bahkan dari dekat. Benar - benar hari yang luar biasa.


"wuahhhhhh... Aku bisa melihat mereka secara langsung" ucap Darma berbinar menatap panggung.


Olivia menatap Darma, dirinya ikut senang ketika Darma senang.


Kemudian satu per satu penyanyi papan atas mulai unjuk gigi di panggung, memperlihatkan penampilan terbaik mereka. Dari bangku para owner, hanya Darma yang berdiri dan bersorak ikut bernyanyi.


Diana merasa senang bisa duduk dekat dengan Darma. Dia bisa melihat Darma yang sedang berteriak senang berbinar menatap panggung.


Darmapun lalu duduk kembali.


"heboh sekali hehe" Diana terkekeh.


"maaf yah aku kalau senang emang gitu" jawab Darma.


"hanya kamu yang berdiri di tempat ini" ucap Olivia.


"hah? Benarkah?" Darma tersenyum kemudian menatap panggung.


Hingga tiga jam kemudian, Olivia yang tengah menyaksikkan penampilan dari kahitna. Dia tersenyum senang, dirinya jadi teringat Darma sangat menyukai lagu itu ketika di mobil. Akan tetapi kenapa Darma sunyi, kenapa tak ikut bernyanyi. Diapun lalu menoleh ke arah Darma.


"hey ini lagu fav..."


"haaahhhh!?!?" Olivia kaget, ternyata Darma sedang tidur bersandar di kursi.

__ADS_1


Disana Olivia juga melihat Diana, yang tengah menatap Darma. Dianapun lalu tersenyum. Olivia menghadap ke depan kemudian menghembuskan napasnya.


"kenapa melihatinya seperti itu?" tanya Olivia.


"hah?" kaget Diana. Ternyata sedari tadi Olivia melihatnya.


"tidak kok tidak" geleng kepala Diana.


"manis kan?" Olivia menoleh ke arah Diana.


"eh?" bingung Diana. Diapun lalu menatap Darma.


"hmmmm" angguk Diana.


"kamu menyukainya?" tanya Olivia.


"hah?!?" kaget Diana menatap Olivia. Kenapa Olivia menanyakan hal itu?


"apa kamu..." Olivia mengambil jeda "menyukainya?"


Diana terdiam menatap Olivia. Kemudian menundukkan kepalanya. Pipinya merah di sertai jantungnya yang berdegup kencang.


"aku sangat menyukainya" jawab Diana.


"hmmm" Olivia tersenyum "sudah ku duga"


"eh?"


"siapa yang gak suka sama dia yah? Udah ganteng, baik hati lagi"


"bukan hanya itu..." jawab Diana.


"Dia juga suka melakukan apa yang di sukainya. Tak peduli orang lain berpendapat apapun, Darma selalu tak malu menjadi dirinya sendiri"


"iya juga yah. Dia selalu saja melakukan sesuai keinginannya" Olivia mengingat kenangan dengan Darma kembali. Mulai dari dia yang suka bernyanyi di mobil, tidak peduli kalau Olivia akan memarahinya, lalu dia tidak takut untuk ijin berjalan-jalan, kemudian tadi dia memperingati Olivia tentang pakaian yang dipakainya.


"anu Boss..." ucap Diana gugup.


"apa Boss menyukainya juga?" tanya Diana.


Olivia tersenyum geli mendengar pertanyaan dari Diana itu.


"mana mungkin aku menyukainya" ucap Olivia.


"hah?" Diana kaget dengan pernyataan Olivia. Diapun menghembuskan napas leganya setelah mendengar hal itu. Ternyata Olivia tidak menyukai Darma.


"Syukurlah" batin Diana, dia pun tersenyum menghadap ke depan.


"itulah yang ku pikirkan dulu" lanjut Olivia. Diana kembali menatap Olivia.


"sekarang aku sadar dia adalah orang yang baik" Olivia menatap wajah Darma yang tengah tertidur.


"dia orang yang istimewa" Olivia tersenyum. Mata Diana membuntang menatap Olivia.


"Aku menyukainya" Olivia menatap Diana.


Diana benar-benar kaget dengan pernyataan Olivia. Ternyata benar tebakan dirinya, Olivia adalah rivalnya.


"jadi begitu yah. Ternyata benar dugaanku, mereka kerja di tempat yang sama, pasti timbul dari salah satu mereka yang punya perasaan suka" batin Diana.


Diana menatap tajam Olivia.


"jadi sekarang kamu adalah musuhku. Aku tak akan kalah darimu, Olivia" Diana menatap Olivia dengan perasaan yang berapi-api.


deng... deng...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2