
Malam hari, Di rumah kecil Darma Adijaya.
"bagaimana kerja di sana?" tanya Galih Adijaya, ayah dari Darma Adijaya. Darma dengan ayahnya itu sedang duduk di ruang tamu.
"bagus! Mereka benar - benar hebat" jawab Darma Adijaya dengan datarnya.
"haha anak buah hebat juga tergantung pimpinannya" balas Galih.
"ternyata orang yang dulu kamu hina karena kebodohannya, telah berhasil mengalahkanmu"
"aku juga akan sukses" jawab Darma A dengan tenangnya. Darma A pun mengepalkan tangannya kesal.
Dia mengingat tangga kehidupannya, Setelah lulus SMA Hidup Darma A berantakan. Dirinya telah mencoba melamar pekerjaan kesana kemari, akan tetapi hasilnya nihil. Dirinya selalu di tolak oleh perusahaan manapun. Pernah satu kali dirinya mendapatkan panggilan wawancara, tapi ternyata hanya penipuan.
Satu bulan kemudian dirinya bekerja di sebuah pabrik. Namun belum juga sebulan, pabrik itu malah kebakaran. Akhirnya Darma A pun menganggur kembali.
Karena kesal tak kunjung menemukan pekerjaan juga, Darma A pun menindik telinganya masing - masing tiga bagian. Rambutnya juga di cat merah. Hingga akhirnya selama dua tahun dirinya menganggur.
Namun dirinya kembali mencoba melamar pekerjaan di Destiny Media, dan akhirnya dia di terima. Ah syukurlah.
Darma A pun melihat pada ID Cardnya.
"Ati Syahla" ucap Darma.
"aku tak akan kalah darimu" lanjutnya.
******
Malam hari di rumah sakit. Oliviapun kini sedang duduk berada di luar ruangan tempat Darma menginap. Dirinya pun berdiri mengintip Darma dari jendela, dan terlihat Darma masih memainkan ponselnya, belum tertidur juga. Oliviapun kembali duduk dan mengetukkan jari - jarunya pada lutut. Dirinya terlalu takut dan malu untuk bertemu Darma. Cerita Darma tadi siang, benar - benar membuatnya hilang keberanian.
"ahhh bagaimana ini?" batin Olivia menjerit.
"aku mau berkata apa pada Darma?" tanyanya pada diri sendiri.
"apakah aku harus minta maaf dan bercerita"
"ah bodoh sekali aku ini!"
"sekarang, aku tidak mempunyai alasan menjahati Darma"
Olivia terus - terusan berpikir dan merana sampai dua jam. Hingga akhirnya dia melihat ke Jendela kembali, dan Darma sudah tertidur. Oliviapun menelan salivanya.
Diapun kemudian berdiri, dan memberanikan diri. Oliviapun kemudian masuk ke ruangan. Perlahan namun pasti, Olivia mendekati Darma yang sedang terlelap tidur.
Oliviapun duduk di dekat Darma kembali. Dia menatap Darma dengan rasa bersalah yang begitu dalam. Dia melihat wajah Darma yang tertidur pulas. Wajah yang selalu ia sakiti selama sebulan penuh. Padahal Darma tidak punya salah apapun kepadanya.
"maafkan aku Darma" ucap Olivia memandang iba Darma.
"padahal kamu dulu pernah berusaha menolongku..." Olivia tidak dapat membendung air matanya. Air matanya pun keluar dengan sendirinya. Hatinya merasa gemetar diliputi rasa bersalah.
"...tapi aku malah menyakitimu"
Srekkk... Olivia menghirup ingus sedihnya. Dirinya tersedu - sedu menatap Darma.
__ADS_1
"... Maaf aku tidak tahu..." Olivia menghapus air matanya dengan tangannya.
"... Kalau saja aku bertanya padamu dulu... Dan bercerita padamu tentang sosokku. Mungkin kamu tak akan tersakiti saat itu"
"... Seharusnya aku tahu..."
"dari kebaikanmu... Seharusnya aku tahu kamu bukan Darma keparat itu"
"maafkan aku Darma" Olivia menundukkan kepalanya. Dirinya menangis tersedu - sedu. Dia sungguh menyesal. Olivia sungguh - sungguh menyesal.
Oliviapun membuka matanya lebar - lebar, kemudian mengangkat kepalanya lalu menghapus air matanya.
"mulai sekarang, aku berjanji..." ucap Olivia kemudian. Oliviapun menatap wajah Darma itu.
"... Aku akan membahagiakanmu"
"akan ku kembalikkan kembali warna yang telah ku pudarkan..."
"aku tahu..." Olivia menelan salivanya. Tak kuat meneruskan kalimatnya.
"aku bukanlah wanita yang pantas untukmu..."
"tapi aku ..." Olivia menatap wajah Darma dengan penuh hayat.
"... Akan selalu berusaha membuatmu bahagia"
"... Walaupun nantinya aku bukanlah tokoh utama dalam hidupmu...."
"...aku akan menjadi tokoh yang berguna dalam hidupmu" Oliviapun menundukkan kepalanya kembali. Hatinya merasakan sakit. Dirinya tahu, kini Olivia merasa tidak berhak mendapatkan cintanya Darma. Tapi Olivia tidak bisa melepaskan Darma begitu saja.
*****
Keesokan harinya pada waktu dini hari, Darmapun bangun membuka matanya. Dirinya melihat ke sekeliling. Dan terlihatlah Olivia yang tertidur di sebelahnya dengan posisi duduk bersandar dekat telapak tangan miliknya. Darmapun merasa iba hingga akhirnya diapun menggoyang - goyangkan bahu Olivia untuk membangunkannya.
"Boss..." ucap Darma. Darma pun terlupa! Dirinya seharusnya memanggil nama depan Olivia saat mereka berdua. Itu sebuah nazar.
"Oliv..." panggil Darma sambil menggoyangkan bahu Olivia.
Oliviapun akhirnya bangun. Dirinya membuka matanya, dan terlihat Darma sudah menatap dirinya.
"pagi suamiku" lantur Olivia.
"hah?" kaget Darma. Jantungnya sampai berdetak sekali jedug.
Oliviapun kaget membulatkan matanya. Dia tak sadar perkataan dari mulutnya. Itu semua karena semalaman Olivia bermimpi menikah dengan Darma. Akan tetapi ternyata dirinya sudah bangun. Diapun kembali memejamkan matanya pura - pura tidur. Dirinya terlalu malu untuk bangun.
"dirinya pasti mengigau" batin Darma.
"O... Oliv" Darma jadi gugup kembali membangunkan Olivia. Olivia pun bergerak membalikkan kepalanya membelakangi Darma. Iapun kemudian bangun dan duduk tegap menghadap Darma. Dengan segera, Olivia mengucek matanya untuk membuang hawa ngantuknya.
"Oh kamu sudah bangun?" tanya Olivia pura - pura.
"semestinya pasti" jawab Darma.
__ADS_1
"ayo sholat Subuh, Li"
"Li... Li... Emang aku Bruce Li?" kesal Olivia tersenyum.
"terus apa?" bingung Darma.
"Vi aja. Kalau ga Olivia langsung aja"
"ya maaf. Aku nya kan belum terbiasa" jawab Darma.
"ya udah yuk ambil wudlu" ucap Olivia kemudian berdiri.
"wah" kagum Darma. Olivia sekarang sudah tak perlu di ajak lagi, dirinya sudah mengerti.
"oh yah Oliv..." Darma memanggil Olivia.
"hmmm?" Oliviapun menoleh.
"Mukena yang kamu pakai itu darimana? Mushola?" tanya Darma.
"aku bawa sendiri" jawab Olivia.
"BENERAN?" kaget Darma tidak percaya.
"ih biasa aja kali" Olivia tersenyum.
"wuuuaaahhh... Boss sudah banyak berubah... Maksudku Oliv" kagum Darma.
Olivia menatap Darma. Dirinya sangat senang dirinya di puji oleh Darma. Senang sekali.
"iya..." Olivia tersenyum.
"itu semua berkat kamu" lanjutnya.
"enggak. Itu berkat Boss. Aku hanya mengingatkan saja" Darmapun tersenyum menatap Olivia. Kini merekapun saling tersenyum menatap satu sama lain. Hati Olivia merasa senang bukan main. Masih Pagi tapi dirinya sudah mendapatkan pemandangan dan perasaan indah ini.
Tapi semua mengingat cerita dari Darma kembali, membuat senyuman Olivia jadi luntur. Dirinya masih merasa bersalah pada Darma.
"entah, apakah aku pantas mendapat senyuman indah mu Darma" batin Olivia.
"tapi... Aku ingin selalu terus melihat senyuman manismu itu"
Oliviapun kemudian membalikkan badannya pergi ke kamar mandi untuk berwudlu. Setelah selesai, Darma pun bergiliran masuk ke kamar mandi untuk berwudlu. Oliviapun duduk menunggu Darma berwudlu di kamar mandi. Darmapun akhirnya selesai melakukan wudlunya. Iapun kemudian keluar.
Darmapun menatap Olivia. Olivia menatap Darma tersenyum.
"nanti salamannya dari jauh aja" ucap Darma mengingatkan.
"gak mau di kecup lagi?" tanya Olivia menggoda Darma.
Darmapun membulatkan matanya kaget. Pipinya kembali memerah. Darmapun segera berjalan menuju ke depan, tak menghiraukan pertanyaan Olivia barusan.
Olivia tersenyum melihat Darma. Ia tahu, Darma pasti malu - malu.
__ADS_1
Darmapun kemudian memulai ritual ibadahnya. Olivia selaku makmum pun mengikuti gerakan dari Darma.
Bersambung...