They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Demam


__ADS_3

“Morita, kau tenang saja. Aku berjanji akan selalu berhati-hati. Kau hanya perlu terus bersamaku dan mencintaiku seperti sebelumnya,” bujuk si pria.


Wanita yang tak lain adalah Morita, si ibu asuh Evangeline itu pun akhirnya tersenyum, meski masih terlihat kecemasan di matanya.


Pria tersebut terus mengusap lembut pelipis wanita itu, dengan tatapan penuh kasih sayang. Semakin lama, wajah keduanya pun semakin mendekat dan bibir mereka pun bertemu, bertaut dan saling sambut.


Kecupan lembut yang berubah menjadi sesapan kecil, hingga berakhir menjadi sebuah ciuman yang panas. Lidah mereka saling membelit, menari di dalam rongga mulut masing-masing. Bertukar saliva, dan berbagi oksigen di sekitar mereka.


Namun, semua itu tak berlangsung lama, karena Morita mendorong pria itu hingga ciuman keduanya terurai. Nafas mereka terengah-engah, dengan morita yang menundukkan pandangannya.


Kening keduanya saling beradu, sambil mencoba menenangkan debaran yang muncul saat mereka berciuman tadi.


“Aku harap semua akan baik-baik saja, Aaron. Aku benar-benar khawatir kalau selama ini kita sudah keliru. Bagaimana jika bukan Tuan besar pelakunya?” ucap Morita lirih.


Pria yang ternyata adalah Aaron, sosok yang selama ini begitu dipuja oleh Evangeline, rupanya memiliki hubungan asmara dengan sang ibu asuh di belakangnya.


Mendengar ucapan kecemasan dari Morita, Aaron pun membawa wanita itu masuk ke dalam dekapannya. Dia mencoba memberikan ketenangan, dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kita hanya perlu membawa Eva ke tempat kita, dan setelah itu aku akan lakukan rencana awal kita," ucap Aaron.


"Aku merasa bersalah pada gadis itu, Sayang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat tahu semua kebenaran ini," sahut Morita.


"Semua sudah terjadi. Mau tak mau kita harus siap menghadapinya. aku harap saat itu, kau masih tetap berada di sisi ku," ucap Aaron.


Keduanya pun semakin mengeratkan pelukan masing-masing, seraya mencoba melepaskan beban di hati mereka.


...❄❄❄❄❄...


Di kediaman Hemachandra, Ardiaz masih terlihat menemani Evangeline yang belum juga sadarkan diri. Dia bahkan meminta Delvin menggantikannya untuk pergi ke suatu tempat yang sebelumnya akan dia datangi.


Beberapa saat yang lalu, gadis malang itu terlihat mengigau, memanggil-manggil ayahnya.


Ardiaz yang melihat hal itu, merasa cemas dengan kondisi sang istri, ditambah lagi Evangeline yang belum juga membuka matanya. Suhu tubuhnya pun belum turun. Masih sama seperti sebelumnya.


Dia bahkan meminta pelayan untuk mengambilkan sebaskom air hangat dan juga kain untuk mengompres tubuh gadis tersebut, namun kondisinya masih belum juga membaik.


Pria itu terus berjaga hingga ia tanpa sadar tertidur karena kelelahan, dengan posisi menelungkup di samping Evangeline, dengan wajah menghadap ke arah kepala sang istri.


“Eeehhmmm...,”

__ADS_1


Terdengar suara erangan dari gadis tersebut. Kelopak matanya bergerak seolah akan tersadar. Gadis itu terlihat sangat tidak nyaman dan terus mengerang lirih. Mendengar rintihan itu, Ardiaz pun seketika terbangun dan melihat kondisi istrinya.


“Hei, apa kau akan segera bangun? Eva, kau bisa dengar aku kan?” tanya Ardiaz sambil menepuk pelan pipi gadis itu


“A... ir...,” ucap Evangeline lirih dan bahkan hampir tak bersuara.


Ardiaz pun mencoba mendekatkan telinganya ke dekat bibir gadis itu.


“Kau bilang apa tadi?” tanya Ardiaz lagi.


“A.. a.. ir...,” ucap Evangeline lagi.


Mendengar permintaan istrinya, Ardiaz pun segera bangun dan mengambil air minum yang sudah ada di atas nakas. Dengan bantuan sebuah sedotan, dia meminta sang istri meminumnya.


“ini, minumlah,” seru Ardiaz.


Evangeline pun mulai menyedot air hingga beberapa teguk. Setelah minum, gadis itu kembali mengerang lirih, sambil terus bergerak-gerak tak nyaman.


“Apa kau bisa minum obat? Kau harus segera minum obat turun panas agar demammu segera turun,” seru Ardiaz.


Namun, Evangeline masih saja mengerang, hingga akhirnya Ardiaz membantunya duduk dan menopang tubuh Evangeline dari belakang, agar gadis itu bisa duduk dengan tegak.


Dia kemudian mengambil satu sendok sirup obat turun panas, dan menyuapkannya ke mulut Evangeline. Namun, gadis itu tak bisa menelannya hingga obat pun mengalir keluar.


"Ada apa?" tanya Malcolm.


"Apa dia tak bisa mendapat obat penurun demam lewat cairan infus saja? Sangat sulit meminumkan obat padanya," tanya Ardiaz balik.


"Apa yang kau gunakan untuk memberinya obat?" tanya Malcolm lagi.


"Tentu saja sendok. Memang apa lagi?" jawab Ardiaz.


"Kalau begitu kau pakai mulut mu saja. pasti lebih efektif," sahut Malcolm.


"Apa? Kau gila. Suruh Delvin segera pulang. Aku butuh bantuannya di sini," seru Ardiaz.


Dia pun segera mematikan ponselnya.


Tak berselang lama, Sang kepala pelayan sudah datang dan segera menuju ke kamar nonanya, dan melihat pakaian sang nona sudah basah di bagian atasnya karena muntahan obat.

__ADS_1


“Ada apa, Tuan? Kenapa Anda tak meminta maid saja untuk membantu Anda?” tanya Delvin.


“Ah... benar. Aku tidak memikirkan hal itu. Sudahlah lagipula kau sudah datang. Cepat, tolong bantu aku membuka mulutnya. Tadi dia bisa minum air tapi kenapa minum obat tidak bisa. Benar-benar menjengkelkan sekali,” keluh Ardiaz.


“Oh.. ba... baiklah,” sahut Delvin.


Delvin pun mencoba membuka mulut sang nona dengan menjepit kedua pipi gadis tersebut, hingga bibirnya terbuka sedikit, lalu berusaha menahannya hingga Ardiaz bisa memasukkan obat ke dalam.


Setelah obat masuk, delvin melepaskan jepitannya dan membiarkan mulut sang nona tertutup.


Namun lagi-lagi, obat mengalir keluar dari sudut bibir sang gadis, membuat Ardiaz merasa frustasi.


“Benar-benar menyebalkan sekali. Bagaimana kamu akan sembuh kalau terus seperti ini. Hei, gadis manja. Kau sedang mengerjai ku kan? Kau hanya pura-pura kan?” cecar Ardiaz kesal.


Dia bahkan meletakkan sendok dan botol obat begitu saja ke atas nakas, dan hendak mendorong tubuh lemah itu agar menjauh darinya. Melihat perlakuan kasar Ardiaz kepada nonanya, Delvin pun mencoba mencegah.


“Tuan, boleh saya memberi Anda saran?” tanya Delvin.


Hal itu sontak membuat Ardiaz kembali menyandarkan tubuh Evangeline ke dadanya.


“Saran apa?” tanya Ardiaz ketus.


“Bagaimana kalau Anda menyuapinya dari mulut ke mulut? Ehm... Seperti induk burung yang menyuapi anaknya. Mungkin itu bisa berhasil,” ucap delvin.


“Kenapa kepalamu dan Malcolm begitu mirip? Tidak, itu ide konyol. Lagipula aku tak yakin cara itu akan berhasil. Kau dan dokter itu pasti hanya mengada-ada saja kan,” gumam Ardiaz.


“Siapa tau bisa. Bukankah Anda juga belum mencobanya?” timpal delvin.


Ardiaz seolah tengah memikirkannya sambil membayangkan hal tadi. Namun, tiba-tiba Evangeline kembali mengerang lirih, dengan kening yang berkerut. Gadis itu kembali menunjukkan rasa tak nyaman akibat demamnya.


Melihat hal itu, Ardiaz semakin kebingungan.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2