
Beberapa harinya kemudian, Evangeline terlihat sudah berpakaian begitu rapi, dengan mengenakan celana kain berwarna gelap, kemeja putih dengan renda di bagian leher, serta blazer dengan warna senada, juga sepatu dengan heels rendah.
Penampilan itu terlihat begitu formal. Dia bahkan mencepol rambutnya dan membiarkan anak rambut menjuntai bebas di pelipis.
“Apa kau yakin akan melakukannya sendiri?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Evangeline.
Gadis itu hanya melihat pantulan lawan bicaranya melalui cermin.
“Tentu saja. Ini kebetulan yang sangat langka. Aku harus mencobanya, bukan,” sahut Evangeline tersenyum.
Semua itu berawal dari hari dimana Joy dan Samuel memberitahukan kemungkinan mengenai keterkaitan antara Lucifer dengan perusahaan multi sektor Merciful.
Setelah dia kembali ke rumah hari itu, ketua kelasnya mengirimkan pesan bahwa semester ini mereka akan mendapatkan tugas lapangan dengan tema strategi bisnis.
Dosen mereka menghendaki para mahasiswanya mencari perusahaan yang sedang berkembang, dan kemudian melakukan observasi atau minimal mewawancarai salah satu tim pengembang di sana, kemudian membuat laporan individu sebagai syarat mengikuti ujian kenaikan semester berikutnya.
Evangeline pun mengambil kesempatan ini untuk masuk ke dalam Merciful, dan mencari tahu kondisi di dalam perusahaan tersebut.
Tugas ini hanya memiliki jangka waktu singkat sekitar satu sampai dia minggu, dengan jeda penulisan laporan maksimal setengah bulan, sehingga dia harus bergerak cepat sebelum waktunya habis.
Dengan berbekal surat rekomendasi dari perguruan tinggi terbesar di kota tersebut, Evangeline dengan mudah mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam perusahaan target.
Ditambah, tak banyak mahasiswa yang menargetkan perusahaan besar, karena kebijakan perusahaan yang pasti memberatkan.
Mereka tidak hanya akan menjadi mahasiswa yang melakukan penelitian, tapi juga harus ikut andil di dalam kegiatan mereka.
Akan tetapi demi misinya, seberat apapun itu, Evangeline tak peduli dan menerjang semua kesulitan tersebut.
Sejak saat itu pula, Joy dan Evangeline sedikit demi sedikit mulai berkomunikasi kembali, dan bahkan kini keduanya kembali bertukar pikir dan saling membantu.
Joy juga sudah sering menginap di apartemen Evangeline.
Putri Hemachandra itu kini telah siap untuk memulai hari pertamanya, dan mengambil tas selempang dari atas meja.
Sentuhan akhir, dia memakai sebuah kaca mata dengan frame hitam tebal, yang memberikan kesan culun kepadanya.
“Bagaimana penampilan ku?” tanya Evangeline yang berbalik menatap Joy sahabatnya.
Joy yang memang sejak semalam menginap di sana pun, hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum geli melihat penampilan Evangeline saat ini.
Hanya acungan jempol saja yang bisa dia berikan mewakili ucapannya.
“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Evangeline.
Joy mengulurkan sebuah kunci kepada sahabatnya.
“Ini kunci mobilnya. Berhati-hatilah. Ini tidak secanggih mobilmu,” seru Joy.
Evangeline pun meraihnya dan menepuk pundak sang sahabat.
__ADS_1
“Aku pergi dulu,” ucap Evangeline.
“Jangan lupa kabari aku jika terjadi sesuatu,” teriak Joy.
Evangeline hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Joy pun bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan sahabatnya pergi menghilang dibalik pintu depan.
Istri Ardiaz itu menaiki lift, dan pergi ke lantai dasar. Dia menekan tombol callback, lalu sebuah mobil Mini Cooper berbunyi memberikan responnya.
Sebuah senyum simpul terlukis di wajah cantik yang kini tampak culun itu.
Mobil yang lucu. Dia sengaja menukar mobil super car-nya dengan mobil tersebut, agar penyamarannya tidak dicurigai secepat itu.
Dia tahu jika mafia sekelas Lucifer pasti memiliki sistem keamanan berlapis, dan juga informasi yang sangat cepat dan akurat.
Dia hanya ingin mendapatkan cukup waktu untuk mencari tahu sendiri apa yang ada di dalam perusahaan tersebut, dan berharap bisa menemukan informasi mengenai suaminya.
Evangeline lalu masuk ke mobil dan segera pergi dari sana, menuju ke gedung bertingkat yang menjulang tinggi tepat di pusat kota Orchid, Merciful.
Dia memarkirkan mobilnya di parkiran luar, yang dikhususkan untuk karyawan magang, yang sebelumnya telah diberitahukan oleh pihak personalia.
Evangeline lalu mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah id card khusus karyawan magang yang sudah berhasil didapatkannya setelah pengajuan surat rekomendasinya disetujui.
Dia menghirup nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya keluar dari mobil. Evangeline nampak memperbaiki penampilannya dan melangkah menuju pintu masuk.
Di depan sana, sudah cukup banyak karyawan yang mengantri untuk melakukan absensi. Ditambah, kapasitas lift yang terbatas membuat antrian kembali terjadi di depan lift itu.
“Permisi. Maaf, permisi,” ucap Evangeline.
Bahkan ada yang sengaja menyerobot antrian hingga Evangeline terpaksa mengalah dan mundur ke belakang.
Dia pun harus tertinggal lift karena kapasitasnya telah penuh.
Huft. Kalau saja aku tidak dalam situasi seperti ini, kalian pasti sudah ku buat menyesal, rutuk Evangeline dalam hati.
Di saat dia menunggu, sekelompok orang dengan berpakaian begitu rapi, nampak berjalan melewatinya.
Dari apa yang dilihat, sepertinya itu adalah orang penting di perusahaan tersebut. Evangeline pun secara tak sengaja menoleh sekilas, namun tiba-tiba dia seolah terkejut dan kembali memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan orang-orang itu.
Lift terasa bergerak begitu lama, dan membuat Evangeline gugup. Akan tetapi, rasa penasaran membuatnya kembali mencoba melirik ke arah lift khusus eksekutif di ujung sana.
Benar... Itu dia. Tapi, kenapa dia ada di sini? Apa mungkin dia... Astaga, batin Evangeline.
Dia bahkan secara tak sadar bereaksi menutup mulutnya sendiri karena terkaannya.
Pintu lift terbuka dan gadis tersebut pun buru-buru masuk ke dalam.
Di sana, dia mengambil ponselnya, dan mengetik sesuatu.
“Hei, aku melihat ketua kalian di sini. Apa mungkin dia juga terlibat dengan mereka?” pesan Evangeline.
__ADS_1
Tak berapa lama, sebuah pesan balasan masuk. Evangeline pun segera melihatnya.
“Apa kau yakin? Bisa kau ambil gambarnya?” tanya orang di ujung sana yang adalah Joy, sahabat Evangeline.
“Aku tidak berani. Dia bersama dengan seseorang yang sepertinya penting di sini. Banyak bodyguard juga di sekitarnya. Aku akan kabari kau lagi nanti,” balas Evangeline.
Dia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tak lama kemudian, lift tiba di lantai lima di mana ruangan Evangeline selama tugasnya berada.
Dia bukan pegawai magang, hanya saja tugas observasi mengharuskan dia berada di sana seharian dan itu membutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan.
Sehingga dia pun mau tak mau harus ikut bekerja sebagai mahasiswa magang dan melakukan tugas yang diberikan, seperti hal yang pegawai magang lainnya.
Gadis itu lebih dulu pergi ke ruangan ketua tim, dan melaporkan kehadirannya.
“Kau sudah datang rupanya. Pagi ini kita ada agenda rapat bulanan. Jadi, bersiaplah dan ikut dengan kami. Kau bisa memperkenalkan diri mu setelah itu,” ucap ketua tim.
“Maaf, Nona Honey. Tapi, apa yang perlu saya persiapkan untuk rapat ini?” tanya Evangeline canggung.
“Kau cukup duduk dan perhatikan dulu. Catat apa saja yang menurutmu penting dan saat rapat koordinasi internal, jika kau punya usulan silahkan kemukakan. Anggap ini sebagai pelajaran untuk mu juga,” jelas Nona Boney, sang ketua tim.
“Baiklah. Kalau begitu saya kembali ke meja terlebih dulu,” ucap Evangeline.
Nona Boney hanya mengangguk dengan senyum simpul.
Setelah pamit, Evangeline lalu keluar dari ruangan dan berjalan ke arah bilik-bilik kecil, di mana meja kerjanya berada.
Dia mencoba ramah dengan semua orang, meski mereka nampak mengabaikannya. Dia hanya perlu terus berjalan hingga tiba di mejanya.
Evangeline melihat meja itu masih kosong, dan terdapat beberapa debu tersisa di atasnya.
Dia pun mengambil tisu dari dalam tas kemudian mengelap, lalu mengeluarkan alat tulis yang dibawanya, kemudian menyimpan di dalam laci.
Dia melihat sebuah kalender meja kecil dengan logo perusahaan. Sepertinya semua meja karyawan memiliki kosong hari ini.
Evangeline pun melingkari tanggal hari ini dengan kata “start”. Dia kemudian mengambil sebuah buku agenda dan menuliskan sesuatu di sana.
Hari pertama,
Damian ---> Ketua klub ----> Merciful ---> Lucifer ---> Ardiaz?
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih