They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Pertempuran


__ADS_3

Di sebuah pondok tua di perbukitan utara Kota Wisteria, Ardiaz dan Aaron masih berdebat.


Meski sudah mulai goyah, akan tetapi sang kakak masih belum bisa menerima apa yang dituturkan oleh adiknya itu.


“Apa kau yakin semua ini benar? Apa kau yakin mereka tidak sedang mempermainkanmu? Perusahaan Danurendra yang kau lihat telah diakuisisi oleh Hera group, apa kau tahu siapa nama orang yang ditulis Tuan Hemachandra sebagai pemiliknya? Apa Kakak menyelidiki semuanya sampai sana, hah?” tanya Ardiaz.


Aaron diam. Dia kembali bungkam dengan semua yang diucapkan oleh sang adik. Dia merasa bahwa Ardiaz lebih tau semua ini dibandingkan dirinya.


“Apa itu penting?” tanya Aaron mencoba tetap teguh pada pendapatnya.


“Saat pengacara Martin sudah ditemukan, semua akan jelas. Sebelum itu, sebaiknya kau berhenti sampai sini saja, Kak. Tolong percaya padaku,” sahut Ardiaz.


“Tidak. Aku sudah terlanjur melangkah. Aku harus menyelesaikannya sampai akhir,” ucap Aaron.


“Kak, sadar lah! Kau itu hanya dijadikan boneka oleh mereka. Mereka ingin menghancurkan Hemachandra melalui tanganmu. Yang kau cari tahu hanya apa yang mereka ingin Kakak tau. Pernahkah Kakak menyelidikinya hingga tuntas?”


“Endingnya sudah jelas terlihat. sekalipun kau mencapai tujuan mereka, Kakak pun akan disingkirkan juga. Apa Kakak sadar itu? Dan aku yakin bukan hanya Kakak, tapi semua yang terlibat oleh Kakak, termasuk kekasih Kakak itu, Morita,” ungkap Ardiaz.


Aaron menggeleng tak percaya. Dia bahkan merasa lututnya lemas setelah mendengar prediksi adiknya.


“Kak, ini bukan hanya tentang dirimu, tapi semua orang yang kau sayangi. Berhentilah dan mulai lagi dari awal. Aku yakin masih ada jalan untuk putar balik. Aku mohon demi anak di perut kekasihmu,” bujuk Ardiaz.


Aaron membeku saat sang adik mengungkapkan fakta mengejutkan itu.


“A... anak?” tanya Aaron.


“Yah, anak. Morita saat ini sedang hamil anakmu. Kau sendiri bahkan tak tahu kan kalau sudah ada janin di perutnya. Aku mohon menyerahlah. Setidaknya demi mereka berdua,” timpal Ardiaz.


Aaron bingung. Dia bak orang linglung dan berjalan menjauh dari ranjang pasien itu. Pria tersebut mengusap kasar wajah dan menjambak rambutnya.


“Tidak mungkin. Ini pasti hanya akal-akalan mu saja kan, agar aku mau menghentikan semua ini?” elak Aaron.


“Kalau kau ingin tahu kebenarannya, pulanglah dan tanyakan pada kekasihmu itu. Aku yakin dia punya alasan kenapa dia belum mau memberitahukanmu,” jawab Ardiaz.


“Lalu... lalu bagaimana kau bisa tahu?” tanya Aaron.


“Aku punya caraku sendiri untuk mengetahui apa yang ingin ku ketahui, Kak. Termasuk fakta tentang perusahaan Danurendra,” jawab Ardiaz.


Aaron semakin bimbang dengan tindakannya. Dia ingin pergi menemui Morita, akan tetapi seseorang tiba-tiba masuk dan mengejutkan kedua kakak beradik itu.


“Kenapa kalian terlalu banyak omong kosong? Merepotkan saja,” ucap seorang pria yang tadi menodong Ardiaz dengan senjata api.

__ADS_1


“Bukankah ku perintahkan kalian untuk tunggu di luar? Kenapa masuk seenaknya saja?” tanya Aaron.


“Ketua berpesan, kalau kau tidak becus menyelesaikan masalah ini, maka aku boleh membunuh semuanya,” sahut si pria.


Dia pun mengangkat senjata dan langsung menembak ke arah Ardiaz. Melihat sang adik dalam bahaya, Aaron pun berlari dan melompat di depan Ardiaz.


DOR!


Sebuah peluru melesat mengenai perut Aaron.


“DELTA, SERANG!” pekik Ardiaz


Tiba-tiba saja, pria yang sejak tadi berbaring di atas brangkar pun bangun, dan menembakkan senjata ke arah pria tadi tepat di kepala.


Namun, karena suara gaduh itu, semua pengawal yang ada di luar menyerbu masuk dan baku tembak pun tak bisa dihindari.


Pria yang dipanggil Delta tadi bangun dan menghampiri Ardiaz. Dia membuka ikatan tangan rekannya tersebut dan memberinya senjata.


Fokus Ardiaz terpecah melihat sang kakak yang ternyata harus terluka karena kejadian ini dan pertempuran. Dia mencoba memapah sang kakak agar bisa mengevakuasinya lebih dulu.


“Berikan suarnya padaku!” seru Ardiaz.


Delta pun melemparkannya penembak suar. Ardiaz segera berjalan cepat sambil memapah Aaron ke arah jendela kaca yang pecah dan menembakkan suar ke arah langit.


“Tapi bagaimana denganmu?” tanya Aaron khawatir.


“Khawatirkan dirimu sendiri saja. Kau hanya akan menghambatmu jika tetap berada di sini. Pergilah,” sahut Ardiaz.


Aaron pun mengangguk meski rasa sakit di perutnya terasa menyiksanya. Dengan sisa tenaga, dia berusaha untuk menjauh dari sana karena tak mau menjadi penghambat gerakan sang adik.


Sementara itu di dalam pondok, pria berwajah Hemachandra itu masih terus menembaki pengawal Aaron yang berdatangan.


Setelah mengantarkan sang kakak keluar, Ardiaz kembali bergabung dalam pertarungan.


“Hei, Bung. Apa sudah boleh ku lepas benda ini?” tanya pria berwajah Hemachandra yang dipanggil Delta itu.


“Lepaskan saja. Kita sudah tak membutuhkannya lagi,” sahut Ardiaz.


Pria itu pun mulai meraih sesuatu dari lehernya dan menariknya ke atas. Saat itulah semua orang tau bahwa wajah itu hanyalah topeng yang dipakai seseorang untuk mengelabui Aaron.


“Bantuan sebentar lagi datang. Sebaiknya kita cepat cari jalan keluar masing-masing,” seru Ardiaz.

__ADS_1


“Baiklah. Mari berpencar,” sahut rekan Ardiaz.


Mereka pun saling berpencar mencari jalur pelarian diri masing-masing. Ardiaz mundur ke belakang, mengamankan jalur pelarian sang kakak, sementara rekannya lari ke sisi lainnya dan masuk ke dalam hutan.


Sementara itu di dalam pondok, pria bermantel yang sebelumnya menyambut kedatangan Ardiaz, tampak diam melihat tamu-tamunya kabur diburu ratusan peluru.


Dia terlihat melakukan panggilan keluar, sambil terus melihat rencananya yang telah gagal.


“Orang itu sudah tak berguna lagi. Rencana gagal,” lapornya.


“Bereskan semuanya,” sahut suara di seberang.


...❄❄❄❄❄...


Di sisi hutan lainnya, terlihat seorang pria yang berlari dengan tertatih sambil memegangi perutnya yang terluka. Dialah Aaron yang berusaha kabur dari tempat pertemuannya dengan sang adik.


Darah banyak keluar dari luka tembak yang ia derita. Wajahnya semakin pucat dengan keringat dingin yang mengucur semakin banyak.


Pandangannya bahkan mulai kabur. Dia pun terus mencoba berjalan dengan berpegang pada pepohonan yang ia lalui.


Namun sepertinya, Aaron telah sampai pada batasnya. Dia semakin lemas karena kehabisan banyak darah. Akhirnya, dia pun tumbang dan tak bisa bergerak lagi saat dia telah mencapai jalanan utama di tepi hutan.


Tepat saat itu, sebuah mobil terlihat melewati jalur tersebut, dan melihat sesosok tubuh terbaring di tepi jalan, tertelungkup dengan sebagian tubuhnya yang masih berada di sisi hutan.


Mobil tersebut pun berhenti. Seseorang keluar dari sana dan melihat kondisi pria malang itu. Dia meraih rahang Aaron dan menempelkan jarinya pada pembuluh di leher.


“Dia masih hidup,” ucapnya.


Satu orang lagi terlihat keluar dari mobil dan ikut melihat kondisi Aaron.


“Benar-benar mengenaskan nasibnya. Cepatlah kita bawa dia masuk dan bereskan tempat itu,” serunya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2