They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Menghilang


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, Evangeline terlihat telah bersiap di kamarnya untuk pergi ke town square. Dia terlebih dulu menunggu Ardiaz pergi ke perusahaan.


Dia tak mau suaminya itu curiga saat melihat dia yang membawa tas ransel yang cukup besar.


Dia berencana bertemu Aaron dan meminta agar pria itu membawanya pergi, agar bisa sembunyi dari Ardiaz. Sehingga Evangeline menyiapkan beberapa potong pakaian untuk ia bawa dalam pelariannya.


Seperti biasa, Ardiaz akan meminta tiga hingga empat orang untuk mengikuti kemana pun Evangeline pergi. Bahkan saat di rumah pun, selalu ada pengawal di setiap sudutnya.


Itulah kenapa sangat sulit menerima kabar dari luar, dan beruntung karena seorang maid tak dikenal, dia bisa berkomunikasi dengan Aaron lagi setelah sekian lama.


Kini, dia melihat dari balkon kamarnya bahwa Ardiaz telah pergi. Gadis itu pun bersiap untuk keluar dan menuju ke mobil yang akan dia gunakan.


“Nona, apa perlu saya juga pergi untuk menemani Anda?” tawar Delvin.


“Tidak perlu. Apa tidak cukup pengawal-pengawal itu yang mengikutiku? Apa harus kau juga ikut mengawasiku, Tuan Delvin?” sahut Evangeline dingin.


Dia sudah tak percaya lagi pada siapapun di rumah itu, karena mereka justru berpihak pada Ardiaz, orang yang sudah mencelakai ayahnya.


Gadis itu pun lalu berjalan melewati Delvin begitu saja.


“Tunggu sebentar, Nona,” seru Delvin yang membuat Evangeline seketika berhenti.


Pria paruh baya itu kemudian berjalan ke belakang sang nona.


“Tas Anda sedikit terbuka. Biarkan saya membetulkannya,” ucap Delvin.


Evangeline diam dan tak menyahuti.


“Selesai,” lanjut Delvin.


Gadis itu pun seketika berjalan keluar dan tak lagi berkata apapun pada sang kepala pelayan.


Dia menuju ke mobilnya, di mana seorang supir telah menunggunya dengan pintu belakang mobil yang sudah terbuka.


“Silakan, Nona,” seru sang supir.


Evangeline pun langsung masuk dan meminta mobil untuk segera melaju. Di belakangnya, ada sebuah mobil lain yang berisi sekitar tiga orang pengawal.


Mereka beriringan pergi ke town square, tempat di mana sang nona ingin tuju untuk pertama kali semenjak peristiwa itu.

__ADS_1


Gadis itu nampak sedikit gugup karena pasti perlu melakukan trik, agar bisa lepas dari pantauan anak buah Ardiaz.


Dia terlihat beberapa kali meremas jemarinya sendiri, sambil mencukil kukunya hingga terkelupas.


Evangeline pun berkali-kali melihat keluar jendela sambil menghela nafas panjang, tanda bahwa dia sedang gugup saat ini.


Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk tiba di town square.


Nampak banyak orang yang mengunjungi tempat tersebut, karena hari ini adalah akhir pekan, saat di mana sebagian banyak orang menikmati hari libur mereka.


Mobil pun terpaksa harus parkir lebih jauh karena hampir semua tempat parkir telah penuh. Evangeline melihat ke kanan dan kiri. Begitu banyak orang di sekitarnya.


Dia meremas tali ranselnya beberapa kali sebelum akhirnya turun dari mobil.


Dia bingung harus pergi kemana terlebih dahulu, ditambah tak ada tempat pasti dia akan bertemu dengan Aaron.


Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk pergi ke air mancur yang berada di pusat town square. Dia berjalan terlebih dulu dan diikuti oleh ketiga pengawalnya.


Evangeline berusaha terlihat biasa, akan tetapi rasa gugup tak bisa ia sembunyikan begitu saja.


Hingga tiba-tiba, seorang wanita pejalan kaki menabraknya dan membuat tas wanita itu terjatuh.


Sementara si gadis cantik itu membeku sesaat, setelah mendapatkan pesan misterius dari si wanita.


Evangeline sampai harus berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya, dan kembali berjalan. Saat melewati sebuah kedai, dia berbelok dan masuk ke dalam.


Bukan karena dia ingin makan sesuatu, akan tetapi dia ingin meminjam toilet.


“Kalian tunggu di sini saja. Aku hanya akan ke toilet sebentar,” seru Evangeline kepada salah satu pengawalnya.


“Baik, Nona,” sahut sang pengawal.


Gadis itu pun berjalan ke dalam dan seger masuk ke salah satu bilik toilet yang ada di sana. Dia mengunci pintunya dan memastikan tak ada yang akan melihat apa yang dilakukannya.


Evangeline terlihat duduk di atas dudukan toilet, sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdebar kencang seperti seorang pencuri yang takut ketahuan.


Dia memang takut Ardias atau anak buahnya menyadari tujuannya pergi ke sini. Dia tak ingin rencananya bertemu Aaron dan meminta bantuan pria itu menjadi gagal.


Setelah menormalkan nafasnya, barulah Evangeline mengambil note itu dari saku jaketnya. Ada sebuah pesan tertulis di sana, yang menuntun kemana Evangeline harus pergi setelah ini.

__ADS_1


Setelah membacanya, gadis itu memasukkan kertas tersebut ke dalam toilet dan menyiramnya hingga menghilang.


Evangeline lalu berdiri dan memegangi tali ranselnya, seraya mengambil nafas dalam sebelum akhirnya melangkah kembali keluar.


Dia melewati para pengawalnya begitu saja dan pergi ke tempat berikutnya. Kali ini, dia dengan yakin pergi ke tempat tersebut dan tak peduli lagi dengan pengawasan anak buah Ardiaz. Dia yakin saat bertemu Aaron nanti, dia bisa dengan mudah melepaskan diri dari pengawal-pengawal itu.


Evangeline berjalan menuju ke salah satu sisi town square di mana biasa terdapat banyak seniman jalanan mempertontonkan kebolehan mereka.


Gadis itu terlihat memperhatikan satu persatu seniman jalanan itu, hingga akhirnya dia berhenti saat melihat seorang pesulap dengan mengenakan pakaian ala vampir lengkap dengan gigi taringnya.


Dia maju ke depan dan memperhatikan orang tersebut. Dia nampak memainkan beberapa trik yang mengundang tepuk tangan para pengunjung town square.


Tiba-tiba, sang pesulap menghampiri Evangeline sambil membawa setangkai bunga mawar. Para pengawal hendak maju, namun Evangeline langsung mencegah tindakan mereka dengan tatapan tajam mata hitamnya, yang membuat para pengawal itu mundur kembali ke posisi mereka masing-masing.


Pesulap itu pun kembali maju dan menyerahkan bunga mawar itu kepada Evangeline. Gadis itu dengan senang hati menerimanya.


Tak sampai di situ, si pesulap mengulurkan tangan, seolah meminta Evangeline maju untuk menemaninya melakukan pertunjukan.


Lagi-lagi, gadis itu menerimanya begitu saja dan maju ke depan.


Dan tiba-tiba, bom asap keluar dari lubang pembuangan yang berada tepat di bawah kaki Evangeline, membuat sekelilingnya menjadi tak terlihat.


Para pengawal yang melihat itu pun panik dan segera menyerbu ke dalam kabut asap itu. Namun, Evangeline dan si pesulap sudah tak ada di sana. Mereka hilang seolah tertelan bumi.


Salah satunya segera memberitahukan kondisi ini kepada Ardiaz, yang saat itu sedang berada di perusahaan.


“Nona menghilang di kerumunan,” lapor salah satu pengawal.


“Bersiaplah untuk perburuan,” sahut Ardiaz dari seberang.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2