
Di sebuah kamar, seorang gadis terlihat tengah duduk di lantai yang beralaskan karpet berbulu tebal. Dia duduk meringkuk di bawah sambil memeluk lututnya sendiri.
Tatapannya kosong menerawang ke depan. Entah sudah berapa lama dia seperti itu.
Sejak kepulangannya semalam, Evangeline terus mengurung diri di dalam kamarnya, tanpa mau diganggu oleh orang lain.
Delvin yang melihatnya pun menjadi khawatir, ditambah Ardiaz yang masih belum mau diganggu dengan urusan Evangeline.
Pria muda itu hanya berpesan cukup pastikan istrinya aman, dan jangan ganggu dia sementara waktu.
Dini hari lalu, sebuah taksi masuk ke dalam pelataran mansion besar Hemachandra, mengantarkan Evangeline pulang.
Sebelum pergi, Ardiaz berpesan kepada Delvin untuk menunggu sang istri pulang. Dia yakin bahwa Evangeline pasti akan pulang malam itu juga, dan ternyata baner. Gadis itu pulang, akan tetapi dia kembali dalam kondisi syok berat.
Dia berjalan bak seorang zombi dengan raga utuh, akan tetapi tak ada jiwa di dalamnya. Bahkan sepatah katapun belum keluar dari mulutnya sejak semalam.
Pukulan berat yang dia dapatkan benar-benar memporak-porandakan hati dan jiwanya, membuat gadis itu memilih menjauhkan diri dari dunia luar.
Rekaman itu masih berputar di atas kepalanya. Setiap adegan demi adegan, bahkan kata-kata yang keluar dari mulut kedua pria kakak beradik itu pun masih ia ingat dengan baner. Meski wajah Ardiaz tak nampak di layar, akan tetapi suaranya ia ingat dengan baik.
Rekaman terhenti saat adegan baku tembak terjadi dan kamera seperti membentur sesuatu, yang membuat transmisi terputus seketika.
...❄❄❄❄❄...
Di rumah sakit, Ardiaz menunggu sang kakak di luar ruang operasi semalaman seorang diri. Kini setelah melewati belasan jam bertahan hidup di atas meja operasi, Aaron telah dipindahkan ke ruang ICU.
Sang kakak mengalami koma karena kehabisan banyak darah yang menurunkan kesadaran dan kinerja otaknya selama beberapa saat.
Lukanya berhasil di operasi, akan tetapi kondisinya saat ini sulit diprediksi kapan akan membaik.
Pria yang kini harus berjalan menggunakan tongkat kruk itu pun dengan setia menemani sang kakak. Meski dia pun saat ini seorang pasien, akan tetapi Ardiaz tetap memaksakan diri untuk menjaga kakaknya.
Dia belum memberitahukan siapapun, bahkan kepada Morita tentang kondisi sang kakak.
__ADS_1
Dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien Aaron. Pria dewasa berperawakan tinggi tegap, gagah dan juga cakap itu, kini terbaring tak sadarkan diri entah sampai kapan.
Luka di perutnya cukup parah. Beberapa organnya harus diambil karena sudah rusak. Peluru yang mengenainya berhasil mengoyak perut Aaron hingga pria itu mengalami pendarahan yang sangat serius.
Beruntung, rekan Ardiaz cepat menemukannya yang tergeletak tak sadarkan diri di tepi jalan utama hutan. Saat itu, mereka hendak menuju ke pondok, akan tetapi memutuskan untuk putar balik dan membawa Aaron ke rumah sakit agar segera diselamatkan.
Sementara urusan pondok, diserahkan kepada tim sapu bersih. Tugas mereka adalah mengalahkan semua musuh dan menginterogasi mereka semua, demi mendapatkan informasi sekecil apapun.
Namun pagi itu, Ardiaz mendapat kabar yang mengatakan bahwa pondok sudah musnah saat tim tiba di sana. Tak ada lagi yang tersisa, bahkan mayat orang-orang itu pun sudah lenyap.
Meski sudah menyisir semua kawasan, tetap tak bisa menemukan apapun di tempat tersebut.
Seseorang kembali menghilangkan jejak, sebelum Ardiaz mampu mendapatkan petunjuk.
Melihat kenyataan ini, Ardiaz nampak menunduk dan menghela nafas berat beberapa kali. Setiap kali hampir mendapatkan petunjuk, dia lagi-lagi harus kehilangan petunjuk itu.
Ditambah saat ini, sang kakak yang sedang dalam kondisi antara hidup dan mati, membuatnya semakin kesal dengan keadaan.
Wajahnya masih tertunduk. Matanya terpejam, seolah menghalau rasa pedih yang tiba-tiba menyergap hatinya.
...❄❄❄❄❄...
Di tempat lain, tepatnya di Pedesaan Ginko, di sebuah rumah bergaya minimalis tanpa pagar dan dihiasi berbagai macam bunga liar, terlihat seroang wanita tengah berdiri di teras sambil beberapa kali mondar-mandir ke sana kemari.
Kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya. Jemarinya pun bahkan tak luput dari gigitan giginya.
Dia bertanya-tanya tentang nasib kekasihnya yang hingga kini bahkan belum juga memberinya kabar.
Dia hanya ingat, kemarin siang dia pamit pergi untuk bertemu dengan gadis yang selama ini menaruh hati padanya. Putri dari pria yang dia anggap sebagai pembunuh keluarganya.
Yah, wanita itu tak lain adalah Morita. Dia terlihat khawatir dengan nasib Aaron yang belum jelas.
Semalam, saat menjelang tengah malam, tiba-tiba serombongan orang-orang berbaju hitam datang dan mengepung rumah kecilnya. Pertarungan bahkan sempat terjadi antara penjaga yang ditinggalkan Aaron dengan orang-orang asing itu.
__ADS_1
Morita sembunyi di dalam gudang jerami belakang bersama beberapa pelayan rumah tersebut.
Namun, pertarungan tak berlangsung lama, dan beberapa orang asing itu menyerbu masuk ke dalam gudang, membuat semua wanita di dalam sana berteriak histeris.
Salah satu di antaranya mengatakan bahwa mereka diutus oleh Ardiaz, untuk memastikan keamanan Morita.
Wanita itu sempat menolak dan tak mau dijaga oleh orang-orang Ardiaz. Dia menganggap bahwa ini sama saja dia sedang disekap oleh adik dari kekasihnya.
Namun, orang-orang itu tetap meminta Morita untuk kembali ke rumah utama dan tak melakukan apapun lagi setelahnya. Semua orang suruhan Ardiaz hanya berjaga di sekitar rumah tersebut tanpa mengganggu penghuninya.
Berkali-kali Morita mencoba menghubungi Aaron, akan tetapi pria itu seolah menghilang tanpa jejak.
Saat dia bertanya pada salah satu anak buah Ardiaz, mereka pun bungkam dan tak mau memberitahukan informasi apapun mengenai kejadian di pondok semalam.
Morita kini hanya bisa menunggu tanpa kepastian, dalam kekhawatiran yang terus menyerang hatinya.
Dia terlihat menunduk. Tatapannya lurus tertuju pada perutnya yang masih rata. Dia mengusap lembut bagian tubuhnya itu dengan mata terpejam.
Dia bahkan belum tau tentang kamu, batinnya.
Setitik air mata bahkan luruh begitu saja di wajah mulus wanita itu, memikirkan tentang nasib sang kekasih.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1