They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Charlie


__ADS_3

Keesokan harinya, Ardiaz yang berhasil dibujuk oleh Evangeline, akhirnya kembali harus berada di rumah sakit. Dia sudah tak perlu menggunakan tongkat kruk.


Seperti perkataan dari Evangeline sebelumnya, kini semua urusan Hera group dipegang sepenuhnya oleh gadis itu.


Sesuai arahan Ardiaz, Sonia pun melaporkan semuanya kepada sang istri.


Pria itu kini kembali ke kesibukan yang sebelumnya, yaitu mengatur semua pengawal dan memastikan keamanan semua orang.


Dia memilih untuk terus berada di rumah sakit. Alih-alih pemulihan, dia justru terus bolak balik memantau kondisi kedua pria yang masih terbaring koma.


Meski semua telah diambil alih oleh istrinya, namun pria tersebut tetap meminta untuk menyudahi perawatannya.


“Bukankah sudah ada istrimu yang mengurus semuanya?” tanya Malcolm, saat pasiennya itu mendatangi ruangannya.


“Apa kau kira hanya dengan meminta dia membujuk ku, lalu aku akan diam dan menurut saja? Kau lupa siapa aku, hah? Aku ini kepala pengawal Hemachandra. Aku bertaggung jawab atas semuanya. Kalau aku terus menjadi pasien, apa bedanya dengan pensiun dini,” ucap Ardiaz.


Malcolm terlihat menyandarkan punggungnya sembari menghela nafas panjang. Dia memutar-mutar bolpoin yang dipegangnya tadi, sambil terus menatap lurus ke arah Ardiaz.


“Benar. Aku lupa kalau kau tetap seorang Ardiaz. Ku kira bisa membuat mu sedikit menurut dengan memanfaatkan istrimu, yang juga keras kepala itu. Tapi ternyata...,” sahut Malcolm.


“Maka dari itu, harusnya sejak awal kau tak melibatkan dia. Sekarang kau membuat gadis itu selalu mencampuri urusanku. Benar-benar membuat pusing,” sela Ardiaz.


“Tapi kurasa, hubungan kalian bisa berkembang, terlebih lagi sekarang dia sudah tau siapa Aaron sebenarnya,” ucap Malcolm.


Ardiaz terlihat diam. Hanya ada senyum samar yang terasa getir dari bibirnya.


Aku bahkan bertaruh dengannya dan setuju untuk bercerai, batin Ardiaz.


...❄❄❄❄❄...


Sudah hampir sebulan, Evangeline yang baru genap berusia sembilan belas tahun, harus belajar keras demi menjalankan bisnis ayahnya yang memang sejak awal sudah diwariskan padanya.


Meski kemampuan manajemen perusahaan gadis tersebut masih belum semahir Hemachandra maupun Aaron, akan tetapi dengan bantuan Delvin, Sonia dan juga beberapa staf senior lainnya, dia pun sedikit demi sedikit mulai bisa menguasai hal tersebut.


Semua itu ia kerjakan bukan semata karena taruhannya dengan Ardiaz, melainkan demi sang ayah yang sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari komanya.


Setiap malam seusai dari kantor, Evangeline selalu kembali ke rumah sakit untuk menemani sang ayah.


Meski Delvin berkali-kali mencoba membujuknya untuk istirahat di mansion besar, akan tetapi gadis tersebut terus saja menolak.


Bahkan saat Delvin meminta tolong pada Ardiaz untuk membujuk nonanya, sang kepala pengawal justru menolak langsung dan mengatakan biarkan sesukanya saja.


Malam ini, Ardiaz tak ada di rumah sakit. Pria itu pergi menemui seseorang dan mempercayakan semua kepada anak buahnya.

__ADS_1


Di ruang ICU tempat Aaron dirawat, Morita terlihat bolak balik ke kamar mandi. Kehamilannya yang masih sangat muda, membuat dirinya tersiksa dengan segala gejala yang ada.


Tidak hanya di pagi hari, bahkan malam pun dia akan muntah. Hidungnya sensitif dengan cairan disinfektan, akan tetapi dia justru harus terus berada di ruangan yang penuh dengan aroma tersebut.


Dia tidak mau jauh dari Aaron barang sebentar saja, dan membiarkan dirinya semakin lemah setiap harinya.


Meski menderita, akan tetapi dia terus mencoba terlihat tegar, sekalipun di depan Aaron yang masih belum mau membuka matanya.


Dia yakin suatu hari kekasihnya pasti akan bangun dan kembali padanya. Meski begitu, perkataan Ardiaz beberapa hari lalu, terus membuat Morita ingin menangis.


Di satu sisi, Morita sangat ingin Aaron bangun, namun saat dia bangun nanti, hukuman justru telah menunggunya.


“Sayang, aku harus bagaimana?” gumam Morita.


Dia duduk di samping Aaron, dan selalu menggenggam tangan prianya itu sepanjang waktu.


...❄❄❄❄❄...


Di suatu tempat, tepatnya di sebuah toko kecil yang berada di jalanan sempit di tepi Kota Magnolia, sebuah kota industri dengan tingkat pencemaran yang sangat tinggi, terlihat dua orang pria tengah bertemu.


“Ini anting yang waktu itu kau minta ku perbaiki. Dan ini, kalung yang kau minta ku buat. Di dalamnya ada sensor panas, tekanan udara, dan juga pendeteksi detak jantung. pemancar sinyal juga ada," ucap si pemilik toko.


Dia memberikan kedua benda tadi kepada si pemesanan dalam kondisi kotak beludru yang terbuka.


"Apa ni untuk istrimu? Apa benar yang dikatakan Betha, bahwa hubungan kalian mulai berkembang, hah?” tanya si penjual benda-benda unik, Jordan atau yang lebih dikenal sebagai Charlie.


“Jangan selalu percaya dengan apa yang dia katakan. Dia itu seorang dokter yang selalu ingin mengatur pasiennya. Dia mengira bisa mengatur ku lewat gadis itu,” sahut Ardiaz.


Pria itu terlihat mengambil kalungnya, dan melihat dengan detil benda cantik tersebut.


“Hahaha... Tapi aku berharap perkataan Betha menjadi kenyataan,” timpal Jordan.


“Ck! Jangan banyak omong kosong lagi. Katakan, apa kau sudah menemukan jejak orang-orang itu?” tanya Ardiaz.


“Kota Orchid,” jawabnya singkat.


“Apa kau yakin?” tanya Ardiaz memastikan.


“Jaringan bawah tanahnya benar-benar luas. Pasti banyak informasi di sana. Aku akan pergi ke tempat itu dan mulai mencari tahu,” ucap Jordan.


“Aku ikut denganmu. Kapan kita mulai?” sahut Ardiaz cepat.


“Apa kau yakin? Lalu tugas mu di sini? Kakakmu?” tanya Jordan.

__ADS_1


“Sesuai keputusan awal. Bukankah itu tujuanku memintamu membuat kalung ini? Kakakku sudah ada kekasihnya yang menjaga. Jikapun dia bangun, dia hanya akan berakhir di penjara atau kembali ke neraka. Untuk tugasku...,” jawab Ardiaz.


Pria itu tak melanjutkan kata-katanya dan mengambang begitu saja di udara. Dia hanya menatap lurus ke arah kalung yang ia pesan dari Jordan sebelumnya.


Bukankah sudah diputuskan, kalau semuanya akan berakhir dengan segera. Untuk apa menunggu hingga benar-benar berakhir, batin Ardiaz.


Kedua pria itu saat ini tengah melakukan transaksi. Jordan tak pernah mau melakukan bisnis dengan menggunakan perantara. Dia hanya mau transaksi langsung dengan pelanggannya dan di tempat yang ia setujui.


Bukan tanpa alasan, ini adalah bentuk pertahanan dirinya, dengan mengenali bagaimana perangai dari pelanggan tersebut.


Bukan sekali dua kali dia harus berpindah tempat, karena bertemu dengan pelanggan yang curang karena menggunakan perantara, dan justru mengincar nyawanya demi menghilangkan jejak kejahatan.


Entah ini sudah tempat ke berapa, bahkan nama Jordan pun tak ada yang tau apakah memang benar identitasnya atau bukan.


Namun, hanya Ardiaz yang selalu bisa menghubunginya dimana pun dia bersembunyi.


Ini adalah bentuk balas budi pria yang memilik Code name Charlie itu, karena dimasa lalu, Ardiaz sempat menolongnya saat hampir dihabisi oleh orang-orang jahat.


Mereka tak lain ingin menghilangkan jejak, saat Ardiaz mencoba mencari tahu siapa orang yang berusaha menghasudnya dengan informasi palsu, tentang hubungan ayahnya dan juga Hemachandra.


Jordan lah yang saat itu menjadi penyedia barang bukti palsu, dan ketika tau Ardiaz telah mengendus masalah tersebut, orang-orang itu mengincar Jordan demi menghilangkan jejak.


Beruntung Ardiaz datang lebih cepat dan berhasil melindungi si pedagang itu, meski dia sendiri berujung sekarat di rumah sakit.


Saat mengantarkan Ardiaz ke rumah sakit, di sanalah Jordan pertama kali bertemu dengan Malcolm, yang kini juga menjadi temannya.


Sejak saat itu, Jordan dan Ardiaz selalu terhubung, berkat ponsel bergaya lama yang sengaja dimodifikasi khusus untuk Ardiaz, agar mereka berdua bisa terus terhubung tanpa dapat dilacak dengan alat apapun.


Bahkan Malcolm dan Mac duff pun tak memiliki benda tersebut, dan hanya bisa menghubungi Jordan saat pria itu menghubunginya lebih dulu.


Jordan tak pernah menggunakan ponsel pintar dan selalu melakukan panggilan lewat telepon umum dengan lokasi acak.


Benar-benar praktisi dunia bawah yang penuh dengan kehati-hatian.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2