
Di sebuah rumah sakit, terlihat seorang pria berpakaian serba hitam dengan beberapa luka lebam di wajah serta pakaian yang robek di beberapa bagian, nampak berlarian ke ruang UGD.
“Di mana dia?” tanyanya cepat, kepada seorang perawat yang saat itu berada di pos jaga.
Namun, kedatangan pria tersebut yang tiba-tiba dengan kondisi seperti itu, membuatnya terpaku sesaat.
“Ehm... maaf, Tuan. Siapa yang Anda maksud?” tanya si perawat.
“Sebaiknya kau obati dulu lukamu,” seru seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya.
Pria terluka itu pun berbalik dan melihat seorang dokter tengah berdiri di depannya. Dia pun segera berjalan menghampiri dokter tersebut dan langsung mencengkeram kerah bajunya.
Beberapa perawat pria yang melihat pun hendak maju untuk membantu sang dokter, akan tetapi dokter tersebut memberi isyarat agak mereka tidak ikut campur.
“Di mana kakakku, Malcolm?” tanya pria yang tak lain adalah Ardiaz.
“Tenanglah. Dia sedang di operasi sekarang. Kau sebaiknya ikut aku,” ucap Dokter Malcolm.
Sang dokter pun menyingkirkan cengkeraman tangan Ardiaz darinya. Dia berbalik dan berjalan menjauh dari ruang gawat darurat.
Ardiaz pun hanya punya pilihan mengikuti Dokter Malcolm ke suatu tempat. Dia sudah bisa menebak kemana dokter itu akan membawanya.
Seperti sudah kebiasaan, Ardiaz akan datang ke rumah sakit dengan keadaan terluka. Pria muda itu bahkan tak mau ditangani oleh orang lain selain dokter itu, sehingga Malcolm pun selalu menyediakan peralatan darurat di ruangannya.
Kini, keduanya telah berada di ruangan sang dokter.
“Duduklah di sana,” tunjuk Malcolm ke sebuah kursi santai.
Ardiaz pun hanya mengikuti perintahnya.
Sang dokter mengambil peralatannya dari lemari stainless yang dilengkapi dengan blue light.
Dia lalu menghampiri Ardiaz yang telah melepaskan pakaiannya dan hanya mengenakan celananya saja.
“Buka saja semuanya. Kulihat kakimu juga terluka,” seru Dokter Malcolm.
“Ck! Dasar maniak,” sahut Ardiaz ketus.
“Haish! Anak ini benar-benar... Aku ini hanya ingin mengobati semua lukamu itu. Cepat buka,” seru Dokter Malcolm.
“Kau ingin aku kedinginan? obati dulu yang atas,” elak Ardiaz.
__ADS_1
“Ya baiklah. Terserah kau saja,” sahut Malcolm.
Sang dokter pun mulai membuka cairan antiseptik dan menuangkannya di atas luka Ardiaz. Pria itu terlihat merem*s kuat pinggiran kursi santai yang ia duduki karena rasanya benar-benar pedih.
Ada beberapa luka yang cukup besar di bagian lengan atas dan pundak. Butuh beberapa jahitan di sana sini. Bahkan yang terparah justru ada di kakinya.
Paha kirinya terkena tembakan dengan peluru yang masuk cukup dalam. Pergelangan kakinya pun mengalami sedikit dislokasi yang menyebabkan pembengkakan. Namun, dia masih bisa datang ke rumah sakit dengan langkah kaki yang begitu cepat dan tegap.
Meski ini bukan yang pertama kali, akan tetapi setiap terluka pasti terasa sakit, dan Ardiaz hanya manusia biasa yang akan menjerit saat sakit yang dirasakannya begitu luar biasa.
Walaupun dia selalu bersikap dingin dan menunjukkan wajah yang keras, akan tetapi di dalamnya menyimpan berjuta misteri yang hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang dekat dengannya.
Bahkan, Aaron yang adalah kakaknya pun tak mampu menebak isi hati sang adik.
Setelah semua luka diobati, Malcolm meminta Ardiaz untuk mengganti pakaiannya dengan baju pasien rumah sakit.
“Sebaiknya kau lepas anting di alismu itu. Bukankah itu sudah rusak?” seru Malcolm.
Ardiaz pun meraba alisnya. Dia ingat bahwa saat melarikan diri tadi, kepalanya sempat membentur sesuatu hingga pelipisnya memar dan berdarah.
“Satu hal lagi, tinggallah di sini untuk beberapa hari, setidaknya hingga lukamu kering,” tambah Malcolm.
“Aku sudah berjanji pada Delta untuk mentraktir kalian bertiga di tempat biasa lusa nanti. Kalau aku harus jadi pasien, mereka berdua pasti akan menertawakanku,” sahut Ardiaz.
“Kau memang layak mendapatkannya,” timpal Malcolm.
Dokter itu pun lalu pergi ke luar meninggalkan Ardiaz. Namun, baru sampai di ambang pintu, dia berhenti dengan kepala yang menoleh sekilas ke arah Ardiaz.
“Kakakmu di ruang operasi dua. Tunggulah di sana kalau kau mau. Tapi jangan lupa pakai tongkatmu. Ingat, sekarang kau adalah pasien dan aku dokternya. Menurutlah,” ucap sang dokter.
Malcolm pun kemudian keluar dan membiarkan Ardiaz sendiri.
Setelah selesai, pria muda itu benar-benar pergi keluar. Ardiaz meraih tongkat kruk yang sudah disediakan oleh Malcolm dan berjalan tertatih ke arah ruang operasi kakaknya.
Lampu di atas pintu masih menyala merah, pertanda operasi masih berlangsung. Tanpa siapapun di sana, Ardiax seorang diri duduk menunggu di luar, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Saat dia tengah menunggu dalam kekhawatiran yang begitu besar terhadap nasib sang kakak, sebuah dering ponsel mengalihkan fokusnya.
Ardiaz pun meraih benda pipih tersebut dari saku celananya. Dia segera menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan di telinga.
“Halo, Tuan. Nona sudah kembali dengan selamat,” ucap orang di seberang, yang tak lain adalah salah satu anak buah Ardiaz.
__ADS_1
“Tetap pastikan semuanya aman. Aku tidak akan pulang selama beberapa hari,” seru Ardiaz.
Panggilan pun dimatikan. Ardiaz kembali larut dalam kecemasannya terhadap nasib sang kakak.
...❄❄❄❄❄...
Sementara di tempat lain, beberapa jam yang lalu, Evangeline terlihat membeku di tempatnya, setelah apa yang dia saksikan dalam layar Macbook, yang tiba-tiba ada di depan pintu apartemen kecil itu.
Isaknya tertahan, akan tetapi air mata terus meluncur dari netra beningnya.
Untuk beberapa lama, dia masih betah diam dalam posisinya. Namun, tiba-tiba dia berdiri dan berjalan ke arah kamar.
Evangeline mulai memasukkan semua barang-barangnya kembali ke dalam tas, dan menggendong ranselnya.
Dia berjalan keluar dengan langkah lemas dan pandangan kosong. Dia benar-benar tak menyangka jika pria yang selama ini dia kira baik, rupanya adalah orang yang ada di balik semua kejadian yang menimpa keluarganya baru-baru ini.
Rupanya, tayangan siaran langsung yang dilihatnya di layar Macbook, adalah kejadian yang terjadi di pondok dimana kakak beradik Danurendra bertemu.
Bahkan perdebatan mereka pun didengar dengan jelas oleh Evangeline. Kenyataan ini membuat gadis cantik itu tak tau lagi harus percaya pada siapa. Semua orang seolah telah menyembunyikan hal penting darinya.
Orang yang dia kira malaikat, ternyata adalah penjahat sebenarnya. Justru yang dia kira bajingan, tak lain adalah orang yang berusaha melindunginya selama ini dengan caranya yang terkesan kasar.
Evangeline terus berjalan seorang diri di tengah malam, meninggalkan tempat tersebut. Dia mencoba berdiri di tepi jalan, mencari taksi untuk pulang. Dia tak tau harus kemana lagi selain kembali ke rumahnya.
Bahkan sang ibu asuh yang begitu ia percaya, rupanya menjalin hubungan di belakangnya dengan Aaron, pujaan hatinya yang selama ini bahkan selalu ia ceritakan pada Morita.
Dalam kegalauan yang teramat, Evangeline meninggalkan apartemen itu, tanpa tahu bahwa dia hampir celaka karena misi Aaron telah gagal.
Untung saja, Ardiaz si ahli taktik telah mengantisipasi semuanya, dan melumpuhkan orang-orang Aaron sebelum Ardiaz mulai beraksi di pondok, sehingga Evangeline bisa aman kembali ke rumah Hemachandra.
Bahkan supir taksi yang ditumpangi gadis itu pun, tak lain adalah salah satu anak buah Ardiaz yang menyamar, demi memastikan sang nona pulang dengan aman.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih