They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Kemarahan Evangeline


__ADS_3

“Eva, a... aku... aku minta maaf,” ucap Morita.


Wanita itu tak tega melihat gadis yang telah ia besarkan itu menangis di depannya. Sikap Evangeline yang terus berpura-pura tegar, justru membuat seorang Morita sedih. Dia tahu bahwa Evangeline sedang mencoba melukai dirinya lebih dalam lagi.


“Maaf? Apa permintaan maafku bisa membuat ayahku bangun? Apa hal itu bisa membuat hatiku yang hancur kembali lagi kembali lagi seperti semula? Katakan, apa bisa? Kalau bisa, aku akan memafkanmu dengan sangat mudah dan menganggap semuanya tak pernah terjadi. Apa bisa? Jawab!” cecar Evangeline.


Matanya melebar dan terlihat memerah. Lelehan bening bahkan telah membasahi wajah yang sejak tadi terus terlihat tegas itu.


Dia kemudian menghela nafas panjang dan mengusap semua lelehan itu dengan punggung tangannya. Dia mencoba menenangkan hatinya dan menghentikan tangisnya.


Evangeline nampak mendongak dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia merasa apa yang ingin disampaikan kepada Morita telah ia katakan.


Gadis itu pun berbalik dan hendak pergi. Namun saat telah sampai di ambang pintu, dia kembali berhenti dan menoleh sedikit ke samping.


“Nyonya, sekarang kalian tak punya jalan kabur lagi. Hidup kalian ada di tanganku. Jangan harap kalian bisa kabur dari genggamanku,” ucap Evangeline.


Gadis itu pun pergi dari sana, meninggalkan Morita seorang diri.


Sepertinya Evangeline, Morita tak bisa lagi bertahan. Dia luruh ke lantai dan nersimpuh di sana. Kakinya lemas setelah mendengar semua kata-kata anak asuhnya.


Rasa bersalah membuat dadanya sesak. Dia merutuki dirinya sendiri karena tak bisa jujur dari awal tentang semua ini, hingga membuat gadis itu hancur seperti sekarang.


Dia pun menangis seorang diri di sana, dengan satu tangan yang terus memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


“Maaf... maaf... maaf...,”


Hanya kata maaf yang terus keluar dari mulut Morita, seolah tengah merapalkan sebuah doa.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu di tempat lain, Ardiaz yang masih bersama dengan kedua temannya, mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya yang melaporkan apa yang terjadi antara Evangeline dan Morita di toilet rumah sakit.


Ardiaz nampak berdiri di dekat jendela yang mengarah ke lautan lepas di luar sana. Terpaan angin laut yang kencang, memainkan rambutnya yang sedikri panjang.


Dia memijit pangkal hidungnya, karena merasa pusing dengan masalah hati antara dua wanita itu.


“Baiklah. Kau awasi terus semuanya. Jika ada hal yang darurat, segera lakukan tindakan pencegahan tanpa menunggu perintah dariku,” seru Ardiaz.


“Baik, Tuan,” sahut suara di seberang.


Sambungan pun terputus. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, yang sejak tadi ia kenakan.

__ADS_1


Pria itu terlihat menatap lurus ke arah laut lepas, mendengarkan deburan ombak yang menghantam karang di bawah tebing.


“Kita akan berangkat tiga hari lagi,” ucap Jordan tiba-tiba.


Ardiaz hanya melirik sekilas ke arah sang teman. Sejak tadi, pedagang gelap itu memang sedang mencari informasi, dan menetukan waktu keberangkatan mereka ke Kota Orchid.


“Kalau kau memang berat untuk pergi, biarkan kami saja yang ke sana. Kau urus saja urusan keluargamu di sini,” ucap Mac Duff.


Pria itu meski terlihat nakal dan selalu menganggap semuanya hanya mainan sekalipun itu nyawa orang, namun dialah yang paling peka terhadap suasana hati orang di sekitarnya.


Itulah kenapa dia selalu bisa lari dari situasi genting, dengan mengandalkan serangan psikologis terhadap lawan dan menjadikan mereka lengah.


Hanya saja, cara dia berkata-kata sangatlah kasar dan selalu membuat orang emosi.


“Sejak awal, ini memang masalah keluargaku. Kita hanya kebetulan memiliki masalah dengan kelompok yang sama. Aku akan tetap pergi bagaiaman pun situasinya,” ucap Ardiaz.


“Yah, terserah kau saja,” ucap Mac Duff.


Keduanya diam. Mac Duff kembali dengan senjatanya, Jordan hanya melihat perdebatan kedua rekannya itu dan kembali sibuk dengan benda di tangannya.


Sementara Ardiaz, pria itu kembali fokus ke depan meski tak ada yang terlihat, kecuali air laut yang begitu banyak.


Namun tak lama kemudian, dia berbalik dan berjalan ke arah meja di depan Jordan. Dia meraih kunci mobilnya dan pergi keluar dari sana.


“Sudahlah. Biarkan saja dia mengurus masalahnya sendiri. Kita tetap pada rencana awal, sekalipun dia tidak ikut nantinya,” sahut Jordan.


Mac Duff hanya mengedikkan bahunya, mendengar tanggapan dari temannya itu.


...❄❄❄❄❄...


Di rumah sakit, Morita yang baru saja bertemu dengan Evangeline, nampak seperti orang lingkung. Dia berjalan dengan gontai dan pandangannya terlihat kosong, seolah sebuah raga yang tak bernyawa.


Dia bahkan enggan untuk masuk kembali ke dalam ruang rawat Aaron, dan membuat pria itu khawatir karena sang kekasih belum juga kembali.


Morita terlihat duduk di kursi yang ada di lorong lantai tersebut, sedikit jauh dari ruangan Aaron. Dia nampak menatap ke depan, dengan tatapan nanar.


Dari kejauhan, Aaron nampak keluar dari kamarnya dibantu oleh seorang pengawal yang mendorong kursi roda untuknya.


Aaron belum bisa berjalan sendiri, karena kondisi fisiknya yang belum pulih setelah bangun dari koma.


Pria itu khawatir dengan sang kekasih sehingga dia pun keluar dan mencari keberadaan Morita yang berkata hendak ke swalayan.

__ADS_1


Namun, saat dia akan menuju lift, dari kejauhan Aaron melihat seorang wanita yang mirip dengan kekasihnya duduk seorang diri di sana. Dia pun meminta pengawal yang membantunya untuk mempercepat langkah.


Saat sampai di samping Morita, Aaron memanggil wanita tersebut, akan tetapi dia tak menyahut sama sekali. Bahkan dia seolah tak sadar bahwa Aaron telah berada di sampingnya.


Pria itu pun semakin mendekat dan menepuk pundak Morita pelan. Reaksi wanita itu terlihat begitu terkejut dan langsung menoleh sambil memundurkan diri.


Jelas Morita bertingkah sangat aneh, namun saat melihat keberadaan Aaron di sana, dia seperti memaksakan senyum untuk muncul di bibirnya.


“Sayang, kenapa kau keluar?” tanya Morita langsung.


Morita terlihat menoleh ke kanan dan kiri, seolah ketakutan akan sesuatu. Aaron yang melihat pun menggenggam tangan wanita itu.


Aaron mengernyitkan keningnya, merasakan betapa dinginnya tangan yang biasa memberinya kehangatan itu.


“Sayang, hei... ada apa?” tanya Aaron cemas.


“Ehm... Tidak. Tidak ada apa-apa. Kenapa?” tanya Morita balik.


Aaron melihat ada yang sedang disembunyikan darinya. Jelas Morita nampak berbeda dari sebelum dia pergi beberapa saat yang lalu.


Pria itu pun menangkupkan kedua tangannya, dan menuntun pandangan sang kekasih agar menatap matanya secara langsung.


Namun, bola mata Morita tak bisa berbohong. Dia bahkan tak mampu menatap lurus ke dalam manik hitam Aaron.


“Sayang, kita sudah berjanji akan menanggung semuanya bersama bukan? Katakanlah, ada apa sebenarnya?” tanya Aaron dengan nada lembut namun menuntut.


Morita tak lantas menjawab. Namun, air matanya mewakili semuanya. Aliran bening itu kembali turun dan membuat Aaron semakin cemas.


“Kita harus bagaimana sekarang? Kita harus bagaimana?” ucap Morita di tengah isaknya.


Aaron tak tahu ada apa dengan kekasihnya, akan tetapi melihat reaksi Morita yang seperti ini, cukup membuatnya tahu bahwa ada sesuatu yang serius yang telah terjadi dengannya.


Dia pun membawa wanita tersebut ke dalam Pelukannya, dan mencoba menenangkan Morita yang sudah terisak pilu.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2