They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Gemetar ketakutan


__ADS_3

Disaat kedua orang itu membuat suasana terasa mencekam, Mac duff kembali menunjukkan beberapa bukti ke depan Ardiaz.


Dia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Nampak beberapa lembar potret yang menunjukkan sepasang pria dan wanita, tengah berada di tempat terbuka, yang dipenuhi dengan tumbuhan besar.


“Aku sengaja meminta seseorang untuk mengawasinya, setelah tahu gadis itu mencari informasi tentang kita. Sejak awal, aku memang tak terlalu suka padanya, terlebih karena dia tahu terlalu banyak rahasia kita bertiga.”


“Dari orang suruhan ku, aku mendapatkan ini semua. Ah, Satu lagi...,” jelas Mac duff.


Dia kemudian kembali mendekati Damian yang terus diam di tempat. Bos sky night itu menggeledah tubuh pemuda tersebut serta tas yang terus dibawanya kemana pun.


Saat menemukan apa yang dicarinya, Mac duff pun menyeringai sambil memukul kepala Damian dengan benda temuannya.


“Kali ini kau benar-benar tamat, bocah tengik,” bisik Mac duff.


Dia pun bangun dan berjalan ke arah Ardiaz. Melihat benda yang ditemukan oleh Mac duff dari tasnya, membuat Damian kehilangan keberanian.


Dia bergerak seolah tubuhnya benar-benar mengikuti instingnya sendiri, tanpa mendengarkan logika.


Dia merangkak mendekat ke arah Ardiaz, dan memegangi kaki sang King sambil memohon ampun.


“King, aku mohon maafkan aku. Aku mengaku salah. Jangan bunuh aku, ku mohon,” pinta Damian.


Ardiaz dan Mac duff saling tatap, karena baru kali ini dia melihat sikap pengecut yang ditunjukkan oleh seorang Damian.


Biasanya pemuda itu selalu punya seribu akal untuk bisa lepas dari kondisi yang merugikan dirinya.


Namun kali ini, Damian seolah tak memiliki keberanian sedikit pun, dan langsung menyerah kalah bahkan tanpa perlawanan.


Ardiaz lalu melihat benda yang diberikan oleh Mac duff padanya, yaitu potret yang sebelumnya diperlihatkan kepada Evangeline, yang membuat gadis itu semakin yakin bahwa suaminya masih hidup.


Tiba-tiba, Ardiaz mengangkat kakinya dan menendang Damian tepat di tulang dadanya, membuat pemuda itu terjungkal ke belakang.


Damian terbatuk sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Nafasnya tersengal karena paru-parunya terhantam dengan keras oleh tendangan Ardiaz.


King palsu itu berdiri dan berjalan menghampiri Damian, yang masih berada di tempat. Dia meludah kesamping, lalu berjongkok menyejajarkan diri dengan Damian.


Dengan tatapan matanya yang begitu tajam mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya, sekalipun itu seorang Damian, hacker muda yang selalu penuh dengan muslihat demi bisa lolos dari masalah yang dihadapi.


“Aku sudah peringatkan padamu sejak awal, jangan pernah main-main dengan kami. Kau tahu betul apa akibatnya jika sampai melanggar perintah ku, bukan?” ucap Ardiaz dengan nada rendah, yang begitu dingin dan membuat ngeri yang mendengarnya.


Damian bahkan bergidik merasa kuduknya berdiri, saat mengingat nasib orang-orang yang telah habis di tangan Ardiaz karena melanggar aturannya.

__ADS_1


Dia pun berlutut memohon ampun pada sang King, berharap nyawanya masih bisa tertolong.


“Maafkan aku, King. Aku sudah ceroboh. Beri aku kesempatan lagi. Aku mohon,” ucap Damian.


Ardiaz meraih rambut Damian yang sedikit panjang di bagian depan, dan menariknya hingga pemuda itu mendongak kesakitan.


“Aku paling tidak suka pengkhianatan. Bukankah sudah ku katakan untuk mengecohnya? Kenapa kau justru memberitahu semuanya pada gadis itu, hah? Pasti ada rencana licik di dalam otak mu ini, bukan?” terka Ardiaz.


Damian semakin tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa memejamkan matanya, karena motifnya sudah terlihat oleh bosnya sendiri.


“Katakan!” seru Ardiaz, sambil menarik rambut Damian semakin keras hingga pemuda itu berteriak kesakitan.


“Aaaarrrghhhh... Baiklah.... Baiklah... Sistem itu... Ini semua karena sistem itu,” sahut Damian di tengah pekikannya.


Ardiaz menghempaskan kasar cengkeraman dari rambut sang hacker, hingga pemuda tersebut terhuyung ke belakang.


Dia kemudian berdiri dan menyakukan satu tangannya ke celana.


“Sepertinya kau harus memilih antara Vermont atau aku. Aku tahu perjanjian mu dengan orang itu, dan aku juga bisa memberikan hal yang sama, bahkan lebih dari itu. Tapi sebaliknya, kau tahu dia bukan?” ucap Ardiaz.


Dia menunjuk Mac duff yang masih berdiri di tempatnya. Damian hanya mengikuti arah tatapan mata sang King.


“Dia adalah mesin pembunuh tanpa filter. Anak-anak, wanita, bahkan orang tua sekalipun tidak akan bisa membuatnya merasa kasihan,” lanjut Ardiaz.


Meski bukan keluarga kandung, namun nyonya pemilik toko tato itulah yang sudah berjasa membesarkannya, dan melindungi sang hacker dari kekejaman kelompok Lucifer.


Damian semakin kacau. Dia benar-benar ketakutan, dan tak peduli lagi dengan harga dirinya.


Dia kembali merangkak dan memohon di kaki King palsu itu.


“Tolong jangan sentuh wanita tua itu. Baiklah, baiklah. Aku akan menurutimu. Aku akan menuruti mu, King. Kumohon berikan aku kesempatan itu,” ratap Damian.


Suami Evangeline itu kembali melepaskan kakinya dengan menendang lagi pemuda itu hingga terpental.


“Karena kau masih ku butuhkan, maka ku beri kau satu kesempatan terakhir. Cukup pastikan kau selalu berguna bagiku, maka kau akan aman, dan...,” ucap Ardiaz terjeda.


Pria itu membungkuk, mencondongkan kepalanya mendekat ke wajah Damian, membuat pemuda itu semakin memundurkan tubuhnya.


Dengan senyum mengejek, Ardiaz menunjukkan potret yang masih ia pegang ke kepala dang hacker.


“Satu kesalahan kecil saja yang kau buat, maka wanita tua itu yang akan celaka,” lanjut Ardiaz mengancam.

__ADS_1


Damian membelalak, namun tak berani menatap langsung ke dalam mata Ardiaz karena begitu gemetar berhadapan dengan kemarahan sang King.


Tangannya mengepal dan matanya memerah, bahkan berair. Dia tak mau harga dirinya sebagai laki-laki hancur hanya karena air mata.


Damian pun menunduk seraya berlutut berterimakasih atas kesempatan yang diberikan Ardiaz.


Sang King palsu itu kemudian menegakkan badan dan berbalik, kembali duduk di tempatnya semula.


“Pergilah, dan tunggu perintahku selanjutnya,” seru Ardiaz.


“Baik, King. Aku undur diri. Terimakasih banyak,” sahut Damian.


Pemuda itu pun segera memunguti barang-barangnya dan langsung pergi tanpa menunggu lagi.


Dia tak mau semakin lama di sana dan membuat King palsu itu menarik kembali kata-katanya.


Seperginya Damian, Mac duff duduk di samping Ardiaz dengan dua kaleng beer dan meletakkannya di atas meja.


Dia mengambil satu dan membuka tutupnya, lalu mulai meneguk minuman bersoda dengan kadar alkohol cukup ringan itu.


Ardiaz pun meraih satu kaleng lainnya dan ikut meminumnya.


“Kenapa kau melepaskannya? Bukankah dia sudah terlalu banyak tahu tentang kita?” tanya Mac duff.


Ardiaz masih meneguk minumannya hingga tersisa setengah.


“Jika karena mencari informasi untuk misi, bukankah kita masih punya Charlie. Informasinya jauh lebih akurat dan cepat dari pada dia,” lanjut Mac duff.


“Kau benar. Charlie kita memang yang paling hebat dalam urusan itu. Tapi apa kau lupa, ada satu informasi yang tak bisa dia dapatkan hingga sekarang,” sahut Ardiaz.


Mac duff menatap Ardiaz dengan kening yang berkerut. Merasa diperhatikan seperti itu, suami Evangeline itu pun menoleh dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2