They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Gudang jerami


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Evangeline yang sedang berendam, nampak memejamkan matanya dengan tubuh yang hampir terendam sepenuhnya oleh air. Wajahnya nampak pucat dan lemas.


Suara ketukan dari arah luar kamar mandi, membuat ketenangannya terusik.


“Siapa?” tanya Evangeline dengan nada datar.


“Maaf, Nona. Ini sudah hampir satu jam Anda di dalam. Kalau terlalu lama, Anda bisa terkena flu. Sebaiknya anda segera sudahi mandinya,” seru seorang maid.


“Hah... Bahkan untuk mandi saja sekarang kalian mengatur ku. Benar-benar luar biasa,” gumam Evangeline lirih.


Dia tak menghiraukan teriakan dari maid yang terus mengetuk pintu kamar mandinya. Rasanya untuk keluar dari bak mandi begitu enggan, dan Evangeline pun kembali memejamkan matanya.


Namun, selang berapa lama sebuah keributan terjadi. Tiba-tiba saja, pintu kamar mandi didobrak dan muncullah Ardiaz yang masuk begitu saja ke dalam kamar mandi.


Matanya membola terlebih saat melihat Evangeline terpejam di dalam bak mandi dengan tangan yang terkulai di kedua sisinya.


Pria itu segera meraih handuk yang tergantung di tempatnya dan menutup tubuh sang gadis, kemudian mengangkatnya dari sana.


Ardiaz dengan sigap membawa istrinya ke kamar dan membaringkan di atas tempat tidur.


"Cepat bawakan handuk lain dan juga pakaian ganti. Cepat!” seru Ardiaz kepada para maid yang ada di sana.


Nampak Delvin yang juga terlihat panik melihat nonanya pingsan di dalam bathtube, hanya bisa melihat dari jauh karena tak berani mendekat dan melihat tubuh polos gadis itu.


Setelah para maid datang, Ardiaz meminta mereka memakaikan pakaian ke tubuh Evangeline, sementara dirinya segera berbalik dan melangkah keluar kamar.


Meski dia sudah menjadi suami sahnya, akan tetapi Ardiaz masih belum berani melihat, apalagi menyentuh tubuh telanjang gadis tersebut.


“Delvin, segera telepon Malcolm. Suruh dia kemari untuk memeriksa kondisi Eva,” seru Ardiaz.


“Baik, Tuan,” sahut Delvin.


Delvin pun segera berjalan menjauh dan meraih ponselnya. Dia terlihat melakukan panggilan ke sebuah nomor dan memintanya untuk datang.


Sementara itu, Ardiaz masih berdiri di depan kamar Evangeline, bersandar di dinding dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Wajahnya tertunduk dengan raut yang begitu datar.


Namun dari matanya, jelas terlihat kekhawatiran akan kondisi sang istri.


Tak berapa lama, para maid telah selesai dan satu persatu keluar dari kamar.


“Kami sudah selesai memakaikan baju kepada Nona, Tuan,” ucap seorang maid yang keluar lebih dulu.


“Baiklah. Kalian boleh pergi,” sahut Ardiaz.

__ADS_1


Setelah semua maid keluar, Ardiaz pun masuk. Dia terlihat menghela nafas berat saat tatapan matanya melihat tubuh sang istri terbaring tak sadarkan diri.


Dia melangkah mendekat, dan menarik sebuah kursi ke dekat ranjang gadis tersebut. Ardiaz duduk di samping Evangeline, sambil terus memandangi wajah pucat itu.


Ada kesedihan yang tersirat dari tatapan mata pemuda tersebut, saat menatap lekat paras cantik yang kini terlihat seolah tak dialiri darah.


Lagi-lagi, helaan nafas berat terdengar dari mulut Ardiaz, menandakan sebuah tekanan yang begitu besar yang ia rasakan saat ini.


...❄❄❄❄❄...


Setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Evangeline.


“Tuan, Dokter Malcolm sudah datang,” ucap Delvin yang tadi mengetuk pintu.


“Masuklah,” sahut Ardiaz dari dalam.


Pintu pun terbuka dan tampaklah sosok tinggi tegap berkemeja putih dan jas hitam, dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya.


“Apa dia belum sadar?” tanya dokter bernama Malcolm tersebut.


“Kau lihatlah sendiri. Tanpa ku jawab pun sudah jelas bukan?” sahut Ardiaz datar.


“Ck! Dasar manusia kutub utara yang nyasar ke kutub Selatan. Kapan sih kau akan pindah ke katulistiwa agar tak dingin seperti ini terus?” keluh Malcolm.


Ardiaz diam. Dia tak menyahuti ucapan dari sang dokter, dan membuat Malcolm pun hanya bisa mendengus kesal.


Dia pun mulai memeriksa detak jantung Evangeline, pupil matanya serta suhu tubuh gadis tersebut.


Tak terlalu lama, pemeriksaan itu pun selesai. Malcolm melepas stetoskopnya dan mengambil sebuah buku catatan.


“Dia mengalami dehidrasi berat dan juga mal nutrisi. Apa kau belum memberinya makan atau minum sejak membawanya pulang?” tanya Malcolm.


“Belum,” jawab Ardiaz singkat.


“Haish! Suami macam kau ini? Istri sendiri sampai lupa diberi makan. Benar-benar,” sahut Malcolm.


“Apa kau sudah selesai? Berikan resep obatnya pada Delvin saja,” seru Ardiaz.


“Baiklah. Akan ku berikan resep obatnya pada Tuan Delvin. Tapi untuk sekarang ini, kau perlu berjaga kalau-kalau demamnya semakin naik. Sebaiknya kau kompres dia dengan air hangat agar demamnya cepat turun. Jika dia bangun, segera beri dia minum yang banyak. Air hangat lebih baik,” pesan Malcolm.


Dokter itu pun membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pergi.


“Tuan Delvin bilang kau belum memberitahu Eva yang sebenarnya?” tanya Malcolm.

__ADS_1


Ardiaz masih diam. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan dari sang dokter yang sudah memeriksa istrinya.


Malcolm pun hanya bisa menghela nafas berat melihat sikap tak acuh dan dingin dari Ardiaz.


“Aku memang tak berhak ikut campur atas masalah kalian, tapi menurutku sebagai seorang teman, lebih baik kau beritahukan semua kebenarannya kepada Eva. Dengan begitu, mungkin kesalahpahaman di antara kalian akan cepat selesai. Bagaimana pun juga, Eva berhak tahu semuanya, terlebih ini berkaitan dengan ayahnya,” pungkas Malcolm.


Dokter itu pun lalu berjalan pergi, namun saat melewati Ardiaz, dia menepuk pundak pemuda tersebut beberapa kali, seolah memberi semangat pada pengantin baru itu.


Ekspresi Ardiaz tetap sama. Datar dan dingin. Sudah dua orang memintanya melakukan hal yang sama, akan tetapi dia masih enggan melakukannya.


Belum saatnya kamu tahu, Eva. Aku harus mencari buktinya lebih dulu agar kau bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku tahu bahwa sampai sekarang pun kau pasti mengharap kehadirannya, batin Ardiaz.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, sebuah gudang penyimpanan jerami yang juga dipenuhi dengan perkakas pertanian, terlihat seorang pria duduk di sebuah kursi dengan tubuh yang berlumuran darah.


Nampak seorang pria dan wanita yang juga berada di sana, terlihat sedang berdebat tentang sesuatu.


“Kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini? Bukankah kau hanya ingin tahu kebenarannya saja?” tanya si wanita.


“Ini semua karena pria itu,” sahut si pria menunjuk orang yang berlumuran darah, dan duduk di kursi dengan tangan serta kaki yang terikat.


“Tapi, bagaimana dia bisa menembak tanpa perintahmu?” tanya si wanita.


“Itu yang sedang ku cari tahu. Sudah ku hajar dia berkali-kali sampai babak belur, tapi dia tetap tak mau membuka mulut,” jawab si pria.


Matanya terlihat begitu marah menatap orang yang telah babak belur itu. Namun, si wanita justru memperhatikan kepalan tangan si pria yang juga terluka karena menghajar terus menerus orang tersebut.


“Sayang, aku benar-benar takut sekarang. Apa semua ini benar? Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu,” tanya si wanita.


Pria itu pun menoleh dan menatap mata yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya itu. Dengan lembut, dia melepas genggaman tangan si wanita dan menangkup pipi wanita cantik itu.


Dengan tatapan yang begitu teduh dan senyum yang berusaha ia ulas, pria tersebut mencoba menenangkan wanita yang telah bertahun-tahun mendampinginya.


“Morita, kau tenang saja. Aku berjanji akan selalu berhati-hati. Kau hanya perlu terus bersama ku dan mencintaiku seperti sebelumnya,” bujuk si pria.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2