They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Meminta ijin


__ADS_3

Malam harinya, Ardiaz kembali ke kediaman Hemachandra dan selalu disambut oleh Delvin. Kepala pelayan itu membukakan mantel Ardiaz dan menggulungnya di lengan.


Sementara Ardiaz, pria itu menggulung lengan kemejanya hingga sesiku dan berjalan ke arah ruang tengah.


“Bagaimana hari ini? Apa Eva berulah lagi?” tanya Ardiaz.


Bukan tanpa alasan dia bertanya seperti itu, karena hampir setiap hari Delvin selalu memberi laporan tentang tingkah Evangeline yang berusaha memberontak dengan membuat ulah menyebalkan.


“Tidak, Tuan. Nona terlihat lebih tenang hari ini, terutama setelah dia menikmati suasana di kebun bunga belakang,” tutur Delvin.


Tiba-tiba, langkah kaki Ardiaz terhenti, dan dia menoleh ke samping sejenak seolah terbersit sesuatu di otaknya.


Sejurus kemudian, pria tersebut pun kembali melangkah dan menaiki tangga.


“Apa dia sudah makan?” tanya Ardiaz.


“Belum, Tuan,” sahut Delvin.


“Kalau begitu, siapkan makan malam untuk kami berdua. Aku akan mandi terlebih dulu. Kalau sudah siap, panggil aku di kamar,” seru Ardiaz.


“Baik, Tuan,” sahut Delvin.


Pria itu pun lalu berjalan terus ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Evangeline.


Dia sengaja menempati kamar itu, karena ada connector door yang terhubung langsung dengan kamar sang istri.


Sebelumnya, Ardiaz juga memang sudah tinggal di paviliun belakang mansion Hemachandra, karena harus terus memantau keamanan keluarga tersebut.


Namun setelah kejadian malam itu, dia memutuskan untuk pindah ke kamar yang sekarang, demi bisa memantau gerak gerik Evangeline, termasuk memastikan bahwa sang kakak tidak berhubungan dengan gadis itu lagi.


Dia tak mau Evangeline ada dalam bahaya, terlebih dia belum tau masalah besar apa yang ada di balik semua tragedi ini.


Sesampainya di kamar, Ardiaz segera melepas semua pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Dia meraih bathrobe yang tergantung di balik pintu dan membawanya serta.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ardiaz telah selesai membersihkan diri dan keluar dengan mengenakan bathrobe nya.


Rintik air menetes dari rambutnya yang basah. Dia pun berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil baju santai.


Dia mengambil sebuah kemeja putih dengan corak floral hitam yang dipadukan dengan celana senada.


Setelah mengeringkan rambutnya, dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.


Dia membuka laci nakasnya, dan meraih sebuah ponsel usang yang berlayar kekuningan.

__ADS_1


Dia menekan sebuah nomer kontak yang tersimpan di dalam sana, dan menempelkannya di depan telinga.


“Induk bangau terbang ke selatan,” ucap suara di seberang.


“Anak bangau pergi ke timur,” sahut Ardiaz.


“Kata sandri diterima. Baiklah, ada apa kau menghubungi ku, Alpha,” tanya orang di seberang.


“Aku ada pekerjaan untukmu,” ucap Ardiaz.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu, di kamar samping, tepatnya di kamar Evangeline, gadis itu terlihat sedang duduk di depan pintu yang mengarah ke balkon kamarnya, sambil memeluk lututnya sendiri.


Wajahnya miring dengan sebelah pipinya yang menempel di lutut. Tatapannya lurus ke depan seolah tengah memandangi bulan purnama di atas sana.


Tangannya tampak mengepal seperti sedang menggenggam sesuatu. Hal itu tak lain adalah kertas berisi pesan dari Aaron, yang ia dapatkan tadi siang dari salah satu maid.


Dia benar-benar merindukan pria itu. Terlebih karena Evangeline merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari genggaman Ardiaz.


Di tengah lamunannya, sebuah suara ketukan terdengar dari arah luar kamarnya. Evangeline hanya melirik sekilas ke dalam kamar dan kemudian mendesah lemas.


Ketukan kembali terdengar dan hal itu membuatnya segera berdiri dan mengakhiri lamunannya.


Dia berjalan ke arah pintu dan membukakannya. Nampak seorang maid sudah berdiri di depan sana dan membungkuk di depannya.


“Makan malam sudah siap, Nona. Tuan meminta saya memanggil Nona untuk segera bergabung di meja makan,” ucap sang maid.


“Katakan padanya, bahwa aku akan turun sebentar lagi,” sahut Evangeline datar.


Dia pun kembali menutup pintunya dan berjalan ke arah meja riasnya. Dia mengambil sisir dan mulai membetulkan rambutnya, yang sedikit berantakan karena tertiup angin malam sejak tadi.


Gadis itu kemudian turun dan melihat bahwa Ardiaz sudah duduk di kursi yang dulu ditempati oleh ayahnya. Dia muak melihat tingkah pria itu yang seolah sudah menjadi tuan besar di rumah tersebut dan bahkan mengatur semua hal tentang dirinya.


Evangeline pun memilih duduk di kursi yang berada di seberang Ardiaz, yang terpisah oleh deretan kursi makan kosong yang berjumlah sekitar lima buah.


Mereka saling berjauhan, akan tetapi Ardiaz tak mempedulikan hal itu.


Setelah Evangeline duduk, para pelayan mulai menyajikan hidangan. Mereka pun mengambilkan makanan untuk kedua orang itu dan meletakkannya di atas piring masing-masing.


Ardiaz langsung menyantap makanannya tanpa menunggu Evangeline memulai miliknya. Dia bahkan dengan cepat menghabiskan setengah porsi miliknya. Namun, gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya dan belum juga memasukkan sesendok pun ke mulut.


Melihat hal itu, Ardiaz pun menatap tajam ke arah sang istri sambil meletakkan alat makannya. Dia mengambil gelas dan meminum wine miliknya sedikit untuk mendorong makanan agar masuk.

__ADS_1


“Koki sudah sangat lelah memasakkan makanan enak untuk kita. Makanlah dengan benar, dan jangan hanya memainkannya saja. Atau kau mau aku suapi lagi hah?” seru Ardiaz.


Mendengar hal itu, evangeline pun langsung menyendok makanannya dan menyuapkan ke mulut.


Ardiaz hanya menyunggingkan senyumnya melihat berapa patuhnya gadis itu hanya dengan sedikit gertakan.


Dia pun kembali meraih alat makannya dan menghabiskan semua isi piringnya.


Selesai makan, Ardiaz terlihat menikmati sisa wine di gelasnya dengan meneguknya sesesap demi sesesap.


Sementara Evangeline, gadis itu terlihat sedikit berbeda. Biasanya dia akan langsung kembali ke kamarnya seusai makan, akan tetapi kali ini dia masih duduk di sana meski sudah selesai bersantap.


“Aku sudah selesai. Kau jangan tidur terlalu malam,” ucap Ardiaz.


Pria itu beranjak dari duduknya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia hendak melangkah, akan tetapi tertahan oleh panggilan Evangeline.


“Aku ingin pergi ke town square,” ucap Evangeline.


Ardiaz pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis itu. Melihat suaminya menatap ke arahnya, Evangeline berdiri dan balas menatapnya.


“Aku bosan terus berada di rumah. Apa jalan-jalan pun akan selamanya kau larang?” tanya Evangeline.


“Baiklah, aku akan menemanimu akhir pekan ini,” ucap Ardiaz.


“Tidak perlu,” sahut Evangeline cepat.


Hal itu sontak membuat Ardiaz semakin menatap tajam ke arah istrinya.


“Ehm... Maksudku, aku bisa pergi sendiri. Bukankah kau sibuk? Aku tidak mau mengganggu urusanmu. Kita hanya pasangan di atas kertas, jadi aku rasa tidak perlu saling merepotkan. Bukan begitu?” lanjutnya.


Ardiaz tampak menghela nafas berat mendengar perkataan istrinya itu.


“Baiklah terserah kau saja. Aku tidak peduli,” ucap Ardiaz.


Pria itu pun berjalan naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Sementara Evangeline, gadis itu tersenyum senang karena akhirnya dia bisa keluar dan bisa mencari cara bertemu dengan Aaron.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2