They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Mengikuti


__ADS_3

Di dalam klub sky night, Mac duff sedang menemani alexa yang saat ini melakukan transaksi dengan seorang bandar narkoba, yang berasal dari salah satu provinsi di bagian utara, di mana merupakan pasar narkotik terbesar di negeri, yang memasok obat-obatan hingga ke belahan dunia lainnya.


Salah satu pengadanya tentu saja adalah kelompok Lucifer, yang mana mereka memiliki pabrik besar yang tersembunyi di balik bisnis legal mereka.


Wanita seksi yang biasanya selalu menebar pesona kepada lawan jenis itu, akan nampak berbeda ketika harus menjalankan transaksi dengan klien.


Meskipun dia selalu berpakaian seksi dan menggoda, namun jika berada dalam misi dia akan sangat berbahaya seperti layaknya Haena di padang savana.


Bergerak diam-diam, akan tetapi jika ada mangsa, dia akan langsung menyergap tanpa ampun.


Begitu pun saat dia bertransaksi, Alexa akan begitu elegan, namun ketika lawan bisnisnya terlihat hendak berbuat curang, maka dia tak segan untuk langsung menembak mati di tempat, tak peduli konsekuensi yang menunggunya di belakang.


Transaksi kali ini berjalan lancar, dan klien pun sudah meninggalkan tempat terlebih dulu.


Mac duff nampak memasuki ruang pertemuan, di mana Alexa masih duduk dengan santai di sana, sambil meminum wiskinya.


Kaki jenjangnya bertopang satu sama lain, membuat mini dress gold yang dia pakai, naik dan mengekspos paha mulusnya.


“Apa kau masih akan di sini?” tanya Mac duff.


Pria tampan itu berjalan ke arah Alexa dan duduk di samping wanita itu. Dia menuang wiski ke dalam gelas dan duduk bersandar, sambil merentangkan tangan di belakang punggung Alexa.


Dengan manja, wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Mac duff, sambil menyesap minuman perlahan.


“Aku lelah. Setiap hari harus berurusan dengan bajingan satu ke bajingan lainnya,” ucap Alexa.


Mac duff nampak memainkan anak rambut Alexa dengan lembut, sambil meneguk minuman di tangan satunya.


“Ku dengar, Devon akan melakukan perjalanan. Mintalah agar kau bisa ikut dengannya. Bukankah kau kesayangannya?” tanya Mac duff.


“Kesayangan... Benar. Aku adalah kesayangan sang Emperor. Hehehe...,” sahut Alexa terkekeh.


Namun, nada tawa itu terdengar pahit seolah dia tengah menertawakan dirinya sendiri. Wanita itu kembali menyesap wiskinya.


“Ehm... Biarkan aku seperti ini sebentar saja. Hanya kau tempat ternyaman ku untuk berkeluh kesah,” ucap Alexa.


Mac duff tak menyahut lagi. Dia diam dan membiarkan wanita cantik nan seksi, yang bisa membangkitkan hasrat setiap pria yang melihat, bermanja di dadanya.


Nampak sorot mata tajam Mac duff menatap lurus ke depan. Dia bahkan tak menoleh ke arah wanita cantik itu, dan hanya tangannya yang terus membelai surai Alexa yang hitam legam.


Sekitar hampir setengah jam kemudian, Mac duff merasakan bahwa wanita di sampingnya sudah terlelap, terdengar dari dengkuran halus yang keluar dari mulut Alexa.


Bos sky night itu menarik lengannya dari punggung Alexa, dan mengangkat tubuh seksi itu menuju keluar ruangan.


Dia membawa Alexa pergi dari sana dan menuju ke ruangannya yang berada di lantai yang sama. Mac duff membaringkan wanita tersebut di ranjangnya, dan menyelimuti tubuh seksi itu dengan selimut tebal.

__ADS_1


Sepertinya, Alexa sudah minum terlalu banyak, melihat dari botol wiski yang hampir kosong saat Mac duff menuangnya tadi.


Dia menatap sekilas wajah lelap Alexa. Benar-benar sangat berbeda dari sosok King Lucifer yang dilihat oleh banyak orang.


Wanita itu tampak begitu polos saat tertidur. Wajah penuh make up-nya benar-benar menutupi siapa dia sebenarnya.


Mac duff adalah pria penggoda yang suka dengan wanita seksi yang dijumpai, akan tetapi berbeda dengan Alexa. Pria itu sama sekali belum pernah tidur dengan Satu-satunya King wanita di dalam Lucifer.


Bahkan cara dia melihat dan memperlakukan Alexa begitu berbeda, dengan ketika dia bersama wanita lain.


Helaan nafas berat mengakhiri keheningan di ruangan tersebut. Mac duff pun berbalik dan pergi meninggalkan Alexa, membiarkan wanita itu menggunakan tempat tidurnya malam ini.


Saat berjalan di lorong, dering telpon membuatnya berhenti sejenak dan meraih benda pipih itu dari saku celananya.


Nampak sebuah nama yang familiar di layar ponsel, dan dia pun segera menggeser tombol hijau ke kanan.


“Halo, King. Ada apa kau memanggilku?” sapa Mac duff.


“Datanglah ke kastil sekarang. Beritahu juga Alpha, bahwa ada hal yang akan kita bahas malam ini,” ucap orang di seberang yang tak adalah salah satu King Lucifer, Joker.


“Baiklah,” sahut Mac duff.


Panggilan pun berakhir.


Sebelum Dia melajukan kuda besi hitamnya keluar dari gedung klub malam tersebut, Mac duff terlihat mengirimkan pesan kepada seseorang, lalu kemudian bergerak pergi.


...❄❄❄❄❄...


Di luar klub, dua orang gadis yang sejak tadi terus memperhatikan setiap orang yang keluar masuk sky night dengan tenang, tiba-tiba bising.


“Dia keluar! Itu mobilnya,” ucap Joy yang melihat mobil milik Mac duff keluar dari area parkir bawah tanah.


Evangeline yang sejak tadi duduk di kursi kemudi pun segera menyalakan mesin, dan melajukan mobil mereka, kemudian mengikuti kemana Mac duff pergi.


“Cepat kejar. Kalau tidak, kita bisa kehilangan dia. Ah... Ini gila. Dia mengemudi dengan begitu cepat,” keluh Joy.


Gadis berambut pendek itu merasa bahwa Evangeline mengemudi begitu lambat.


“Apa mungkin dia tahu kalau sedang diikuti?” terka Evangeline.


“Tidak mungkin. Kita sudah ada di jarak aman. Hanya saja ini terlalu jauh. Aku kesulitan melihatnya dari teropong,” sahut Joy.


Evangeline masih berusaha mengejar, akan tetapi saat di persimpangan tiba-tiba ada truk yang hendak melintas dari arah sebaliknya, membuat Joy memekik.


Evangeline pun seketika menginjak rem, hingga keduanya membentur dashboard.

__ADS_1


Beruntung, mereka mengenakan sabuk pengaman sehingga tak ada cedera fatal.


“Apa kau tak melihat lampu merah, hah?” keluh Joy sambil menunjuk lampu lalu lintas di depan mereka.


“Maaf. Aku terlalu fokus pada mobil Mike,” ucap Evangeline merasa bersalah.


Joy mendengus kesal karena ulah sahabatnya itu. Dia pun mencoba melihat melalui teropongnya, dan mendapati bahwa mobil Mac duff bahkan sudah tak bisa terlihat dengan jelas dan semakin menjauh.


“Hah... Soal! Kita kehilangan dia. Jaraknya sudah sangat jauh,” rutuk Joy.


Dia bahkan melempar teropongnya dengan kasar ke atas dashboard, membuat Evangeline terkejut.


Dia sampai hampir tak menyadari bahwa lampu sudah berubah hijau beberapa saat yang lalu.


Istri Ardiaz itu pun memilih menepikan mobilnya terlebih dahulu, sebelum ada pengguna jalan lain yang memarahinya karena berhenti di tengah jalan.


“Jadi, apa kita akan pulang dan kembali mengintai di sky night?” tanya Evangeline setelah berhasil menepikan mobilnya di tempat yang aman.


Joy nampak diam. Dia terus memegangi kening dan terlihat tengah berpikir.


Evangeline hanya bisa diam dan menunggu temannya itu merespon, hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Joy menegakkan tubuhnya, dan membungkuk seolah tengah melihat sesuatu di luar sana.


“Apa yang kau lihat, Joy?” tanya Evangeline.


“Apa itu ditulis 'jalur pegunungan Selatan'?” tanya Joy.


Evangeline pun menoleh mengikuti arah pandangan sang sahabat.


“Iya, kau benar. Memang ada apa dengan itu?” tanya Evangeline bingung.


Joy nampak kembali terlihat bersemangat, dengan senyum yang kembali muncul di wajahnya.


“Sepertinya, aku tahu bagaimana menemukannya,” ucap Joy.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2