
Di rumah sakit, nampak Morita menyuapi Aaron dengan makanan lembut, yang ia siapkan sendiri khusus untuk sang pujaan hati.
Nampak jelas kebahagiaan di mata keduanya. Senyum terulas begitu indah di bibir mereka. Cerita dan lelucon kecil mampu membuat suasana menjadi benar-benar indah.
Meski Aaron masih harus menjalani terapi motorik karena otornya yang kaku setelah koma satu bulan, akan tetapi dengan adanya Morita yang menemani, dia yakin semuanya akan cepat berlalu.
Setelah menyuapi Aaron, Morita terlihat mengupas apel untuk kekasihnya. Sejak Aaron bangun, dia berusaha untuk terus memberikan perhatian kepada pria tersebut.
Pagi tadi saat Aaron harus melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, dia pun dengan sabar menunggunya di depan ruang pemeriksaan seorang diri.
Namun, kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja, tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Morita kembali mengalami mual dan muntah. Beberapa kali dia bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya, hingga cairan kekuningan pun turut keluar.
Dia berusaha menutupinya dari Aaron, dan setiap kali merasa tidak nyaman dengan perutnya, Morita akan pergi keluar dengan beralasan ingin membeli sesuatu.
Saat ini, dia nampak menikmati perannya sebagai seorang kekasih yang perhatian. Aaron pun terlihat sangat senang karena mendapatkan hal tersebut dari Morita.
Wanita itu baru saja selesai membuat tiga bentuk kelinci dari apel yang ia kupas, akan tetapi tiba-tiba perutnya kembali merasa bergejolak, karena bau disinfektan yang ia hirup sejak tadi.
Morita nampak mengernyitkan keningnya dan menghentikan gerakannya sejenak. Aaron menangkap keanehan tersebut dan mencoba bertanya pada sang kekasih, namun disangkal oleh Morita.
“Aku tak apa. Ah benar, ada yang ingin ku beli di swalayan. Apa kau mau sesuatu?” tanya Morita mencoba menahan mualnya.
“Tidak ada,” sahut Aaron.
“Baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu,” ucap Morita.
Wanita itu pun segera meletakkan apel di atas nakas dan berjalan pergi ke luar. Setelah di luar, wanita itu segera berlari ke arah toilet umum yang masih berada di lantai tersebut.
Sangkin buru-burunya, dia sampai tak sadar bahwa ada orang yang melihatnya berjalan cepat dan mengikuti hingga ke dalam kamar mandi.
Terdengar jelas suara orang muntah menggema di sana. Kedengarannya begitu menyiksa. Morita yang mengalaminya pun merasa lemas, tenggorokannya terbakar bahkan keringat dingin pun membasahi bajunya.
Dia duduk bersimpuh di depan closet, dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Setelah merasa lebih baik, dia mencoba mengatur nafas terlebih dulu di tempat. Kemudian, bangun dan hendak merapikan diri kembali.
Namun, saat dia keluar dari sana, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang di depannya. Dia bahkan sampai mundur beberapa langkah ke belakang karena begitu kagetnya.
“Eva,” gumamnya dengan mata membola.
Rupanya, sang anak asuh telah menunggunya sejak tadi di sana. Gadis itu berdiri di depan pintu kamar mandi, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan bersandar di kusen pintu.
__ADS_1
Morita yang terkejut melihat gadis itu di sana, memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup begitu kencang, hingga membuat sekujur tubuh terasa panas dan gugup.
“Halo, Nyonya,” sapa Evangeline.
Gadis itu menoleh dan menegakkan dirinya, menghadap ke arah sang ibu asuh. Dia berjalan beberapa langkah mendekat, akan tepak Morita justru semakin mundur seolah dia tengah ketakutan.
Evangeline pun berhenti dan menatap lurus ke arah Morita dengan kepala yang sedikit miring. Tatapannya benar-benar menakutkan dan sangat berbeda dari Evangeline biasanya.
“Apa Anda sudah tak mau menyambutku lagi, Nyonya? Kenapa Anda tampan begitu ketakutan saat melihat anak asuhmu ini?” cecar Evangeline dengan nada datarnya.
Pertanyaan itu terdengar mengerikan di telinga Morita. Saat mengetahui Ardiaz berhasil menggagalkan rencana Aaron, dia yakin bahwa Evangeline akhirnya tahu bahwa semua yang terjadi adalah atas perbuatan kekasihnya.
Tapi, dia belum sadar bahwa gadis ini pun telah mengetahui hubungannya dengan sang kekasih selama ini, hingga bisa hamil seperti sekarang.
Akhirnya Dengan sikap canggung, dia mencoba tersenyum dan membalas sapaan dari gadis di depannya.
“Ah... Eva, maaf, aku terlalu terkejut dengan keberadaan mu di sini. Kau apa kabar? Sepertinya sekarang kau sudah terlihat lebih dewasa. Bagaimana kondisi ayahmu?” sahut Morita.
Wanita itu berjalan dengan mencoba bersikap biasa saja, dan menghampiri Evangeline. Dia bahkan merentangkan tangannya mencoba memeluk gadis tersebut.
Namun, Evangeline tiba-tiba menoleh ke samping dan menutup hidungnya. Morita seketika menghentikan perbuatannya dan menyadari bahwa dirinya saat ini sangat kotor.
Dia berbalik dan mencuci tangannya di washtafle, juga membasuh wajahnya.
“Sejak kapan?” tanya Evangeline.
“Ya?” tanya Morita, karena tak paham dengan pertanyaan yang dimaksud Evangeline.
Morita menoleh dengan wajahnya yang telah basah karena air ke arah anak asuhnya itu.
“Sejak kapan ini dimulai?” tanya Evangeline lagi.
Morita mengernyitkan keningnya karena masih belum paham maksud dari pertanyaan Evangeline.
“Apa yang kau maksud, Eva?” tanya Morita balik.
Evangeline nampak mendongakkan wajahnya sambil menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap ke arah wanita di depannya.
“Sejak kapan kalian bersama?” tanya Evangeline.
__ADS_1
Seketika, Morita membola. Kakinya bahkan terasa lemas, hingga ia limbung dan harus berpegang kuat pada pingirian wastafel agar tak terjatuh. Matanya benar-benar membulat sempurna, mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut anak asuhnya jtu.
“Eva, aku bisa ...,” ucap Morita.
“Apa? Bisa jelaskan?” sela Evangeline cepat.
Morita sampai bungkam karena melihat kilat kemarahan di mata gadis yang selalu bersikap manja padanya itu.
“Eva, aku...,” ucap Morita.
“Jika ingin menjelaskan, kenapa setelah semua ini terjadi? Kenapa saat ayahku telah kalian lukai sampai seperti ini? Kenapa setelah pria itu sekarat? Kenapa setelah kau hamil? Kenapa?” cecar Evangeline.
Nadanya semakin lama semakin meninggi, bahkan muncul genangan di matanya, namun dengan cepat ia halau dengan membuka terus matanya tanpa berkedip ke arah moirta.
Namun, rasa pedih membuatnya mengerjap dan satu tetes meluncur mulus ke pipi, kemudian segera diseka kasar oleh gadis itu.
Sementara di ujung sana, Morita nampak tertunduk. Dia kehilangan kata-katanya. Dia tak tau harus bicara dari mana.
Gadis itu sudah lebih dulu tahu dan pasti akan sangat sulit menjelaskan semuanya dengan baik.
“Apa aku hanya lelucon bagi kalian berdua? Apa nyawa ayahku hanya mainan kalian berdua? Kenapa kalian bisa sekejam itu pada kami?” pekik Evangeline di akhir.
Dia sudah tak tahan ingin meluapkan semuanya, yang sejak awal hampir meledak di dalam dadanya.
Dia bahkan tak bisa lagi menahan tangisnya. Setenang dan setegar apapun dia mencoba, namun rasa sakit itu tetap membuatnya lemah.
“Eva, a... aku... aku minta maaf,” ucap Morita.
“MAAF?!” sela Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih