
"Kenapa aku harus merasa kehilangan saat tahu kau akan pergi?” ucap Evangeline.
Ardiaz terdiam mendengarkan perkataan Evangeline. Meski wajahnya tetap datar, namun matanya tak bisa berbohong. Pupilnya membesar pertanda dia terkejut dengan kata-kata gadis itu.
“Dari dulu, kau memang selalu menyebalkan. Kita bahkan tidak bisa akur barang sehari. Tapi di saat ini, aku hanya memiliki mu, Diaz. Saat ayah dan Aaron tak bisa menjadi tumpuan ku, siapa lagi kalau bukan kau yang menopangku?” lanjut Evangeline.
Derai air mata semakin deras mengalir di wajah cantik sang gadis.
Ardiaz tahu bagaimana perasaan Evangeline saat ini. Dulu dia pun pernah berada di posisi yang sama dengan sang istri. Goncangan besar yang diakibatkan dari sebuah tragedi yang tiba-tiba terjadi, dan merenggut orang yang disayangi, membuatnya menutup diri dari dunia luar.
Dia bahkan sempat menjadi pendiam dan penyendiri. Masa sekolahnya dulu, dia pun sering dirundung, namun dia maju membalas si perundung, hingga Hemachandra sering dipanggil untuk menerima keluhan dari guru Ardiaz atas kelakuan pria tersebut.
Jika boleh jujur, Evangeline lah yang membuat harinya sedikit berbeda. Sikap manja gadis itu memang sering membuatnya kesal, tapi setidaknya Evangeline mampu membuat Ardiaz merasakan sebuah emosi, yang sebelumnya bahkan telah hilang dari dirinya. Seolah ada sebuah kehangatan yang melelehkan sedikit bagian hatinya yang membeku.
Dia bahkan sengaja untuk terus membuat gadis itu kesal dengannya, karena hanya itulah satu-satunya hiburan yang menarik untuknya. Setidaknya, itulah yang masih membedakan dia dengan mayat hidup, seperti yang dikatakan orang-orang tentangnya.
Sejak kejadian mengerikan itu, hanya ada kakanya yang menjadi tumpuan hidupnya. Bahkan saat kakaknya melakukan kesalahan, dia pun tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Sekarang, dia melihat Evangeline, si gadis manja yang hanya bisa merengek kepada ayahnya, kini tiba-tiba harus menjadi sosok yang dipaksa dewasa dan mandiri.
Hal ini pasti sangat berat baginya. Rasa iba pun muncul di dalam hati Ardiaz, yang telah bertahun-tahun membeku. Sebuah kuncup muncul dibagian hatinya yang sempat dilelehkan oleh Evangeline sejak beberapa tahun yang lalu.
Tubuhnya bahkan bereaksi dengan sendirinya. Kakinya melangkah mendekat ke arah Evangeline yang masih sibuk menyembunyikan wajahnya yang telah penuh dengan air mata di balik kedua telapak tangan.
Tangannya terulur dan menjangkau puncak kepala sang istri. Evangeline bahkan sampai menghentikan isaknya saat merasakan sebuah sentuhan di atas kepalanya.
Dia membuka tangan yang sejak tadi menutup wajahnya, dan mendongak menatap pria yang telah berdiri di depannya.
Tatapan keduanya pun beradu. Mereka diam dalam pikiran masing-masing.
“Sudah, jangan menangis lagi. Aku janji hanya akan pergi sebentar. Kau belajarlah yang rajin di sini agar bisa menjalankan perusahaan ayahmu dengan baik,” ucap Ardiaz.
“Berapa lama? Sehari? Dua hari?” tanya Evangeline.
Ardiaz menjauhkan tangannya dari atas kepala Evangeline. Dia mengantungkan keduanya di dalam saku jaketnya. Saat itu, dia merasakan sesuatu berada di dalam sana.
“Aku tak bisa memastikan berapa lama,” sahut Ardiaz.
__ADS_1
Dia nampak menarik tangannya keluar. Terlihat sebuah kotak beludru hitam berisi kalung, yang sebelumnya ia pesan dari Jordan.
Ardiaz membuka benda kotak tersebut dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Dia pun menutup kembali kotak dan memasukkannya ke kantung.
“Saat aku pergi, pastikan kau baik-baik saja. Jagalah ayahmu dan urus kakakku juga,” serunya sambil memasangkan kalung itu ke leher Evangeline.
Gadis itu masih diam dengan semua perlakuan Ardiaz, yang sangat berbeda dari biasanya. Meski sesekali isak masih terdengar, namun air mata berhenti seketika sejak Ardiaz menyentuh kepalanya.
“Aku tahu kau gadis yang pintar. Jadi, tunggulah aku kembali. Meski pun aku berada sangat jauh, tapi aku akan terus melihatmu dari tempat kuberada dan memastikan kau tetap baik-baik saja,” lanjut Ardiaz setelah selesai memasangkan kalung tersebut.
Dia bahkan menyentuh bandul berbentuk mercusuar itu sekilas, atau lebih tepatnya menekan bagian tengah liontin dan kembali mengantungkan kedua tangannya.
Apa ini benar-benar Ardiaz yang ku kenal? Bagaimana dia bisa berbeda sekali? batin Evangeline.
Melihat gadis itu masih saja diam, sebuah sentilan mendarat di kening Evangeline dan berhasil membuat gadis itu tersadar.
“AAAWWW!” pekik Evangeline, sambil mengusap keningnya yang memerah akibat perbuatan Ardiaz.
“Apa kau sudah sadar? Jangan bilang kalau kau tak mendengar kata-kata ku tadi,” ucap Ardiaz.
Gadis itu kembali menatap tajam ke arah Ardiaz. Dia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah pria tersebut.
“Apa harus harus melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini?” tanya Ardiaz malas.
“Bukankah kau bilang aku bahwa aku gadis manja dan kekananakan, yang bisanya hanya merengek? Jadi gunakan cara kenalan juga untuk menyepakati janji mu tadi,” jawab Evangeline berani.
Hah... gadis yang menyebalkan. Aku jadi menyesal mengatakan kata-kata memalukan seperti tadi, batin Ardiaz.
“Ayo lakukan sumpah jari kelingking! Atau semua yang kau katakan tadi hanya omong kosong,” desak Evangeline.
Ardiaz pun dengan malas mengangkat tangannya dan menautkan jari kelingkingnya, dengan kelingking sang istri.
Sebuah senyum tipis muncul di bibir Evangeline. Samar-samar hal itu pun terlihat di wajah Ardiaz, meski hanya sedikit saja sudut yang dibentuk dari ujung bibir pria itu.
...❄❄❄❄❄...
Di tempat lain, di sebuah gedung dengan tinggi mencapai lima puluh lantai, seorang pria bertubuh kekar tampak duduk di sofa, sambil merentangkan kedua tangan di sandarannya.
__ADS_1
Sebotol wiski dan dua gelas minum, lengkap dengan es batunya berada di atas meja. Seorang wanita dengan balutan pakaian seksi, tali bahu yang begitu kecil dan warna merah menyala serta rambut hitam ikal menjuntai hingga pinggang, keluar dari arah ruang istirahat di ruangan tersebut.
Wanita seksi itu pun mendekat dan duduk di samping sang pria, yang mengenakan kemeja dengan dua kancing di bagian atas yang terbuka, memperlihatkan otot dadanya yang besar.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada berotot itu sambil mengambil gelas wiski. Bibir merah meronaya mulai meneguk minuman beralkohol tersebut dengan gaya yang benar-benar menggoda.
Seseorang terdengar mengetuk pintu dari luar ruangan.
“Masuklah,” seru si pria.
Wanita itu pun langsung membetulkan posisi duduknya. Saat orang di luar masuk, wanita tadi kemudian beranjak dari tempatnya dan memilih menyingkir dari sana.
Dia melirik sekilas ke arah orang itu, dan berjalan ke arah meja kerja yang ada di sisi lain ruangan. Dia duduk di kursi besar tersebut sambil kembali meneguk minumannya.
“Ada apa?” tanya pria itu.
“Ada orang yang sudah menyalakan sistem Enel. Kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan anak itu,” ucap orang yang masuk tadi.
“Sistem Enel? Hem, menarik. Wajah siapa yang terekam pertama kali?” tanya si pria.
Orang tersebut lalu menyerahkan sebuah foto kepada pria yang seperti seorang pimpinan.
Nampak sebuah potret seorang pria muda memakai jaket kulit hitam, dengan wajah datar berada di dalam foto tersebut, terlihat sedang menatap ke arah depan.
Sebuah seringai muncul di wajah pria itu saat melihat sosok di depannya. Dia pun membungkuk dan meletakkan foto tersebut di atas meja.
“Sepertinya kita akan kembali berburu anak kelinci setelah lelang ini berakhir,” ucap pria itu.
Dia mengetukkan telunjuknya beberapa kali di atas potret tersebut sambil meminum minumannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih