
Beberapa saat kemudian, Evangeline kembali sadar dari pingsannya dan mendapati bahwa mobil telah berhenti. Semua orang tampak telah keluar meninggalkannya yang tak sadarkan diri seorang diri di dalam mobil.
Dia pun bangun dan mencoba melihat situasi.
“Di mana aku?” gumam Evangeline.
Dia tak tahu sedang berada di mana. Yang dia lihat hanyalah tempat parkir yang luas, akan tetapi tak ada satu pun mobil lain di sana selain mobilnya.
Namun, dia kembali teringat bahwa saat ini dia sedang dibawa pergi oleh anak buah Ardiaz.
“Kemana dia mau membawaku? Apa dia mau membuang ku di sini agar menjadi viral?” gumamnya.
Dia melihat ada banyak anak buah Ardiaz menunggu di luar sana, dan membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana.
Evangeline pun kemudian memutuskan untuk tetap di dalam mobil dan menunggu hingga mereka lengah, kemudian dia bisa mencoba kabur dari sana.
Namun, baru saja dia berpikir demikian, seseorang mengetuk kaca mobil di sampingnya dan mengagetkan gadis itu.
Evangeline bahkan sampai bergeser mundur karena sangkin paniknya. Seorang pria berjas lain membukakan pintu dan jelas terlihat kini siapa yang ada di luar sana.
“Ardiaz? Bajing*n! Kamu sudah membunuh Ayah dan sekarang kamu juga ingin membunuhku? Benar-benar luar biasa. Apa Aaron tahu kelakuanmu yang seperti ini? Kamu benar-benar brengs*k! Pembunuh,” maki Evangeline.
“Apa sudah selesai memakinya?” tanya Ardiaz.
“Brengs*k! Baj*ngan! Pembunuh. Aku tidak akan mengampunimu, bahkan sampai matipun aku tidak akan pernah mengampunimu!” pekik Evangeline.
“Bawa dia keluar,” seru Ardiaz kepada anak buahnya.
Pria itu kemudian berbalik dan berjalan pergi menjauh dari sana. Sementara Evangeline ditarik dan dipaksa keluar oleh beberapa orang.
Mereka menggiringnya berjalan ke sebuah gedung besar yang bertuliskan kantor catatan sipil, tempat mereka berada saat ini.
Apa yang mau dilakukannya di sini? batin Evangeline.
Gadis itu terus berontak, meskipun dia tahu itu hanya akan sia-sia saja, karena tenaganya tak mungkin bisa melawan para pengawal bawahan Ardiaz.
Setelah masuk ke dalam, Evangeline melihat seluruh isi gedung telah dikuasai oleh anak buah Ardiaz yang masing-masing memegang senjata api.
Seorang pegawai kantor pemerintahan itu tampak duduk di hadapan Ardiaz, dengan todongan pistol di pelipisnya.
“Bawa dia kemari!” seru Ardiaz.
Evangeline pun dibawa mendekat dan duduk di samping pria bengis itu. Meskipun menolak, akan tetapi dia tak bisa berbuat apa pun karena semua dilakukan secara paksaan.
__ADS_1
“Tanda tangani dokumen ini!” seri Ardiaz.
Evangeline menoleh ke arah pria tersebut.
“Tanda tangan? Memangnya dokumen apa ini? ” tanya Evangeline.
“Apa kau tidak bisa membacanya?” hardik Ardiaz.
Evangeline pun kemudian menoleh ke arah pegawai pemerintah yang dari tadi terus mengelap pelipisnya yang berkeringat. Dia lalu meraih dokumen yang ada di atas meja, dan mulai membacanya.
Matanya membulat sempurna saat membaca tulisan bercetak tebal dengan ukuran yang lebih besar dari yang lain.
“Formulir pendaftaran pernikahan?” gumam Evangeline.
Dia meremas pinggiran kertas itu, dengan tangan yang bergetar hebat.
“Apa maksudnya ini?” tanya Evangeline.
“Apa kau menjadi b*doh hanya dalam waktu semalam? Apa tulisan sebesar itu tidak bisa kau baca?” cecar Ardiaz.
Dia kembali menoleh ke arah Ardiaz dan menatap nyalang ke arah pria di sampingnya.
“Aku menolak. Semalam kamu sudah membunuh ayahku, dan sekarang ingin menikah dengan ku?” jawab Evangeline cepat.
“Kau hanya punya dua pilihan. Terima atau mati,” ucap Ardiaz.
“Baj*ngan,” maki Evangeline.
Ardiaz nampak menyunggingkan senyumnya sinis. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Evangeline, dan membuat gadis itu menarik dirinya ke belakang, menjaga karak dari pemuda tersebut.
“Aku tahu kau sangat membenciku sekarang dan pasti ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada ayahmu. Tapi jika kau mati begitu cepat, apa kau berani bertemu dengannya di akhirat?” ucap Ardiaz.
Pria itu mencoba menyelami hati Evangeline lewat tatapan matanya yang penuh dengan rasa benci terhadapnya. Dia terus memprovokasi gadis itu agar mau menyetujui perintahnya.
“Aku berikan kau kesempatan hidup dengan menjadi istriku. Dengan begitu, kau bisa mencoba mencari cara untuk membunuhku. Bukankah begitu lebih baik dari pada menjadi gelandangan yang terus dikejar-kejar oleh anak buahku, dan bisa terbunuh kapan pun?” pungkas Ardiaz.
“Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini pada ku? Pada Ayah, orang yang sudah merawatmu sejak kecil? Kenapa?” pekik Evangeline putus asa.
Dia tak tahu harus membuat keputusan seperti apa. Dia bukanlah gadis pemberani yang bisa hidup seorang diri di dunia luar yang begitu buas dan ganas.
Dia sudah terbiasa hidup dengan mengandalkan gelimangan harta dari sang ayah. Sementara di sisi lain, dia tak sudi jika harus menikah dengan orang yang dianggapnya sudah membunuh ayahnya.
Akhirnya, dengan tekad membalas dendam yang kuat, dia menerima pernikahan ini dengan keterpaksaan, demi untuk membalas dendam kepada Ardiaz atas apa yang telah terjadi pada keluarganya.
__ADS_1
...❄❄❄❄❄...
Sepanjang perjalanan dari kantor catatan sipil hingga ke rumah Hemachandra, Evangeline dan Ardiaz saling diam. Pemuda dingin itu terus terlihat menutup mata sambil kedua tangannya terlipat di depan dada.
Sementara Evangeline terus membuang wajahnya, melihat keluar jendela dan menjauhkan duduknya dari pria, yang saat ini telah sah dimata hukum sebagai suaminya.
Dia tak menyangka jika harus menikah secepat ini, terlebih dengan orang yang sangat dibencinya.
Pernikahan yang harusnya menjadi mimpi semua gadis, justru ia dapatkan dengan cara seperti ini. Tanpa pesta, tanpa ada gaun cantik, tanpa adanya foto pengantin. Ardiaz bahkan memberikan potret saat acara ulang tahunnya yang semalam kepada pegawai kantor pemerintah tadi, sebagai foto pernikahan.
Pernikahan macam ini? Bahkan ayahpun tak ada di sini, batin Evangeline meratap.
Dia masih sangat terkejut dengan kejadian semalam, yang membuat hidupnya berubah seketika.
Tak terasa, mobil sudah bergerak masuk ke dalam halaman mansion keluarga Hemachandra. Evangeline tak menyangka jika rumahnya sendiri, saat ini justru terasa seperti penjara baginya. Seperti orang yang baru pertama kali datang ke tempat tersebut, Evangeline terus melihat bangunan besar itu dengan tatapan asing.
“Ayo masuk!” seru Ardiaz.
Evangeline mencoba mengabaikannya, akan tetapi pemuda dingin itu sama sekali tak terpengaruh dengan rengekan gadis tersebut.
“Aku beri waktu sampai hitungan ke tiga, kalau kau tak mau ikut masuk, maka kau akan tidur di luar dan tak mendapat makanan malam ini,” ancam Ardiaz.
Evangeline seketika menoleh, dan menatap nyalang ke arah Ardiaz. Namun, yang di tatap justru membuang pandangan dan enggan melihat gadis itu.
“Aku rasa kau sudah terbiasa tidur di luaran sana. Jadi, tidur di luar semalam lagi pun ku rasa tak masalah,” ucap Ardiaz.
Evangeline pun meradang. Dia maju menghampiri pemuda tersebut.
“Ini rumahku. Punya hak apa kau mengatur ku di sini? Benar-benar tidak tau diri,” hina Evangeline.
Gadis itu pun berbalik dan hendak membuka pintu, namun papan kayu itu sudah lebih dulu di dorong dari arah dalam.
Seorang pria paruh baya terlihat keluar menyambut kedatangan nona dan juga kepala pengawal yang baru saja datang.
“Selamat datang kembali, Nona Eva,” ucap Delvin sang kepala pelayan.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih