They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Kedatangan Eva


__ADS_3

“Hei, brengs*k, katakan di mana kau menyembunyikan ayahku!” seru suara dari seberang, yang tak lain adalah milik Evangeline.


Ardiaz hanya mampu memejamkan mata, mendengar perkataan Evangeline dengan nada yang tak ramah di telinga.


“Ardiaz, aku tanya padamu sekali lagi, di mana kau sembunyikan ayahku?” cecar Evangeline.


“Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa ayahmu sudah mati? Bukankah kau menuduh aku yang membunuhnya?” balas Ardiaz dengan beberapa pertanyaan.


“Tidak usah berpura-pura lagi di depanku, Ardiaz. Aku tahu, kau lah orang yang sudah memberikanku Macbook itu, dan memperlihatkan semua yang terjadi antara dirimu dan juga Aaron bukan."


"Berkat itu, aku harus berterimakasih padamu karena secara tak langsung telah mengungkapkan bahwa ayahku masih hidup. Jadi, cepat katakan padaku di mana dia berada,” seru Evangeline dengan nada yang terdengar begitu tegas.


Ardiaz terpaku mendengar nada bicara Evangeline saat ini. Ini pertama kalinya gadis manja itu bisa menunjukan sisi kuatnya. Sebuah senyum pun tersungging dari sudut bibirnya.


“Hei, brengs*k! Cepat katakan di mana ayahku!” pekik Evangeline.


“Heh... Hehehe... Hahahaha... Hahahaha....” Tiba-tiba saja Ardiaz tergelak, bahkan setelah dimaki oleh sang istri.


Evangeline sampai diam dengan alis yang hampir bertaut sempurna, saat mendengar suaminya justru terbahak mendengar perkataan dirinya yang begitu kasar, meminta petunjuk tentang keberadaan sang ayah.


“Apa kau sudah gila? Aku bertanya padamu, kenapa kau malah tertawa seperti orang tidak waras?” cecar Evangeline.


“Hahahaha... Carilah sendiri di mana ayahmu berada. Aku ingin tau, sepintar apa putri Hemachandra Adiguna ini,” ucap Ardiaz.


“Hei, Ardi...,”


Panggilan dimatikan, bahkan sebelum Evangeline sempat menyelesaikan kalimatnya.


Ardiaz segera menonaktifkan ponselnya, karena tak ingin ada yang mengganggunya lagi dengan masalah keluarga yang begitu rumit ini.


Dia pun memilih untuk kembali bergabung dengan rekan-rekannya dan mengambil sebuah kaleng bir. Namun, Malcolm dengan cepat merebutnya.


“Kau sekarang pasien. Ingat itu,” seru Malcolm.


Dokter itu pun membuka tutup kaleng bir yang diambil Ardiaz tadi, dan meneguknya untuk diri sendiri.


Sementara Ardiaz, dia menjadi bahan tertawaan kedua rekan lainya, karena tak bisa ikut menikmati pesta lajangnya sendiri.


Dia pun memilih mengambil jus kalengan, dan memakan beberapa makanan yang telah mereka pesan.

__ADS_1


...❄❄❄❄❄...


Dini hari, Jordan dan Mac duff terlihat telah mabuk sepenuhnya, setelah menghabiskan banyak kaleng bir. Sementara Malcolm hanya minum tiga kaleng bir, dan itu pun tidak habis sepenuhnya, mengingat dia masih harus bertugas di rumah sakit tersebut.


Ardiaz sudah tak ada di sana, karena dia memilih untuk masuk ke dalam gedung sejak tadi dan melihat kondisi sang kakak.


Namun, saat dia tiba di ruang ICU, Ardiaz mengurungkan niatnya, saat melihat Morita telah berada di dalam sana dengan pundak berguncang, pertanda dia sedang menangis.


Pria muda itu lalu berbalik dan memilih duduk di luar ruang ICU, menyandarkan punggungnya dan membiarkan tengkuknya yang terasa pegal menyandar di sandaran.


Matanya terpejam. Rasa lelah mulai menyerangnya. Ardiaz merasa jika beberapa hari ini benar-benar sangat melelahkan.


Namun begitu, dia tahu bahwa semua ini baru awal. Masih akan ada masalah lain lagi selama orang yang berada di balik semua kekacauan ini belum tertangkap.


Helaan nafas berhembus dengan kasar dari mulut Ardiaz.


Cukup lama dia berada dalam posisi tersebut, hingga kantuk menyerangnya. Namun, baru beberapa saat dia mampu terlelap, seseorang datang dan menendang kakinya yang masih diperban.


“AAAAAARRRGHHHH!”


Ardiaz pun menjerit, karena kakinya yang terkilir kembali terasa sakit akibat ulah orang itu.


“Apa begitu cara mu membangunkan orang yang sedang tidur, hah?” hardik Ardiaz.


“Ah... Kau tidur rupanya. Aku kita kau sudah mati tadi. Jadi aku tendang dengan keras agar kau segera bangun,” sahut gadis yang tak lain adalah sang istri, Evangeline.


Keduanya saling tatap dengan pandangan yang sama sekali tak bersahabat. Kemudian, Ardiaz berpaling dan mengambil tongkat kruknya, lalu berjalan pergi melewati Evangeline begitu saja.


Evangeline sempat terkejut, terlihat dari matanya yang membesar saat melihat cara berjalan Ardiaz yang terpincang. Dia baru sadar bahwa tadi dia sudah membuat luka Ardiaz kembali sakit.


Namun, dia segera memasang wajah tak acuh dan berbalik menyusul sang suami.


“Di mana ayahku? Aku tahu dia ada di rumah sakit ini bukan. Katakan, ada di ruang mana ayahku? Apa mungkin di ruang ICU tadi?” cecar Evangeline.


Namun, Ardiaz masih diam dan terus berjalan ke arah lain meninggalkan ruang pemulihan sang kakak semakin jauh.


“Pasti di sana. Baiklah, kalau kau tak mau memberi tahu ku, aku akan periksa semua ruangan di rumah sakit ini satu persatu, dimulai dari sana,” ucap Evangeline.


Gadis itu pun berbalik dan berjalan kembali ke ruang ICU. Tiba-tiba, Ardiaz teringat akan keberadaan sang kakak dan kekasihnya yang saat ini masih di dalam sana.

__ADS_1


Gawat! Batin Ardiaz.


Dia pun segera berbalik dan mencoba menyusul secepat mungkin langkah kaki Evangeline. Cedera kakinya benar-benar membuatnya kesulitan untuk bergerak.


Dengan susah payah, dia pun akhirnya bisa menyusul Evangeline, namun terlambat. Gadis itu sudah masuk ke dalam dan Ardiaz buru-buru menghampiri sang istri.


Nampak Evangeline terdiam di tempat, saat melihat sosok yang dulu sangat ia puja tengah terbaring dengan mata terpejam di atas sebuah ranjang pasien, lengkap dengan berbagai alat bantu kehidupan yang terpasang di tubuhnya.


Bukan hanya itu, seorang wanita yang sangat ia kenal, bahkan sudah ia anggap seperti kakak sendiri pun sedang berada di sana menemani sang pria.


Ardiaz melihat reaksi Evangeline dan segera menarik istrinya itu keluar.


Mereka berjalan menjauh dari sana. Ardiaz berjalan ke arah tangga darurat dan menutup kembali pintunya, barulah dia melepas cengkeraman tangannya dari sang istri.


Ardiaz berbalik menatap Evangeline, akan tetapi gadis itu masih diam dengan wajah tertunduk.


Melihat hal itu, Ardiaz pun mengacak rambutnya dan bersandar di dinding.


“Kau ingin menemui ayahmu kan? Baiklah, akan ku antarkan kau ke tempat beliau,” ucap Ardiaz.


Pria itu pun keluar dan berdiri di ambang pintu. Dia menoleh sekilas ke arah Evangeline yang masih diam.


“Aku hanya akan berbaik hati kali ini saja. Kalau kau masih mau di sini, jangan salahkan aku kalau kau tak bisa menemukan ayahmu,” ucap Ardiaz.


Pria itu pun berjalan dan sengaja memperlambat langkahnya, berharap Evangeline mengikutinya.


Meski dia penasaran kenapa Aaron berakhir di atas tempat tidur pasien, ditambah hatinya yang panas melihat pujaan hatinya bersama wanita lain, namun prioritas utamanya saat ini adalah menemukan keberadaan sang ayah.


Akhirnya, Evangeline pun berbalik dan pergi dari tangga darurat, mengikuti sang suami. Dia berjalan mengekor Ardiaz ke suatu tempat yang dia belum tahu berada di mana.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2