
Seperginya Ardiaz dari rumah sakit tempat Jordan dirawat, dia segera bergegas pergi ke suatu tempat. Dia ingat bahwa dia masih punya satu urusan lagi, yaitu memberi kabar kepada Malcolm di Wisteria mengenai kondisinya.
Namun sebelum itu, dia harus pergi ke suatu tempat. Ada satu benda lagi yang harus ia ambil. Benda miliknya, sekaligus peninggalan dari mendiang ibunya.
Tempo hari sebelum meninggalkan toko wanita tua, Ardiaz mendapatkan sebuah kertas dengan sebuah nomor ponsel tertera di atasnya.
Wanita tua itu mengatakan bahwa jika dia membutuhkan sesuatu, Ardiaz cukup menghubungi nomor tersebut dan seseorang akan datang mengantarkannya.
Wanita tua itu tau bahwa setiap gerak gerik Ardiaz sudah pasti diawasi oleh pengawalnya. Oleh karena itu, dia berusaha tetap menjaga rahasia dan diam-diam membantu pria muda itu.
Ardiaz pun lalu menghubungi nomor tersebut. Terdengar suara seorang pemuda di ujung sambungan.
“Apa kau King yang baru? Nenek berkata bahwa kau akan segera menghubungi ku,” ucapnya dari seberang.
“Apa nenekmu ada di sana?” tanya Ardiaz.
“Tidak. Nenek sekarang ada di toko. Apa kau perlu sesuatu?” tanya si pemuda.
“Pergi dan katakan pada nenekmu bahwa aku ingin mengambil titipan ku,” ucap Ardiaz.
“Boleh ku tau titipan apa itu?” tanya si pemuda.
“Sebuah kotak beludru biru tua,” ucap Ardiaz.
“Baiklah. Aku akan katakan pada nenek. Kita bertemu di mana?” tanya si pemuda.
Mereka berdua kemudian membuat janji bertemu di salah satu gudang lama di dekat pelabuhan. Ardiaz memilih waktu tengah hari agar pengawalnya tak curiga dengan apa yang akan dilakukannya di sana.
Dia pergi ke dermaga timur dan berhenti di depan sebuah kedai makan, yang dulu pernah ia datangi bersama teman-temannya.
Ardiaz ingat bahwa pintu belakang kedai terhubung langsung dengan jalan kecil yang menuju ke arah gudang lama.
Dia berusaha mengecoh pengawalnya dan pergi secara diam-diam untuk bertemu dengan pemuda yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Sesampainya di gudang, dia melihat seorang pemuda seusia dua tahun di bawahnya, sedang berdiri di bawah bayangan gedung tua. Dia nampak seperti pemuda biasa pada umumnya.
Tampilannya cukup modis dan juga bersih. Dia memiliki rambut merah menyala dengan anting di kedua telinganya. Sebuah headphone melingkar di lehernya serta tas ransel yang menggelayut di pundak.
Ardiaz pun mendekati pemuda tersebut. Dia berjalan sambil mengambil sebatang rokok dari bungkus yang ia sakukan.
Pria itu mulai menyulut rokoknya dan berdiri tak jauh dari pemuda tersebut.
Melihat keberadaan Ardiaz, pemuda itu lalu maju mendekat dan menghampiri pria tersebut.
“Bisa ku lihat tato mu?” tanya pemuda itu tiba-tiba.
Ardiaz tak menyahut dan hanya menyunggingkan senyumnya. Dari cara pemuda itu mengkonfirmasi siapa Ardiaz, sudah bisa ditebak jika pemuda tersebut sudah sangat hapal dengan sistem kerja dalam Lucifer.
Ardiaz pun lalu menunjukkan tato yang ada di pergelangan tangannya, dengan mahkota yang sekarang sudah berubah menjadi bentuk King.
__ADS_1
...DULU...
...SEKARANG...
Melihat tato King milik Ardiaz, pemuda itu lalu melepas ranselnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
“Ini benda yang kau mau,” ucap si pemuda.
Ardiaz lalu meraihnya dan membuka kotak itu sekilas. Pria muda tersebut lalu melirik ke arah si pemuda dan kembali menutup kotak itu rapat-rapat, lalu memasukkan ke balik jaket. Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan pemuda yang sejak tadi terus memandanginya, hingga punggungnya menghilang di belokan.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Ardiaz kemudian pergi dari sana dan kembali ke kedai dimana ia meninggalkan pengawalnya.
Tak ada yang curiga tentang kepergiannya yang diam-diam menemui seseorang di gudang lama. Ardiaz pun dengan mudah melenggang dan kembali menuju mobilnya tanpa dicurigai sedikitpun.
Hari itu, dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan menyiapkan sesuatu. Ardiaz meletakkan kotak beludrunya di atas meja. Dia terlihat menagmbik sesuatu dari dalam laci nakas samping tempat tidur, yang gak lain adalah cincin pernikahannya dengan Evangeline.
Dia memandangi cincin yang terlihat menghitam di beberapa bagian. Terlihat bercak darah yang telah mengering, serta bekas jelaga sisa ledakan waktu itu.
Tatapan mata Ardiaz terasa sendu. Bola mata hitam itu bahkan sedikit lembab namun dengan cepat pria tersebut mengalihkan fokusnya dan memasukkan cincin tadi ke dalam kotak beludru, dimana blue ocean berada.
Pria tersebut nampak membungkus kotak beludru yang dia ambil dari si wanita tua dengan berlapis kertas serta bahan kedap air, seolah hendak memaketkannya.
Ada sebuah artikel yang ia cetak dari salah satu situs online yang memberitakan bahwa terjadi sebuah ledakan besar di sisi barat Kota Orchid, di mana sebuah gudang senjata berada.
Hal itu cukup untuk memberikan informasi mengenai kondisi Ardiaz dan teman-temannya kepada Malcolm, yang sampai saat ini belum mengetahui kabar tentang mereka bertiga.
“Kejadian sekecil apapun bisa merubah semua rencana kita. Jika aku selamat, aku akan dengan jelas mengatakan bahwa aku masih hidup, tapi jika aku tak bisa mengatakannya dengan jelas, maka anggaplah aku sudah mati meski aku masih hidup,” pesan Ardiaz kepada Malcolm, sebelum dia menaiki kapal menuju ke Kota Orchid.
Kini, dia telah selesai mengemas kotak beludrunya. Kotak tersebut kini berisikan kalung sang ibu dan juga cincin pernikahannya yang akan ia berikan kepada sang istri melalui Malcolm.
Dia tak mungkin membawa benda tersebut selama masih menyamar menjadi adik Emperor Lucifer. Apa lagi sang kakak yang saat ini sedang mengalami kesulitan, dia khawatir kalung itu akan kembali dijual. sehingga hanya sang istri yang bisa menyimpan benda itu untuknya.
Ditambah sifat Evangeline yang menjadi tidak mudah percaya pada orang lain setelah pengkhianatan Aaron, membuat Ardiaz menjadikan cincin pernikahannya sebagai bukti bahwa dia benar-benar telah mati.
Tak lama berselang, seorang pria datang menekan tombol pintu apartemen Ardiaz. Pria tersebut berpakaian layaknya kurir jasa pengiriman ekspres, yang dipanggil oleh si pemilik rumah.
Karena memakai topi, wajahnya jadi tak terlihat di kamera pengawas. Saat Ardiaz membuka pintunya, pria itu mengangkat wajah hingga jelas terlihat, bahwa dia adalah Mac duff yang menyamar menjadi kurir.
Ardiaz menyerahkan paketnya untuk dikirimkan ke seberang. Tanpa sepatah katapun, transaksi berlangsung dan selesai begitu saja.
Mac duff pergi setelah mendapatkan paketnya. Ardiaz sengaja meminta rekannya itu yang mengantar, karena dia mendengar bahwa kelompok Joker akan pergi ke Magnolia untuk perburuan.
Jadi, dia meminta mac duff untuk membawa serta paket tersebut dan diam-diam menyerahkannya kepada Malcolm, karena merasa cara itu lebih aman mengingat berapa berharganya benda-benda di dalamnya
...❄❄❄❄❄...
Beberapa hari telah berlalu sejak Ardiaz mendapatkan duplikat Sistem Enel di ponselnya. Ini bahkan sudah hampir sepekan dia menitipkan kalung ibunya pada Mac duff.
Hingga saat ini, dia belum mendengar lagi kabar apapun dari rekannya yang pergi ke Magnolia itu.
__ADS_1
Awalnya dia ingin mencari tahu apakah paketnya sudah diterima atau belum oleh Malcolm lewat sistem enel yang ada pada kalung Evangeline. Namun jika dia melakukannya, rasanya itu sama saja jika dia tak mempercayai Mac duff.
Dia bahkan rela mengejar waktu demi menyelesaikan misinya lebih awal, agar bisa cepat mencari tahu apakah kelompok Mac duff telah kembali dari Magnolia atau belum.
Ternyata, hingga hari ini pun Mac duff belum kembali ke Kota Orchid. Ardiaz baru saja tiba di apartemennya setelah menyelesaikan misi dan hendak pergi menemui Jordan di rumah sakit.
Dia mendapat kabar bahwa temannya itu kini sedikit demi sedikit sudah bisa makan dan minum sendiri, tanpa memuntahkan apa yang telah masuk ke mulutnya.
Hal ini bisa dikatakan bahwa Jordan sudah bisa mandiri dan kemungkinan besar untuk diijinkan keluar dari rumah sakit.
Namun, saat dia baru akan mengambil kunci mobilnya, sebuah alarm dari handphonenya membuat dia tertegun. Pasalnya, dia tak tahu alarm apa ini.
Ardiaz pun meraih benda pipih tersebut dari saku jaketnya, dan melihat lambang hati yang berkedip merah, dengan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
Dia lalu menekan lambang hati itu dan seketika Sistem Enel muncul di layar ponselnya. Ardiaz mengerutkan keningnya karena tak tahu maksud dari semua ini.
Pria itu pun segera mengambil earphones-nya dan memasangkan ke telinga. Tepat saat itu, dia bisa mendengar suara Evangeline yang terdengar bergetar.
Ardiaz baru ingat bahwa Sistem Enel dilengkapi oleh sensor detak jantung. Jika si pemakai kalung sedang dalam kondisi tak biasa dan detak jantungnya cenderung naik, maka alarm akan berbunyi dengan lampu indikator berwarna merah.
Hal itu lah yang membuat ponselnya tadi mengaktifkan alarm darurat yang berasal dari sistem tersebut.
Dia terus memperhatikan layar ponselnya dan juga mendengarkan apa yang sedang terjadi di sana.
Nampak Malcolm tengah berdiri di depan sang istri, sambil mengabarkan tentang kematiannya. Evangeline berusaha mengelak dan tak mau percaya begitu saja, namun kemudian Malcolm menunjukkan beberapa benda yang membuat Evangeline tak bisa lagi menolak kabar tersebut.
Hingga Malcolm menyerahkan kotak beludru kepada Evangeline, gadis itu tak terdengar terisak sama sekali, meski kenyataan yang dilihat langsung oleh Malcolm lebih menyesakkan lagi.
Evangeline mencoba menahan tangisnya. Gadis itu berusaha tetap terlihat tegar meski hatinya hancur mendengar kabar orang yang begitu ditunggunya telah mati.
Saat Malcolm pergi dari hadapan Evangeline, barulah tangis itu pecah. Ardiaz mendengar tangisan sang istri dengan sangat jelas.
Meski ini sungguh kejam, tapi tak ada cara lain selain memutus semua hubungan dengan orang-orang terdekatnya, demi keselamatan mereka semua.
Dia sadar jika ini adalah cara terbaik untuk melindungi istrinya. Namun satu hal yang dia tak paham dari dirinya.
Kenapa dadaku rasanya sesak saat mendengar tangisannya, bahkan sampai aku kesulitan bernafas, batin Ardiaz.
Tanpa sadar lelehan bening bahkan menetes dari sudut matanya.
Maafkan aku, Eva.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih