They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Ijinkan aku pergi


__ADS_3

“Apa ini karena Ardiaz?” tanya Malcolm.


Evangeline diam. Dia bahkan kembali memalingkan pandangannya.


“Biarkan aku menggantikan dia di hatimu,” ucap Malcolm.


Evangeline seketika menoleh dan menatap ke dalam mata pria di depannya itu, dengan netra yang memicing. Keningnya pun berkerut hingga alisnya nyaris bertaut.


“Biarkan aku mengisi hatimu yang hampa itu. Ijinkan aku menghangatkan lagi hatimu yang saat ini membeku,” ucap Malcolm.


Evangeline terpaku. Otaknya masih mencoba mencerna apa yang tengah dilakukan oleh pria ini padanya.


Tatapannya seolah terpatri pada manik hitam pria di depannya. Sementara Malcolm, pria itu semakin teduh menatap Evangeline. Jemarinya dengan lembut mengusap pipi gadis itu, memberikan kehangatan di sana.


Sebuah dorongan dari dalam dirinya, membuatnya memberanikan  diri mengambil langkah selanjutnya.


Melihat Evangeline tak memberikan penolakan, Malcolm pun mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu. Kepalanya bahkan telah miring ke kanan dengan tangan yang meraih tengkuk Evangeline.


Mata pria itu terpejam, seiring terpaan nafas hangat dari mulut Evangeline yang menerka kulit wajahnya.


Namun, tiba-tiba semilir angin berhembus membuat rumpun bambu kembali menimbulkan bunyi bergemerisik. Evangeline tersentak kala aroma itu kembali tercium oleh indranya.


Gadis itu seketika memalingkan wajahnya hingga Malcolm terkejut dan membuka mata. Dia melihat gadis itu seolah tengah mencari sesuatu.


Evangeline menoleh ke kanan dan kiri, bahkan berbalik ke belakang seolah sedang mencoba menemukan sesuatu yang telah lama ia cari.


“Eva, ada apa?” tanya Malcolm.


“Apa kau merasakannya? Dia di sini. Dia datang lagi. Aku tau itu pasti dia. Aroma... Aku masih ingat aromanya. Itu masih sama seperti dulu. Aku yakin dia pasti di sini,” cerocos Evangeline.


“Dia? Siapa maksudmu?” tanya Malcolm.


“Ardiaz. Dia datang. Aku bisa merasakannya,” jawab Evangeline.


Wajahnya benar-benar terlihat begitu berbinar mencari keberadaan pria yang telah dikabarkan meninggal itu.


Gadis itu terus melihat sekeliling, mencoba mencari orang yang diharapkannya, dan tak melihat bagaimana gurat wajah Malcolm saat ini. Jelas tergambar sebuah kekecewaan di sana.


Meski Evangeline tak secara langsung menolaknya, namun dengan melihat dari sikap gadis itu, jelas bahwa tak ada celah baginya untuk masuk ke dalam hatinya, apalagi mengisi kekosongan di sana.


Sedalam apa perasaanmu? Bukankah kau selalu membencinya, Eva? batin Malcolm.


...❄❄❄❄❄...


Rasa kehilangan Evangeline hampir membuatnya menjadi seperti orang gila. Dia menyiksa diri agar tak selalu ingat akan kepergian suaminya, namun setiap kali berbaring seorang diri di dalam kamar, air mata dengan sendirinya akan luruh dan membuat dadanya sesak.


Dia lelah dengan semua ini. Semua orang pun merasa khawatir dengan kondisinya ini, terutama sang ayah.


Meski dia selalu berusaha tampil baik-baik saja di depan ayahnya itu, namun Tuan Hemachandra tau dengan jelas bagaimana perasaan sang putri sebenarnya.

__ADS_1


Evangeline ingin melupakan Ardiaz dan merelakan kepergiannya. Akan tetapi entah kenapa, hatinya mengatakan bahwa pria itu masih berada di dekatnya dan selalu mengawasinya.


Akhirnya, di sela kesibukannya, Evangeline mencoba mencari tahu tentang lokasi tepatnya dimana sang suami menghilang, dan apa penyebab sebenarnya. Dia juga ingin tahu kenapa tidak ada serah Terima jenazah kepada pihak keluarga dan bahkan pemakamannya pun tak ada.


Awalnya, dia ingin meminta bantuan Malcolm. Namun, pria itu pasti tidak akan memberitahukannya mengenai hal tersebut, dengan alasan dilarang oleh Ardiaz.


Dia pun mengumpulkan semua informasi yang begitu minim dan membandingkannya dengan berita yang ada di internet.


Dari Malcolm, dia tahu bahwa Ardiaz meninggal dalam ledakan sebuah gudang senjata yang terletak di padang rumput di pinggiran Kota Orchid. Akan tetapi tak ada satu berita pun yang memberitakan kejadian tersebut seolah itu tak pernah terjadi.


Evangeline pun ragu dengan berita yang dibawa oleh Malcolm, dan mencoba mencari kasus yang serupa di berbagai tempat dan mencocokkan waktu kejadiannya.


Hingga akhirnya, dia menemukan sebuah berita tak resmi yang berasal dari sebuah unggahan warganet, tentang sebuah ledakan gudang tua yang berada di bagian barat Kota Orchid.


Melihat waktu unggahannya, hampir berdekatan dengan waktu kematian Ardiaz.


Dia pun mencoba mencari tahu lagi siapa pemilik gudang tersebut dan hal-hal lainnya.


Berbulan-bulan dia mencoba mencari informasi, hingga tanpa terasa musim telah kembali berganti.


Kini, Evangeline telah menetapkan keputusan. Malam ini, dia berencana menemui sang ayah di ruangannya.


“Tuan Delvin, apa ayahku sedang sibuk?” tanya Evangeline.


Dia bertemu dengan kepala pelayan yang baru saja keluar dari ruangan sang ayah.


“Oh, tidak Nona Eva. Tuan tidak sibuk sama sekali. Silakan jika Anda ingin menemuinya,” ucap Delvin.


Gadis itu pun mengetuk beberapa kali pintu tersebut, dan memutar gagangnya hingga terbuka.


Saat kepalanya melongok ke dalam, sang ayah menoleh ke arahnya dan tersenyum ke kepada gadis itu.


“Kau belum tidur, Sayang?” tanya sang ayah.


“Aku belum mengantuk, Ayah,” sahut Evangeline.


Gadis itu lalu berjalan menghampiri ayahnya,  memutar meja dan berdiri di belakang kursi kerja sang ayah.


Dia mengangkat tangannya dan memijat pundak sang ayah. Merasa ada yang berbeda dari sikap sang putri, Hemachandra pun menghentikan pekerjaannya.


“Putri ku sedang menginginkan sesuatu sepertinya,” terka Tuan Hemachandra.


“Ayang memang yang terbaik. Tapi, coba tebak apa yang kuinginkan?” tanya Evangeline.


“Ehm... Coba ayah pikirkan dulu. Apa mobil baru?” tanya Tuan Hemachandra.


“Dari pada meminta mobil baru, aku lebih ingin belajar mengemudi,” sahut Evangeline.


“Lalu? Apa kau ingin tas baru?” tanya Tuan Hemachandra.

__ADS_1


“Di lemariku sudah sangat banyak benda seperti itu, Ayah. Aku malah ingin menyumbangkan mereka semua,” ucap Evangeline.


“Kalau bukan itu, ehm... Apa kau ingin bertamasya? Kemana kau ingin pergi, hah?” tanya Tuan Hemachandra.


Tiba-tiba, gerakan tangan Evangeline terhenti. Sepertinya tebakannya kali ini benar. Tapi, melihat rekasi putrinya yang justru diam tak mengoceh lagi, sepertinya bukan itu yang dimaksud.


Tuan Hemachandra pun memutar kursinya dan melihat raut wajah sang putri yang terlihat muram. Dia pun meraih tangan gadis itu dan terus menatap kedalam manik hitam Evangeline.


“Ada apa, Sayang?” tanya Tuan Hemachandra.


Evangeline masih diam. Namun, sejurus kemudian gadis itu menatap wajah ayahnya dan tersenyum.


“Ayah, panggillah Aaron lagi. Ajak dia untuk bekerja dengan mu. Setidaknya, biarkan dia bekerja rodi dengan gaji kecil, dan buat dia menderita,” ucap evangeline.


Tuan Hemachandra merasa ada yang aneh dengan putrinya itu.


“Nak, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba...,” tanya Tuan Hemachandra.


“Aku ingin melanjutkan studiku,” sela Evangeline.


Tuan Hemachandra diam. Dia masih mencoba mendengar penjelasan dari sang putri.


“Sejak ulang tahunku waktu itu, aku sudah tak pergi lagi ke sekolah. Aku terus bekerja di perusahaan dan dengan kemampuan seadanya, aku mencoba yang terbaik agar perusahaan mu tidak jatuh. Aku merasa kemampuanku masih sangat kurang, Ayah. Jadi, ijinkan aku untuk kembali ke akademi,” jelas Evangeline.


Tuan Hemachandra tersenyum mendengar hal tersebut. Dia menggenggam tangan sang putri dengan lembut dan menepuk punggung tangan gadis itu.


“Apa benar hanya itu?” tanya Tuan Hemachandra.


“Tentu saja. Karena aku akan sangat sibuk pada kuliahku, kemungkinan aku tak bisa membantu Ayah untuk mengurus perusahaan. Jadi, aku memutuskan untuk mengijinkan Ayah merekrut bajingan itu lagi. Ku harap kali ini dia benar-benar bertobat,” ungkap Evangeline.


Helaan nafas yang terasa begitu melegakan terdengar dari mulut pria paruh baya tersebut.


“Baiklah, jadi kapan kau akan mulai masuk ke akademi?” tanya Tuan Hemachandra.


Evangeline diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang ayah.


“Ayah, biarkan aku pergi dari kota ini,” ucap Evangeline.


FLASHBACK OFF


.


.


.


.


Flash back enam bulan lalu sudah selesai, mulai next bab berarti sudah alur maju lagi yah gengs 😁

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2