They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Aroma yang tertiup angin


__ADS_3

“Ini semua salahmu!” ucap Evangeline tiba-tiba.


Gadis yang sejak tadi terus membuang muka itu, kini menatap tajam ke arah Aaron, dengan tatapan yang begitu tajam dan mengerikan.


Morita bahkan menutup mulutnya karena tak percaya, bahwa anak asuhnya akan menunjukkan ekspresi yang semenakutkan itu.


“Kau ingin tau di mana adikmu berada? Tanyakan saja langsung di akhirat,” ungkap Evangeline.


Tangannya begitu kuat mengepal dengan rahang yang bertaut ketat.


Aaron semakin membelalak mendengar perkataan dari gadis yang telah lama menaruh hati padanya, namun ia hancurkan dalam semalam.


“Apa maksudmu, Eva?” tanya Aaron mencoba mencari kejelasan.


Namun, bukannya menjawab, Evangeline justru berdiri dan menenteng tasnya. Malcolm pun menatap gadis itu yang sepertinya sudah tak nyaman lagi berada di sana.


“Malcolm, kenapa tak kau katakan saja semuanya pada pria ini bahwa adiknya, Ardiaz, sudah mati? Dia mati saat mencoba menyadarkan sang kakak yang telah keliru. Harusnya sekarang pria ini merenungi kesalahannya. Secara tak langsung, kau telah membunuh suamiku, mencelakai ayahku, dan membuat keluargaku menderita,” ucap Evangeline.


Gadis itu terus menatap tajam ke arah Aaron, meskipun dia seolah tengah berbicara pada Malcolm.


Sementara Aaron, dia membeku mendengar semua perkataan Evangeline. Morita bahkan tak kuasa menangan air matanya, saat mengetahui bahwa suami anak asuhnya telah meninggal.


“Apa kau tahu seberapa jahatnya kau ini, Aaron? Kau telah membuat adikmu mengantarkan nyawanya sendiri ke tempat yang entah di mana. Kau bahkan mencelakai orang yang sudah sangat menyayangimu seperti anaknya. Dan anehnya, mereka masih begitu memedulikanmu.”


“Bahkan ayahku yang harusnya membencimu, justru ingin bertemu denganmu demi meluruskan keraguanmu. Benar-benar tak habis pikir,” lanjut Evangeline.


Melihat tak ada kata-kata yang keluar dari pasangan itu, Evangeline pun menaikkan tali tasnya ke pundak dan berjalan pergi dari sana.


Namun, ketika sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas ke samping.


“Datanglah jika kau masih punya rasa hormat pada Ayahku. Dia akan pulang besok. Kau tahu bukan kemana harus menemuinya,” pungkas Evangeline.


Dia pun kemudian melangkah keluar dari rumah tersebut, dan menuju ke mobil Malcolm.


Sekitar lima belas menit kemudian, dokter itu datang menghampiri Evangeline yang telah lebih dulu duduk di dalam mobil, dengan wajah yang terus berpaling ke samping.


Dari pantulan di kaca pintu, jelas terlihat gurat kebencian di wajahnya, meski matanya juga tengah berkaca-kaca.


“Kita pulang?” tanya Malcolm.


“Terserah kau saja,” sahut Evangeline datar.


Suaranya jelas bergetar tanda dia mencoba menahan kembali tangisnya, setelah menemui Aaron tadi.

__ADS_1


Malcolm pun hanya bisa menghela nafas berat dan menyalakan mesin mobil. Keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut dan menuju kembali ke Kota Wisteria.


Entah harus seperti apa lagi dia mencoba. Gadis itu selalu saja menangis setiap kali mengingat Ardiaz.


Awalnya dia tak merasakan apapun, namun akhir-akhir ini hatinya terasa sesak dan nyeri setipa kali melihat hal tersebut.


...❄❄❄❄❄...


Tiga hari berlalu. Tuan Hemachandra pun kini telah kembali ke rumah. Semua orang menyambutnya dengan suka cita, melihat sang tuan besar kini telah kembali pulih seperti semula.


Terutama Delvin yang begitu terharu dengan penampakan dari tuannya itu, yang meski masih harus bergantung pada sebuah tongkat berjalan, namun setidaknya pria itu kini telah kembali sehat seperti sediakala.


Hari ini, bertepatan dengan akhir pekan. Evangeline dan Hemachandra tengah duduk bersantai di taman bunga di bagian belakang mansion mereka.


Tiba-tiba, seorang pelayan datang menghampiri keduanya, dan mengatakan bahwa ada tamu yang menunggunya di depan.


“Siapa?” tanya Tuan Hemachandra.


“Tuan Aaron, Tuan,” jawab si pelayan.


Evangeline nampak terkejut, namun dia mencoba bersikap seolah tak peduli.


Ayahnya melirik ke arah sang putri, namun dia mendapati bahwa Evangeline tak peduli dengan ucapan si pelayan yang mengabarkan kedatangan Aaron ke rumah mereka.


“Baik, Tuan,” sahut si pelayan.


Pelayan itu pun kembali masuk ke dalam. Hemachandra menoleh ke arah sang putri. Dia menepuk punggung tangan gadis, yang sejak tadi terus menatap ke arah kebun bunganya.


“Masuklah, Ayah. Bukankah Ayah ingin menemui orang itu,” seru Evangeline.


“Eva, Ayah tahu kau tidak...,” ucap Tuan Hemachandra.


“Aku yang memintanya datang kemari. Ayah tenang saja, aku tak apa. Pergilah,” sela Evangeline.


“Nak, kau sungguh-sungguh?” tanya Tuan Hemachandra.


Evangeline menoleh menatap wajah ayahnya yang terlihat merasa bersalah pada sang putri. Namun, Evangeline mengulas senyum terbaiknya ke arah sang ayah, dan menepuk punggung tangan ayahnya yang berada di atas tangannya.


“Pergilah. Selesaikan semuanya. Buat dia menyesal karena telah mengecewakan kita,” ucap Evangeline.


Tuan Hemachandra tersenyum tipis melihat kebesaran hati sang putri, yang mengijinkannya untuk bertemu lagi dengan pria yang telah membuatnya sakit berkali-kali.


“Terimakasih, Nak,” ucap Tuan Hemachandra.

__ADS_1


Evangeline mengangguk.


“Jangan lupa ajak Delvin atau seseorang untuk menemanimu, Ayah. Aku masih takut dia membawa senjata seperti sebelumnya,” seru Evangeline.


“Baiklah, Anakku. Aku akan mengajak Delvin untuk masuk bersama ku,” ucap Tuan Hemachandra.


Pria itu lalu bangun. Dia dibantu oleh sang putri berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, Delvin menghampiri tuannya.


“Tuan Delvin, tolong temani ayahku bertemu tamunya,” seru Evangeline.


“Baik, Nona,” sahut Delvin.


Kedua pria paruh baya itu pun berjalan menaiki anak tangga, sementara Evangeline berbalik dan kembali menuju ke taman belakang mansion.


Senyum yang tadi mengembang di wajahnya, seketika menghilang setelah dia membalikkan badan.


Tatapan matanya begitu dingin dan tanpa ekspresi sama sekali. Meski di mulut dia mau menerima kehadiran Aaron di rumah itu, namun dalam hati dia masih sulit untuk menerima hal tersebut.


Hanya demi sang ayah, dia mau menekan egonya dan membiarkan hal itu terjadi.


Evangeline berjalan hingga tiba di sebuah danau buatan kecil yang ada di belakang taman bunganya. Tempat yang dulu sering ia datangi ketika merasa kesal, marah, sedih atau sesuatu yang membuat hatinya tak tenang.


Tempat itu berbatasan langsung dengan hutan bambu cina yang rimbun, yang menjadi pagar pembatas antara lahan lain dengan mansion ayahnya.


Dia duduk di salah satu batu besar yang berada di tepian danau. Matanya terpejam, menikmati suasana damai di tempat tersebut.


Tiba-tiba, angin semilir menerpa wajahnya, membawa sebuah aroma wangi yang membuat hatinya bergetar.


Seketika, Evangeline pun membuka matanya, dan melihat ke sekeliling. Dadanya berdegup begitu kencang. Wajahnya memerah, genangan muncul di pelupuk matanya. Dia merasakan sesuatu yang begitu familiar tengah berada dekat dengannya.


Dimana? Siapa? Aku ingat bau ini. Ini aroma tubuh orang itu. Apa mungkin dia turun dari surga untuk mengejekku? batin Evangeline.


Bulir bening pun kembali menetes di pipinya, setelah menghirup aroma yang terbawa semilir angin, yang begitu membuatnya merasakan kerinduan yang teramat.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2