
Malam hari, tepat pukul sepuluh malam, ketiga pria muda itu telah datang ke tempat yang diberitahukan sebelumnya.
“Kontainer 20125A, benar bukan?” tanya Ardiaz.
Saat ini mereka telah sampai di depan sebuah box besar berwarna hijau gelap, dengan nomor yang sebelumnya diberitahukan oleh si mandor di pabrik pengolahan ikan tadi siang.
Mac duff terlihat melihat ke sekeliling, akan tetapi tak melihat apapun di sana, kecuali deretan kontainer yang menghalangi pandangan.
“Si*lan, apa mereka sudah menipu kita?” terka Mac duff.
Sementara itu, Jordan justru berjalan ke arah kontainer tersebut. Dia melihat sekeliling seolah tengah mencari petunjuk. Tiba-tiba, dia memanjat ke atas melalui tepian kontainer yang memiliki pijakan seperti tangga.
Ardiaz hanya melihatnya, sementara Mac duff berteriak memanggil rekannya itu.
“Hei, Charlie, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Mac duff.
Tepat saat sampai di atas, Jordan menunduk seolah melihat sesuatu di atas sana. Dia kemudian berjongkok dan memperhatikan temuannya itu.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Ardiaz.
Jornda tak langsung menjawab. Dia berdiri dan kembali turun. Kemudian, pria tersebut berjalan kelain arah, tepatnya menuju jalan keluar.
“Kita sebaiknya pergi dari sini kalau tak mau celaka,” ucapnya.
Kedua rekannya itu pun ikut pergi dengan pertanyaan yang memenuhi kepala.
Tepat saat mereka telah meninggalkan area dermaga, suara sirine mobil polisi terdengar, dan membuat Ardiaz serta Mac duff saling pandang.
Mereka pun melihat ke arah Jordan dan mengejar pria tersebut yang berjalan cepat di depan.
“Apa kau sudah tau kalau polisi akan datang?” tanya Mac duff.
“Aku tidak tahu,” jawab Jordan singkat.
“Jadi, apa yang kau lihat tadi di sana?” tanya Ardiaz.
“Di atas kontainer ada lambang sayap patah. Itu tanda bahwa rencana gagal. Jadi, tak ada gunanya lagi kita menunggu disana bukan?” jawab Jordan.
“Wah... Kau ini benar-benar penjual serba ada. Bahkan informasi seperti ini pun kau bisa tahu hanya dengan sekali lihat,” puji Mac duff.
“Bukankah di dunia bawah seperti ini, informasi itu sangat penting hingga lebih mahal dari benda apapun? Sudah pasti pedagang seperti ku harus tahu masalah seperti ini,” jawab Jordan.
Mac duff terlihat manggut-manggut tanda mengerti, akan tetapi berbeda dengan Ardiaz. Pria itu terlihat terus memperhtaikan Jordan dari belakang dan merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan olehnya.
Ketiganya pun kembali ke penginapan mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya, Ardiaz meminta Mac duff untuk kembali menghubungi mandor tempo hari. Namun, Jordan lagi-lagi berpikir berbeda. Dia justru melarang rencana Ardiaz itu.
“Percuma kau ke sana. Tidak akan ada yang bisa kau dapatkan lagi,” ucap Jordan.
“Hei, ayolah. Setelah ku puji semalam, jangan terus bertingkah sok keren seperti itu. Lagi pula, aku yang memulai semua ini, jadi biarkan aku urus hingga selesai,” ucap Mac duff.
“Charlie, apa kau yakin?” tanya Ardiaz.
“Hei, Alpha. Kau jangan ikut-ikutan dia juga. Kalian benar-benar meremehkan ku,” keluh Mac fuff.
Namun, Ardiaz terus melihat ke arah Jordan, seolah sedang meminta pertimbangannya.
“Yah, terserah kau saja. Lagi pula kau kan si ahli melarikan diri. Jika ada apa-apa, cukup lecet saja, tidak perlu sampai terluka parah,” seru Jordan.
Pria itu pun masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan dua rekannya di luar. Mac duff pun memutuskan untuk tetap pergi ke pabrik tersebut.
Benar saja, saat mendatangi pabrik kemarin, dia tak mendapati sang mandor dan justru bertemu orang lain.
Dia mengatakan bahwa mandor itu menghilang semalam dan pagi ini dia yang diminta untuk menggantikannya. Begitupun dengan semua pekerja yang ada di sana, sangat berbeda dengan orang-orang kemarin.
“Mereka bilang semalam dia pergi. Tidak ada yang tau dimana. Aku pun tiba-tiba diminta untuk menggantikannya. Apa kalian mengenal orang itu?” tanya mandor baru tersebut.
“Ahh... Kemarin, dia menawari aku dan teman ku pekerjaan. Jadi, aku kemari untuk menanyakannya lagi,” ucap Mac duff.
“Benarkah? Tapi setahuku, di sini hanya membutakan para wanita untuk bekerja. Apa kau yakin tidak salah dengar?” tanya mandor baru.
“Baiklah. Aku memang tidak hebat dalam pengumpulan informasi di banding Charlie. Aku akan diam saja dan menunggu kalian memintaku bergerak,” ucapnya saat baru saja sampai di penginapan.
Pria itu seketika duduk di kursi dan menyandarkan punggung serta tengkuknya ke kursi tersebut. Mac duff memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.
Ketika itu, Ardiaz tengah melihat sebuah peta yang menunjukkan denah seluruh bagian pesisir timur Kota Orchid.
Sementara Jordan masih sibuk dengan macbook nya.
“Bawakan peta itu kemari, Alpha,” seru Jordan.
Ardiaz pun membawanya ke depan mereka dan menggelar lembaran besar itu di atas meja.
“Pelelangan akan digelar dua hari lagi. Jika kita akan melaksanakan rencana awal, maka tidak ada cara lain selain masuk kedalam kelompok mereka. Tapi, kita tidak bisa masuk jika harus mengikuti ide Delta. Tapi ada satu cara yang bisa kita pakai,” lanjut Jordan.
“Apa itu?” tanya Mac duff.
“Pertama, kita perlu pergi ke tukang tato. Setidaknya kami harus berterimakasih kepada mu karena kau telah berhasil berinteraksi dan mengetahui transaksi mereka, meskipun itu gagal. Setidaknya itu bisa menjadi alibi kita bahwa kita terlibat dengan mereka,” ucap Jordan.
“Jadi maksudmu, kita akan masuk meski belum resmi?” tanya Ardiaz.
__ADS_1
“Apa kau benar-benar berniat masuk ke dalam organisasi mereka selamanya?” sindir Jordan.
Dia tahu benar apa tujuan Ardiaz pergi ke mari, dan dia pun punya priaoritas lain di tempat asalnya.
Sang penjual serba ada itu pun kembali sibuk dengan peta di depannya.
“Hampir semua wilayah ini milik organisasi. Sehingga semua yang terjadi, pasti akan terdengar hingga ke markas mereka. Tapi, ada satu orang di kota ini yang bisa membantu kita mendapatkan tato tanpa perlu khawatir diketahui oleh mereka,” ungkap Jordan.
“Dimana itu?” tanya Mac duff.
“Ada seorang nenek tua yang sudah lama membuka toko tato tradisional tiongkok di sekitar sini,” jawab Jordan.
“What? Kau mau kita membuat tato dengan cara mengerikan seperti itu? Tanpa bius dan juga alat tato dan malah jarum yangmenyakitkanm?” tanya Mac duff yang terlihat keberatan.
“Apa kau punya ide lain?” tantang Jordan.
Mac duff diam karena dia sadar bahwa dirinya tak mampu memikirkan taktik atau ide apapun. Dia hanya tau cara mengangkat senjata, bertarung dan bercinta dengan wanita.
Sementara Ardiaz, pria itu terlihat sedang mempertimbangkan ide dari Jordan yang menurutnya sedikit gila.
“Bagaimana menurutmu, Alpha?” tanya Jordan.
“Apa kau yakin cara ini bisa berhasil?” tanya Ardiaz.
“Kita tak akan tahu sebelum mencobanya,” ucap Jordan.
Dia diam sejenak, sembari mengusap dagu runcingnya.
“Baiklah. Kita lakukan seperti itu saja. Rencana bisa berjalan jika kita sudah bisa masuk ke dalam kelompok mereka,” ucap Ardiaz.
“Baiklah. Lalu kau?” tanya Jordan pada Mac duff.
“Benar-benar mengerikan idemu kali ini. Baiklah, aku ikut saja. Memang ada pilihan lain lagi, hah?” sahut Mac duff kesal.
Ketiganya pun sepakat. Mereka kemudian pergi menemui wanita tua yang dimaksud, dan mulai memasang tato pada pergelangan tangan mereka dengan bentuk yang telah didapatkan oleh Mac duff sebelumnya, yang menunjukkan identitas anggota kelompok yang mereka targetkan, Lucifer.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih