They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Criminal Hunter


__ADS_3

Di sebuah bangunan terpisah yang berada di belakang gedung sekolah, berderet beberapa ruangan yang diperuntukkan sebagai basecamp bagi kelompok kegiatan mahasiswa di Universitas tersebut.


Seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi ramping, rambut diikat ke atas dengan tas punggung berwarna ungu, serasi dengan kaus lengan pendek serta sepatu snikersnya.


Outer lengan panjang putih transparan menambah kesan santai dan cocok di cuaca yang panas ini.


Dialah Evangeline, gadis cantik yang tak banyak orang tau bahwa di telah menganggap dirinya sebagai seorang janda.


Gadis itu baru saja selesai melakukan registrasi ulang, sekaligus mengambil jadwal kuliahnya serta beban SKS untuk semester ini.


Evangeline adalah mahasiswa pindahan, jadi sebelumnya dia telah menjalankan tes penyetaraan terlebih dulu, agar nilainya di Universitas sebelumnya bisa diterima di tempat baru.


Dia juga harus mengejar ketertinggalannya selama satu semester, sehingga dia sekarang akan memulai kuliahnya di Universitas tersebut pada semester ke empat, dan semester depan dia akan sibuk dengan beban kuliah ganda untuk semester tiga dan lima.


Sekitar pukul sepuluh lebih, gadis itu pun pergi dari gedung utama dan menuju ke tempatnya sekarang berada.


Dia berjalan di sepanjang koridor di lantai dua. Sebelah kanannya berjejer ruangan untuk setiap klub, sementara sisi kirinya adalah pagar pembatas yang terbuat dari besi.


Setiap pintu memiliki papan nama serta lambang dari setiap klub, dengan bentuk yang berbeda-beda dan unik sesuai dengan jenis klub mereka.


Dia berhenti di depan sebuah ruangan yang berada di paling ujung, bersebelahan dengan tangga yang menuju ke atap.


Gadis itu membaca sebuah petunjuk di dekat pintu yang mengatakan bahwa pintu masuk berada di atas.


Evangeline mendongak ke atas melihat ke arah langit-langit, namun tak melihat apapun. Lalu, dia menoleh ke samping dan menemukan sebuah tangga.


Dia pun berjalan ke sana dan melihat bahwa tangga itu mengarah ke atap.


“Apa mungkin...,” gumamnya.


Dia pun berjalan menaiki anak tangga hingga tibalah di atap. Di sana ada sebuah pintu lain, dengan lambang sebuah klub yang sama dengan yang ada di pintu yang diketuknya tadi.


Evangeline lalu berjalan mendekat dan mengetuk kembali pintunya.


“Apa kata sandinya?” tanya seseorang dari dalam ruangan.


“Jam satu siang datanglah,” ucap Evangeline.


“Oh kau rupanya,” sahut orang itu.


Pintu pun terbuka dan terlihat seorang gadis seusia Evangeline muncul. Rupanya gadis itu adalah gadis yang ditemuinya ketika di lift. Gadis dengan rambut lurus sebahu yang memakai topi.


“Hai,” sapa Evangeline.


“Ayo masuk,” ajak gadis itu.

__ADS_1


Evangeline pun mengikutinya masuk ke dalam. Rupanya ruangan atap itu juga terhubung ke dalam ruang klub mereka yang berada di bawahnya.


“Masuklah. Anggap saja rumah sendiri. Maaf agak berantakan,” ucap gadis itu.


Evangeline menatap sekeliling. Tampak banyak sekali sticky note tertempel di dinding, papan buletin dan bahkan di pinggiran lemari kabinet yang ada di sana.


Ada yang warnanya memudar, bahkan tulisannya pun telah kabur, dan ada juga yang masih baru dengan tinta bolpoin yang masih jelas.


Mereka turun ke bawah, di mana suasananya lebih berantakan lagi dari bagian atas. Banyak kabel terburai di lantai yang terhubung pada sebuah perangkat keras yang berada di salah satu sudut.


Di bagian bawah, terdapat sekitar enam bean bag dan juga beberapa kursi kayu dengan sandaran, serta satu meja kecil dengan banyak bungkus camilan serta soda di atasnya.


Di sana sudah ada dua orang yang duduk di atas bean bag sambil memegang gadget masing-masing. Semuanya terlihat sibuk dengan urusan sendiri-sendiri.


“Hai, teman-teman. Bisa lihat kemari sebentar?” ucap gadis tadi.


Dia kini telah berdiri di depan semua orang. Semuanya pun menoleh dan melihat ke arah gadis cantik tersebut.


“Hei, Joy. Ada apa?” tanya salah seorang pemuda di sana.


Gadis bernama Joy itu lalu melambaikan tangan ke arah Evangeline, meminta gadis itu untuk mendekat kepadanya.


Evangeline pun berjalan dan maju ke depan semua orang.


Seorang gadis lain dengan rambut dikuncir dua dengan headphone besar melingkar di lehernya, menatap Evangeline menelisik dari atas hingga bawah, seperti sedang memindainya.


“Hai, aku Linda dari semester empat fakultas teknologi informatika,” ucap gadis itu.


“Hai, panggil saja aku Eva, mahasiswa pindahan semester empat jurusan menejemen ekonomi dan bisnis,” sahut Evangeline.


“Aku Samuel, semester enam jurusan hukum pidana,” ucap pemuda bernama Samuel.


“Hai, aku Eva,” sahut Evangeline.


“Nah, Eva. Mereka ini anggota klub Criminal Hunter. Sam adalah penasehat hukum, Linda sebagai hackernya, lalu aku sebagai umpan manis,” ucap Joy dengan gaya menggemaskan.


Evangeline hanya tersenyum tipis melihat sikap temannya itu. Dia tak peduli dengan posisi mereka. Dia hanya ingin meminta bantuan pada klub yang terlihat konyol itu.


“Kau duduklah, dan katakan apa masalahnya,” seru Samuel.


Evangeline pun duduk di atas kursi yang ditarik oleh Joy untuknya.


“Terimakasih, Joy,” ucap Evangeline.


Joy hanya mengangguk, lalu duduk di kursi lain yang berada di belakang bean bag Samuel.

__ADS_1


Evangeline terlihat memperhatikan sekitar. Dia melihat sebuah foto kelompok yang terdiri dari tujuh orang. Tiga diantaranya sudah ia temui, namun empat orang lagi belum.


“Ehm... Maaf, tapi kalau boleh tau, siapa ketua di sini?” tanya Evangeline.


“Ketua kami adalah senior yang satu jurusan dengan Linda, namanya Damian Andreas. Dia dulu masuk ke mari pada usia paling muda yaitu lima belas tahun. Dia itu seorang jenius, tapi sudah hampir lima tahun masih tetap belum lulus juga,” ucap Joy.


“Itu karena senior memiliki banyak urusan di luar. Sudah ku katakan jangan menjelek-jelekkannya,” sanggah Linda.


“Ayolah, Lin. Bukankah dia juga tak terlalu peduli pada senioritas, kenapa kau begitu hormat padanya. Dia bahkan lebih muda darimu,” sahut Samuel.


Evangeline merasa di klub ini ada masalah internal yang cukup serius. Dia pun mencoba mengalihkan topik dan tak mau terlalu mencampuri urusan mereka yang menurutnya tak penting.


“Ehm... Maaf, apa aku perlu kembali lain kali saja?” tanya Evangeline.


Linda melengos kesal dan membuang muka ke lain arah. Dia kesal karena seniornya kembali disindir karena tak kunjung lulus.


“Tak perlu. Katakan saja apa masalah mu. Jika kita bisa membantu, akan kami bantu,” ucap Samuel.


“Tapi, apa tidak apa-apa tanpa persetujuan dari ketua kalian?” tanya Evangeline lagi.


Tiba-tiba seseorang datang dari atas dan membuat Linda yang sejak tadi cemberut menjadi berbinar.


Terlihat seorang pemuda seusia Evangeline dan juga Joy, tengah berjalan ke arah mereka. Penampilannya hampir seperti Linda, dengan celana jeans robek di bagian lutut, inner hitam polos oversize yang di pasukan dengan outer kemeja kotak-kotak dan sebuah tas ransel di punggung, serta headphone yang menutupi kedua telinganya.


Rambutnya merah menyala dan acak-acakkan,  anting di kedua telinganya dan juga sepatu snikers, membuat dia terlihat funky dan percaya diri.


Dilihat dari sikap Linda yang semakin mempertegas bahwa pemuda itu adalah sosok ketua yang begitu dibelanya.


“Ian,” panggil Linda.


Dialah Damian Andreas, sang ketua kelompok Criminal Hunter, di mana Evangeline berada saat ini.


Pemuda itu melihat keberadaan orang asing di sana, yang juga menatap lurus ke arahnya. Tatapannya datar, begitupun Evangeline yang melihat Damian dengan mata bulatnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2