They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Informasi baru


__ADS_3

Keesokan harinya, Evangeline dan Joy terlihat belum juga bangun meski hari sudah begitu siang. Joy tidur lelap karena pengaruh obat tidur, sedangkan Evangeline karena alkohol yang ia minum semalam.


Keduanya tidur di ranjang yang sama dengan posisi yang begitu berantakan. Joy terbangun lebih dulu karena merasa sinar matahari sudah benar-benar mengusiknya, ditambah efek obat yang perlahan menghilang.


Dengan malas, dia mencoba meraba ke samping untuk meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Pelupuk matanya yang seolah dilem begitu rapat, ia paksa untuk terbuka dan melihat jam pada layar ponselnya.


Matanya seketika membola dan sontak terduduk di tempat tidur saat melihat jam yang tertera di sana.


“Apa ponselku rusak? Gila, ini sudah sangat siang.” Joy mengusap wajahnya kasar.


Dia lalu menoleh kesamping, dan melihat temannya yang juga masih tertidur pulas di sana.


“Hei, bangun. Eva, kita harus bangun sekarang. Ini sudah sangat siang,” seru Joy sambil menggoyangkan tubuh gadis di sampingnya.


Namun, Evangeline yang masih mengantuk, hanya mengerang lirih sambil mengubah posisinya saja tanpa mau bangun bahkan membuka mata pun tidak.


Sementara Joy, gadis itu sudah bangun dan menyambar handuk untuk segera masuk ke kamar mandi.


“Ini sudah hampir tengah hari dan kita harus berangkat sekolah. Aku ada presentasi siang ini dan akan gawat jika sampai aku melewatkannya,” ucap Joy terburu-buru.


“Memangnya jam berapa sekarang?” tanya Evangeline malas, dengan suara parau.


“Sebelas,” pekik Joy dari dalam kamar mandi.


“Apa? Kau yakin? Gawat!” sahut Evangeline.


Mendengar jawaban Joy, Evangeline yang sejak tadi enggan bangun pun seketika membuka mata dan beranjak dari tempat tidurnya.


Karena kamar mandi di kamarnya sedang dipakai, Evangeline pun berlari ke arah dapur dan mencuci mukanya di sana. Dia pun berkumur larutan garam sebagai ganti mouthwash untuk menghemat waktu.


Meski kepalanya masih berdenyut, namun dia memaksakan diri untuk bersiap dan secepat mungkin pergi ke Universitas.


Kedua gadis itu bahkan terpaksa melewatkan sarapan karena terburu-buru berangkat. Di jalan, Evangeline yang memang masih sedikit pusing, tidak bisa membawa mobil sendiri meminta Joy memberi tumpangan demi kesehatannya.


Sesampainya di Universitas, keduanya berpisah karena Joy mengambil jurusan berbeda dari Evangeline. Gadis berambut pendek itu lebih tertarik dengan dunia tata busana, meski keluarganya meminta untuk belajar manajemen agar bisa meneruskan perusahaan keluarganya.


Namun Joy menolak dan cenderung membangkang atas perintah dari orang tuanya. Hal yang sudah lumrah di keluarga Joy, saat anak tidak menuruti orang tua dan cenderung bertindak sesuka hati mereka. Begitupun yang dilakukan saudara-saudari Joy yang lainnya.


Istirahat siang pun tiba. Keduanya kembali membuat janji bertemu di kafe, yang berada di lantai bawah gedung Universitas.

__ADS_1


Evangeline terlihat telah lebih dulu berada di sana. Kepalanya terkulai lemas di atas salah satu meja kafe.


“Apa kau masih pusing?” tanya Joy.


Gadis itu khawatir temannya masih mabuk akibat bir kalengan yang semalam mereka minum.


Dia tak tahu jika Evangeline telah menghabiskan beberapa gelas wiski di klub malam.


Evangeline yang mendengar suara Joy pun dengan malas menegakkan duduknya dan bersandar di kursi.


“Kepalaku rasanya hampir pecah. Aku ini benar-benar payah,” ucap Evangeline seraya memijat pelipisnya.


“Pesanlah sup hangat. Itu akan sedikit membantu,” Seru joy.


“Aku sudah memesan, tapi belum diantar juga,” ucap Evangeline.


Tak lama, seorang pelayan kafe datang dengan semangkuk sup ayam hangat pesanan putri Hemachandra tersebut.


Perlahan, sendok demi sendok sup itu masuk ke dalam perut Evangeline yang memang sejak pagi belum terisi apapun.


Rasa hangat menjalar dari perut hingga ke seluruh tubuh, membuat aliran darahnya terasa terbuka dan tubuhnya menjadi lebih baik lagi.


Dia bahkan menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus.


“Lumayan. Kau tak memesan?” tanya Evangeline balik.


Joy tersenyum. Dia bahkan berdiri dari duduknya dan hendak memakai tas selempangnya.


“Tidak usah. Aku masih harus kembali ke klub ku. Ian mengirim pesan agar kami berkumpul,” tutur Joy.


“Aku ikut,” sergah Evangeline cepat.


Hal itu sontak membuat Joy membelalak kaget dan mematung sejenak.


“Aku ingin menanyakan perkembangan penyelidikan kalian, tentang kasus yang pernah ku tanyakan tempo hari,” lanjut Evangeline.


Joy terdiam seolah mengingat kembali akan hal tersebut. Dia pun kemudian duduk di kursi dan menanggalkan tasnya.


“Baiklah. Aku akan menunggumu. Sekarang, habiskan dulu makananmu agar kau merasa baikan,” seru Joy.


...❄❄❄❄❄...

__ADS_1


Lepas jam makan siang, kedua Joy dan juha Evangeline bergegas menuju ke gedung pusat kegiatan mahasiswa, yang berada terpisah dari gedung perkuliahan.


Seperti biasa, mereka harus naik ke atap dan masuk dari pintu atas. Di sana sudah ada Linda dan Samuel, yang seperti biasa selalu sibuk dengan perangkat komputer dipangkuan masing-masing.


“Hai, semua. Di mana ketua?” sapa Joy.


Linda dan samuel menoleh dan melihat kedatangan anggota mereka bersama Evangeline.


“Kenapa kau membawa orang asing masuk?” tanya Linda ketus.


Dia seolah tak suka dengan kehadiran Evangeline di sana.


“A... Ah... Maaf, senior. Kebetulan ada yang ingin Eva tanyakan kepada kita,” jawab Joy kikuk.


Melihat rekannya disalahkan, Evangeline pun maju dan berhadapan dengan Linda.


“Aku datang sebagai klien kalian, bukan orang asing. Bukankah seharusnya aku mendapat sambutan yang baik, dan bukannya sikap tak sopan seperti ini?” cecar Evangeline.


Linda hendak kembali mendebat, namun Samuel lebih dulu menyela.


“Ada hal yang perlu kami diskusikan secara internal. Jika berkenan, tunggulah di luar hingga kami selesai membahasnya,” tutur Samuel.


“Tidak perlu,” ucap sebuah suara tiba-tiba, yang membuat semua orang menoleh ke arah pintu masuk di atas.


Rupanya, Damian sudah datang dan mendengar semua perdebatan yang terjadi antara Evangeline dan anggota klubnya.


“Apa yang akan kita bahas adalah sesuatu tentang ledakan di tepi barat kota, kasus yang ingin kau ungkap,” ucap Damian.


Mata Evangeline semakin membola dengan pupil yang membesar. Jantungnya berdegup begitu cepat, tatkala orang yang dicarinya hampir ia temukan kabar beritanya.


Tangannya bahkan mengepal erat karena merasa gugup, takut dan juga tak sabar untuk mendengar hasil pekerjaan klub mahasiswa criminal hunter ini.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2