
“Ian,” panggil Linda.
Damian melihat keberadaan orang asing di dalam klubnya, yang juga menatap lurus ke arahnya. Tatapannya datar, begitupun dengan Evangeline yang melihat Damian dengan mata bulatnya.
“Siapa dia?” tanya pemuda berusia awal dua puluhan itu.
“Ah... Dia adalah calon klien kita. Dia teman Joy yang pernah diceritakannya itu. Namanya Evangeline,” ucap Linda dengan ramah.
Samuel nampak muak dengan sikap Linda pada Damian, yang terus saja mencari muka dan berpura-pura baik di depan sang ketua klub.
Damian pun lalu menghampiri Evangeline.
“Ian,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Eva,” sahut Evangeline menyambut uluran tangan pemuda tersebut.
Damian lalu duduk di kursi yang ada di dekat Evangeline. Dengan kedua lengan yang bertumpu pada sandaran kursi.
“Coba katakan apa masalahmu?” tanya Damian.
“Aku ingin mencari tahu siapa pemilik gudang yang ada di padang rumput bagian barat kota ini,” ucap Evangeline.
Samuel nampak melirik sekilas ke arah Evangeline dengan wajah serius, seolah tahu apa yang dimaksud oleh gadis itu. Sedangkan Damian terlihat datar, sama seperti sebelumnya. Namun tatapan matanya begitu tajam menatap Evangeline.
Sementara itu, Joy dan Linda terlihat menyimak seperti biasa dan tak menunjukkan ekspresi yang begitu serius.
“Ada urusan apa kau dengan tempat itu?” tanya Damian.
“Aku ingin mencari tahu sesuatu di sana,” ucap Evangeline.
“Maaf, Nona. Kalau kau tak mau mengatakannya dengan jelas, kami tidak bisa membantumu,” seru Damian.
“Benar, Eva. Kau harus beritahu kami detilnya, baru kami bisa mengambil langkah untuk nemulai misi,” timpal Joy.
Evangeline terlihat ragu untuk mengatakannya. Dia bahkan terlihat meremas ujung lengan outer transparannya.
“Baiklah, jika kau ragu mengatakannya pada kami, berarti kita tak bisa bekerja sama,” ucap Damian.
“Eva, kau bisa ceritakan pada kami. Kelompok kami selalu bekerja berdasarkan kepercayaan. Karena tanpa itu, misi tidak akan berjalan lancar,” bujuk Joy.
“Tenanglah. Informasi klien akan aman ditangan kami,” timpal Samuel.
Melihat Evangeline terus diam, Damian pun bangun dan beranjak dari tempatnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti saat hampir sampai anak tangga.
“Aku ingin mencari tahu tentang kematian seseorang,” ucap Evangeline.
Semua orang menoleh dan menatap gadis yang berada di depan mereka, dengan tatapan yang semakin serius.
Damian yang sejak tadi terus bersikap dingin, bahkan sampai mengerutkan keningnya.
“Apa orang itu mati di gudang itu?” tanya Joy.
Evangeline menggeleng pelan.
__ADS_1
“Aku tak tahu. Aku hanya mendengar orang itu terakhir kali terlacak di sana, saat gudang itu meledak enam bulan lalu,” ungkap Evangeline.
Semuanya membelalak. Damian bahkan sampai berbalik dan menatap tajam ke arah Evangeline, dengan kerutan di dahi yang semakin jelas terlihat.
...❄❄❄❄❄...
Di tempat lain, seseorang terlihat tengah berasa di sebuah gudang yang lebih mirip garasi. Ada sebuah motor besar dengan merek yang mendunia dan hanya ada satu unit untuk setiap tipenya.
Sekat yang terbuat dari jala baja serta berbagai alat mekanik berada di sana. Ada pula rantai yang menjuntai dari atap hingga setinggi kepala orang dewasa, serta satu tong besar yang berusia tongkat pemukul baseball.
Seorang pria muda yang mengenakan sebuah singlet hitam dengan celana jeans robek-robek tengah berbaring di bawah motor besar itu, sambil memegang perkakas. Sepertinya dia sedang memperbaiki sesuatu.
Rambut hitamnya tampak basah oleh keringat. Terlihat beberapa bekas luka lebam baru di wajahnya. Bahkan terdapat plester di dekat pelipis karena lukanya sedikit lebih dalam.
Seorang pria lain yang sejak tadi terus menutup wajahnya dengan tudung jaket, nampak beberapa kali menggerakkan kepalanya bergedeg ke samping, sambil memperhatikan layar pipih di depannya.
Tiba-tiba, seorang lagi datang dari luar dan menghampiri pria yang sedang sibuk dengan motor besarnya itu. Dia mengenakan jaket coklat gelap dengan inner kaus putih polos.
Dia menendang sebuah tong kayu ke arah dinding hingga hancur. Sontak kedua pria yang sebelumnya berada di sana pun menoleh dan melihat hal tersebut.
“AAAARRRGGGHH!”
Pekik pria yang baru datang itu. Dia mengacak rambutnya lalu berkacak pinggang sambil berdiri tak tenang di tempat.
“Ada apa? Apa orang itu membuatmu sulit lagi?” tanya pria dengan lebam di wajah.
“Aku muak dengan pria besar itu. Kapan kau akan menarik ke tim mu? Ini sudah hampir enam bulan,” tanya pria berjaket yang tampak marah itu.
Pria yang marah itu berjalan mendekat dan duduk di samping pria bertudung. Dia meliriknya sekilas ke samping.
“Hah... Sampai kapan kau akan bodoh seperti ini? Kenapa jadi begini? Kau terjebak menggantikan si bodoh ini, dan aku terjebak dengan pria besar itu. Benar-benar menyebalkan,” gerutunya.
Pria yang sejak tadi mengutak-atik motornya pun bangun dan meraih sebuah kain lap untuk membersihkan tangannya yang kotor.
“Dia tidak bodoh. Lihatlah. Tangannya bahkan terus bergerak sejak tadi dan bekerja. Bukankah itu lebih baik dari terus menggerutu?” sahutnya.
“Tapi setidaknya dia bekerja satu tim denganmu,” jawab si pria pemarah.
“Bukankah kau lebih suka bekerja dengan otot dari pada dengan otak? Pria besar itu pasti sering memintamu untuk bertarung bukan. Disini kau hanya akan pusing dengan berbagai negosiasi dan omong kosong,” ucap pria dengan luka lebam.
Pria pemarah itu diam. Dia tak lagi menjawab dan hanya diam dengan wajah kesalnya.
Sesaat kemudian, sebuah dering terdengar dari arah jaket kulit yang tersampir di atas jok motor besar.
Pria dengan singlet hitam itu pun berbalik dan meraih benda pipih dari saku jaketnya. Sebuah nama yang beberapa waktu terakhir sering mengganggu salah satu temannya, menghubunginya.
Dia pun menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan benda tersebut ke telinga.
“Ada apa? Apa kau mau mengganggu si bodoh lagi?” tanyanya.
“Ayolah, ini lebih penting dari itu. Aku bisa langsung ke tempat mu kalau aku ingin mengganggu temanmu itu,” sahut orang di seberang.
“Lalu ada apa? Cepat katakan? Apa ada tugas untuk ku?” tanya si pria ber singlet hitam.
__ADS_1
“Ada yang mencoba menyelidiki ledakan enam bulan lalu,” ungkap orang di seberang.
Pria itu terdiam. Dia mencoba mencerna sejenak tentang informasi yang baru didapatnya ini.
“Benarkah? Aku rasa ini sangat konyol jika hanya sebuah keisengan mu,” ucap pria itu kemudian.
“Oh ayolah. Aku memang sering beromong kosong. Tapi kali ini benar-benar serius. Coba tebak siapa yang mencoba mencari tahu?” tantang orang di seberang.
“Siapa?” tanya pria itu balik.
“Cobalah kau tebak lebih dulu,” seru orang di seberang.
“Aku buntu. Katakan saja siapa?” sahut pria itu.
“Dia seorang gadis cantik yang datang jauh-jauh dari Kota Wisteria. Namanya Evangeline atau Eva. Apa kalian mengenalnya? Dia lumayan cantik, tubuhnya juga bagus, kulitnya putih mulus...,” cerocos orang di seberang.
“Bagaimana kau tahu hal ini? Apa ada yang menyelidiki gadis ini?” sela pria itu, bahkan sebelum lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya.
“Dia sendiri yang datang ke basecamp klub konyol ku,” sahut orang di seberang.
“Apa ada yang sudah tahu masalah ini selain aku?” tanya pria itu lagi.
“Ehm... Aku baru menghubungimu saja. Apa mungkin ini masalah serius?” tanya orang di seberang.
“Hanya gadis kecil saja, jangan terlalu serius. Kecoh saja dia. Jangan sampai dia menemukan apapun. Bukankah kau lebih pintar dalam urusan mengecoh orang,” seru pria itu.
“Ah... Benarkah boleh seperti itu? Kalau begitu aku akan mengencaninya dulu sebelum menyelesaikan tugas ini,” ucap orang di seberang.
“terserah. Tidak perlu melapor ke yang lain. Lain kali kalau kau datang kemari, akan ku traktir satu besar box pizza kesukaan mu,” sahut si pria.
“Aku tak mau itu. Minta lah si bodoh mengajariku sistem Enel itu...,” cerocos orang di seberang.
Pria itu langsung memutus panggilan sebelum lawan bicaranya selesai berbicara. Wajahnya yang tadi terlihat santai, kini nampak serius. Tatapannya pun begitu tajam menerawang ke depan.
Pria pemarah yang sejak tadi memperhatikannya pun penasaran dengan perubahan sikap temannya itu.
“Hei, ada apa? Sepertinya serius,” tanyanya.
Pria bersinglet itu menoleh dan melihat ke arah temannya yang sejak tadi menatapnya.
“Dia datang. Gadis bodoh itu ada ke kota ini,” sahutnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1