They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Mari berteman


__ADS_3

Evangeline melihat Dokter Lee yang memeriksa kondisi sang ayah telah keluar. Dia pun segera menghampiri dan langsung menanyakan tentang keadaan ayahnya, diikuti oleh Malcolm yang sejak tadi menemaninya.


“Bagaimana kondisi ayahku, Dokter? Dia tak apa-apa kan?” tanya Evangeline.


Rasanya, dadanya akan meledak karena begitu gugup untuk mendengar perkataan dari dokter tersebut.


Dokter Lee terlihat menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jasnya.


Dia lalu menoleh ke arah Evangeline dengan tatapan serius.


“Sebelumnya saya ucapkan Selamat, Nona. Tuan Hemachandra mengalami perkembangan yang baik. Beliau berhasil menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Baru saja beliau menerima respon atas rangsangan yang kami berikan. Tapi, kondisinya masih belum bisa dinyatakan benar-benar aman,” ucap sang dokter.


“Ma... Maksud dokter apa?” tanya Evangeline bingung.


“Apa ada kemungkinan beliau akan segera sadar?” tanya Malcolm mewakili Evangeline.


Evangeline menoleh ke arah Malcolm karena dia begitu bingung dengan penjelasan kedua dokter itu.


“Ada kemungkinan beliau akan sadar. Tapi entah kapan, sepertinya masih perlu observasi lagi. Hal ini cukup bagus, mengingat sebelumnya beliau tidak memberikan respon apapun. Mungkin saat bersama Tuan Hemachandra, Nona Eva mengatakan sesuatu yang membuatnya memiliki keinginan untuk kembali,” ucap Dokter Lee.


Evangeline tertegun. Dia menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat apa yang dia katakan pada sang ayah sebelumnya.


Dia merasa kakinya lemas, dan terhuyung ke belakang. Dia hampir terjungkal namun Malcolm yang berada di sampingnya segera menopang gadis tersebut agar tak jatuh.


Ayah, apa Ayah mendengarkan aduan ku tentang pria menyebalkan itu? batin Evangeline.


Dia pun menggeleng tak percaya, bahwa lagi-lagi Ardiaz lah yang memberinya harapan, bahkan saat dia sudah tak ada lagi di sampingnya.


Evangeline berbalik dan segera berlari meninggalkan kedua dokter itu tanpa mengucapkan apapun.


Dia pergi menuju ke dalam ruang rawat ayahnya. Evangeline menekan tombol pembuka pintu berkali-kali, berharap benda berlapis baja tersebut segera terbuka.


Namun, saat pintu telah terbuka, kakinya justru hanya mampu melangkah sekali dan berhenti. Dia yang tadinya berlari, sekarang justru berjalan dengan tertatih, dengan tangan yang masih membekap mulutnya.


Malcolm pun menyusul Evangeline masuk dan melihat gadis itu berjalan perlahan ke arah ranjang kapsul Hemachandra Adiguna.


Saat sampai di samping pasien, Evangeline terus berdiri menatap wajah sang ayah.


“Apa dia sangat berharga untukmu, Ayah? Sebelumnya aku selalu mengajakmu bicara, berharap kau mendengar dan mau kembali. Kau tahu aku paling benci membicarakan dia."


"Ayah tahu bukan betapa menyebalkannya pria itu. tapi ternyata sekalinya aku mengadukan tentang orang itu, Ayah justru bergegas ingin kembali,” ucap Evangeline.


Dia tak menyangka sama sekali, ternyata kabar yang disampaikannya tentang sang suami itu, justru membuat ayahnya bereaksi.


“Andai aku tahu kau akan bangun hanya dengan mengadu tentangnya, sejak dulu aku akan melakukan itu, Ayah. Sekarang dia sudah tidak ada, apa Ayah juga akan membiarkanku sendiri? Cepatlah bangun, Ayah. Aku mohon,” tangis Evangeline kembali pecah.


Dia bahkan berjongkok di samping ranjang, sambil memegangi dadanya yang sakit.

__ADS_1


“Nona Eva, bangunlah. Tidak baik berjongkok di bawah seperti ini. Kakimu bisa kram nanti,” bujuk Malcolm yang sejak tadi bersama Evangeline.


Evangeline tak peduli dengan bujukan dari sang dokter. Dia terus menangis.


Perasaannya bercampur. Dia senang karena ayahnya menunjukkan perkembangan yang baik, namun di sisi lain dia harus terus mengingat sosok yang belakang ini membuatnya begitu berat menjali hari-hari, demi memancing agar sang ayah terus meresponnya.


Malcolm pasrah. Dia tak mungkin memeluk gadis itu hanya untuk alasan menenangkan. Mereka adalah orang asing yang hanya saling kenal saja.


Dia mengusap rambutnya ke belakang, karena frustasi tak bisa membantu apapun di sana. Namun tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya membeku sejenak.


Tangannya turun dengan mata yang terus membola.


“Nona Eva. Nona, lihatlah,” ucap Malcolm tiba-tiba.


Evangeline masih tak peduli dan sibuk dengan tangisannya. Melihat gadis itu tak bereaksi, Malcolm pun menarik lengan Evangeline dan membuatnya bangun dari posisinya.


“Lepaskan! Apa yang kau lakukan?” hardik Evangeline kesal.


Dia bahkan menepis dengan kasar tangan Malcolm yang tadi memeganginya. Dokter itu tak peduli dan menunjuk ke arah depannya.


“Lihatlah itu,” seru Malcolm.


Evangeline masih melihat dokter itu dengan tatapan tak suka. Namun, dia pun kemudian mengikuti arah telunjuk Malcolm.


Gadis itu membeku dengan bola mata yang membulat, melihat apa yang ada di depannya. Namun, dia segera menyadarkan diri dan mendekat ke arah sang ayah.


Lelehan bening kembali lolos dari netra cantik Evangeline. Tanpa aba-aba lagi, gadis itu seketika memeluk sang ayah yang telah sadar.


Dia tak mengatakan apapun, hanya ada isak tangis bahagia dan kelegaan yang menggema di ruangan tersebut.


Sementara Malcolm, dia menggantikan Evangeline memanggilkan tim medis untuk kembali ke tempat tersebut, karena pasien koma baru saja terbangun.


Dia pun ikut menghela nafas lega melihat kondisi Tuan Hemachandra yang akhirnya membuka matanya, setelah sekian lama meninggalkan putrinya seorang diri.


...❄❄❄❄❄...


Beberapa jam setelahnya, Evangeline terlihat duduk di samping sang ayah yang tengah tertidur.


Pria itu baru saja selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh. Pasalnya, dia sudah cukup lama berada dalam masa vegetatif, yang memungkinkan terjadi kerusakan di dalam tubuhnya akibat tertidur terlalu lama.


Dia kini tengah beristirahat dan Evangeline yang terus berada di sampingnya, sambil memegangi tangan sang ayah. Dia terus memastikan bahwa ayahnya itu masih bernafas dengan baik, denyut nadinya masih terasa dan tubuhnya masih hangat.


Malcolm yang sempat mendapat panggilan darurat dari ruang UGD, kini telah kembali ke ruangan Tuan Hemachandra di lantai khusus.


Dokter belum memperbolehkannya untuk pindah, sebelum hasil pemeriksaannya keluar dan memastikan bahwa beliau sudah tidak memerlukan perawatan khusus lagi.


Para pengawal telah mengetahui siapa Dokter Malcolm setelah sebelumnya sempat mereka larang untuk masuk. Kini dokter itu bahkan bisa dengan mudah keluar masuk lantai tersebut kapan pun dia mau.

__ADS_1


Dia masuk ke dalam ruang rawat Tuan Hemachandra, dan melihat Evangeline yang sedari tadi duduk di sampingnya, dengan wajah yang terus menatap sang ayah.


“Apa dia tertidur?” tanya Dokter Malcolm.


Evangeline menoleh sekilas kedatangan dokter itu, dan kembali melihat ayahnya.


“Dokter bilang, dia masih harus menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Dia masih perlu banyak istirahat. Mungkin ini lebih seperti jet lag,” sahut Evangeline.


“Baguslah. Mungkin besok pagi hasil pemeriksaannya sudah keluar. Kenapa Anda tidak istirahat dulu saja? Bukankah semuanya sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Malcolm.


“Tidak perlu. Aku takut dia akan kesulitan mencariku saat terbangun nanti,” ucap Evangeline.


“Tapi Anda juga perlu beristirahat,” ucap Malcolm.


Evangeline menoleh melihat betapa dokter itu seolah sangat peduli padanya dan juga sang ayah.


Gadis itu tersenyum ke arah sang dokter dengan wajah kuyu yang sangat jelas terlihat kelelahan.


“Apa Anda mau menemaniku, Dokter? Kebetulan aku butuh seseorang untuk mengobrol,” ajak Evangeline.


Malcolm tak menyahut. Raut wajahnya pun datar saja. Namun dia menarik sebuah kursi dan duduk di sisi lain dari ranjang pasien, yang berseberangan dengan Evangeline.


“Ayahku tak akan apa-apa bukan? Tadi dia tak sempat mengatakan apapun. Tubuhnya bahkan kaku. Hanya tatapan matanya yang bisa mewakili seluruh perasaannya,” tanya Evangeline.


“Ini sesuatu yang wajar. Pasien yang sadar dari koma, biasanya mengalami beberapa kondisi di mana fungsi tubuhnya menurun. Tapi dengan terapi, semuanya bisa diatasi, selama tidak ada hal fatal lainnya. Semangatlah. Anda sekarang tidak sendiri lagi. Bukankah ya g terpenting ayah Anda sudah bangun?” jawab Malcolm.


Evangeline tampak tersenyum mendengar perkataan Malcolm. Tatapan matanya jelas menunjukkan kelelahan. Lingkar mata hitam dan sembab membuktikan betapa berat hari-harinya selama ini.


“Kau benar. Sekarang aku tidak sendiri lagi,” sahut gadis itu.


Evangeline menoleh dan menatap lekat dokter itu dengan senyum manis di wajah pucatnya. Gadis tersebut mengulurkan tangannya ke arah Malcolm.


“Evangeline. Kau bisa memanggilku Eva. Mari kita berteman dan berhenti bersikap formal. Bagaimanapun, kau juga adalah teman suamiku bukan?” ucap Evangeline.


Malcolm diam sejenak, sebelum akhirnya dia menyambut uluran tangan gadis itu.


“Malcolm Andara. Panggil saja Malcolm,” sahut Malcolm.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2