They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Perdebatan


__ADS_3

Aaron berjalan mendekat ke arah brangkar pasien, dan melihat sosok paruh baya yang terlihat pucat, terpejam, seolah berada di antara hidup dan mati.


Ardiaz pun menoleh mengikut kemana kakaknya berada.


“Bukankah kau yang membuatnya membenciku? Kalau bukan karena malam itu, Eva tidak akan salah paham dan mengira bahwa akulah yang menembak ayahnya,” ucap Ardiaz.


“Apa kau kira hanya karena malam itu? Kau salah, Diaz. Eva sejak dulu memang tidak pernah menyukai kita. Dia selalu berkata pada Morita, bahwa salah satu dari kita akan menjadi seperti Macbeth suatu hari nanti."


"Apa kau tahu siapa itu Macbeth? Itu adalah sebuah tokoh dalam dongeng, yang diceritakan Morita kepada Eva. Dia adalah seorang penghianat yang membunuh tuannya sendiri, demi mendapatkan kekuasaan. Seperti yang terlihat padamu sekarang ini,” tutur Aaron.


“Heh... Apa kau pikir aku b*doh dan akan percaya begitu saja dengan alasanmu, Kak?” tanya Ardiaz.


“Kedengarannya memang b*doh. Tapi, sejak kita datang ke rumah itu, setiap hari Eva selalu mengatakan bahwa salah satu dari kita pasti seorang Macbeth. Karena itulah aku berusaha mendekati dan bersikap lembut padanya, karena hanya di sanalah kita bisa tinggal dan hidup berkecukupan,” ungkap Aaron.


“Jadi, apa sekarang kau sedang mengaku bahwa kaulah Macbeth sebenarnya, dan bukan aku?” tanya Ardiaz.


“Heh... Untuk apa aku menjadi Macbeth? Aku tidak membunuh untuk mendapatkan kekuasaan. Aku ingin membunuh Hemachandra demi membalas dendam,” ungkap Aaron.


Pria itu menatap tajam ke arah pasien tersebut, dan mencengkeram rahang Hemachandra. Masih terasa hangat di sana, bukti bahwa dia masih hidup.


Sementara Ardiaz, pria muda itu masih diam sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya.


“Apa kau tahu, orang ini, pria yang berpura-pura menjadi malaikat dan memungut kita dari panti asuhan, sebenarnya adalah penjahat yang sebenarnya,” ucap Aaron.


Ardiaz memicing. Alisnya bertaut saat mendengar perkataan sang kakak tadi.


“Dialah orang yang telah melakukan pembantaian terhadap keluarga kita,” lanjut Aaron.


“Apa kau berharap aku akan percaya begitu saja dengan perkataanmu?” tantang Ardiaz.


Aaron menoleh ke arah sang adik. Dia kemudian berjalan ke sebuah meja dan mengambil sesuatu dari atas sana, lalu membawanya ke depan Ardiaz.


“Ini... Ini semua bukti yang sudah ku kumpulkan selama ini, dan semuanya mengarah pada orang yang sedang sekarat itu,” ucap Aaron sambil melemparkan setumpuk berkas dalam amplop coklat ke arah Ardiaz.


Sebuah dokumen bertuliskan dokumen akuisisi perusahaan Danurendra menyembul keluar, dan Ardiaz bisa dengan mudah membacanya.


Ada kilat keterkejutan di matanya, namun wajahnya tetap saja datar. Tangan yang terikat ke belakang nampak mengepal kuat saat melihat hal tersebut.


“Kejadian malam itu, aku hanya ingin dia mengakui perbuatannya dan meminta maaf, lalu memintanya membatalkan pertunanganmu dengan Eva."


"Aku masih berusaha bersikap sopan padanya dengan tidak menentang keinginannya di depan tamu undangan."

__ADS_1


"Tapi apa? Dia tetap mengelak dan berusaha membujuk ku lagi dan lagi. Aku muak hingga aku pun menodongkan pistol ke arahnya,” ungkap Aaron.


Ardiaz tetap diam dan tak bereaksi dengan perkataan kakaknya. Matanya terus tertuju pada tumpukan dokumen yang ada di depannya.


Aaron yang melihat adiknya diam, merasa bahwa Ardiaz mulai goyah dan sebentar lagi akan percaya padanya.


Dia pun mendekat dan meraih pundak sang adik.


“Diaz, kau harus membantu ku. Ayo kita bersama-sama rebut kembali apa yang menjadi milik kita sejak awal,” ucap Aaron.


Namun bukannya menjawab, Ardiaz justru terkekeh. Hal itu membuat Aaron semakin bingung.


Ardiaz mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke dalam manik hitam sang kakak, yang membuat Aaron kembali mundur menjauh.


“Kak, bukankah kau ini pintar? Apa hasutan kecil begini bisa membuatmu terperangkap?” tanya Ardiaz.


Ardiaz menendang dokumen itu hingga beberapa lembar kertas benar-benar keluar dari amplop tersebut.


“Tumpukan dokumen ini hanyalah sampah. Apa kau tau alasan ku bergabung menjadi pengawal keluarga Hemachandra? Kau tak tau alasan ku kan? Kau hanya tau aku yang keras kepala dan tak takut mati, berwatak keras dan selalu bersikap kasar, adalah alasannya. Tapi itu semua salah,” ungkap Ardiaz.


Aaron terperangah mendengar penuturan sang adik yang tiba-tiba mengatakan dirinya b*doh, karena sudah percaya dengan semua bukti yang telah didapatkannya selama ini.


“Apa kau mendapatkan sebuah email berisi pesan suara Hemachandra? Atau rekaman vidio CCTV saat ayah kita bertengkar dengan tuan besar? Atau, apa?” cecar Ardiaz.


“Kau terkejut kan bagaimana aku bisa tahu semua ini bermula. Asal kau tau, Kak. Sebelum kau, akulah target orang-orang yang menghasudmu. Mereka mengira bahwa aku adalah orang yang kejam dan mudah emosi, sehingga mereka mendekati ku terlebih dulu. Mengirim umpan agar aku terpancing.”


“Tapi sayang, mereka salah sasaran. Aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah percaya dengan orang lain, terlebih yang belum ku kenal sama sekali. Sekalipun itu menyangkut keluarga kita, aku memilih untuk diam dan menyelidikinya sendiri."


"Kau ingat, aku pernah pulang babak belur dan sekarat di rumah sakit beberapa kali. Itu karena aku melakukan penyelidikan sendiri dengan caraku, masuk ke dunia bawah.”


“Aku mencoba mencari tahu orang di balik semua ini, akan tetapi dia benar-benar licin seperti belut. Berkali-kali aku harus bertarung demi bisa menembus lapis demi lapis tabir ini. Tapi semuanya sia-sia. Aku yakin, kau juga belum pernah bertemu orang itu bukan? Aku jamin selama ini yang kau temui hanya perantaranya saja. Apa aku salah, Kak?” tanya Ardiaz.


Aaron kembali terperangah mendengar semua yang diucapkan oleh sang adik. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana dia bisa tahu semuanya? Apa benar Ardiaz pernah berada di posisinya?


Pertanyaan demi pertanyaan muncul satu persatu di benaknya. Dia mulai bimbang dengan apa yang dipercayainya selama ini.


Apa benar aku sudah salah? Tapi semua bukti ini begitu jelas dan nyata, batin Aaron.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya di apartemen kecil tempat Evangeline bersembunyi, gadis itu terlihat sedang berbaring, beristirahat di dalam kamar.

__ADS_1


Meski sudah hampir tengah malam, namun dia tak bisa juga terlelap tidur, walaupun berkali-kali dia mencoba memejamkan matanya rapat-rapat.


Hatinya merasa tak tenang, seolah sedang mengkhawatirkan sesuatu.


Tiba-tiba saja, sebuah ketukan terdengar dari pintu depan. Evangeline pun tersentak dan segera duduk tegap di atas kasur.


Dia menajamkan pendengarannya ke arah depan. Lagi-lagi, pintu diketuk beberapa kali. Gadis itu pun berjalan perlahan ke arah sana.


“Siapa?” tanyanya.


“Ada titipan dari Aaron,” sahut suara dari luar.


“Aaron?” mendengar nama sang pujaan hati disebut, gadis itu pun mempercepat langkah kakinya dan membuka pintu.


Namun, tak ada seorang pun di sana. Dia menoleh ke kanan dan kiri, akan tetapi tak bisa menemukan siapapun.


Saat dia hendak menutup pintu kembali, pandangannya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas lantai.


Sebuah benda selebar buku tulis, berbahan metal, serta terdapat tanda segitiga putih di tengahnya berada tepat di depan kakinya.


“MacBook siapa ini?” gumam Evangeline.


Gadis itu kembali menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengambil benda tersebut.


Rasa penasaran muncul di benaknya dan membuatnya menekan tombol segitiga di tengah itu.


Seketika, sebuah vidio siaran langsung pun terhubung. Matanya membola melihat adegan yang ada di dalam layar. Evangeline segera masuk dan menutup kembali pintunya.


Dia mengambil earphones di dalam tasnya dan memasang ke Macbook tersebut. Dia mulai mendengarkan semuanya di sana.


Betapa terkejutnya dia akan apa yang dia lihat dan dengar saat itu. Matanya berkaca-kaca dan luruh dengan cepat ke wajah cantiknya. Dia bahkan menutup mulutnya dengan punggung tangan karena begitu tak percaya dengan apa yang disaksikannya.


Ini tidak mungkin.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2